PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Prndekar elang sakti eps 75


__ADS_3

Kuda terus di pacu di dalam gelapnya hutan jati, ketika mereka sampai di tengah-tengah hutan, aroma bau menyengat tercium sampai menusuk hidung, semakin mereka memacu kudanya bau itu pun semakin terasa, kemudian Dewi harum berkata pada suaminya.


"Kakang berhenti dulu, ku tidak tahan lagi, bau apa ini, seperti bau busuk dari sebuah bangkai." Cetus Dewi harum.


Lalu semua pun berhenti, dan merasakan hal yang sama, sambil menutup hidungnya dengan telapak tangan kanannya.


"Seperti bau bangkai manusia." Celetuk Darma seta.


"Iya benar, coba kakang Wira lihat di depan sana, banyak sekali lalat ijo." Ujar Raden Sedayu sambil menunjuk kan telunjuknya ke depan sana.


"Iya banyak sekali lalat berkerumun di semak-semak." Ujar Wira jaya.


Mereka pun semakin penasaran dengan bau buduk itu, lalu mereka turun dari punggung kudanya, sambil menutup penciumannya mendekati ke arah bau busuk itu.


Setelah mereka mendekati, mereka langsung membulatkan bola matanya dan tercengang kaget, ketika banyak tulang kerangka manusia yang sudah pada lepas dari sendinya, Wira jaya menghitung tengkorak manusia berikut yang masih ada sisa-sisa daging yang lagi di kerubunin lalat.


"Sungguh kejamnya, ini sama halnya seperti di hutan aren, apa mungkin masih orang yang sama, tapi kayanya tidak mungkin, penghuni hutan Aren Kala ireng, dan semua pasukannya berikut pemimpinnya sudah binasa." Gerutu Wira jaya.


"Iya tapi rasanya, orang yang berbeda dengan motip yang sama, sama-sama perampok yang kejam, ini tidak bisa di biarkan sebelum korban bertambah banyak lagi." Cetus Dewi harum.


"Ibunda benar, kita harus tumpas ke jahatan ini, kalau di biarkan bisa-bisa ke amanan para warga akan terancam." Ujar Darma seta.


"Sudah pasti ini semua ulahnya komplotan rambut merah, seperti yang kang Sukanta bilang itu." Cetus Raden Sedayu.


"Kalau memang mereka melakukan aksinya di malam hari, sudah barang tentu sekarang mereka lagi pada istirahat." Ujar Wira jaya.


"Apa kita perlu cari tempat persembunyiannya mereka." Pungkas Darma seta memberi tawaran.


"Tidak usah biasanya para perampok suka bersembunyi di tempat yang lebih tinggi, karena memudahkan mereka untuk memantau para mangsanya dan tempat yang tinggi adanya di sebelah barat hutan ini." Ujar Wira jaya.


Lalu Raden Sedayu memutarkan pikirannya bagaimana cara untuk me mancing para perampok Rambut merah keluar dari sarangnya.


"Saya punya ide, kalian bertiga pindah ke belakang Saya." Perintah Raden Sedayu.


Wira jaya, Dewi Harum dan Darma seta pun, menuruti perintah dari Raden Sedayu.


Kemudian Raden Sedayu duduk bersila, sambil memusatkan tenaga dan pikirannya, lalu kedua telapak tangannya di arahkan ke angkasa, dan di tari lagi je bawah sejajar dengan dada.


Hutan jati yang tadinya gelap cuma ada cahaya matahari sedikit-sedikit yang masuk melalui celah-celah daun jati, kini menjadi gelap gulita, dan angin mulai menderu dengan kencang menghempas ke arah barat dan suara yang nyaring dari daun jati yang saling bergesekan membuat suasana di hutan jati bertambah menyeramkan, tulang-tukang dari kerangka manusia yang telah binasa bersama'an dengan bau bangkai kini telah di terbangkan oleh Ajian bayu silantangnya Raden Sedayu.


Angin cipta'an dari ke kuatan ajian bayu silantang, telah banyak menumbangkan pohon-pohon jati, Gumpalannya nampak terlihat dari daun-daun yang berterbangan,terus menghembus ke tempat yang tinggi, hingga masuk ke dalam sebuah goa.


Di sebuah goa, tepatnya di sebelah barat hutan jati, di tempat yang lebih tinggi, nampak ada sepuluh orang lelaki dengan postur tubuh tinggi besar dan berambut merah, saling berhamburan keluar dari dalam goa tersebut.


"Tidak biasanya ini angin kencang begini, padahal belum waktunya musim gugur." Ujarnya.


Kemudian salah seorang dari mereka yang merupakan ketuanya dari komplotan rambut merah, keluar goa dengan bertulak pinggang.


"Ini adalah angin cipta'an dari ilmu kedid jaya'an." Ujarnya.

__ADS_1


"Maksud kakang, ini adalh salah satu dari ke kuatan manusia." Cetusnya.


"Iya, di tanah pasundan ini cuma ada dua tokoh yang mempunyai ilmu begini, ki Ajar Saketi dan kakaknya Ajar saksena." Ujarnya.


Kemudian orang yang merupakan ketua dari rambut merah itu, sejenak termenung, lalu berkata dalam hayinya.


"Apa mungkin ini perbuatannya kakang Sedayu, yang di tugaskan untuk mencariku." Batinnya.


"Tapi kayanya tidak mungkin, Negri Kawali dan Negri Alang-alang sangatlah jauh, tidak mungkin kakang Sedayu mengetahui keberada'anku." Lanjut batinnya.


"Kenapa kakang?." Bertanya.


"Sepertinya ada orang di bawah sana, yang menantang kita." Ujarnya.


Setelah itu para komplotan rambut merah langsung melesat memasuki hutan jati, se iring dengan meredanya angin yang berhembus kencang.


Sepuluh kelebatan bayangan, akhirnya telah tiba dimana ke empat pendekar itu berada, Salah satu ketua dari rambut merah terbelalak kaget ketika melihat pendekar berpakaian kebangsawanan lagi duduk bersila.


"Bukan kah itu kakang Sedayu, lalu siapa ke tiga pendekar itu." Batinnya.


Kemudian Darma seta maju selangkah dan berkata.


"Ooh ini rupanya Para perampok rambut merah itu." Cetus Darma seta.


"Hahaha, kalian berempat mau menyerahkan nyawa datang kesini." Sungut salah satu dari rambut merah.


Dug, jantung Raden sedayu berdetak ketika netranya beradu pandangan dengan sosok lelaki tinggi besar.


"Rayi Bara wenda kah itu." Ujar raden sedayu sambil terus menatap pada lelaki tinggi besar itu.


"Siapa tuh Bara Wenda, saya tidak mengenalnya, dan anda salah, mana ada perampok seperti kami bernama seperti kebangsawanan." Ujarnya.


"Oh begitu, tapi saya yakin bahwa kamu adalah Bara wenda, hentikan perbuatanmu rayi, kau sudah berlaku biadab membunuh setiap orang yang melewati hutan ini." Cetus Raden Sedayu.


"Heh kenapa kalian bengong, ayo serang ke empat orang ini, tapi yang wanita itu jangan sampai kau lukai." Perintah dati sang ketua rambut merah.


Dewi harum langsung merah wajahnya, dengan perkata'an dari ketua rambut merah, yang menjijikan.


"Setan alas, tutup mulutmu itu brengsek." Seru Dewi harum sambil mencabut pedang merahnya, lalu melesat menerjang para perampok rambut merah.


Ciaat...


ciaatt..


Trang trang trang...


Suara benturan logam begitu nyaring bunyinya, Dewi harum berkelebat dengan pedang merahnya yang memancarkan cahaya merah, hanya dalam lima jurus tiga perampok rambut merah yang menjadi lawannya Dewi harum sudah terkapar, dengan luka di sekujur tubuhnya, ada yang tangannya lepas dari badan, ada pula yang kepalanya hilang lepas dari badan karena tebasan pedang merah Dewi harum yang begitu ganas.


sementara wira jaya, Darma seta dan Raden Sedayu yang menjadi lawan dari ketu Rambut merah, Rdaen Seadyu sangat yakin dengan kerua rqmbut merah itu adalah Bara Wenda adik seperguruannya waktu berguru pada ki Ajar saketi di Gunung Bongkok.

__ADS_1


Kini keyakinan Raden Sedayu bertambah pasti karena jurus-jurus yang di gunakan oleh Ketua rambut merah sama persis dengan jurus-jurusnya Raden Sedayu.


"Sekarang kamu mau mungkir gimana lagi, kau pasti Bara Wenda, dari jurus-jurus mu sudah ketauan." Seru Raden Sedayu.


Ketua rambut merah tersenyum sinis, ketika Raden Sedayu tetap menganggapnya Bara Wenda, lalu ia berkata. "Hahaha, di dunia persilatan banyak jurus-jurus yang sama dan serupa, emang nya cuma kamu saja yang bisa menguasai jurus Badai sagara." Hardiknya.


Raden Sedayu tidak percaya perkata'an ketua rambut merah dengan ucapan, melainkan ia membalasnya dengan jurus-jurus mautnya.


Raden sedayu terus menyerang ke tua Rambut merah dengan jurus cipata'annya sendiri yaitu jurus telapak angin dewa, sebuah jurus yang sangat dahsyat dan mematikan, gerakannya begitu cepat dan agresip, hingga ke sepuluh jurus, ke tua rambut merah terpental jauh terkena pukulan telapak angin dewa, tubuhnya jatuh di hamparan dedaunan jati dengan luka membiru mmembekas sebuah telapak berukuran besar, ke tua rambut merah merangkak sambil menjulurkan tangannya ke atas dan memanggil pada Raden Sedayu.


"Ka, ka kaa kakang, ampunkan saya, sa saya Memang Bara wenda." Ujarnya dengan gagap.


Raden Sedatu pun langsung melompat memburu pada ke tua rambut merah yang mengaku dirinya adalah Bara Wenda, lalu Raden sedayu meraih tubuh Bara wenda dan letakan di atas pangkuannya Raden Sedayu.


"Rayi, ma'apkan kakang ya, kenapa tidak dari semula Rayi berkata jujur, mungkin ini semua tidak akan terjadi." Tutur Raden Sedayu.


"Iya ka ka kakang, ma'apkan aku, aku sudah salah jalan, mungkin ini hari terakhir kita bertemu, tolong sampaikan ma'apku pada Guru kakang." Ujar Bara Wenda dengan terbata-bata.


"Rayi pasti bisa, sekarang duduklah, kakang akan membantu untuk memulihkan jalan darahmu." Ujar Raden Sedayu sambil meraih ke dua bahu Raden Sedayu, untuk duduk.


Sementara Wira jaya yang sudah menyelesaikan pertarungannya segera memburu pada Raden Sedayu untuk memberikan bantuan.


Bara wenda mencoba duduk dengan membelakangi Raden sedayu dan Wira jaya, lalu kedua telapak tangan Raden Sedayu dan Wira jaya di tempelkannya pada punggung Bara wenda untuk menyalurkan keluatan inti alam kedalam tubuh Bara wenda.


Tubuh Bara Wenda mulai bergetar ketika sebuah kekuatan mulai masuk ke dalam tubuhnya, dan setelah itu.


Uuuoooo


Oohhoo


Gumpalan darah kental yang sudah kehitaman keluar dari mulutnya Bara Wenda, selepas itu, Raden Sedayu langsung memberikan sebutir pil segede kacang ijo dan air minum.


"Cepatlah minum obat penawar racun ini rayi." Ujar Raden Sedayu.


Dengan di bantu oleh Wira jaya, Bara wenda pun langsung meminum obat penawar tersebut.


Dan setelah itu tubuh Bara wenda mulai lemas dan jatuh terkulai dalam dekapan Raden Sedayu.


"Bagaiman ini Sedayu?." Tanya Wira jaya.


"Tenanglah kakang, obat penawar mulai bereaksi, dan epeknya akan terasa lemas oleh tubuh dan rasa kantuk yang amat sangat." Ujar Raden Sedayu, sembari menurunkan tubuh Bara wenda untuk di tidurkan di atas hamparan daun jati yang banyak berserakan.


"kita tunggu saja dia sampai siuman, biarkan tubuhnya menyerap inti bumi bersama obat penawar itu, untuk bekerja menyembuhkan luka dalamnya." Tutur Raden Sedayu.


Sementara para komplotan rambut merah yang lainnya, sudah banyak yang terluka dan ada pula yang tewas karena mereka memilih mati dari pada harus menyerah, yang akhirnya Darma seta pun telah membabat abis pasukan rambut merah, sebagian yang terluka pada lari meninggalkan arena pertempuran dengan membawa luka di sekujur tubuhnya.


*********


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2