PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
PENDEKAR ELANG SAKTI EPS 29


__ADS_3

Setelah darma seta terbangun dari mimpinya, ia pun segera turun dari pohon tersebut, dan mengajak pada Ibunya dan pamannya yang sekaligus ayah sambung, yaitu wira jaya, untuk mempercepat perjalanannya, karena sebelum matahari terbenam sudah harus sampai dikampung benda.


Begitulah yang terpesan lewat mimpinya itu, dan


mereka pun langsung bersiap-siap untuk melanjutkan lagi perjalanannya.


Kini ke enam kuda sudah dipacu lagi menyusuri jalan setapak didalam hutan itu,


Langitpun kini agak mendung, angin bertiup mulai kencang, dan suara-suara geledeg yang di iringi oleh kilatan-kilatan halilintar di angkasa terus terdengar, mengiringi perjalanan ke enam pendekar elang sakti, yang terus berpacu dengan kudanya yang semakin kencang.


Akhirnya Rintik-rintik airpun sudah turun dari angkasa, membasahi bumi yang terlalu lama kepanasan oleh teriknya cahaya mentari.


Rombongan wira jaya terus tidak menghentikan perjalanannya, mereka terus berlari didalam lebatnya air hujan yang turun dari langit.


Tidak lama kemudian ke enam pendekar elang sakti, sudah tiba dipenghujung kampung benda, kampung yang sangat ramai dengan penduduk yang lumayan padat.


Tepat pada waktunya sebelum matahari terbenam kebarat, mereka sudah tiba di depan halaman rumahnya aji santang, seorang tokoh atau sesepuh yang dikasih kepercaya'an oleh para warga untuk menjadi kepala kampung, selain mantan prajurit dikeraja'an galuh, aji santang juga sangat mahir menguasai ilmu pandai atau tukang bikin senjata, ditambah ilmu kanuragannya yang patut diperhitungkan, karena sewaktu aji santang menjadi prajurit ia menyandang gelar sebagai hulu balang.


Setibanya didepan rumahnya aji santang, mereka lalu turun dari kudanya masing-masing, rumah aji santang nampak sepi, hanya suara-suara kuda yang terdengar dari istal dibelakang rumah.


Wira jaya pun berjalan mendekati pintu depan rumahnya aji santang.


Tok tok tok.


Wira jaya mengetuk pintu tiga kali, tapi sedikitpun tidak terdengar apa-apa.


''Sampu rasuun, ke kake.'' Ucap wira jaya.


''Ko sepi kakang, sepertinya didalam tidak ada orang.'' Ucap dewi harum.


''Iya nyai, kemana ya kake.'' Kata wira jaya.


Disa'at itu pula terdengar suara lari kuda sedang mendekati kearah mereka, setelah terdengar semakin dekat, suara kaki kudapun semakin pelan Jalannya.


Setelah kuda itu berada didepan halamannya aji santang, semuanya pun menoleh pada yang baru datang itu.


Aji sura yang sudah sangat mengenal orang yang baru datang dengan menunggangi kuda warna coklat itu langsung menyapanya.


''Kakang Adi kerta santang...'' Sapa aji sura.


Orang itu pun turun dari kudanya, dan langsung memburu pada aji sura.


''Rayi aji sura, nampak awet muda sekali rupanya.'' Jawab orang itu, yang tak lain adi kerta santang anak bontot dari aji santang.


''Waah kakang bisa saja.'' Ucap aji sura.


Adi kerta santangpun lalu menyapa pada wira jaya, dewi harum, darma seta dan ki layung serta aji darma.


''Wira, Harum, nak seta dan ini siapa?.'' Tanya adi kerta santang sambil menunjuk pada jala aji darma.


''Itu anak saya satu-satunya kakang.'' Pungkas aji sura.


''Oooh rupanya dunia cepat sekali berputar, tidak terasa sudah hampir menyamai ayahandamu.'' Ucap adi kerta santang.


''Wah Paman Bisa aja.'' Saut jala aji darma.


''Oooh iya, apa kabar ki layung, kenapa anda bisa bersama mereka?.'' Tanya adi kerta santang.


''Ceritanya panjang nak adi, nanti aki cerita'in, ee'eh ayahmu kemana, kenapa rumahnya sepi sekali?.'' Ki layung balik bertanya.


''Ayah lagi ditempat pandai besi, ada pesanan senjata katanya.'' Jawab adi kerta santang.


''Ooh begitu, saya rindu pingin ketemu, bolehkah saya berkunjung ketempatnya.'' Ucap ki layung.


''Sabarlah ki, beliau berpesan jangan ganggu, karena ayahanda lagi bikin senjata ada ritual khusus, takut nanti malah menggangu konsentrasinya.'' Jawab adi kerta santang.


''Emangnya senjata pesanan dari siapa?.'' Tanya wira jaya.


''Pesanan dari kidarpal teman ayahanda sewaktu menjadi prajurit dikeraja'an.'' Jawab adi kerta santang.


''Wah celaka.'' Pungkas ki layung.


''Celaka kenapa ki?.'' Tanya wira jaya.


''Pasti kakang aji santang sudah tertipu oleh mulut manisnya ki darpal, padahal dia berhati iblis, bisa hancur dunia persilatan bila ki darpal mempunyai senjata ampuh, ditambah ilmu halilintarnya yang sudah menggetarkan jagat persilatan.'' Ucap ki layung.


''Emang Ki darpal itu siapa ki?.'' Dewi harum bertanya.

__ADS_1


''Dia pendekar sakti aliran hitam, yang ingin menguasai dunia persilatan, dengan kekejaman dan keserakahannya.'' Ucap ki layung.


''Apa mungkin, mimpiku waktu dihutan itu, ada kaitannya dengan ini semua.'' Darma seta memotong pembicara'an.


''Bisa jadi begitu, terus siapa yang datang dalam mimpimu itu seta?.'' Tanya ki layung.


''Entah lah, saya pun tidak mengenalnya, tapi kake itu sering datang dalam mimpiku bila ada bahaya mengancam.'' Jawab Darma seta.


''Ciri-cirinya bagaimana.'' Kata ki Layung.


''Kake itu berpakaian serba putih dan jenggot putih panjang, selalu membawa tongkat berkepala burung dan ujungnya persis menyerupai sebuah cakar burung.'' Jawab Darma seta.


''Tongkat cakra dewa.'' Celoteh Aji sura


''Maksudnya apa Ke?.'' Tanya Darma seta.


''Tidak salah lagi, yang datang dalam mimpimu itu pasti Ayahanda Raga nata, kake buyutmu Darma seta.'' Jawab Aji sura.


''Terus kenapa ki buyut Raga nata, selalu datang padaku, kenapa tidak pada kake Aji, kake Giri darma, kake Giri nata, atau pada paman wira jaya dan paman Jala Aji darma.'' Ucap Darma seta.


''Karena itu sudah kehendak sang pencipta, mungkin kamulah yang terpilih untuk memegang kepercaya'annya, menurut bibimu pewaris elang sakti akan selalu jatuh pada keturunannya yang mempunyai garis telapak tangan tapak jalak, apakah itu ada pada kamu seta?.'' Tanya Aji sura.


Dan dewi harum selaku ibu kandungnya Darma seta, serasa di ingatkan pada hal itu, bahwa ditelapak tangan kiri Darma seta mempunyai garis telapak lurus sejajar bersama tanda hitam, Dewi harumpun menghampiri Darma seta lalu memegang tangan kirinya.


''Apakah ini yang dimaksud oleh paman Aji.'' Ucap Dewi harum sambil memperlihatkan garis pada telapak tangan kirinya Darma seta.


''Ooow, sungguh mulyanya cipta'an sang pencipta, dari juta'an manusia yang menghuni bumi, hanya satu dua tiga manusia yang diberi tanda keajaiban, iya benar harum, ini lah yang dinamakan garis tapak jalak, menurut cerita dari kitab yang tertulis dari para leluhur kita dulu, setiap garis ditelapak tangan, semua itu ada arti dan maknanya, termasuk garis tapak jalak, karena garis ini sudah tersimpan sebuah kekuatan yang mungkin tidak diketahui atau tidak disadari oleh pemiliknya itu sendiri.'' Ucap Aji sura menceritakan pengetahuannya.


Setelah itu Darma seta dan Wira jaya yang ditemani oleh Adi kerta santang beserta ki Layung, berjalan ketempat pembuatan senjata Aji Santang.


Tidak lama kemudian merekapun sudah sampai ditujuan, Adi kerta santang masuk dengan membuka pintunya, Nampak terlihat Aji santang lagi melihat-lihat senjata itu.


''Ma'ap ayah bila nanda mengganggu kerja ayah.'' Ucap Adi kerta santang.


''Tidak santang, sekarang ayah pun mau pulang, paling besok ayah lanjutkan lagi.'' Jawab Aji santang.


''Di rumah ada yang menunggu Ayah.'' kata Adi kerta santang.


''Siapa santang?.'' Tanya Aji santang.


''Wira jaya sama istrinya beserta Aji Sura dan Anaknya.'' Jawab Adi kerta santang.


''Wira jaya, Dama seta dan Ki Kayung lagi menunggu diluar.'' Ucap Adi kerta santang.


''Ooh ya, kenapa tidak diajak masuk sini.'' Ucap Aji santang.


''Ya sebumnya ku sudah menjelaskan pada mereka, dan mereka pun mengerti jadi nunggu diluar takut mengganggu konsentrasi ayah.'' Ucap Adi kerta Santang menjelaskan.


''Ya sudah suruh masuk sini.'' Suruh Aji Santang.


Setelah mendapat perintah dari ayahnya, Adi kerta santang pun langsung keluar untuk memanggil Wira jaya dan Darma seta beserta ki Layung.


Tidak menunggu lama lagi mereka bertiga pun langsung masuk.


Kerinduan ki Layung pada kakanya yaitu Aji santang, karena sudah berpuluh-puluh tahun mereka tidak pernah ketemu, semenjak kejadian perang saudara itu yang telah merenggut nyawa Supala adi nata dan Ajeng kerta ningrum.


''Kakang ma'apkan aku kakang.'' Ucap Ki Layung sambil sungkem.


''Sudah rayi, bangunlah, ku tau rayi tidak bersalah, sudah tidak usah di bahas lagi, itu masalah pahit yang harus di kubur dalam-dalam.'' Jawab Aji santang.


Wira jaya yang terasa terungkit tentang kematian kedua orang tuanya, mendadak geram drngan mura merah mrmbara.


''Bedebah ini semua gara-gara Raden pinara ki, rasanya ku ingin *******-***** biang dari masalah itu.'' gerutu Wira jaya.


''Sudahlah wira, tidak baik terus-terusan menyimpan dendam dalam hatimu, nanti malah kamulah yang akan merugi.'' Ucap Aji santang dengan bijaksana meredakan amarahnya Wira jaya.


Begitu pula Darma seta, dengan sangat bijaksana membasuh api amarah di dada Wira jaya, dengan Kata-kata yang enak di dengar dan bisa dimengerti.


''Sudah Paman, alangkah baiknya paman bersikap lebih dewasa dan bijaksana, tak satu pun manusia yang bisa melawan takdir yang sudah ditentukan oleh sang maha pencipta.'' Ucap Darma seta.


Semua yang perkata'annya dari Darma seta, terharu dan terkesan dengan sosok Darma seta yang begitu tulus dan bijaksana dalam menyikapi segala hal permasalahan.


Seiring hari yang sudah berganti senja, mereka yang lagi pada kumpul di dalam ruangan Pandai besi miliknya Aji santang, yang tersuat dengan masalah kesedihan puluhan tahun silam, kini berubah menjadi kaget dan segera beranjak dari tempat duduknya, di sa'at mereka mendengar suara kuda yang lagi berlari lebih dari pada satu, mendekati kearah mereka berada.


''Kaya rombongan pasukan berkuda, kalau dari langkah kudanya, ada empat ekor kuda yang lagi menuju kemari.'' Ucap Darma seta.


''Sungguh luar biasa, naluri dan pendengaranmu Darma seta.'' Ucap ki Layung

__ADS_1


''Iya Cucuku, kamu hebat padahal kake juga tidak tau jumlah kuda yang lagi datang kemari itu.'' Potong Aji Santang.


''Ah kake terlalu berlebihan memujiku.'' Ucap Darma seta.


Disa'at itu pula pasukan berkuda itu pun sudah tiba didepan, sambil memanggil Aji Santang.


''Sampu rasuun...Tuan Aji santang.


''Rampes..'' Jawab Aji santang, sambil membuka pintu lalu keluar.


''Ma'ap kalian ini siapa?.'' Tanya Aji santang.


''Kami utusan dari Guru Kidarpal, Saya Munding wesi dan ini Ki lingga tole beserta anak buah kami, apa pesanan Guru kami sudah beres tuan?.'' Tanya Munding wesi.


''Belum Ki munding, untuk menciptakan senjata yang hebat butuh waktu yang lama, dan ada ritual khusus.'' Jawab Aji santang.


Sedangkan Darma seta, Wira jaya dan Ki Layung mendengarkan dari dalam, percakapan Munding wesi dan Aji santang.


Dan setelah itu pula, Kedua utusan kidarpal beserta anak buahnya langsung pergi, setelah mengetahui bahwa pesanan gurunya itu masih belum sempurna.


Kini hari senjapun sudah berganti dengan gelap, Aji Santang, Wira jaya, dan Darma seta serta ki Layung, sudah bersiap-siap untuk pulang sedangkan api yang masih menyala ditungku tempat pembakaran logam, untuk pembuatan senjata pun telah dipadamkan, dan Senjata pedang pesanan dari Kidarpal dibawa pulang, karena selain bahan logamnya yang pilihan ditambah ada ritualnya yang khusus untuk menyimpan kekuatan itu masuk pada pedang itu.


Mereka ber'empat berjalan menyusuri padang-padang rumput, dan cahaya obor yang menerangi perjalanannya, yang dipegang oleh Darma seta yang berjalan paling belakang


Dimalam yang gelap sunyi sepi, hanya suara jangrik yang mengiringi dalam perjalanan mereka.


Darma seta dan Wira jaya Serta ki layung dan Aji santang, yang sudah sangat terlatih pendengarannya, semua serentak melompat untuk menghindari anak-anak panah yang mau membunuhnya, yang datang dari arah samping.


''Awaass.... Ada bahaya.'' Teriak Darma seta sambil melompat.


Dengan repleknya Darma seta langsung mencabut pedang peraknya untuk menangkis anak-anak panah itu yang berusaha mau membunuhnya.


Trak trak trak taraktak.


Suara anak panah yang kandas diamuk oleh pedang perak, Ki Layung dan Aji santang sangat geram, begitupun Wira jaya.


''Haiii... Pengecut keluarlah, jangan kucing-kucingan dengan kami, tunjukan batang hidungmu.'' Teriak Wira jaya.


Setelah itu angin bertiup dengan kencangnya, suara gemuruh yang menyeramkan, sehingga daun-daunan banyak yang berterbangan dan ranting-ranting pun banyak yang lepas terhempas angin yang begitu kencangnya.


Aji santang dan Ki layung melapisi dirinya dengan tenaga inti alam supaya tidak terbaya oleh angin cipta'an itu.


Sedangkan Darma seta dan Wira jaya yang sudah mengetahui siapa yang mempunyai ilmu bayu yang sangat dahsyat itu, ia lalu membentengi dirinya dengan Ajian Butiran Salju, ilmu dari elang utara, Semakin hebat angin menerpa maka semakin tebal pula salju yang membentengi Darma seta dan Wira jaya.


Kini hawa dingin sudah mulai menyelimuti disekitar trmpat itu, karena ajian butiran salju yang semakin menebal dan Ajian bayu silantang pun mulai melemah karena pantulan dari ajian butiran salju yang menyerang balik pada sang prmilik limu Bayu dilantang.


Hawa dingin yang terus tambah semakin dingin sekali terasa, sehingga aji Santang dan Ki layung pun tidak tahan menahan aura dingin seperti berada dikutub es, ditambah terlalu banyaknya mengeluarkan tenaga dalam, sewaktu menahan badai angin topan dari ilmu bayu silantang, dan Akhirnya Aji santang dan Ki layung menggigil kedinginan, tubuhnya kini seperti membeku.


Melihat kedua kakenya terkujur dengan tubuh membeku Darma seta dan Wira jaya lalu menghentikan dan menarik kembali ajin butiran saljunya.


Dikit demi sedikit gumpalan salju yang sudah mrmbentuk sebuah gunung itu secara perlahan mrnghilang, dan hawa dinginpun perlahan-lahan sirna.


''Paman tolong ki layung dan ki buyut aji santang, Saya mau bikin perhitungan dulu dengan Raden sedayu, mengapa ia sampai menyerang kita semua.'' Ucap Darma seta.


Setelah itu Darma seta melesat kearah datangnya angin topan itu, nampak terlihat oleh Darma seta tubuh jangkung dan berwajah tampan lagi mengigil menahan dingin yang merasuk anggota tubuhnya.


''Hahahaaa, ternyata benar duga'an ku, Raden sedayu, si pendekar bayu, ku akui ilmu Bayu silantangmu sangat dahsyat, tapi sayang belum begitu sempurna dan dipake buat pamer saja.'' Ucap Darma seta sambil tertawa melebar.


''To to to..Lang sa ya pe pen de de kar elang perak.'' Kata Raden sedayu sambil menggigil menahan dingin.


''Oooww, sungguh mudah benar kau bercakap minta ma'ap, setelah apa yang kau lakukan pada kami, sebenarnya orang pengecut seperti kamu ini tidak pantas hidup dan berkeliaran di rimba persilatan.'' Bentak Darma seta.


''Ma'ap kan Sa sa ya, pendekar elang perak, saya tidak ber maksud melukai kalian, saya hanya ingin menjajal ilmu kalian berempat, ternyata Kamu dan elang kuning sangat didjaya.'' Ucap Raden Sedayu.


Setelah itu Darma setapun tidak tega terhadap lawannya yang sudah minta ma'ap dan tidak berdaya, ia pun lalu menyalurkan hawa murni dengan menempelkan kedua telapak tangannya pada punggung Raden sedayu.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤▪︎▪︎▪︎▪︎¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Bersambung...


Nantikan kelanjutan kisahnya diepisode selanjutnya.


Jangan lupa dukungannya dengan


like, tulis comentar dan saran, Favorite, ranting dan vote.


Selamat membaca, semoga bisa terhibur

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya.


__ADS_2