
Tiga cahaya yang membentuk elang telah menghantam tubuh tiga setan bayangan, dengan sangat keras sehingga menjadikan tubuh tiga setan bayangan terpental beberpa tumbak, dan jatuh di hamparan rumput dengan darah kental kehitaman telah mengalir keluar dari kedua sudut bibirnya, sambil memuntahkan segumpal darah kental.
Dan para manusia jelma'an yang menyerupai tiga setan bayangan langsung sirna, kini tinggal Wura jaya, Dewi harum dan Darma seta.
"Ayo sekarang kita tinggalkan tempat ini." Celoteh Darma seta sambil meraih pedang Garuda yang di tancapkan di tanah, kemudian berjalan lidma langkah untuk mengambil sarung pedang garuda yang tergeletak dibtanah.
Sreewekk.
Bunyi pedang yang sudah di masukan kedalam warangkanya kembali, kemudian tiga pendekar elang berjalan menuju kudanya yang berada di atas pas jalan yang menghubungkan antara Kademangan dan sebuah kadipaten di wilayah keraja'an Galuh.
...........
Di tempat lain.
Seorang pendekar Yang punya julukan bayu silantang atau Raden Sedayu, sedang memacu kudanya menuju pusat kota raja di kawali yaitu keraja'an Galuh.
Berita tentang para pendekar yang krluar dari sarangnya untuk memburu dan memiliki pedang sakti Garuda Cakra Buana, telah terdengar oleh Raden Sedayu, dari obrolan orang-orang yang ia temui di sebuah kedai sewaktu ia singgah untuk mengisi perutnya yang keroncongan, sambil memacu kudanya Raden sedayu terus bergumam, dan merasa tidak tega dengan keselamatannya para pendekar elang. "Saya merasa kasihan juga pada tiga pendekar elang, menjadi tidak tenang karena dari berbagai wilayah peloksok negri pada memburunya, hanya ingin mrmiliki pedang sakti itu, yang tentunya akan banyak menguras tenaga dan pikiran mereka, setidak nya pasti akan banyak pertumpahan darah, karena keserakahan dari manusia-manusia yang rakus dah haus akan kekuasa'an." Gerutu Raden Sedayu dalam hati.
Hea..Hea..Heaaa..
Kuda putih terus di pacunya oleh Raden Sedayu menuju ke kota Kawali ingin menemui Gurunya, Raden Sedayu adalah keturunan menak atau bangsawan, yang sangat menyukai dengan petualangan, dan duni ke pendekaran.
Tidak lama kemudian Raden sedayu telah sampai di pusat kota raja, di Kawali, lalu ia memperlambat laju kudanya, suasana Kawali sangat ramai dan penduduknya sangat padat yang ramah terhadap semua orang yang datang melancong ke situ.
Lalu Raden sedayu membelokan laju kudanya ke sebuah kedai, sambil mencari berita tentang pemburuan pedang sakti itu, "apakah sudah sampai ke kawali atau belum." Begitu gumam Raden sedayu dalam hatinya.
Setelah sampai di depan kedai Raden Sedayu turun dari punggung kudanya, lalu ia berjalan dengan gagah memasuki sebuah kedai, semua orang menyapa dan menghormati Raden Sedayu mungkin mereka melihat dari cara penampilannya Raden sedayu seperti para bangsawan keraja'an.
"Sampu rasun." Sapa Raden Sedayu.
"Rampes, silahkan duduk. Tuan mau minum apa?." Sang pemilik kedai melemparkan sebuah pertanyaan.
"Kalau cuaca begini, enaknya Kopi paihit pak, sedikit campur gula aren ya." Ucap Raden Sedayu.
__ADS_1
"Baik Tuan."
Suasana di dalam kedai cukup lumayan ramai, oleh para pengunjung yang datang dan keluar.
Tidak lama kemudian pemilik kedai datang membawa pesanan nya Raden Sedayu.
"Ini Tuan kopi, selamat menikmati Tuan." Ujar sang pemilik kedai tersebut.
"Iya pak terima kasih." Raden Sedayu.
"Sama-sama Tuan."
Kopi yang nampak masih mengepul, langsung di teguknya oleh Raden Sedayu, sang pemilik kedai sampai terbelalak netranya melihat pemandangan itu.
"Uluuuh kopi yang masih panas langsung di minumnya, apa gak panas ya." Gumam pemilik kedai dalam hati.
Raden Sedayu tersenyum tipis melihat romannya sang pemilik kedai, yang srperti ke heranan, lalu Raden Sedayu berkata. "Tidak panas ko' pak, udah bapak jangan bengong saja, saya minta makanan khusus orang Kawali apa pak." Pintanya Raden Sedayu.
"Ya kebanyakan Dodol sama Aci enau, ini Tuan silahkan Tuan rasakan, Tuan bukan orang sini rupanya." Ujar pemilik kedai.
"Ooh begitu."
Kemudian Raden sedayu mencoba mencicipi makanan khas orang kawali seperti yang sudah di jelaskan oleh sang prmilik kedai tadi.
Setelah di rasa cikup lama Raden sedayu di kedai, lalu ia membayar semua makanan dan minumnya, setelah itu ia beranjak keluar dari dalam kedai menuju kudanya yang berada di depan kedai.
Raden sedayu melompat menaiki pungging kuda, lalu di pacu perlahan meninggalkan kedai tersebut.
Setelah Raden Sedayu keluar dari Kawali kuda pun kini di pacunya dengan kencang sekali menyusuri jalanan setapak menuju ke bawah kaki gunung bongkok, untuk menemui gurunya panembahan Ajar saketi.
Setelah cukup lama Raden sedayu memacu kudanya, tidak lama kemudian Raden Sedayu telah tiba di bawah kaki gunung Bongkok.
Gunung Bongkok merupakan perbatasan antara dua wilayah Kawali dan Suka pura.
__ADS_1
Nampak terlihat sebuah gubuk tua beratapkan daun ilalang yang di tata sedemikian rupanya, dengan dinding terbuat dari kayu gelondongan yang di susun secara rapi.
Raden Sedayiu terus memacu kudanya dengan mendaki jalanan yang terjal dan berbatu, Ketika Raden sedayu mau turun dari punggung kuda, ada sambutan atas kedatangannya Raden sedayu, sebuah tomabak meluncur dengan cepat.
Wuueeessss....
Dengan replek Raden Sedayu menangkap tombak tersebut, dan setelah itu suara tepuk tangan dan suara orang yang menggema.
Pok..pok..pok..
"Hebat ternyata sekian lama kau tidak berjumpa kedid jaya'anmu semakin hebat Sedayu." Ujarnya.
Raden Sedayu pun lalu turun dari punggung kudanya sambil memberi sapa'an.
"Guru..."Sapa Raden Sedayu.
Kemudian dari samping gubuk munculah seorang kakek tua berpakaian abu-abu dengan ikat kepala berwarna hitam, langsung menyambut kedatangannya Raden Sedayu.
"Apa kabar Raden, cukup lama sekali kamu tidak main kesini." Ujar Panembahan Ajar saketi.
"Kabar baik Guru, maap Guru saya jadi jarang main kesini karena terlalu asik dengan petualangnku Guru." Ujar Raden Sedayu.
"Tidak apa Raden, saya pun memakluminya, biasa kalau anak muda memang suka berkelana, bagus itu untuk menambah wawasan Raden." Ujar Ajar Saketi.
"Ayo masuk, lebih enak ngobrolnya di dalam saja, sambil minum teh." Ajak Ajar Saketi.
Ajar saketi dan Raden Sedayu melangkah masuk kedalam gubuk tua itu.
Lalu Raden Sedayu duduk di lantai yang beralaskan palupuh bambu, Ajar saketi langsung mengambil air teh yang sudah di tuangin ke dalam gelas bambu. "Ayo Raden minum dulu, ini teh nya sangat bagus coba aja rasakan berbeda dengan teh yang biasa Raden minum." Ucap Ajar Saketi.
Raden sedayu pun langsung meraih gelas bambu yang berisikan air teh, lalu di teguknya sampai habis. "Wah benar guru, teh nya enak, Guru mengolah sendiri tehnya?." Tanya Raden Sedayu.
"Betul Raden, saya bikin sendiri, di ambil dari pucuknya yang paling muda sekali, makanya rasanya juga beda dengan teh-teh yang biasa Raden minum." Ujar Ajar saketi.
__ADS_1
Setelah itu Raden Sedayu di ajak Ajar saketi, keluar dari dalam gubuk dan berjalan untuk memperlihatkan dan memperjenalkan tanaman-tanaman obat-obatan dari obat luka luar sampai obat luka dalam, bahkan tanaman obat penawar racun, Raden sedayu semakin tertarik ingin menekuni ilmu tabib, selain menjadi pendekar apa salahnya ia pun mempelajari ilmu tabib, untuk menolong orang-orang dari sebuah penyakit, hingga senja muali tiba Raden Sedayu memabaca buku pengobatan, dari cara mengolah, meracik dan semua jenis tanaman dan khasiatnya.