
Mendengar suara tawa dari ke tiga pendekar elang, srigala hitam geram, dengan lantangnya berkoar memperlihatkan taringnya yang tajam.
''Rupanya ada yang mau bermain-main sama srigala hitam, hai keluarlah janganlah bersembunyi dibalik pohon.'' Teriak dari ketua srigala hitam.
Lalu ketiga pendekar elang berkelebat dengan cepat menghadang komplotan srigala hitam.
Si Bopeng ketua dari srigala hitam beserta anak buahnya tersontak kaget karena hanya dalam sekejap mata, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta sudah berada di depan mereka.
''Apa kabar srigala hitam.'' Sapa Wira jaya.
Si Bopeng kemudian memperhatikan pada ke tiga pendekar elang dengan sangat intens sekali.
''Kalau di lihat dari cara berpakaiannya, seperti tiga serangkai elang timur.'' Gumam Bopeng dalam hatinya.
''Hai lelaki yang berwajah buruk, kenapa kamu melihat kami seperti itu.'' Cela Darma seta.
Sibopeng langsung berubah raut wajahnya dan ia langsung menyerukan pada semua anak buahnya untuk menyerang ketiga pendekar elang.
''Seraaang''
Seluruh pasukan srigala hitam langsung menyerang ke tiga pendekar elang, Darma seta dengan cepat mencabut pedang peraknya, dan bergerak memutar.
Tramg trang trang trang.
Clek clek clek....
Aauuuuggghhh..
Beberapa pasukan dari srigala hitam berteriak kesakitan karena pedang perak Darma seta dengan sangat cepat bergerak dan merobek tubuh dari pasukan srigala hitam.
Permainan pedang yang sangat luar biasa hanya dalam hitungan menit saja, empat orang dari anak buahnya si Bopeng sudah terkapar dengan sekujur tubuh di basahi okeh darah segar yang terus keluar.
Bopeng bersama sisa anak buahnya yang kemampuannya cukup lumayan hebat masih bertahan menghadapi Wira jaya dan Dewi harum.
Semula Wira jaya dan Dewi harum hanya ingin melumpuhkan para perampok itu, tapi setelah ingatannya dikembalikan pada peristiwa puluhan tahun silam ketika suaminya terbunuh oleh para perampok, rasa dendam yang telah ia kubur dalam-dalam kini terasa dibangkitkan lagi, begitupun Wira jaya, mempunyai hal yang sama seperti Dewi harum.
''Para bajingan ini, tidak akan ku biarkan hidup, karena mereka semua sudah banyak bikin resah warga penduduk.'' Gumam Dewi harum.
Kini pedang merah dan senjata ampel kuning Wira jaya bergerak lebih cepat sekali.
Bopeng bersama anak buahnya yang kepandaian cukup tinggi, merasa ke teter oleh serangan-serangan dari jurus-jurusnya pasangan suami istri itu.
Trang trang trang..
Suara benturan senjata begitu nyaring sekali terdengar, Dewi harum melesit ke atas dengan pedang merah berputar kencang dalam jurus serbuan elang selaksa, melorot dengan kencang sekali bersama angin yang menderu.
Clek clek ckek.
__ADS_1
Aauuuggghh..
Suara yang terdengar dari ketiga anak buahnya bopeng darah segar menyembur dari ke tiga anak buahnya bopeng dengan luka robek di dadanya mereka bersama'an dengan robohnya ke tiga tubuh kawanan srigala hitam.
Melihat banyak kawanannya yang roboh dengan bersimpuh darah, kini Bopeng mulai gentar, dan hendak mundur dari arena pertarungan itu, tapi belum saja niatnya terlaksana, dengan secepat kilat senjata ampel kuning Wira jaya telah menghantam batok kepalanya Bopeng.
Wuuukk..
Deaaass.. Prakkk...
Auuughhhhh.
Jerit kesakitan keluar dari mulutnya Bopeng bersama'an dengan pecahnya batok kepala Bopeng, cairan merah menyembur keluar dari kepalanya Bopeng..
Blaaaakkk.
Tubuh bopeng terkapar di atas hamparan rumput hijau, dengan tubuh Bopeng gemetaran mungkin Bopeng lagi menghembuskan napas terakhirnya(sekarat) karena lepas nyawa dari raganya Bopeng dengan mata melotot yang terus dibanjiri oleh darah segar.
Melihat ketuanya sudah berkalang tanah, nyawa berpisah dari raganya Bopeng, ketiga anak buahnya yang tersisa dan masih hidup mulai mundur dengan wajah pucat pasi, karena nyalinya mulai hilang yang ada di pikirannya hanya ketakutan, dan masih ingin hidup lebih lama lagi.
''Hahaha...Dimana taring kalian srigala hitam, kamu masih ingin hidup apa ingin menyusul ketuamu ke neraka.'' Tawa Darma seta yang seakan menggetarkan jantung mereka.
Ketiga srigala hitam itu, seperti mendadak menggigil kedinginan, seluruh tubuhnya bergetar kencang, sehingga tidak menyadari bahwa cairan hangat telah keluar dari dalam celananya.
''Aa a aa ampun tuan, ja ja jang jangan bunuh kami.'' Ucapnya seperti merasakan tubuhnya leles tidak berdaya.
Wira jaya dan Dewi harum tertawa terbahak bahak begitu melihat celana ke tiga orang anak buahnya Bopeng sudah di banjiri oleh cairan hangat dan bau pesing.
Ke tiga kawanan srigala hitam yang masih tersisa, menurunkan badannya setengah bersujud pada ke tiga pendekar elang, supaya mendapat ampunan.
''Ampun tuan, jangan bunuh kami.'' Ujarnya sambil melas-melas.
''Baiklah, kami tidak membunuh kalian, tapi kami akan mematahkan kaki kalian semua, karena langkah kalian sudah banyak menyengsarakan warga penduduk.'' Tutur Darma seta sambil menghunus pedang peraknya yang sudah disarungkan sewaktu membunuh ke tiga kawanan srigala hitam yang lainnya.
Ketiga kawanan srigala hitam yang masih hidup langsung bersujud di kaki Darma seta.
''Jangan tuan, kami berjanji tidak akan lagi berbuat jahat.'' Ucapnya.
''Janji kalian palsu.'' Ujar Darma seta sambil memutarkan pedang peraknya.
Dan ketiga kawanan srigala hitam menangis pasrah sementara kedua temannya itu langsung pinsan tak kuasa melihat kilatan cahaya dari pedang perak yang tajam se akan telah me mutudkan kedua kakinya itu.
Padahal Drma seta cuma menakut-nakuti saja, sampai di mana janji yang terucap dari mulutnya itu, kemudian pedang perak itu di masukan lagi pada sarungnya.
Dewi harum dan wirajaya hanya tersenyum melihat tingkah Darma seta, yang menakut-nakuti ketiga perampok itu dengan sebuah ancaman.
Disa'at itu, para warga penduduk bermunculan dari balik semak-semak belukar, yang di pimpin oleh si kake tua sambil menyerukan ''Hidup pendekar..
__ADS_1
Hidup pendekar.'' Serunya warga penduduk.
Sikake tua yang di ikuti oleh puluhan warga penduduk, menghmapiri Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, menyambut ke tiga pendekar elang, yang telah berhasil menumpas para durjana yang selalu meresahkan warga penduduk pakuan.
''Terima kasih tuan-tuan pendekar, yang sudah membebaskan penderita'an kami.'' Ucap si kakek.
''Iya iya iya tuan pendekar, kalau tidak ada tuan pendekar entah bagaimana nasib kami ke depannya.'' Pungkas para warga.
''Sama-sama,, bapak-bapak semuanya ini sudah menjadi kewajiban kita selaku manusia harus saling tolong menolong.'' Ucap Wira jaya.
Kemudian setelah itu para warga penduduk pakuan bersama ke tiga pendekar elang meninggalkan hutan perbatasan yang masuk ke kampung pakuan, sedangkan ketiga kawanan dari srigala hitam di biarkan pergi, untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Malam yang terus berlalu, udara dingin yang kian menusuk masuk ke pori-pori, membuat ke tiga pendekar elang dan seluruh warga penduduk pakuan menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuhnya sambil bakar kambing guling sebagai jamuan pada ke tiga pendekar elang, atas lepasnya belenggu yang selama itu menjerat warga penduduk pakuan.
Wira jaya pun melantunkan sebuah tembang melalui tiupan senjata ampelnya,, suara yang merdu dan enak sekali di dengar, se akan mengingatkan pada semua mahluk di muka bumi ini, untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah semesta berikan.
Adat budaya yang masih kental di tatar sunda, semua sajian untuk untuk para leluhur pun di adakannya sesuai dengan tradisi yang di wariskan oleh para leluhur.
Acara syukuran pun terus berlangsung sesuai dengan adat dan tradisi di kampung pakuan, sebagai rasa syukur pada sang pencipta atas telah di turunkannya sang dewa penolong, yang telah memberantas sang durjana komplotan srigala hitam.
Singkat cerita acara makan-makanpun telah di mulai, sebagian warga memotong-motong bakar kambing guling untuk di sajikan pada wira jaya, Dewi harum dan Darma seta sebagai jamuan atas berhasilnya menumpas angkara murka.
Rasa gembira yang nampak di wajah warga penduduk pakuan, bahwa panen pekan depan akan melimpah lagi, dan tidak akan lagi ada yang merampas hasil panennya.
Acara pun berlangsung sampai larut tengah malam, sementara Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta bermalam dulu di rumahnya si kake, dan paginya ke tiga pendekar elang akan melanjutakn lagi perjalanannya menuju perguruan naga bintang.
...............
Ke esokan harinya.
Di kala sang surya telah memancarkan sinarnya, di mana Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta sedang menikmati minuman teh hangat untuk menyegarkan tubuhnya, sebelum mereka melanjutkan perjalanannya.
Kemudian di kake muncul dari belakang dengan membawakan makanan beberpa potong ubi dan singkong yang telah di rebusnya.
''Ini barang kali bisa mengganjal perut kalian dalam perjalanan.'' Ucap si kake.
''Wah kake jadi ngerepotin nih kita, terima kasih ke.'' Celoteh Dewi harum.
''Kake tidak merasa di repotkan, justru kakek dan seluruh warga pakuan sudah berhutang budi pada kalian bertiga.'' Ujar sang kake.
Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya wira jaya, Dewi harum dan Darma seta pamit pada si kake untuk melanjut kan perjalanannya ke perguruan Naga bintang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung
Terima kasih yang sudah mendukung karya ku ini, semoga sehat-sehat dan dukses selalu.
__ADS_1
Jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, berikan votenya serta hadiah.
''Assalam mualaikum''