PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Eps 89


__ADS_3

Suara nyaring terdengar dari pedang garuda dalam menangkis senjata yang berbentuk taring macan itu kini dapat di patahkannya oleh Darma seta.


Lodaya merah nampak geram, dengan pasang muka sangar, dan kuku dari kesepuluh jari jemarinya kini nampak keluar memanjang runcing bagaikan sebuah logam keras yang siap untuk mencabik-cabik tubuh Darma seta.


Lodaya merah melompat dalam jurus harimau menerkam, begitu cepat dan agresip.


Darma seta begerak cepat dengan memasanf kuda-kuda dalam tata gerak jurus garuda winata.


Hiuk


Hiuk


Hiuk


Whes whes whes...


Kelebatan bayang dari kedua lawan begitu cepat dan agresip.


Jurus dari lodaya merah yang banyak menggunakan cakaran dan lompatan, begitu kewalahan untuk mengungguli jurus Garuda winata yang banyak bergerak di atas, layaknya burung garuda yang menerjang sang penguasa rimba dengan cakaran dan patukan serta kibasan sayapnya yang seakan membentang menghantam bagian kepalanya Lodaya merah.


Whes whwes..


Deaass..


Lodaya merah melompat mundur dengan sangat lenturnya tubuh Lodaya merah laksana harimau dalam menghindari serangan, dan dengan entengnya kaki Lodaya merah ketika mau menapak ke bumi.


Darma seta merasa kagum akan ketahanan dan kekuatan tubuh Lodaya merah, yang seperti tidak merasakan apa-apa dengan pukulan jurus Garuda Winata nya.


"Sungguh luar biasa kekuatan pisik ke tuaTonglat merah yang baru ini, pantas saja kini para pengemis semakin merajalela berbuat onar, rupanya ketuanya sangat didjaya." Gerutu Darma seta bermonolg dalam.hati.


Lodaya Merah lalu berjalan dua langkah ke depan sambil menyeringai penuh amarah.


"Ternyata Kabar tentang Pendekar elang itu bukan omong kosong, hebat-hebat, tapi jangan dulu berbesar hati elang perak, karena semua ajianku belum ku keluarkan semua." Timpal Lodaya merah.


"Jangan terus kau mengumbar bacotmu itu Lodaya merah cepatlah, apa yang kau ingin dari ku." Ujar Darma Seta.


"Bangsat kau elang perak, sekarang bersiaplah untuk pergi ke neraka." Maki Lodaya sembari memasang kuda-kuda untuk mempersiapkan mengeluarkan ilmu andalannya.


Darma seta pun tidak mau kalau harus mati konyol, secepatnya Darma seta membangun kuda-kuda untuk menahan kesaktian ilmunya Lodaya merah, dengan Ajian Cakra Dewa sebuah ilmu penghacur yang sudah tenggelam puluhan tahun silam.


Lodaya merah pendekar hariamau dari wilayah kulon, mungkin belum cukup mengenal dengan Ajian Cakra dewa yang pernah menggempar kan dunia persilatan puluhan tahun silam.

__ADS_1


"Sekarang tamatlah riwayatmu pendekar elang, heeeeaaaaa...." Teriak Lodaya merah sambil melepaskan pukulan Cakar Harimau selaksa.


Darma seta pun langsung mendorong kan kedua telapak tangannya kedepan, kini gelombang cahaya Putih perak telah keluar dari kedua telapak tangannya Darma seta, yang di sertai dengan gemuruhnya suara angin bersama kilatan-kilatan cahaya yang membelah di angkasa, sepertinya langit mau runtuh kebumi, yang di sertai dengan suara-suara guntur


Lodaya merah tersontak kaget, melihat ilmu ke kuatan dari Darma seta begitu mengerikan seperti mau berakhirnya kehidupan di dunia.


"Jagat Dewa batara, ilmu apa yang di keluarkan elang perak." Batin Lodaya merah yang hatinya sudah di liputi oleh rasa cemas dan gentar.


Kini Kilatan Cahaya merah membentuk kepala dan cakar Harimau, telah berbenturan dengan cahaya putih perak membetuk cakra dan kepala Raja Wali.


Suara ledakan keras terjadi, yang di iringi dengan suara auman si raja hutan dan lengkingan suara penguasa Angkasa.


Jeleeeguuuuuurrrrr


Auuuummmmm..


Kaaaaaakkkkkkkkk..


Cahaya merah yang membentuk kepala dan cakar hariamau, kini telah di ***** oleh cahaya cakra dan patukan Raja wali.


Auuuuuuuggghhhhh.


Lalu Darma seta duduk bersila untuk mengatur pernapasannya yang di rasakan agak sedikit sesak di pernapasannya.


"Hebat juga Ilmu pukulan Lodaya merah itu." Batin Darma seta bermonolog.


Sementara Tubuh lodaya merah terkapar di tanah, dengan kedua bola matanya telah pecah, darah terus keluar sari dari kedua sudut bibirnya, luka merobek di bagian dadanya, pakaian yang di kenakannya telah tersayat-sayat dan hancur.


Begitu melihat sang ketuanya telah binasa oleh keganasan Ajian Cakra Dewa, para anggota pengemis tongkat merah yang lagi bertempur melawan Wira jaya dan Dewi harum tersontqk kaget, spontan mereka melompat mundur beberapa tumbak.


"Celaka pimpinan kita telah binasa." Ujarnya memberi tau pada para anggota pengemis yang lainnya.


"Lantas bagaimana kakang dengan kita?." Tanya nya.


"Kita harus balaskan kematian kakang lodaya, sampai tetes darah penghabisan kumpulan para pengemis tidak pernah mengenal takut, Ayo kita serang pendekar elang itu." Serunya memberi semangat pada anggota yang lainnya.


Kumpulan para pengemis itu langsung berkelebat laksana ratusan belalang Pada ke tiGa pendekar elang.


Ciat ciaat ciaat


Trang trang trang trang..

__ADS_1


Suara Benturan logam keras dari sebuah senjata, begitu nyaring terdengar.


Pertarungan kini sudah mencapai tujuh belas jurus, Tiga pendekar elang terus dengan gencar memporak porandakan pasukan para pengemis tongkat merah.


Darah-darah sudah membanjiri mewarnai rumput-rumput hijau, satu persatu anggota pengemis tongkat merah berjatuhan terkena pukulan dan sabetan senjata dari ke tiga Pendekar elang.


Kemudian Wira jaya dan Dewi Harum berkelebat kesamping lalu dengan entengnya kedua kaki menapak di ranting kayu, sungguh ilmu meringankan tubuh yang amat sangat sempurna sekali.


"Saya harap hentikan pertarungan ini, dari pada banyak korban terus berjatuhan." Teriak Wira Jaya.


Enam Anggota pengemis yang masih tersisa menghentikan gerakannya, dengan wajah geram memandang pada Wira jaya, Dewi Harum dan Darma Seta.


"Bangsat kami bukan Anggota yang takut mati, dari pada kami harus menyerah sebelum kalah, sampai tetes darah terakhir kami tetap teguh pada kelompok kami mati bersama-sama." Bentaknya dengan nyali yang besar.


Darma seta tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya, dengan kedua Netranya memandang liar pada para pengemis tersebut.


"Baiklah kalau memang itu kemauan kalian, sekarang terimalah saya akan mengntarkanmu menuju jalan ke neraka." Tukas Darma seta dengan perlahan tangan kanannya meraih pada gagang pedang Garuda Cakra Buana yang berada di balik punggungnya.


Heaaaaaa...


Darma seta melesat ke udara, dengan pedang Garuda sudah berada di genggamannya, kilatan-kilatan cahaya yang di sertai dengan angin berhembus begitu kencang, melesat menghantam ke enam anggota pengemis tongkat merah.


Whess wheess wheess


Jelegur Jelegur jelegurrrttt....


Aaaauuuugggghhhhh......


Teriakan histeris terdengar melengking di udara bersama dengan terpentalnya enam tubuh jatuh terkapar dengan luka yang sangat mengerikan, dan darah terus ngocor membasahi tanah dan rumput-rumput hijau.


Darma seta menatap penuh rasa iba, sambil menyarungkan kembali pedang Garuda kedalam warangkanya.


"Ma'apkan saya, terpaksa saya habisi kalian yang keras kepala, selamat jalan para pengemis, semoga kalian semua tenang di alam sana." Gerutu Darma Seta.


Pertarungan yang banyak makan korban, karena sebuah kekuasaan dan keserahan serta ambisi yang ingin menjadi nomor satu di berbgai golongan dunia persilatan.


Akhirnya para Anggota pengemis Tongkat Merah di bawah kepemimpinan Lodaya merah telah binasa beserta ketuanya di wilayah timur.


Kejadian tersebut sudah barang tentu akan melahirkan sebuah dendam yang berkepanjangan.


Ke tiga Pendekar elangpun lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju Kampung Benda, dengan tiga kudanya yang terus di pacu menelusuri jalanan setapak.

__ADS_1


__ADS_2