PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti. eps 82


__ADS_3

Pada hari Anggara di bulan Wesaka langit di atas Bumi Haur Gereng nampak cerah, lengkingan suara burung elang begitu nyaring terdengar di angkasa, Terbang memutari bumi Haur Gereng, lalu setelah itu sang elang pergi ke arah utara.


Sementara di tempat lain.


Wira jaya dan Darma seta yang lagi membelahi kayu bakar dengan sebuah kapak besar, dari atas rumah Dewi harum berjalan nenuruni tangga dengan membawa teko kendi, dan makanan umbi rebus.


Setibanya di bawah Dewi harum memanggil suami dan anaknya.


"Kakang, Seta ini minum dulu, aku bawa'in rebus talas." Panggil Dewi harum.


Wira jaya pun langsung menghentikan belah kayu bakarnya, sambil menatap pada Darma seta dan berkata.


"Ayo seta, ibukmu tuh bawain kita makanan, kita istirahat dulu." Ajak Wira jaya.


"Baik Paman." Jawab Darma Seta.


Keduanya pun lalu melangkah menghampiri pada Dewi harum, lalu mereka duduk di bangku, sambil meraih cangkir yang sudah berisikan air dari sebuah kendi.


"Aaah segarnya, air putih terasa nikmat, ketika tubuh lagi bermandikan keringat." Ujar Wira jaya.


"Iya kakang sudah lama kita menunggu suasana begini, rasanya pingin sekali berdiam terus di rumah, kita bercocok tanam di ladang seoerti dulu, biarpun hasilnya tidak seberapa tapi terasa nikmat." Cetus Dewi Harum.


"Iya nyai, kakangpun seperti itu rasanya ingin hidup tenang di kampung tanpak ada lagi pertumpahan darah, tapi bagaimana dengan misi kita yang belum tuntas, dan masih banyak orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita." Ujar Wira jaya.


"Andaikan Paman dan ibuk mau menenangkan diri di rumah, emang sudah sepantasnya mengasingkan diri dari dunia persilatan." Pungkas Darma seta ikut bicara.


"Iya seta, tapi misi kita belum berakhir, dunia persilatan memang keras dan penuh dengan tipu daya, apalagi amanat dari mending kakek Raganata yang di tulis di kitab elang sakti, kita harus mendamaikan dunia dan memberantas ke angkara murka'an di maya pada ini." Ujar Wura jaya.


Ketika mereka lagi asik duduk sambil menikmati makanan rebus talas, mereka tersontak kaget dengan Lengkingan suara yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka.


"Jagat Dewa batara, itu kan suara elang putih abu, sepertinya membawa kabar untuk kita." Ujar Wira jaya.


Dan Suara itu semakin mendekati ke arah Wira jaya, nampak terlihat oleh mereka kedua sayap yang membentang panjang melorot lalu hinggap di dahan kayu yang besar, se ekor burung elang yang besar tiga kali lipat dari burung elang yang biasanya.


"Ada kabar apakah wahai sahabatku?." Tanya Wira jaya.


Lalu sang elang berkata. "Ada kabar buat kalian bertiga, di selatan Dusun Batu Gambir, ada sebuah perkampungan yang sangat subur, tapi para penduduknya lagi pada ketakutan." Berkata sang elang.


"Memang apa yang terjadi pada mereka sahabt?." Tanya Wira jaya.

__ADS_1


"Kampung Haur Gereng lagi tertindas oleh sang Durjana, Kapak merah, dan sekarang timbul Dua Setan Bayangan." Jelas sang elang.


Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma Seta langsung terperanjat kaget ketika elang putih abu menyebut nama Dua Setan Bayangan.


"Bedebah, rupanya kedua iblis itu, harus benar-benar di musnahkan karena prilakunya sudah banyak merugikan orang.....Terima kasih sahabat atas kabar yang kau bawa, dan kami akan segera kesana." Tutur Wira jaya.


Setelah itu, sang elang putih abu sudah mulai mengepakan sayapnya, suara angin yang menderu dari kepakan sayapnya yang panjang dan besar terasa oleh Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma Seta.


Ketika hari sudah mulai menginjak sore, Wira jaya, Dewi Hatum dan Darma seta pun langsung menyiapkan kudanya untuk berangkat ke kampung Haur Gereng, atas kabar yang telah di bawa oleh elang putih abu.


Kini Mereka sudah mulai menaiki punggung kudanya masing-masing, perlahan mereka pun memecutkan tali kekang kudanya, dan sang kudapun langsung menggerakan ke empat kakinya untuk berjalan mengantarkan sang majikannya ke tempat yang di tuju.


Wira jaya berjalan di barisan paling depan yang di ikuti oleh Dewi Harum dan Darma seta yang berada di garis paling belakang, sebagai elang pelindung dengan julukan elang perak.


Hea hea hea.


Kudapun kini mulai di pacu dengan kencang, meninggalkan Dusun Batu Gambir.


Keteprok


Keteprok


Keteprok


Bunyi suara langkah kuda berlari menyusuri jalanan setapak, ketika mereka berada di tengah hutan karet, nampak dari arah depan ada suara kuda yang lagi berlari, lalu Wira jaya mengacungkan tangannya ke atas dan memperlambat laju kuda.


"Coba kalian dengar baik-baik sepertinya ada tiga kuda berlari lagi mengarah pada kita." Ujar Wira Jaya.


"Iya benar sekali." Cetus Dewi Harum.


Dan Setelah itu muncul tiga kuda lagi berlari mendekati pada mereka.


Kira-kira berjarak lima tumbak ketiga orang berkuda itupun menghentikan laju kudanya.


Dengan pasang wajah seperti terkesima, dan matanya menatap datar pada ke tiga pendekar elang, lalu Wira jaya bertanya?.


"Ma'af ki sanak, kami mau bertanya?." Tanya Wira jaya.


"Iya silahkan." Ujarnya.

__ADS_1


"Jarak tempuh ke Kampung Haur Gereng, kira-kira berapa lama lagi?." Tanya Wira jaya.


"Sebentar lagi akan segera sampai, kalau boleh tau kisanak ini siapa dan ada perlu apa ke kampung Haur Gereng?." Orang itu balik bertanya.


"Kami ada perlu ke sana, kisanak sendiri hendak kemana?." Tanya Dewi Harum ikut bicara.


"Kami hendak ke Dusun Batu Gambir nyi sanak, ingin ke lembah hantu." Jawabnya.


Wira Jaya, Dewi Harum dan Darma Seta saling pandang sambil menyunggingkan kedua bibirnya, lalu Darma Seta maju ke depan dan berkata.


"Di lembah hantu tidak ada kehidupan ki sanak, ada perlu apa kisanak-kisanak ini ke sana?." Tanya Darma Seta.


"Kami ingin menemui Nini Ragan tiri dan kakek Ragantala, kampung kami lagi di landa musibah dari orang-orang Durjana yang selalu menjarah hasil panen para prnduduk." Ujarnya.


"Lebih baik kisanak balik lagi, karena beliau sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan, lantas ki sanak ini dari mana?." Tanya Wira Jaya.


"Kami dari kampung yang kisanak maksud, dan saya sendiri selaku kepala kampung disana." Jelasnya.


"Owhh, sangat kebetulan sekali, kalau begitu cepat kalian balik lagi." Ujar Wira Jaya.


"Apa maksud kisank ini, saya belum paham?." Tanya orang yang memperkenalkan dirinya Kepala Kampung.


"Perkenalkan Saya Wira Jaya, dan Ini istriku Dewi Harum dan yang ini anaku Darma Seta, orang-orang menyebut kami tiga pendekar elang." Ungkap Wira jaya.


Kepala kampung dan kedua pemuda yang menemaninya, nampak semringah ternyata yang ingin ia cari sudah ada di depan mata.


"Terima kasih sangiang agung, akhirnya doa kami telah terjawab." Batin kepala kampung.


Selepas itu mereka pun langsung melajukan kudanya, kini ke enam kuda melaju menuju kampung Haur Gereng.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di perbatasan Haur Gereng, sebuah kampung yang padat penduduk nampak banyak rumah-rumah panggung dari para penduduk kampung tersebut.


"Kampung ini ternyata sangat ramai, pantas saja kampung ini sangat subur, saya pun melihat tanaman palawija dan dan rempah-rempah serta tanaman padi di sini sangat bagus, Kira-kira para perampok itu kapan mulai bergeraknya?." Tanya Wira jaya.


"Mereka selalu bergerak di malam hari di mana para penduduk lagi pulas-pulasnya tertidur."


Kedatangan tiga pendekar elang di kampung Haur Gereng sudah tercium oleh pendekar Setan Bayangan, yang mempunyai dendam yang sudah berlangsung lama, dari semenjak tewasnya Setan ireng, di bunuh oleh elang perak.


Kedua Setan Bayangan, yang sudah menyempurnakan ilmu Rawa Ronteknya ke tingkat yang lebih tinggi, pendekar aliran hitam itu sudah merasa yakin bahwa kali ini Tiga pendekar elang tidak akan bisa mengalahkannya.

__ADS_1


__ADS_2