
Pertempuran di depan kedai berlangsung sangat seru sekali, sijambang salah satu ketua dari perkumpulan tongkat merah di wilayah sumedang larang.
Semua senjata mereka sebuah tongkat berwarna merah darah, permainan tongkat mereka begitu gencar mengurung ke tiga pendekar elang.
Trang
Trang
Trang.....
Benturan senjata begitu nyaring terdengar, ketika tongkat merah berbenturan dengan senjata ke tiga pendekar elang, kelebatan cahaya kuning merah ke perakan bergerak begitu cepat sambil mengeluarkan hawa panas yang begitu terasa membakar kulit para perkumpulan tongkat merah.
Lengkingan suara sang penguasa Angkasa begitu nyaring menusuk telinga, yang membuat para perkumpulan tongkat merah menutupi telinganya, dan di sa'at itu pula kelebatan tiga cahaya merah kuning ke perakan membentuk kepala elang telah mencabik isi perut dari ke empat perkumpulan tongkat merah.
Aaauuuggghhh....
Jeritan dari ke empat perkumpulan tongkat merah begitu histeris dan ambruk di tanah bersama'an dengan keluarnya semua isi dalam perutnya.
Sereweng
Suara pedang perak dan pedang merah telah di masukin kembali ke dalam warangkanya, lalu Wira jaya ber gegas masuk kedalam kedai, untuk membayar bekasa makanannya bertiga.
"Berapa semua bekas makan dan minum kami?." Tanya Wira jaya.
"Lima belas kepeng tuan." Jawabnya.
Lalu Darma seta mengeluar kan sebuah kantong tempat uang koin di simpan di jaman dulu namanya (Kanjut kundang)
"Ini pak bayar makanan dan minumannya, dan ini buat mengurus ke empat mayat, tolong di urus sesuai kepercaya'annya masing-masing." Ujar Darma seta sambil memberikan seratus kepeng uang pada pemilik kedai.
Sang pemilik kedai begitu terkesima dengan netranya melotot bulat, ketika menerima uang sebanyak itu, lalu berkata dengan gugup.
"Ba ba baaik tuan pendekar." Ujarnya.
Setelah itu ke tiga pendekar elang langsung bergegas pergi dan melompat ke atas punggung kudanya masing-masing, lalu ke tiga kuda itu di pacunya dengan kencang.
Hea
Hea
Heaa...
Ketiga kuda jantan berlari dengan cepat meninggalkan kedai itu, ke tiga rambut panjang yang di ikat melingkar di atas telinga, menari-nari tersapu angin dialah ke tiga Pendekar elang.
Kematiannya ke empat perkumpulan tongkat merah, kini telah terdengar di mana-mana, sampai terdengar oleh perkumpulan tongkat merah di wilayah Barat, Utara, Selatan dan Timur.
Perkumpulan Tongkat merah di wilayah Utara adalah ketuanya dari semua perkumpulannya itu, kebanyakan dari perkumpulan itu bergerak di malam hari untuk menyambung hidupnya dengan jalan salah, mereka datang dan perginya seperti angin tidak ada jejak yang tertinggal di dalam melakukan aksinya.
Kematian ke empat anggotanya membuat ketua Tongkat merah murka, dan mengerah kan seluruh anggota dari perkumpulan tongkat merah, dari semua wilayah untuk mencari sang pembunuh anggotanya itu.
"Komara kirim surat pada wilayah barat, untuk menangkap hidup atau mati pembunuh anggota kita, kalau menurut kabar yang saya dengar mereka tiga orang pendekar berpakain seperti burung raja wali, tidak salah lagi mereka adalah tiga pendekar elang timur, yang kesaktiannya sangat luar biasa." Ketua dari seluruh perkumpulan tongkat merah mengeluarkan woro-woro.
"Sudah kakang, setelah mendengar kabar tewasnya anggota kita, saya langsung mengutus anak buah saya ke wilayah barat dan selatan." Jawab Komara.
"Bagus kalau begitu, dan ini semua harus menjadi contoh siapa saja yang mengetahui di mana singgahnya elang timur cepat kirim kabar." Ujar Ketua.
__ADS_1
Di sa'at mereka lagi berunding, kelebatan sebuah benda seperti panah berukuran kecil meluncur dan menancap di tiang.
Ketua perkumpulan tongkat merah terkejut lalu menoleh ke arah benda yang menancap di tiang, sebuah panah ciri dari perkumpulannya yang sudah di kenalinya.
"Komara ambil surat yang mrnancap, mungkin itu kabar yang menggembirakan." Suruh Ketua.
Lalu Komara berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mengambil sebuah anak panah yang di ujungnya terselip beberapa helai daun lontar, lalu Komara memberikan anak panah tersebut, dan sang ketua menerimanya, lalu di buka tali yang mengikat daun lontar itu di belakang anak panah tersebut.
Setelah itu sang ketua membaca surat yang tertulis di daun lontar itu dan berbunyi.
"Elang timur ada di wilayah utara." Begitu isi dari surat tersebut.
Selepas itu ketua langsung menyerukan pada seluruh anggotanya yang hadir di situ.
"Semuanya buruan sudah ada di wilayah kita, ayo semua bergerak." Seru Ketua pada seluruh anggotanya yang hadir.
Akhirnya mereka pun bubar dengan berpencar membentuk empat orang setiap kelompoknya, dengan mengambil jalan yang berbeda-beda, makanya tak heran bila mereka ada di mana-mana.
..........
Sementara ke tiga Pendekar elang, yang sudah memasuki wilayah Ranca Galuh, terus memacu kudanya dengan kencang di jalan setapak, yang di sisi kiri kanannya di tumbuhi oleh semak-semak belukar.
Ketika itu udara berhembus sangat kencang, sehingga tidak memungkin kan bagi Pendekar elang meneruskan perjalanannya.
"Kakang sebaiknya kita istirahat dulu, sepertinya di depan ada sebuah gubuk miliknya petani." Seru Dewi harum.
"Iya nyai, Seta kita istirahat dulu di depan." Ujar Wira jaya.
"Iya Paman." Saut Darma seta.
Setibanya di sebuah gubuk yang agak besar di tepian ladang miliknya petani, mereka turun dari punggung kudanya dengan menuntun kudanya untuk berteduh di bawah atap gubuk tersebut.
"Sekarang tujuan kita kemana paman, apa kita melaksanakan dulu amanat dari ki Sura praba?." Tanya Darma seta
"Iya betul, hidup atau mati kita harus bisa membawa kakang Jareti Gangga ke Naga Bintang." Jawab Wira jaya.
"Tapi kakang, setelah saya pikir, menurut kabar yang saya terima dari pemilik kedai mereka yang mati itu adalah para perkumpulan tongkat merah, apa mungkin ada hubungannya dengan Jareti Gangga." Ujar Dewi harum.
"Ya untuk sa'at ini kita coba cari tau siapa sebenarnya dibalik perkumpulan tongkat merah itu." Celetuk Darma seta.
"Iya betul itu, dan anggotanya sangat banyak kakang, di menyebar di semua wilayah, Barat, Timur, Utara dan selatan." Ujar Dewi harum.
"Kemungkinan keberada'an kita pun sudah di ketahuinya, pasti mereka sangat murka dengan kematian anggotanya." Ucap Wira jaya.
"Hanya itu jalan satu-satunya untuk memancing ketuanya keluar, kita habisi semua Tongkat merah yang berusaha mau menyerang kita." Pungkas Darma seta.
Baru saja ke tiga pendekar elang membicarakan masalah tongkat merah, indra elang pangrungu Darma seta mencium kehadiran orang tidak di kenal, dan lagi mengintainya.
"Sepertinya ada tamu tak di undang di semak itu." Bisik Darma seta.
"Iya benar seta ada empat orang di samping gubuk ini, dan ada empat orang lagi mengintai di depan gubuk ini tapi posisinya agak jauh." Ujar Wira jaya.
Kemudian Dewi harum mencabut empat bulu elang di bajunya, lalu di lemparkannya dengan dilapisi oleh tenaga dalam.
Ke empat bulu elang itu meluncur sangat cepat sekali bagaikan panah Arjuna dalam peperangan Brata yuda.
__ADS_1
Siuuuurrrrrr
weesssss
Clekcek
Auuuggghh
Terdengar jerit kesakitan di balik semak-semak samping gubuk.
Kemudian Dewi harum, berteriak menantang pada tamu tak du undangnya itu.
"Woi keluarlah kalian jangan ngumpet di balik semak, apa kalian ingin bernasib sama seperti temanmu itu." Teriak Dewi hatum.
Lalu bermunculan beberapa bayangan melesit ke atas dari balik semak belukar tersebut.
Nampak terlihat empat orang dengan senjata yang sama sebuah tongkat.
"Rupanya perkumpulan tongkat merah kakang." Bisik Dewi harum.
"Iya betul, rupanya kehadiran kita sudah di ketahuinya oleh mereka." Balas Wira jaya.
"Berarti pergerakan kita sudah banyak di ketahui oleh perkumpulan tongkat merah." Dewi harum.
"Tongkat merah adalah perkumpulan pengemis yang sangat besar, anggotanya banyak tersebar di berbagai wilayah tatar sunda, sebenarnya mereka banyak bergerak di malam hari, memeras dan merampok." Pungkas Darma seta.
"Ternyata pengetahuanmu cukup luas seta." Ungkap Dewi harum.
"Ku sudah mengetahuinya dari dulu, tapi baru kali ini kita bermasalah sama mereka." Ujar Darma seta.
Selepas itu ke empat perkumpulan tongkat merah membunyikan suara untuk menyerukan sebuah peperangan.
"Wah celaka, rupanya kita sudah terkepung." Celetuk Dewi harum.
Kelebatan bayangan banyak bermunculan mengurung gubuk tersebut, lalu Darma seta, Wira jaya dan Dewi harum melompat ke atas atap gubuk itu, sambil mengetahui seberapa banyaknya ke kuatan lawan.
"Rupanya semua perkumpulan tongkat merah sudah mengurung kita di sini kakang." Ujar Dewi harum.
Wira jaya hanya menganggukan kepalanya sambil mencabut senjata ampel kuning lalu di usap di bagian ujungnya, kemudian di tiupnya dan keluarlah lengkingan suara merdu memecah di angkasa.
Tidak lama kemudian suara gemuruh bersama'an dengan tiupan angin kencang, dan dari ke empat penjuru di atas cakrawala, langit mendadak gelap kian mengembang mendekati ke arah Wira jaya yang masih dengan tiupan ampel kuningnya.
Sungguh mengerikan ratusan bahkan rebuan burung elang meluncur, kemudian Wira jaya menghentikan tiupan ampel kuningnya, dan elang putih abu-abu melorot dan bertenker di dahan kayu di dekat ke tiga pendekar elang.
"Ada apa Pendekar elang memanggil kami?." Tanya elang putih abu.
"Lihat di bawah sana, perkumpulan tongkat merah sudah siap untuk menghancurkan kita, kami butuh bantuanmu saudara putih abu." Saut Wira jaya.
"Para elang siap tinggal menunggu keputusanmu elang kuning." Jawabnya.
Setelah itu wira jaya menyerukan pada elang putih abu, untuk bertempur melawan para perkumpulan tongkat merah yang sudah banyak bermunculan menenuhi ladang petani.
*******
Bersambung
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutan kisah elang sakti di episode selanjutnya, jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.