PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 57


__ADS_3

Di tepian hutan carik di bawah bukit Ranca galuh, di kediamannya Surata Manggala, yang sangat jauh dari perkampungan, sangat cocok untuk tiga pendekar elang menetap untuk sementara, sambil beristirahat mengumpulkan energinya yang banyak terkuras waktu pertempuran di ladang itu.


Dalam setiap petualangannya dan di setiap persinggahannya selalu menjadi simbol para pendekar elang selalu menetap dan bikin tempat untuk berteduh dengan membuat sebuah tempat tinggal di atas pohon yang paling tinggi, seperti waktu di Hutan Galunggung.


Darma seta yang di sibukan dengan membuat rumah di atas pohon, karena Darma seta sejak kecil selalu di ajarkan dan di asuh oleh burung elang, maka tak heran bila tabiatnya tak ubahnya seperti se ekor burung elang.


Padahal ki Surata Manggala memberikan tawaran untuk tinggal bersama dirumahnya, tapi setelah Wira jaya menjelaskannya, agar supaya tidak sampai tercium oleh mata dan telinga Tongkat merah yang banyak tersebar di mana-mana, baru ki Surata mengerti.


Kini selesailah sudah sarang burung elang yang di rancang oleh si elang perak/Darma seta, yang di bikin dua tahap, Biar ibuk dan Paman yang sekaligus ayah sambungnya tidak akan terganngu dengan keberada'annya begitu pikir Darma seta.


Matahari sudah semakin naik ke atas dan langit di hari itu nampak cerah, tapi hanya sedikit cahaya yang masuk kedalam hutan carik itu melalui celah-celah dedaunan yang jarang.


Darma seta yang lagi duduk bersila di sarangnya pling atas, mengumpulkan energinya dengan menarik tenaga inti alam, karena energi dalam tubuhnya sudah banyak terkuras abis waktu menggunakan pedang Garuda Cakra Buana yang seperti menyedot kekuatan pemakainya.


Di dalam meditasinya Darma seta menerima bisikan terngiang jelas di telinganya.


"Cucuku untuk menaklukan pedang Garuda Cakra Buana, kamu harus menguasai jurus Garuda winata sampai tingkat dua belas, karena ditingkat dua belas ada perpaduan kekuatan yang saling mengisi dari kelemahannya masing-masing, selamat tinggal cucuku." Bisik suara gaib.


Lalu Darma seta membuka kan matanya perlahan, dan mengangkat tubuhnya menjadi posisi berdiri, sambil mengerlingkan alisnya bergumam. "Jurus Garuda Winata tingkat dua belas, padahal di kitab elang cuma ada sepuluh tingkatan, lalu dua jurus lagi kemana, apa mungkin dua jurus itu terpisah." Batinnya Darma seta.


Darma seta kembali menurunkan tubuhnya duduk sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding rumah pohon yang terbuat dari bambu.


Ketika Darma seta lagi duduk bersandar sambil memikirkan bisikan yang melintas dalam semedinya itu.


Terlintas di ingatan Darma seta apa yang telah di bacanya di kitab elang, bahwa di dalam gagang pedang merah dan pedang perak terselip satu rahasia yang selama ini masih belum bisa terpecahkan.


Lalu Darma seta turun dan masuk ke tempat kediamannya Dewi harum dan Wira jaya dan berkata.


"Ibuk coba ibu lihat gagang pedang merah itu, dan buka ujung gagang pedang merah yang ada tembaganya itu." Darma seta meminta pada Dewi harum untuk membuka bagian gagang pedang yang seperti segi tiga berlian terbuat dari logam tembaga.


Dewi harum pun menuruti perintah dari Darma seta , dan di bukanya logam tembaga yang menjadi perhiasan gagang pedang tersebut, setelah perhiasan gagang pedang itu lepas, netra dewi harum sampai terbelalak kaget memandang isi di balik gagang pdang itu, terselip kulit rusa yang di lipat lalu di ambilnya dan di buka perlahan nampak tertulis aksara sunda kuno dengan lukisan tinta gambar burung Garuda dan angka sebelas romawi.


"Apa maksudnya ini seta, ibuk belum paham?." Tanya Dewi harum.


"Sekarang coba kita buka perhiasan pedang itu pada pedang perak." Ujar Darma seta sembari membuka segi tiga berlian sebagai perhiasan gagang pedang perak itu.


Setelah terlepas, ternyata sama sebuah kulit rusa yang di lipat dan bertuliskan hal yang sama, cuma di situ tertulis aksara romawi angka dua belas

__ADS_1


"Nah sekarang jelas sudah rahasia yang tertulis pada kitab elang sakti itu, dan inilah yang belum kita pecahkan." Ujar Darma seta


Lalu mereka menyatukan ke dua kulit Rusa itu, setelah itu nampak terlihat beberapa gerakan jurus dengan menyerap ke kuatan Bumi, Bayu dan Api.


Tiga pendekar elang pun langsung mempelajari ke dua jurus Garuda winata tingkat sebelas dan dua belas.


Untuk menyerap ke kuatan tiga inti alam mereka memerlukan waktu yang tidak sebentar.


Dari hari ke hari berganti malam, mereka terus melakukan latihan untuk memasukan tenaga dari tiga inti alam,


Satu minggu telah berlalu. Ke tiga pendekar elang kini sudah menguasai dua jurus pamungkas dari jurus Garuda winata.


Ketika hari menjelang gelap Tiga pendekar elang sudah mulai keluar dari tempat kediamannya, untuk mencari Jareti Gangga


Tiga kelebatan bayangan keluar dari hutan carik melesat melintas kebarat menuju kampung Ranca Galuh, untuk memudahkan penyusupannya tiga pendekar elang menggantikan pakaiannya dengan pakaian biasa yang suka di kenakan oleh warga penduduk di tatar sunda.


........


Di lain tempat tepat.


Di sebelah barat Bukit Ranca Galuh di ujung perkampungan, ada sebuah bangunan tua, dan banyak di huni oleh kaum adam berpakaian layaknya se orang pengemis, mungkin yang di sebut oleh kebanyakan orang adalah perkumpulan pengemis tongkat merah, dan merekapun bergerak di malam hari dan ada pula yang di siang hari, di sebuah ruangan ada beberapa orang lagi berkumpul, sambil duduk bersila menghadap pada orang berwajah bersih dengan ikat kepala warna merah lagi duduk sambil berkata.


"Apa kita kirim surat pada tiga wilayah Barat, Timur dan Selatan untuk datang kesini kakang." Memberi pendapat.


"Tidak usah, karena tiga pendekar elang tidak akan menetap di suatu tempat, cukup kita memberi kabar, dan beri tahu ciri-ciri dari tiga Pendekar elang untuk di tiga wilayah." Ujar lelaki itu yang merupakan ketua dari perkumpulan Tongkat merah.


Ketika mereka lagi berunding untuk bergerak dalam pencarian tiga pendekar elang, terasa kelebatan bayangan kecil yang di barengi dengan mendengus angin.


Weeess


Pleekkk.


Sebuah panah kecil dari Bambu meluncur dan menancap di tiang bangunan tersebut, mereka tersontak kaget sambi berteriak.


"Bedebah rupanya ada penyusup." Ujar salah satu dari anggotanya sambil beranjak dari tempat duduknya mau melakukan pengejaran, tapi lelaki itu langsung duduk kembali setelah mendengar teriakan dari ketuanya.


"Tidak usah di kejar." Ujarnya, sambil mengangkat tubuhnya dan mengambil benda berupa panah itu dan terselip selembar surat dari daun lontar yang di ikat.

__ADS_1


Lalu sang ketua membaca isi tulisan dari beberpa helai daun lontar itu.


"Hai Jareti Gangga, bila anda benar pendekar sejati datanglah malam ini juga ke puncang bukit Ranca Galuh, kita selesaikan masalah ini secara ke satria jangan melibatkan anggotamu, jika tidak mau banyak korban berjatuhan." Isi dari surat tersebut.


"Kurang ajar, besar juga nyali Elang timur itu." Gerutu sang ketua yang tak lain adalah Jareti Gangga murid nomor satu dari pergutuan Naga Bintang.


Kemudian orang-orang yang lagi duduk bersila, yang merupakan anggota dari Tongkat merah saling pandang dengan sesamanya, lalu salah satu yang merupakan orang terdekatnya Jareti Gangga bertanya?. "Apa isi surat tersebut kakang, sehingga kakang menjadi naik pitam."


"Ini pasti dari Pendekar elang, dia menantang saya adu jesaktian di puncak Bukit Ranca Galuh malam ini juga." Jawbanya.


"Ber'arti kita tidak harus susah payah mencarinya kakang."


"Iya tapi masalah nya Pendekar elang menantang saya secara pribadi." Jawab Ketua.


"Itu sudah pasti siasat mereka kakang, agar lebih mudah melumpuhkan perkumpulan Tongkat merah, otomatis dengan sendirinya anggota kita akan terpecah belah kalau kakang dapat di kalahkannya."


"Iya betul kakang Ketua pendekar elang sangat didjaya, tidak mudah untuk kita bisa melumpuhkannya, apalagi dengan pedang saktinya itu bisa menghancur leburkan apa saja." Pungkas salah satu anggotanya yang lain.


"Kurang ajar kau, malah memuji musuh kita, lihat saja, Pendekar elang belum tau siapa Jareti Gangga murid ki Sura praba penguasa Naga Bintang, apa lagi saya sudah menguasai jurus Naga Bintang sampai tingkat yang paling sempurna." Ujar Jareti Gangga dengan sombongnya.


Kemudian Jareti Gangga bangkit dari tempat duduknya, melangkah meninggalkan anggotanya menuju salah satu ruangan tempat ia bersemedi dan menyimpan senjatanya.


Jareti Gangga mengambil sebuah pedang sebagai senjatanya yang selalu menemaninya dalam setiap petualangannya.


Kini ia pun kembali pada anak buahnya yang lagi duduk menunggu perintah.


"Kalian tunggu di sini, saya akan memenuhi tantangan dari pendekar elang." Ujar Jareti Gangga.


"Tidak bisa kakang, anggota Tongkat merah akan selalu setia menemani rajanya kemanapun pergi, bukan kah kakang sendiri yang telah menetapkan pepatah begitu, kita tak ubah seperti semut merah selalu ada di mana-mana." Ujarnya.


Setelah mendapat penjelasan dari anggotanya, Jareti Gangga sejenak terdiam sambil mendonggakan wajahnya ke atas, ia berpikir sepertinya perkata'an dari anggotanya memang benar adanya, seperti yang telah di ucapkan dalam sebuah janji setia sebuah perkumpulan pengemis Tongkat merah waktu pertama kali terbentuknya sebuah kelompok tersebut. Lalu Jareti Gannga berkata. "Baiklah kalau begitu, sekarang juga kira berangkat kepuncak Bukit Ranca Galuh." Tutur Jareti Gangga.


Dalam gelapnya malam mereka keluar dari sarangnya, Jareti Gangga berjalan paling depan dengan langkah yang pasti bahwa malam ini ke tiga pendekar elang akan binasa.


********


Bersambung.

__ADS_1


Minta dukungannya ya cukup dengan like, berikan comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sejahtera, sehat-sehat dan sukses selalu.


__ADS_2