PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 45


__ADS_3

Setelah kepulangannya ketiga pendekar elang dari bukit ranca galuh, yang di ikuti oleh pendekar kelelawar dan ki barong besi, kini mereka berpisah di sebuah persimpangan jalan, pendekar kelelawar mengambil arah ke kanan menuju gunung sangga, sedangkan ki barong besi mengambil arah ke kiri menuju padepokannya di bukit waru papak.


Dan ke tiga pendekar elang terus lurus menuju perguruan naga bintang yang berada ditimur negri persada, kuda terus dipacu menyusuri jalanan setapak.


Hea hea hea..


Kudapun berlari dengan sangat kencangnya menuju ke timur, dan suara-suara kaki kuda terdengar sangat nyaring dalam memijakan kakinya di bumi.


Ketiga pendekar elang terus berpacu dengan kudanya semakin jauh.


Begitu ke tiga pendekar elang itu memasuki perkampungan banyak penduduk yang berlarian, wira jaya, dewi harum dan darma seta pun saling pandang tidak mengerti dengan sikap warga kampung yang berlari seperti ketakutan.


''Kenapa dengan para penduduk ini, pas melihat kita pada berlari seperti ketakutan, aneh.'' Celoteh dewi harum.


''Iya nyai kakang pun tidak mengerti, apa mungkin pernah terjadi sesuatu yang membuat warga penduduk menjadi takut, ini tidak bisa di diamkan kita harus cari tau apa penyebabnya.'' Saut wira jaya.


Setelah itu wira jaya mencoba mendekati kedua lelaki tua yang mencoba mau berlari, tapi dewi harum langdung melompat dari punggung kudanya dan menghadang kedua lelaki tua tersebut.


''Berhenti ke, ada apa ini sebenarnya, kenapa pas kami melewati kampung ini semua warga pada berlari?.'' Tanya dewi harum.


''Ma'ap tuan,, jangan sakiti kami, kami cuma orang miskin, buat makan sehari-haripun kami masih banyak kekurangan, apalagi harus memberikan upeti setiap bulan.'' Ucap sang kake dengan membungkukan tubuhnya dengan pakaian yand sudah compang camping lusuh dan dekil.


''Ke, siapa yang kake maksud sebenarnya?.'' Tanya dewi harum.


Terus kedua lelaki tua itu melihat pada dewi harum dari ujung kaki sampai berhenti tat kala kedua pandangan si kake saling tatap dengan dewi harum.


''Kenapa kake malah bengong, tadi saya bertanya, siapa yang kake maksud itu?.'' Dewi harum bertanya lagi.


Sebelum menjawab pertanya'an dari dewi harum kedua lelaki tua itu, malah saling padang sambil menggelengkan kepala.


''Ma'ap den putri, kami kira pasukannya srigala hitam.'' Jawab sang kake.


''Siap itu srigala hitam ke?.'' Tanya dewi harum.


''Gerombolan perampok yang bengis dan kejam, yang selalu minta upeti pada warga penduduk setiap hasil dari panen, semua hasil panen para warga di kuras habis, makanya pebduduk sini banyak yang kelaparan.'' Ucap si kake.


''Kurang ajar,, dimana sarang mereka?.'' Bertanya dewi harum.


''Tidak satupun orang yang tau, keberada'annya mereka,, terus kalian ini siapa dan mau kemana?.'' Si kake balik bertanya.


Setelah itu darma seta dan wira jaya datang terus turun dari kudanya, dan langsung menjawab pertanya'annya si kake yang sempat terdengar oleh wira jaya.


''Kami pendekar pengelana ke, hendak ke timur, yang kebetulan lewat sini mau mencari tempat per'istirahatan.'' Jawab wira jaya.


''Kalau kalian mau, kalian bisa menginap di gubuku.'' Ucap sang kake


''Iya kek terima kasih, terus rumah kake masih jauh dari sini.'' Tanya wira jaya.

__ADS_1


''Tidak jauh dari sini, gubuk kake berada dibalik pohon besar itu.'' Ujar si kake sambil menunjukan telunjuknya pada sebuah pohon yang besar.


Ketiga pendekar elang itu lalu mengikuti si kake ke tempat kediamannya, jadi ke tiga pendekar itu tidak susah-susah untuk mencari tempat penginapan.


Setiba di tempat kediamannya si kake, sebuah rumah yang terbuat dari kayu, dengan tiang-tiang penyangga sebuah kayu gelondongan berdiameter lingkaran lima belas sentian, beratapkan daun lontar yang di susun dengan rapi.


Kini ketiga pendekar elang duduk dibalai-balai bambu depan rumah, sambil meraih gandul yang terbuat dari batok kelapa terus diambil air dari sebuah kendi yang terpajang diluar.


''Wah segar sekali airnya ke.'' Ucap Wira jaya.


''Iya pendekar, air disini memang yang paling jernih dan rasanya juga lebih segar, di banding ditempat lain.'' Ucap sang kake.


Setelah itu wira jaya duduk di balai-balai bambu sambil menyandarkan tubuhnya ke bilik dinding rumah si kake itu.


Sedangkan Dewi harum dan Darma seta, lagi mengumpulkan potongan-potongan kayu bakar guna memasak buat makan nanti.


''Nyai ku tidak bantuin tidak apa-apa kan.'' Teriak Wira jaya pada istrinya.


''Biarin tidak usah, kakang istirahat aja.'' Jawab Dewi harum.


Kemudian wira jaya mencabut senjata ampel kuningnya lalu ditiup dengan suara yang merdu seperti iringan sebuah nyanyian sair, semua yang mendengar lantunan suara merdu dari tiupan ampel kuning wira jaya sangat terharu sekali.


Di situlah ke unikan dari senjata ampel kuning wira jaya, bila ditiup guna menghibur hati maka akan keluar suara yang merdu dan menyentuh hati, tapi bila ditiup untuk meminta bantuan maka akan bermunculan para tentara elang.


Irama yang begitu menyayat hati membuat si kake menjadi terbawa oleh suasana.


''Udah pendekar kake jadi sedih, terasa di ingatkan sama si nenek.'' Ucap si kake.


''Si nenek meninggal gara-gara srigala hitam itu pendekar.'' Jawa si kake.


''Ma'ap atuh ya ke, kalau tiupan seruling saya membuat kake jadi sedih, terus bagaimana bisa srigala hitam sampai membunuh si nenek?.'' Tanya Wira jaya.


Terus si kake menceritakan kejadian sewaktu si nenek menghembuskan napas terakhirnya.


''Waktu itu srigala hitam muncul, dikala seluruh warga telah selesai panennya, saya bersama si nenek hanya dapat hasil dari panen yang tidak seberapa, hanya sekedar untuk menyambung hidup.


Malam itu kemunculan srigala hitam lebih banyak dari yang biasanya, dan tempat kake inilah yang pertama kena jarahan para perampok itu, karena mereka pertama memasuki kampung ini lewati jalan ini, terus para perampok itu datang menyatroni rumah kake ini.


''Hai penghuni rumah ini keluar, kalau tidak, akan ku bakar rumah ini.'' Begitu kata perampok itu mengancam.


Akhirnya kake dan nenek keluar, dan perampok itu langsung menanyakan upeti bulanannya.


''Mana upeti bulan ini kake tua.'' Perampok itu mebentak pada kake, kemudian kake menjawab.


''Ma'ap tuan saya tidak punya ladang, buat makanpun susah apalagi untuk membayar upeti pada tuan.''


Si perampok itu malah masuk ke dalam, dan padi yang cuma empat ikat buat makan kake se hari-hari di gondol semua, terus si nenek tidak terima dan ditariknya padi itu, hingga terjadi tarik-tarikan dan sirampok kesel rupanya pada sinenek salah satu dari mereka mencabut goloknya dan di tusukan sama si nenek, si nenek langsung jatuh pinsan, dan kake langsung memburu pada nenek yang tergeletak dengan bersimpuh darah, rasa sakit yang kake rasakan waktu itu, bercampur dendam, tapi apa daya kake cuma orang lemah dan tidak bisa apa-apa.'' Ucap si kake menceritakan kejadiannya waktu di datangi para perampok srigala hitam.

__ADS_1


Wira jaya sangat geram mendengar cerita dari si kake, lalu ia bersi keras ingin menolong warga kampung itu dari rongrongan srigala hitam.


''Bedebah, mereka tidak bisa di diamkan begitu saja, kejahatan harus di tumpas sampai ke akar-akarnya.'' Ucap Wira jaya.


Kemudian Dewi harum dan Darma seta datang dengan membawa singkong rebus, yang baru sekesai di masak.


''Ini singkongnya sudah matang.'' Ucap Dewi harum sambil memberikan singkong rebus yang dikasih piring yang terbuat dari rotan yang di anyam.


Malam kini telah tiba, suasana di pemukiman penduduk pun kini mulai sunyi, suara-suara binatang malam yang terdengar jelas memecah kan di kesunyian malam itu.


Ketiga pebdekar elang yang di temani oleh sang pemilik rumah, lagi asik membicarakan bahwa malam ini akan datang komplotan sri gala hitam.


''Kake yakin kalau malam ini srigala hitam akan muncul?.'' Tanya wira jaya.


''Kake sangat yakin, karena kedatangan mereka selalu di iringi oleh lolongan anjing malam, dan suasana malam ini pun berbeda dengan malam-malam sebelumnya.'' Ucap si kake.


''Iya benar apa kata kake, saya merasakan dan mencium bau srigala sedang mengarah ke sini, untuk menghindari, ketakutan para penduduk sebaiknya kita mencegatnya di perbatasan kampung ini.'' Pungkas Darma seta.


Kemudian ketiga pendekar elang, tidak menunggu waktu lama lagi, mereka langsung beranjak dan keluar rumah.


Ketiga pendekar elang itu melesat pergi, hanya dalam sekejap pandangan mereka telah menghilang dari pandangan si kake.


''Sangiang widi semoga angkara murka yang menimpa kampung ini cepe segera berlalu, terima kasih sang penguasa alam, engkau telah mengirimkan dewa penolong untuk kami.'' Gumam sang kake.


Kemudian diam-diam si kake keluar dari rumahnya, dengan tujuan untuk memberi tahu warga yang lainnya bahwa srigala hitam telah muncul kembali.


Sementara.


Ketiga pendekar elang yang berkelebat cepat menuju tapal batas perkampungan, untuk mencegah para komplotan perampok masuk perkampungan, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta bertengker diatas dahan kayu mengintai datangnya para perampok srigala hitam.


''Mereka sudah mendekat, dan berjumlah lebih dari sepuluh orang.'' Ucap Darma seta.


''Akan ku bikin kejutan mereka sampai dimana tingkat ilmu kanuragannya.'' Saut Wira jaya.


Kemudian Wira jaya memetik lima helai daun, lalu ditumpuk di telapak tangan kirinya, dan dikerahkan tenaga dalamnya, kemudian tangan kanannya didorongkan pada lima helau daun tersebut, dan apa yang terjadi.


Kelima daun tersebut melesat bagaikan anak panah yang dilepaskan dari gondewa.


Sedangkan para komplotan srigala hitam yang lagi berjalan ber'iringan tersontak kaget dengan meluncurnya lima buah benda menghadang.


''Awaass.'' Teriak dari pimpinan mereka sambil melompat.


Ketiga pendekar elang tertawa puas, menyaksikan para komplotan sri gala hitam, seperti kerumunan belalang yang terkena lemparan sebuah benda.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa, sertakan like, comentar, Jadikan favorit bila suka, dan berilah vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.


__ADS_2