PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar Elang Sakti. eps 64


__ADS_3

Di tahun saka pada bulan Wesaka(7) di hari Raspati( Kamis) Ki Teupa Aji Santang lagi menanti kedatangan cucu dan cicitnya, duduk di balai-balai bambu di depan teras rumahnya, wajah tengadah ke atas langit yang cerah, nampak terlihat gerombolan burung-burung Bangau dengan ciri khasnya pada umumnya berbulu warna putih, lalu ki teupa menggerutu sendiri. "Sungguh bahagianya para burung selalu hidup bersama dengan rukun, kenapa manusia yang punya pikiran dan akal terkadang saling hina mencaci dan memaki, saling bunuh hanya karena salah paham dan berbeda pendapat, oh Dewata yang agung yang menciptakan alam ini lindungilah cucu dan cicitku dari orang-orang yang iri dan dengki." Gerutu Aji Santang.


Ketika itu matahari sudah mulai condong kebarat delapan puluh derajat, Aji santang di kagetkan dengan gemuruh suara langkah kuda berlari di kejauhan, pendengarannya yang tajam dan nalurinya yang kuat Aji santang sudah bisa memastikan berapa banyak kuda yang berlari tersebut. "Sepertinya ada tiga kuda yang berlari mendekati ke arah sini, kira-kira siapa? apa mungkin itu Wira jaya, Dewi Harum dan Darma seta." Batin Aji Santang.


Arah suara kuda itu semakin nampak jelas di pendengarannya Aji Santang mendekati ke arah rumahnya, setelah itu terdengar langkah kuda berjalan pelan.


Nampak jelas terlihat tiga kuda yang di tunggangi dengan dua lelaki gagah dan satu wanita cantik dengan sorot matanya yang tajam, nampak raut wajahnya Aji santang mekar berseri.


"Sampu rasuun." Sapa Wira jaya, yang di teruskan dengan sebuah pertanyaan, gimana kabarnya kek, kakek sehat."


"Rampes, panjang umur kalian, baru saja kakek berpikir tentang kalian dan kakek juga sehat-sehat." Ucap Aji Santang.


Kemudian Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta turun dari atas punggung kuda, lalu kudanya di tuntun ke istal yang berada di belakan rumah.


Aji santang dengan senyum semringah mempersilahkan cucu dan cicitnya untuk masuk ke dalam rumah. "Tentunya kalian sangat lapar dan haus kan." Ujar Aji Santang.


"Ya terlalu lapar ya tidak juga kek, cuma agak sedikit berbunyi isi dalam perut ini." Pungkas Darma seta.


Ketika itu langit sudah memerah jingga di atas cakrawala, senja kini telah datang yang sebentar lagi hari akan gelap, di mana para mahluk bumi khususnya manusia akan beristirahat setelah sekian hari mereka bekerja di ladang.


Ketika malam tiba Aji santang meminta pada Darma seta untuk mengeluarkan pedang Garuda Cakra buana dari dalam raga halusnya.


Darma seta duduk bersila sambil memusatkan tenaga dan pikirannya, cahaya merah di sertai taburan kelap kelip cahaya putih menyala-nyala di dada Darma seta yang kian lama kian mengembang , lalu keluarlah benda panjang besar menyerupai pedang, kemudian Aji santang segera menangkap pedang itu.


Sereweek


Pedang Garuda Cakra Buana kini telah mempunyai rumah. "Semoga kau betah dengan rumah yang baru ku bikin ini Cakara Buana." Tutur Aji santang sambil mengoles minyak misik yang ia dapatkan dari para pedagang Hindustan.


"Sekarang kamu tidak harus susah payah menyimpan pedang ini di raga halusmu, karena bila terlalu lama menyimpan benda di raga halus mu akan mempengaruhi pada kondisi kesehatanmu. Jelasnya Aji santang.


..............


Di Rimba persilatan, tokoh golongan hitam sudah terdengar desas-desus mengenai pedang Garuda Cakra buana yang sudah di ketahui kesaktiannya, maka dari itu para pesilat tokoh golongan hitam berlomba-lomba mencari dan ingin memiliki pedang tersebut.


Desas-desus itu kini sudah sampai dan terdengar oleh Aji Santang, dari laporan Kilayung dan Kerta santang yang baru pulang berniaga di wilayah kota raja keraja'an Sunda, bahkan berita tersebut sudah sangat melebar ke berbagai wilayah bahkan sudah sampai di keraja'an Galuh, di Kawali salah satu pusat kota Raja kerajaan Galuh banyak para pendekar berkeliaran untuk mencari keberada'annya Pedang tersebut.


Sedangkan yang di cari lagi tergeletak di atas kepala Darma seta yang lagi berbaring istirahat, guna mengumpulkan energinya.

__ADS_1


Ke esokan harinya Darma seta berjalan menuruni jalan setapak untuk mengambil air bersih buat memasak dengan menggunakan tempat air, lodong Bambu yang di ikat dan di gendong di balik punggungnya, ketika tiba di sumber air yang keluar dari celah-celah bebatuan dan akar-akan pohon, nampak ada empat gadis yang lagi mencuci pakaian, di sebelahnya mata air itu, yang tadinya cekikik kan saling ejek dan bercanda, mendadak terdiam sambil netranya terbelalak memandang pada Darma seta yang lagi mengisi air.


"Heh coba kalian lihat ada pemuda gagah dan tampan, kayanya bukan orang sini." Bisiknya.


Lalu wanita yang mengenakan gaun berwarna oranye, mendehem sambil melemparkan pertanyaan.


"Hhmmm, Ki sanak mau ngambil air ya." Bertanya.


Darma seta pun lalu menoleh kearah empat gadis tersebut. "Iya, kalian sendiri lagi ngapian di situ?." Jawab Darma seta yang di teruskan dengan pertanyaan.


"Kami lagi nyuci, oh iya kisanak orang baru ya di sini, tinggalnya di mana?." Bertanya.


"Iya saya baru di sini, tuh di atas di tempat nya kakek Aji Santang." Darma seta menjawab.


Lalu ke empat gadis itu beranjak dari tempat cuciannya berjalan menghampiri Darma seta memperkenal kan diri nya masing-masing.


"Ooh jadi kisanak ini cucunya Tuan Aji santang, kenalin saya Ningrum...Saya Didah...Saya kusmiati." Begitulah ke tiga gadis itu memperkenalkan dirinya.


Sementara ada satu gadis yang tertinggal tidak ikut memperkenalkan dirinya dia tetap asik dengan cuciannya, lalu Darma seta menoleh dan bertanya.


"Ko gadis itu tidak memperkenalkan dirinya?." Tanya Darma seta.


Darma seta hanya tersenyum sambil menyunggingkan bibirnya, dengan netranya yang terus memandang wajah gadis yang lagi asik mencuci. "Siapa namamu nyi sanak." Sapa Darma seta.


gadis itu hanya melirik sebentar pada Darma seta yang tetap pokus dengan pakaian yang lagi ia cuci.


"Nama saya Rara Tuan." Jawabnya.


"Nama yang bagus, sebagus orangnya,, Eeh saya tinggal dulu ya, di tunggu sama ibuk lagi masak, yang pastinya membutuhkan air bersih ini." Ujar Darma seta.


"Iya Tuan, kapan-kapan main kerumahku ya." ujar Ningrum kegenitan.


Darma seta langsung beranjak dari sumber mata ait tersebut dengan menyusuri jalan setapak yang menanjak.


Sementara gadis ayu yang bernama Rara puspita kepanjangannya, diam-diam melirik terus dengan kepergiannya Darma seta, begitupala Darma seta, sesekali ia berhenti sambil menoleh ke belakang pada Rara puspita, mungkin kah Darma seta sudah mulai menyukai wanita atau cuma kebetulan saja.


Setibanya di depan rumah, Darma seta langsung masuk ke ruangan dimana Dewi Harum lagi memasak, kemudia air yang di dapatnya dari mata air sana di tuangkan kedalam kendi besar.

__ADS_1


"Ibuk lagi masak apa?." Tanya Darma seta.


"Ibuk lagi masak jamur, tadi Paman kerta santang yang bawa, katanya dapat ngambil di sawah di bawah tumpukan jerami." Jawab Dewi harum.


"Wah pasti enak, bau nya juga sampai membangkitkan napsu makan." Celetuk Darma seta sambil menangkap asap yang mengepul dari sebuah pasakan jamur tersebut.


Dewi harum tersenyum tipis sambil menurunkan tubuhnya, dan tangannya meraih sebuah selonsong dari bambu sebagai alat pengantar udara untuk meniup api yang mulai mengecil pertanda mau mati.


Kemudian Darma seta beranjak keluar dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah bukit di sebelah timur kampung Benda.


Setibanya di atas bukit, Darma seta berjalan menghampiri batu hitam tipis di bawah pohon randu, lalu ia melangkah naik dan duduk bersila di atas batu tersebut, di tarik napas perlahan dan mata mulai di pejamkan.


Di dalam semedinya Darma seta di datangi seorang kakek berjubah putih dan rambut yang sudah memutih pula, sang kakek itu lalu berkata.


"Cucuku, kamu hatus lebih waspada dan hati-hati, kini dunia persilatan lagi di hebohkan untuk mendapatkan pedang mu itu." Ujarnya.


"Lalu apa yang harus ku lakukan kek?." Darma seta bertanya.


"Kamu tidak usah kuatir, karena pedang itu akan takluk, bila seseorang sudah menguasai jurus Garuda winata sampai tingkat dua belas, dan itu ada pada kamu beserta ibuk dan Pamanmu itu." Jelasnya.


"Kalau begitu saya pun tidak perlu khawatir kek." Darma seta.


"Ya waspada tetap harus cucuku, sekarang satukanlah pedang perak dan pedang Garuda cakra buana itu karena kedua pedang itu adalah jodohnya." Ujarnya.


"Bagaimana caranya kakek Guru?."


"Tancapkan lah kedua pedang itu di depanmu, bila nanti pedang itu sudah lepas dan jatuh bukalah matamu dan kembalilah ke tempat kakek Aji santang.


"Baiklah kek."


Kemudian Darma seta pun melaksanakan segala titah dari se orang kakek yang datang dalam semedinya itu.dengan matanya masih terpejam Darma seta menghunus kedua pedang itu lalu di tancapkan pada batu hitam, anehnya batu itu seperti tidak terasa keras, bagaikan menancapkan di atas tanah yang empuk.


Darma seta masih tetap dalam posisi bersemedi, setelah kedua pedang itu menancap, terciptalah cahaya merah jingga dan cahaya putih seperti saling tarik menarik, cahaya putih yang keluar dari pedang perak, sedikit demi sedikit seperti terhisap oleh cahaya merah dan akhirnya cahaya putih itu hilang lenyap tak berbentuk, dan pedang perak itu pun kini sudah menyatu dengan pedang Garuda cakra buana.


Seperti yang telah di beri tahukan oleh kakek itu pedang pun jatuh ke pangkuannya Darma seta, perlahan Darma seta membuka kan matanya.


"Jagat Dewa Batara, sungguh agung ke kuatanmu."Gumam Darma seta sambil meraih pedang Garuda cakra buana, lalu di masukan lagi kedalam warangkanya yang berada di balik punggung Darma seta.

__ADS_1


Kemudian Darma seta beranjak dari tempat bersemedinya, lalu berdiri dan di langkahkan kaki meninggalkan batu hitam dan pohon randu yang sangat besar menjulang ke Angkasa.


Setibanya di depan halaman rumah, nampak terlihat Wira jaya, Aji santang dan ki Layung lagi duduk di balai-balai di temani dengan kopi pahit dan harum wedang jahe di gelas bambu.


__ADS_2