PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar Elang Sakti eps 65


__ADS_3

Di kala Fajar mulai menyingsing, denga memancar kan cahaya nya menerangi bumi persada, kala itu para pendekar elang lagi memacu kudanya menuju Batu Gambir, ingin menjumpai Nini Ragan tiri dan kakek Ragan tala, dilembah hantu, tapi perjalanannya selalu mendapat halangan dan rintangan, di karenakan dunia persilatan lagi di gemparkan dengan pedang Garuda Cakra Buana, yang memiliki ke kuatan sangat dahsyat, siapa saja orang yang bisaa memiliki pedang tersebut pasti akan menjadi tokoh pesilat nomor satu, begitu tuturnya, padahal Aji santang sendiri menciptakan pedang itu dengan pemikiran yang matang, tidak sembarangan orang yang bisa memakai pedang itu tanpak kesaktian dan tenaga dalam yang sempurna.


Ketika Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta sudah tiba di hutang aren, yang mana dulu pernah menjadi daerah kekuasaan Kala ireng, komplotan perampok yang pernah kut serta menbinasakan supala adi nata dan Ajeng kerta ningrum orang tua dari Wira jaya dan mendiang kakak nya Danang jaya ayahnya Darma seta.


Nampak beberapa kelebatan bayangan melompat-lompat mengikuti perjalanannya tiga pendekar elang, tapi yang di ikutinya nampak seperti tidak menghiraukannya, mereka terus berpacu dengan kudanya, walaupun mereka sudah mengetahui akan adanya bahaya seperti yang terucap dari mulutnya Dewi harum.


"Ada gerak-gerik yang mencuriga kan kakang." Cetus Dewi Harum.


"Iya nyai mereka mengikuti kita setelah keluar dari kampung Benda." Jawab Wira jaya.


"Sekarang kita akan banyak musuh." Pungkas Darma seta.


"Karena pengaruh dari pedang itu seta, biarkanlah tidak usah menghiraukan mereka, kita harus mempercepat perjalanan kita." Ucap Wira jaya.


Kuda terus di pacu tidak menghiraukan mereka yang terus mengikutinya, selama bayangan misterius itu tidak mengganggunya, pendekar elang pun acuh tidak menghiraukannya, tapi panca indara tetap di pasang untuk menjaga dari hal yang tidak di inginkannya.


Sementara beberapa bayangan itu terus mengintainya dari kejauhan, melompat-lompat di atas daun-daun aren dengan netra menatap tajam pada sebuah pedang yang berada di balik punggungnya Darma seta.


Suasana di dalam hutan aren sangat sepi mencekam, dan banyaknya Roh-Roh gentayangan dari orang-orang yang terbunuh oleh aksinya Kala ireng dulu, di tambah suasana hutan yang lembab dan memancar aroma bau amis yang sangat menusuk hidung, ke tiga pendekar elang menutup hidungnya sambil mempercepat laju kudanya, tapi sang kuda pun seperti merasakan banyak nya roh halus yang berkeliaran, kuda terus meringkik ketakutan, Darma seta melompat dari atas punggung kudanya sambil mencabut pedang Garuda cakra buana. "Hai para iblis gentayngan enyahlah dari hadapan kami, jangan ganggu perjalanan kami." Teriak Darma seta sambil memutarkan pedang Garuda.


Siuuuurr


Tar tar tar tar


Bliuueerr.


Suara menggelegar dari cahaya yang keluar dari pedang garuda menghancurkan batang dan pohon aren.


Sementara beberapa bayangan yang mengikuti pendekar elang itu, tercengan kaget bgitu melihat kedahsyatan pedang Garuda yang memporak porandakan pohon aren yang banyak ber jejer.


Suara-suara aneh jerit kesakitan yang tdak berwujud sampai terdengar mengerikan, mungkin kekuatan pedang garuda yang keluar berbentuk cahaya merah telah menghancurkan seluruh roh gentayangan di hutan Aren tersebut, sampai menggidikan bulu roma.


Sedikit demi sedikit suara aneh itu mengecil lalu menghilang, setelah itu Darma seta langsung turun dan duduk di punggung kuda, lalu di sarungkan kembali pedang garudanya itu.

__ADS_1


Lalu mereka melanjutkan lagi perjalanannya, tapi setelah beberapa tumbak kuda mereka di pacu beberapa kelebatan bayangan melesat menyambar pada Darma seta, rupanya bayangan tersebut mengincar pedang yang lagi berada di balik punggungnya Darma seta.


Tetapi begitu bayangan itu mau menyentuh gagang pedang Garuda, Darma seta melesit ke udara dengan tubuhnya jungkir balik lalu melorot dengan dengan telapak elang pencakar bumi, tapi gerakan bayangan itu begitu gesit dan cepat mengelak serangan Darma seta.


Dan beberapa bayangan yang lainnya pun langsung menyerang Wira jaya dan Dewi harum.


Terjadilah pertarungan di hutan yang gelap dan berbau amis, suara benturan senjata sangat nyaring terdengar memecahkan kesunyian hutan Aren,


Dau-daun berterbangan terkena sapuan dan sabetan sebuah senjata, hutan yang sering memakan korban itu kini mulai lagi meminta tumbal, ketika Darma seta menghunus pedang Garudanya, Sinar merah jingga menggurat caha putih di tengah telah memporak porandakan sebagian hutan yang telah banyak di tumbuhi pohon aren yang bejejer kini hancur lebur di ***** oleh pedang Garuda cakra buana, bayangan yang menyerang Darma seta kini terpental tubuhnya terkena hempasan cahaya merah jingga, seluruh isi perutnya keluar, kedua bola matanya pecah mengenaskan, kedua bayangan yang melihat temannya mati secara mengenaskan yang menggidikan bulu kuduk, tanpak berpikir lagi keduanya langsung berbalik menyerang Darma seta yang lagi berdiri dengan pedang yang masih berada di genggaman tangan kanannya sambil menundukan wajahnya ke bumi melihat lawannya yang mati secara mengerikan, begitu kedua bayangan mau menggorok lehernya Darma seta, tanpak sepengetahuan kedua bayangan itu, sebuah kelebatan cahaya melesat membelah dan memoyong tubuh kedua bayangan itu.


Jerit kesakitan terdengar mengerikan ketika sukma mau melepas dari raga kedua bayangan itu, kini hutan itu seperti gaduh dengan suara-suara aneh, mungkin menyambut kedatangan penghuni baru dari sukma ke tiga bayangan yang telah binasa oleh ke ganasan dan kehausan akan darah dari pedang Garuda cakra buana.


Selepas itu Darma seta menyarungkan kembali pedangnya yang masih merah oleh darah, kemudian mereka melompat ke atas punggung kuda, lalu sang kuda di pecutnya, dengan ringkikan kemenangan sang kuda berlari dengan kencang di dalam hutan aren yang tinggal beberapa tumbak lagi mereka akan segera keluar dari hutan itu.


Tidak lama kemudian mereka sudah keluar dari hutan aren, kini tiga pendekar elang dan kuda mereka serasa terbebas dari bau tak sedap yang mengganggu pernapasannya.


"Seta, paman merasa ada yang aneh pada pedang itu setelah punya warangka nya." Ujar Wira jaya.


"Seperti banyak roh jahat pada pedangmu itu." Celetuk Wira jaya.


"Memang pedang ini dari semenjak pertama ku memegangnya seperti akan memakan pada pemiliknya, sebelum menguasai jurus Garuda winata tingkat dua belas." Jelas Darma seta.


"Bearti tidak ada ada yang bisa mengendalikan pedang itu tanpak menguasai jurus Garuda Winata." Ujar Wira.


Kuda pun terus di pacu menyusuri jalan yang naik turun, yang menuju Batu Gambir di bawah bukit kahuripan, dan di dasarnya ada sebuah lembah yang bernama lembah hantu. tempat di mana ke tiga pendekar elang menimba ilmu bela diri dan kedidjaya'an.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di Batu Gambir, lalu mereka menuruni jalan setapak menuju lembah Hantu, kuda pun berjalan sangat pelan karena jalanan yang di laluinya sangat terjal dan berbatu.


Setibanya di goa lemabah kuning, wira jaya mengetuk batu yang dulu pernah ia dudukin sewaktu lagi mencari Dewi harum dan anaknya.


Ger...Geerr..Geerrr.


Suara batu bergeser hingga menggetarkan tempat di sekirar itu, setelah batu itu bergeser, lalu terdengar suara yang bergema.

__ADS_1


"Masuklah Wira cucuku semua, kakek menunggumu." Ujarnya.


"Baik kek." Wira jaya.


Wira jaya dan Dewi harum serta Darma seta langsung masuk kedalam goa lembah kuning, dan batu pun bergeser kembali menutupi lubang goa tersebut, ke tiga pendekar elang terus berjalan di dalam gua yang hanya di terangi oleh obor yang terpasang di dinding goa, setelah Wira berjalan beberap tumbak, wira nenyentuh sebuah benda berwana kuning menyerupai sebuah Ampel.


Di situpun sebuah dinding batu bergeser perlahan kesamping dan terbuka lebar, kini nampak lebih terang dari penerangan banyak nya obor yang menyala hampir memenuhi setiap dinding goa.


Nampak terlihat seorang kakek berjubah kuning lagi duduk bersila di atas hamparan batu hitam pekat, kemudian sang kakek itu membuka kan matanya perlahan dan berkata menyambut kedatangan ke tiga pendekar elang.


"Duduklah cucuku." Perintah sang kakek.


Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta langsung duduk sembari memberi hormat.


"Hormat kami kakek Guru." Sapa Wira.


"Hormat kalian kakek terima, Wira, Dewi harum dan Darma seta, kakek sangat senang sekali kalian datang di sa'at yang tepat." Jawabnya.


"Memang ada perihal apakah itu Kakek Guru, sehingga kakek berkata begitu?." Tanya Wira.


"Begini cucuku semua, kakek kan sudah tua, hanya tinggal menunggu ajal menjemput kakek, apabila kakek dan Nini Ragan tiri sudah tiada, kalau kamu tidak keberatan tempatilah goa lembah kuning ini Wira, begitupun kamu Harum dan kau Darma seta tempatilah goa-goa di lembah kuning ini, seperti halnya, kakek Raganata, kakek sendiri dan Nini Rqgan tiri menenpati goa ini sebagi tempat persinggahanmu nanti, apa lagi dengan kehadihan pedang itu Seta, semua tokoh pesilat dari golongan hitam pada keluar dari tempat persembunyiannya, ingin memiliki pedang itu." Ucap kakek Ragantala.


"Baik kek, yàng pastinya bila nanti kami di kasih umur panjang, saya beserta nyi Dewi dan Darma seta pasti akan menempati tempat ini, tapi entah kapan, karena untuk waktu dekat ini kami bertiga masih banyak yang mesti kami lakukan untuk mendamaikan negri ini." Ujar Wira jaya.


"Sungguh mulia niat kalian, kakek bangga, ternyata generasi elang masih tetap hidup untuk negri tercinta ini, dan generasi elang akan musnah sampai ke turunan ke tujuh, berarti cucumu kelak Darma seta." Ucap kakek Ragantala.


..........


Ketika itu pintu dinding batu yang memasuki ruangan tempat kakek Ragantala besrrta cucunya bergeser, nampak seorang nenek berpakaian serba merah dengan rambut yang suda memutih semua melangkah maduk dan berkata.


"Sampu rasun, rupanya cucuku sudah tiba." Ujarnya


"Iya nek terimalah sembah bakti cucu-cucumu ini nek." Ujar Dewi harum dan Wira jaya serta Darma seta memberi sungkem pada nenek itu, yang tidak lain adalah nenek Ragantiri atau si elang merah.

__ADS_1


__ADS_2