
Di kademangan cempaka, suasana lagi mencekam, rakyat-rakyat pada ketakutan oleh aturan si tangan waja, yang mengharuskan setiap warga setor hasil panennya enam puluh persen untuk si tangan Waja.
Barang siapa yang membangkang pada aturannya maka tidak segan-segan si tangan waja menyuruh anak buahnya untuk memberi hukuman.
Wiku jara yang lagi berkumpul di rumah bersama ke empat pendekar, sangat geram ingin segera membuat perlawanan pada si tangan waja yang semakin hari semakin bertambah kejam.
"Sekarng pendekar bisa menyaksikan sendiri, bagaimana si tangan waja membuat aturannya sendiri, tanpak memikir kan nasib rakyat." Celetuk Wiku jara.
"Iya Tuan Demang, malam nanti kita akan mulai bergerak, kami pun sudah tidak tahan melihat penderitaan rakyat kademangan yang tertindas." Ucap Wira jaya.
"Baiklah kalau begitu, saya pun akan segera mengirim utusan untuk membantu pendekar dalam penyerangan nanti malam." Ujar Wiku jara.
"Maaf Tuan Demang, tidak usah melibatkan orang lain, biar kami berempat dan Tuan Demang saja sudah cukup yang melakukan gerakan nanti malam, dan ini bukan lah penyerangan, karena Rayi Raden Sedayu ini bisa menerbangkan pasukan Sitangan Waja, dengan Ajian bayu silantangnya." Tutur Wira jaya.
"Owh, saya pernah mendengar ilmu badai itu tapi baru kali ini bertemu dengan pemiliknya, sungguh suatu anugrah dan ke ajaiban buat kademangan cempaka ini, bisa kedatangan para pendekar didjaya." Ujar Demang Wiku jara.
"Wah Tuan Demang ini terlalu berlebihan kalau memuji." Ujar Sedayu.
"Saya berkata apa adanya pendekar." Ujar Wiku jara.
••••••••
Matahari pun kini sudah mulai condong kebarat sinar merah jingga nampak menggurat di atas cakrawala bumi nusantara, pertanda hari akan berganti dengan kegelapan, di mana para mahluk bumi khususnya para manusia untuk beristirahat, di saat ke gelapan sudah datang menyelimuti seluruh negri, hanya obor dari lampu tempel yang menyala di setiap rumah para penduduk.
Lima bayangan nampak berkelebat ke arah barat di tengah-tengah gelapnya malam, dengan ilmu meringankan tubuhnya mereka bergerak cepat seperti angin menuju ke arah barat.
Di kademangan cempaka, di sebuah pusat alun-alun kademangan nampak sepi mencekam, hanya suara-suara binatang malam yang terdengar saling bersautan satu sama lainnya.
Si tangan Waja yang mengambil alih ke kuasaan kademangan itu nampak lagi berpesta pora, dengan di hibur oleh para penari-penadi yang cantik dan aduhai, dengan beberapa kendi yang berisikan arak dari negri kuta nagari berjejer.
Mungkin malam itu adalah malam terakhir mereka melakukan pesta, maksiat, semua itu mereka dapatkan dari uang hasil dari bumi yang di kelola oleh para penduduk.
Suara dari alat musik yang mengiringi para penari nampak terdengar jelas.
Gelak tawa dari para antek-antek Tangan Waja, membuat geramnya para penduduk yang tertindas tapi apalah daya mereka, karena tidak punya kemampuan dan keberanian untuk melakukan perlawanan, karena tangan waja terlalu kuat untuk para penduduk kademangan cempaka.
Di pintu gerbang yang mau memasuki istana kademangan di jaga ketat, oleh anak buahnya tangan waja, tiga orang berbadan besar lagi berdiri di pintu gerbang dengan senjata sebuah golok di balik pinggangnya.
Entah kenapa tiba-tiba ketiga penjaga itu mendadak jatuh tersungkur dengan bersimpuh darah.
Kemudian kelebatan bayangan memasuki gerbang, secara bergantian, dan berjalan mengendap sambil menyelinap kebalik dinding istana. Ada dua penjaga di pintu yang mau memasuki ke dalam istana kademangan, kemudian bayang itu berkelebat bergerak cepat untuk melumpuhkan kedua penjaga tersubut.
Weesss
Clek ceek.
__ADS_1
Sekelebatan pedang dengan cepat telah merobek ke dua tubuh penjaga tersebut.
Aksi bayangan itu sungguh luar biasa, tidak sampai menimbulkan suara yang keras, seperti sang malaikat pencabut roh saja, hanya sekali sentuh para penjaga itu pun sudah terkapar, kini kelebatan bayangan itu mulai masuk menyusup ke istana kademangan.
Nampak di sebuah ruangan banyak wanita cantik dan sebuah musik yang mengiringi tarian ronggeng, lalu Raden Sedayu melemparkan panah yang ber'isi sebuah surat untuk si tangan waja.
Weesss
Cleepp.
Sebuah jarum panah yang di belakangnya terselip surat untuk si tangan waja, menancap di tiang penyangga istana kademangan itu.
Mereka yang lagi berkumpul dalam sebuah pesta, langsung berhenti dan musik pengiring tarianpun mendadak berhenti.
"Kurang ajar rupanya ada penyusup, prajurit ambil panah itu sepertinya itu kiriman surat." Perintah si tangan Waja.
Anak buah tangan waja pun langsung bergegas bangun dari tempat duduknya untuk mengambil surat yang di ikat di sebuah panah jarum tersebut.
"Ini Tuan."
"Kau bacakan isi surat tersebut." Ujar si tangan Waja.
Perlahan tangan nya mencopot tali yang mengikat di jarum itu, lalu di bacanya isi tulisan yang tergores di beberapa helai daun lontar itu.
Tangan waja nampak terlihat memerah di wajahnya, lalu para wanita cantik yang lagi menghiburnya tersontak kaget, ketika tangan waja beranjak dari tempat duduknya sambil berteriak.
"Setan alas, siapa orang itu yang sudah berani menantangku, jumawa." Teriak si tangan waja.
Tangan waja langsung melesat keluar dari dalam istna, tersontak kaget tangan waja ketika melihat di pintu jaga kedua dua anak buahya telah tewas bersimpuh darah, kemudian berlari menuju pintu jaga pertama, lebih kaget lagi tiga anak buahnya telah tewas dengan hal yang sama.
"Kurang ajar, siapa orangnya yang telah berani lancang menyatroni tempat ini, apa mungkin ini ulahnya si Wiku jara, lalu siapa lagi kalau bukan dia, saya harus membuat perhitungan sama Wiku jara." Gerutu si tangan waja.
Si tangan waja langsung bergegas pergi dari tempat itu, menuju rumahnya wiku jara, tapi kepergiannya untuk mendatangi rumahnya wiku jara, sempat di hadang sama dewi harum dan Darma Seta di luar gerbang istana kademangan.
Disitu pun terjadi pertempuran yang sangat dahsyat, si tangan waja harus banyak kehilangan para prajuritnya, karena tak kuasa menahan amukan dan bantaian dari Dewi harum dan Darma seta.
Lalu setelah itu Dewi harum dan Darma seta berkelebat memancing tangan waja untuk menjauh dari kademangan cempaka, kedua bayangan itu berkelebata ke arah bukit cempaka.
Sitangan Waja pun lngsung mengejarnya karena merasa di hina dan di lecehkan kan, karena merasa diri paling kuat dan tidak ada senjata apa pun yang bisa melukai tubuhnya, maka dengan kesombongan yang telah menguasai dirinya akhirnya si tangan waja pun telah sampai di atas bukit cempaka.
Nampak ada empat pendekar telah berdiri dengan gagah berani, sedangkan Wiku jara ia berbalik ke arah kademangan cempaka untuk membabat abis para anak buahnya si tangan waja yang lagi pada mabuk parah.
...............
Si tangan Waja berdiri dengan bertolak pinggang memperlihatkan ke congkakannya sambil melemparkan sebuah ucapan yang penuh ejekan.
__ADS_1
"Owh rupanya kalian yang telah mengirim surat tantangan padaku, dasar lelaki banci Kenapa tidak langsung saja ke tika aku sedang berpesta." Ujarnya dengan sombong.
"Yang banci itu cuma lelaki yang berani menindas rakyat lemah, kalau memang anda seorang pendekar linuhung seharusnya sudah bisa menguasai rimba persilatan, sedangkan namamu sendiri tidak cukup di kenal, seperti tiga setan bayangan, si nenek angker, ki Darpal, dan si kake gendeng dari puncak gunung Burangrang itu semua tokoh hitam yang pernah menggetarkan dunia persilatan, sedangkan si tangan waja hanya seorang tokoh yang suka ngumpet di balik ketiak para pelacur." Ujar Raden Sedayu balik mengejek.
"Setan alas, bedebah majulah kalian semua, si tangan waja pantang di hina." Bentaknya sambil melompat dengan menghunus sebuah goloknya.
Kelepat Dama seta melompat menyambut serangan si tangan Waja yang mau menerjang Raden Sedayu sambil berkata. "ini bagian saya, dan kalian para orang tua cukup menonton saja." Ujar Darma seta.
Pertarungan pun terjadi antara Darma seta dan si tangan Waja, kelebatan golok si tangan Waja begitu gencar mengurung Darma seta, Darma seta bergerak dengan cepat tanpak senjata dengan jurus elang pencakar langit.
Krewek
Satu cakaran kuku Darma seta telah merobek pakaiannya si tangan waja, tapi tubuhnya tidak ada bekas cakaran sedikitpun sehingga si tangan Waja semakin congkak dan berbangga.
"Hahaha, ayo anak muda pilih bagian tubuhku yang paling empuk." Seru si tangan Waja dengan congkaknya.
"Hai tangan Waja, boleh saja cakaranku tidak mampu merobek kulitmu, tapi akankah tubuhmu kuat menahan kesaktian pedang ini." Ujar Darma seta sambil menghunus pedang Garuda cakra buana perlahan.
Sebuah sinar merah jingga bergaris perak keluar dari sebuah pedang itu yang lama kelama'an semakin mengembang.
Si tangan waja membulatkan kedua bola matanya melihat pedang itu yang telah memancarkan aura pembunuh yang sangat dahsyat.
"Ayo sekarang keluarkan mantra aji kebalmu untuk melindungi tubuhmu dari pedang ini yang sudah haus oleh darah." Seru Darma seta sambil menyeringai.
Si tangan Waja sudah merasakan getaran hawa sakti dari pedang itu, tapi Ia merasa malu kalau harus memperlihatkan kelemahannya pada Darma seta. "Ayo perlihatkan kesaktian pedangmu itu anak muda." Teriak tangan Waja.
Darma seta tersenyum menyeringai, ia sangatlah tau arti dari ucapan Tangan waja, sebuah ucapan untuk menutupi kegentaran di hatinya.
Lalu Darma seta menacapkan pedangnya ke bumi, nampak terlihat suah cahaya mebelah tanah melesat ke arah Tangan waja.
Tamgan Waja tersontak kagek membelalakan netranya melihat sinar merah jingga yang membelah tanah melesat ke arahnya.
Kemudian Tangan Waja melesit ke atas untuk menghindari sinar yang meluncur kearahnya, tapi cahaya merah jingga itu terus mengejarnya hingga tercipta suatu ledakan yang keras bersama'an dengan terpentalnya tubuh Tangan Waja hingga beberapa tumbak dan jatuh ke tanah bersimpuh darah, kedua bola mata keluar seperti terbakar dan kulitnya yang konon kebal kini telah merobek di bagian perutnya dengan seluruh isi perutnya keluar, tewasnya si Tangan Waja sangat mengerikan sampai menggidikan bulu roma bagi orang yang melihatnya.
Kemudian Darma seta mencabut kembali pedang Garuda cakra buana, dan di sarungkan kembali kedalam warangkanya.
"Selamat tinggal Tangan Waja, ceritamu kini berakhir sampai disini, maapkan saya, karena hanya dengan kematianmulah rakyat kademangan cempaka bisa kembali hidup tenang." Cetus Darma seta sembari menurunkan tubuhnya dengan mengusap kedua bola matanya yang keluar, dan seketika itu kedua bola mata Tangan Waja langsung tertutup rapat menghembuskan napas terakhirnya.
**********
Bersambung.
Sertakan like, comentar, saran, favorit, vote, serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1