
Ketika cahaya merah jingga menggurat di atas cakrawala, ki Sura praba dan tiga pendekar elang lagi duduk di balai bambu sambil meminum teh hangat dan wedang, karena udara yang menerpa dari atas puncang Galunggung begitu dingin terasa, lalu ki Sura praba membicarakan sesuatu hal yang di alami dan di lihatnya waktu dalam semedinya itu. "Begini rayi Wira dalam semediku, kakang melihat langit di atas perguruan ini mendadak merah seperti darah, barang kali rayi Wira, Haru atau nak Seta bisa mrngartikan pertanda apa itu." Ungkap ki Sura Praba.
"Kemungkinan besar ki, akan terjadi bencana atau itu petunjuk bagi kita agar kita selalu lebih waspada, mungkin karena adanya selisih paham yang mengakibatkan jadi amarah besar." Jelas Wira jaya.
"Iya Wira bisa jadi begitu." Ki Sura Praba menjawab.
.............
Di tempat lain, di sebelah utara Naga Bintang, yang di simbolkan sebuah komplotan semut merah yang lagi memburu, mencari keberada'an sang Rajanya yang tiba-tiba hilang tanpak sepengetahuan mereka. Bagaikan sebuah gerombolan semut dari semua wilayah berkumpul dan bersatu, daya prnciuman dan mata mereka yang selalu ada di mana-mana bagikan indra para dewa, mereka tau kemana mereka harus melangkah untuk mencari keberada'an sang Rajanya.
Mereka bagaikan gerombolan semut yang lagi berjalan menyusuri jalanan setapak menuju wilayah Suka Pura, rasa kebersama'an mereka begitu kuat, biarpun mereka bukan kelompok yang sakti mandra guna tapi setidaknya mereka bisa se hidup semati senasib dan sepenanggungan.
Dengan sebuah tongkat sebagai pelengkap persenjata'an mereka, berpakaian compang camping sebqagai ciri dari ke utama'an perkumpulan mereka, berikat kepala sama rata berwarna merah, itulah perkumpulan pengemis Tongkat merah.
Mereka mengarah pada jalan setapak yang mau menuju ke perguruan Naga Bintang.
Rupanya para pengemis itu sudah mencium keberada'annya sang ketua dari mereka, yang selepas bertarung dengan pendekar elang itu, bahwa ketuanya di bawa ke Gunung Galunggung, ke tempat Ki Sura Praba sang guru besar Naga Bintang.
Kini mereka telah melewati Hutan Galunggung yang tinggal beberpa tumbak lagi mereka akan segera sampai
Tidak lama kemudian komplotan mereka telah sampai di depan gapura, lalu penjaga menghalangi mereka semua yang hendak menerobos masuk kedalam, tapi para pengemis tidak memperdulikan penjaga itu sehingga dua penjaga yang hendak menghalangi menjadi santapan para pengemis itu di hajarnya habis-habisan, dalam sebuah pertempuran.
Keributan di pintu gerbang sampai terdengar oleh para murid yang lainnya, dan sebagian murid berlari membantu dan ada pula yang melapor pada ki Sura praba yang lagi duduk bersama tiga pendekar elang.
Salah satu murid ki Sura Praba berlari menuju sang guru dengan sedikit napas ngos-ngosan.
"Ampun Guru, di luar ada kerubutan puluhan orang berpakaian compang-camping datang melabrak hendak memasuki padepokan." Ujarnya.
Mendengar laporan dari salah satu murid ki Sura Praba, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta saling pandang sambil berkata.
"Tidak salah lagi kalau ciri-ciri begitu, pastilah perkumpulan pengemis tongkat merah." Celetuk Wira jaya.
Lalu ki Sura Praba berkata pada muridnya yang melaporkan tentang kejadian di luar tersebut.
__ADS_1
"Siapa mereka, ada perlu apa kesini, kenapa mereka sampai bikin keributan di sini?." Tanya ki Sura Praba.
"Ya sudah kamu beri tahu semua teman-temanmu, persiapkan senjata, kurang ajar." Gerutu ki Sura Praba sangat geram.
"Itu semua pasti para pengemis tongkat merah ki." Bisik Wiea jaya.
"Haahh, Tongkat merah? Kenapa mereka sampai mendatangi Naga Bintang." Ujar ki Sura Praba.
"Mereka pasti mau membebaskan ketuanya, siapa lagi kalau bukan murid aki, yaitu Jareti Gangga." Pungkas Dewi harum.
"Biar ki mereka akan saya atasi." Celetuk Darma seta sambil melesat pergi hanya dalam sekejap mata Darma seta sudah tidak terlihat lagi.
Tokoh ternama dari Gunung Galunggung tercengang kaget saat menyaksikan kecepatan ilmu meringankan tubuh Darma seta yang begitu sangat sempurna sekali yang di padukan dengan ilmu lari cepat.
"Ya sudah ki kalau begitu kami akan menyusul nak seta ke sna." Pungkas Wira Jaya.
"Baik rayi nanti saya mau Menyuruh anak-anak untuk menjaga Jareti Gangga." Ujar ki Sura Praba.
Setelah itu Dewi harum dan Wira jaya melesat dengan cepat meninggalkan balai-balai itu, menuju ke luar gerbang padepokan, dan para murud-murid Naga Bintang semua keluar berlarian menuju ke luar, untuk membantu para murid yang lain yang lagi bertarung dengan perkumpulan para pengemis Tongkat merah.
Perang yang terjadi di lereng Gunung Galunggung, layaknya peperangan antara dua keraja'an yang ingin melebarkan sayap daerah kekuasa'annya, tapi berbeda dengan peperangan antara dua kelompok perkumpulan pengemis tongkat merah yang lagi mencari sang ketuanya layak se ekor semut yang selalu patuh dan setia pada Rajanya.
Pedepokan Naga Bintang adalah sebuah perguruan Silat beraliran putih, pendiri pertamanya mendiang dari ayahandanya ki Sura Praba yang bernama Praba Gandara, yang berteman akrab dengan Raga Nata dan kedua saudaranya, Ragantala dan Ragantiri, layaknya ki Sura Praba dengan Pendekar Elang bisa di bilang persahabatan yang turun temurun.
Kini Pertempuran sudah memakan banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, para prajurit Tongkat merah sudah banyak yang gugur, tidak tahan melawan kedidjaya'annya dari tiga pendekar elang dan murid-murid andalannya Naga Bintang.
Ki sura Praba sendiri tidak ikut melawan peperangan tersebut, karena Tiga murid andalannya yang ikut bertempur, jadi Jareti Gangga yang masih belum pulih benar dari luka dalamnya di jaga oleh sang Gurunya.
.................
Pertempuran kini sudah mulai melemah, khususnya dari para pengemis Tongkat merah banyak yang gugur dan yang terluka parah, maka dari itu Pendekar elang menyerukan pada anggota Tongkat merah yang masih hidup untuk menghentikan peperangan tersebut, mengingat banyak nya korban yang terus berjatuhan dari pihak tongkat merah.
Empat Jawara dari Tongkat merah dari empat wilayah memberikan isarat pada anggotanya untuk menghentikan peperanga itu.
__ADS_1
"Hentikan, hentikan." Serunya.
Seketika itu peperngan terhenti, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta telah menyarungkan kembali senjatanya.
"Coba kalian lihat anggotamu yang gugur dan terluka, itu semua karena ke serakahan dan ketamakan hati kalian." Teriak Wira jaya.
"Hai pendekar elang, perkumpulan kami tidak ada yang berjiwa pengecut, lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus jadi pengecut." Ujarnya.
"Hahaa, dasar manusia sombong, sudah banyak yang gugur juga masih saja anda takabur, kalian mesti tau Jareti Gangga adalh murid dari ki Sura Praba pimpinan padepokan Naga Bintang ini, Ketuamu itu telah menjadi murid yang durhaka, telah menyalah gunakan ilmu yang di dapatnya di sini, maka dari itu ketua mu harus mempertanggung jawabkan atas perbuatan nya yang telah menyimpang dari aturan perguruan.
"Kami tidak mau tau tentang latar belakang ke tua kami, yang kami inginkan adalah membawa kakang Jareti Gangga kembali ke tengah-tengah kami." Seru Rokembo pengemis dari wilayah Barat.
Ketika mereka lagi beradu mulut, sekelebatan bayangan putih hadir di tengah-tengah mereka dengan sebuah Tongkat Rotan berda di genggaman tangan kanannya, tebaran yang cukup mendebarkan ketika tatapan Netra para pengemis beradu pandangan dengan lelaki bepakaian serba putih dengan jenggot putih menghiasi dagunya yang agak lonjong dan tatapan matanya yang bersih bersinar telah membuat para pengemis Tongkat merah terhipnotis. Ki Sura Praba lelaki yang lagi berdiri di hadapan para pengemis itu, dengan suara yang bikin jantung berdebar berkata.
"Kalau hanya Jareti Gangga yang kalian inginkan, kenapa harus ada pertumpahan darah disini." Tutur ki Sura Praba dengan bijak.
Rokembo Pengemis dari wilayah barat berkata. "Tuan Sura Praba kenapa anda baru berkata begitu, setelah banyak anggota kami yang gugur." Seru Rokembo.
"Bukankah pihak kalianlah yang bikin ulah duluan, yang telah menyerang murid saya yang berjaga di gerbang padepokan ini, sekarang kalian kembalilah pada tempat kalian msing-masing, masalah Jareti Gangga nanti saya akan mengembalikannya, setelah pulih dari luka dalamnya, dan masalah anggota kalian yang gugur, biar saya beserta anak murid saya akan mengurusnya." Ungkap ki Sura Praba.
Para pengemis tongkat merah membalikan badannya, tanpak banyak kata lagi setelah menerima isarat dari Rokembo, perlahan tungkai kakinya di angkat dan dilangkahkan secara bersama'an, kini hanya punggung mereka yang nampak terlihat oleh ki Sura Praba dan tiga pendekar elang berjalan beriringan meninggalkan gapura Padepokan Naga Bintang.
Kini hanya Jasad-jasad yang banyak tergeletak di hamparan rumput nah hijau, sebuah tragedi yang menggidikan bulu kuduk, darah-darah berceceran membasahi hijaunya rumput yang berubah warna menjadi merah.
Bulir-bulir air hangat tidak terasa telah berjatuhan dari sudut mata mereka yang melihat banyak nya mayat bergelimpangan dari kedua kubu, akibat keras dan kejamnya sebuah peperangan.
"Jagat dewa batara, ini kah yang ku lihat di semediku itu, ooh yang maha agung, dosa apa yang telah ku perbuat, kini Gunung Galunggung telah menjadi lautan darah." Tutur Sura Praba sambil meneteskan air mata, karena ketirnya melihat darah yang membanjiri padepokan Naga Bintang.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta terpaku dan merasa ikut bersedih akan tragedi yang menimpa di Naga Bintang.
para murid Naga Bintang yang masih segar bugar membawa sebagian teman seperguruannya yang terluka untuk di bawa ke ruang pengobatan, dan sebagian lagi mengurus jasa-jasad yang telah tewas baik dari Naga Bintang maupun dari para pengemis tongkat merah yang paling banyak memakan korban.
**********
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih ya atas dukungannya, salam sejahtera , sehat-sehat dan sukses selalu.