
Hari pun kini sudah mulai senja, nampak cahaya merah jingga menggurat diatas cakrawala sebelah barat.
Ke empat pendekar masih terus memacu kudanya. Negri yang tandus dan rumah para penduduk masih jarang-jarang, menandakan sebuah perkampungan yang masih kosong, Dan banyaknya hamparan rumput ilalang, di setiap lahan-lahan yang atau tegalan.
"Bagai mana mungkin di negri yang tandus ini, ada yang menyewakan penginapan." Cetus Dewi harum.
"Ya kita cari dulu, barang kali kita dapat kabar dari orang-orang yang lagi duduk itu." Ucap Wira jaya.
Kemudian Wira jaya memacu kudanya mendekati pada tiga orang lelaki masih muda sebaya dengan Darma seta. "Sampu Rasun, ma'ap akisanak numpang tanya?." Wira jaya.
"Rampes, mau tanya apa ki sanak?." Balik bertanya.
"Barang kali di sini, ada yang menyewakan penginapan." Ujar Wira jaya.
"Oh di sini tidak ada kisanak, kisanak hendak kemana, dan dari mana?." Tanya salah satu lelaki itu.
"Kami datang dari timur tatar sunda, kesini mau mencari adik saya barang kali kisanak mengenalnya." Cetus Raden Sedayu.
"Siapakah yang kisanak cari itu." Bertanya.
"Namanya Bara wenda, orangnya tinggi besar." Jawab Raden Sedayu.
Ketiga lelaki itu saling pandang sambil mengernyitkan jidatnya.
"Ma'ap ki sanak di sini tidak ada orang yang ki sanak maksud itu, coba aja ki sanak cari di kampung tegal Datar, di situ banyak orang-orang pendatang." Jawabnya.
"Oh begitu, lalu di mana letak kampung tegal datar itu, dan kami harus mengmbil arah ke mana?." Tanya Raden Sedayu.
"Kisanak dari sini lurus, kira-kira sepuluh tumbak kisanak ambil ke Kiri, dan melewati hutan jati, tapi kalau malam hari di situ sangat rawan, dan jarang ada yang selamat bila sudah memasuki hutan jati itu." Jelasnya.
"Memang ada apanya di hutan jati itu?." Wira jaya memotong pembicara'an dengan bertanya.
"Kelompok perampok rambut merah, yang sadis dan kejam." Jawabnya.
"Oh begitu."
"Tapi kalau kisanak ingin bermalam, di tempat saya saja, tidak usah bayar, kebetulan rumah saya cukup besar, walau ke ada'annya sangat jelek." Tutur salah satu dari mereka memberikan usulan.
"Kami sudah terbiasa tidur beralaskan tanah, yang penting tidak tetkena air hujan itu sudah cukup." Ujar Raden Sedayu.
"Ya sudah kalau begitu kalian ikut dengan saya." Ajaknya.
__ADS_1
Ke empat pendekar itu langsung ikut sama salah satu lelaki yang menawarkan tempat pada ke empat pendekar untuk bermalam di rumahnya.
"Kisanak naik kuda saja bersama saya." Ajak Raden sedayu.
"Biarlah ku jalan kaki saja, sudah dekat, itu rumah saya sudah kelihatan." Ujarnya sambil menunjuk ke arah depan.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah panggung yang cukup besar.
"Inilah tempat saya beristirahat, ma'ap keada'annya cuma seperti ini." Ujarnya.
"Tidak apa-apa kang, bagi kami ini sangat berharga, dan saya sangat berterima kasih pada akang, yang sudah memberi tempat pada kami untuk bermalam." Tutur Wira jaya.
"Ooh iya kami belum memperkenalkan diri kami pada akang, kenal kan saya Wira jaya, dan ini Istri saya, Dewi harum, ini putara saya, Darma seta." Lanjut Wira jaya.
"Dan saya Sedayu kang." Pungkas Raden Sedayu memotong pembicara'an.
Ke empat pendekar memperkenalkan dirinya dengan saling berjabat tangan, dan lelaki itu pun langsung menerima huluran tangan salam perkenalan dengan menyebutkan namanya sendiri.
"Saya Sukanta, senang rasanya bisa berkenalan dengan kalian, sepertinya kalian para pendekar?." Tanya Sukanta.
"Kami sama seperti kang Sukanta, cuma manusia biasa." Ujar Wira jaya.
"Wah waah, rupanya kalian ini para pendekar budiman, tidak adigung, dari cara kalian berpakaian dan sebuah pedang yang kalian bawa, sudah barang tentu kalian ini pendekar sakti." Cetus Sukanta.
"Mari masuk pendekar, kita ngobrolnya di dalam." Ajak Sukanta.
"Terima kasing kang, untuk sementara kita ngobrol di luar saja, enak nih sambil menikmati alam di sini." Celetuk Dewi hatum.
Sukanta pun langsung masuk kedalam rumah, untuk mengambil kendi tempat air minum, dan makanan se adanya.
"Ma'ap pendekar cuma adanya air putih dan rebus singkong." Ujar Sukanta sambil meletakan guci tempat air dan singkong rebus di atas balai-balai.
"Ini sudah lebih dari cukup kang, malahan kami sangat berterima kasih pada kang Sukanta yang sudah berbaik hati pada Kami." Cetus Wira jaya.
"Memangnya kang Sukanta tinggal sendiri di sini?." Tanya Darma seta.
"Iya, semenjak saya di tinggal oleh anak istri, sepuluh tahun yang lalu, saya hidup seorang diri." Jawan Sukanta.
"Maksud kang Sukanta, di tinggal kemana?." Lanjut Darma seta.
"Istri dan anak saya sudah meninggal, semenjak terjadi badai topan disini, dan rumah ini roboh menimpa anak dan istri saya." Jawab Sukanta.
__ADS_1
"Kami turut prihatin akan musibah yang menimpa pada keluarga kang Sukanta." Ujar Wira jaya.
Wajah Sukanta nampak bersedih, seperti teringat kembali pada tragedi yang melanda kampung nya itu.
Wira jaya beserta yang lainnya meminta ma'ap pada sukanta karena perkata'annya, yang seperti menggali kembali kesedihan yang telah terkubur dalam-dalam.
Malam yang terasa sunyi sepi mencekam, hanya suara-suara jangkrik dan binatang malam lainnya yang terdengar jelas ber irama.
Kini ke empat pendekar nampak sudah beristirahat di sebuah ruangan tengah yang cukup besar, beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan duri.
Suara dengkuran dari ke tiga lelaki terdengar jelas, sudah barang tentu mereka terlelap dalam tidurnya yang begitu nyenyak.
.................
Ke esokan harinya, Wira jaya beserta yang lain pamit pada Sukanta untuk melanjutkan kembali perjalanannya, guna mencari adik seperguruannya Raden Sedayu yang mendapat kabar, berada di negri alang-alang.
"Kang Sukanta, kami pamit dulu, terima kasih atas kebaikan akang pada kami, dan ini ada sedikit uang lumayan buat akang membeli keperluan sehari-hari." Cetus Wira jaya sambil meraih tangan Sukanta, lalu uang tersebut di kepalkan pada telapak tangan Sukanta.
"Tidak usah pendekar, saya menolong kalian tanpak minta balas jasa, karena saya kasihan, serasa pada diri saya sendiri." Ujar Sukanta.
"Terimalah kang, ini bukan membayar sewaan, tapi ini berupa ucapan terima kasih kami pada akang, yang sudah dengan suka rela memberi kami tempat untuk bermalam." Ujar Wira jaya.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati bila melewati hutan jati, karena perampok rambut merah sangat sadis." Cetus Sukanta.
"Iya kang terima kasih, sudah di beri tahu."
Selepas itu, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta serta Raden Sedayu, sudah menaiki punggung kudanya masing-masing.
Hea hea hea.
Kuda pun langsung di pacunya meninggalkan Sukanta yang lagi berdiri di atas balai-balai bambu sambil melambaikan tangannya memandang ke pergian empat pendekar sampai tidak nampak lagi di telan oleh pohon-pohon yang berdiri menjulang.
Lalu Sukanta membuka kain yang di pakai tempat uang koin yang di berikan oleh pendekar itu, begitu sukanta mengeluarkan isi dari sebuah kantong kain itu, netranya sampai terbelalak kaget.
"Ooh tuhan banyak sekali uang ini, se umur hidupku belum pernah pedang uang sebanyak ini, sungguh dermawan sekali para pendekar itu, pastinya mereka keturunan bangsawan, karena hanya orang-orang terpandanglah yang mempunyai uang yang begini banyak." Gerutu Sukanta bermonolog.
Sementara ke empat pendekar, yang lagi memacu kudanya menuju kampung Tegal datar, sudah berada di depan muka hutan jati, hutan yang sangat lebat dan berisik ketika dedaunannya saling beradu di sa'at di terpa angin yang menghembus kencang.
Sejenak mereka menghentikan kudanya, ketika di temui ada jalan bercagak, lalu Dewi harum bertanya. "Arah mana yang harus kita lewati kakang?." Bertanya Dewi harum pada Wira jaya.
"Kata kang Sukanta kita harus mengambil arah ke kanan yang masuk ke hutan jati." Jawab Wira jaya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, mungpung masih pagi kita lanjutkan lagi perjalanan kita." Cetus Raden Sedayu.
Setelah itu merekapun, melanjutkan lagi perjalanannya menyusuri jalan setapak di dalam hutan jati.