
Setelah pengurusan jenajah selesai, para murid-mutid Naga Bintang berkumpul di balai pengobatan dan mendatangi sepuluh tabib dari berbagai wilayah suka pura untuk membantu mengobati para murid yang terluka.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta pun pamit karena amanat yang di berikan oleh ki Sura Praba, dan ingin mengetahui perihal senjata rahasia miliknya Naga Bintang kini sudah terpecahkan, dari situ perlu kebijakan dalam mengambil suatu kesimpulan, untung saja senjata itu di ketahui oleh Wira jaya, andai kan di dapatkan oleh orang lain atau perguruan lain sudah di pastikan akan terjadi peperangan yang lebih tragis dari pada yang telah terjadi dengan tongkat merah.
Dan sebagai hukuman pada Jareti Gangga yang sudah menyalah gunakan ilmu yang di dapatnya di padepokan Naga Bintang, ki Sura Praba telah melucuti semua ilmunya Jareti Gangga, tanpak sepengetahuan Jareti Gangga.
..........................
Tiga Pendekar elang sudah memacu kudanya meninggalkan padepokan Naga Bintang, tiga kelebatan bayangan kuda yang di tunggangi oleh ke tiga Pendekar elang terus memacu dijalanan setapak menembus gelapnya Hutan Galunggung.
Kini Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta memacu kudanya menuju kampung Benda, hendak menemui kakek nya Aji Santang, untuk menyempurnakan pedang Garuda cakra Buana yang belum mempunyai warangka, perihal pesan yang telah di amanatkan oleh Aji Santang bahwa di tahun Saka bulan Wesaka di hari Raspati(kamis) harus sudah tiba di kampung Benda.
....................
Jarak tempuh antara Gunung Galunggung dengan kampung benda sangatlah jauh, bisa tiga hari tiga malam bila di tempuh dengan berkuda itupun kalau tidak banyak rintangan di perjalanannya.
Wilayah keraja'an galuh sangat lah luas, keraja'an galuh di bawah pimpinan Raja pertama Wretikandayun yang berkuasa di jaman itu, karena diwilayah baratnya yang di perbatasi dengan sungai citarum sudah termasuk wilayah keraja'an sunda kuno, yang tadinya bernama keraja'an taruma negara.
Keraja'an sunda di pimpin oleh sang Raja Tarus Bawa yang merupakan masih keturunan dari raja Taruma Nagara.
Kerajaan Sunda galuh suatu Keraja'an yang merupakan penyatuan dua Kerajaan leluhur di Tanah Sunda, yang saling terkait erat yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Kedua Kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Taruma Negara berdasarkan peninggalan sejarah prasasti dan Naskah Kuno.
........................
Hari pun terus berganti hingga menginjak di hari Buda(rabu) Tinggal satu hari satu malam lagi perjalanan yang akan di tempuh oleh ke tiga Pendekar elang untuk sampai ke kampung Benda.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta terpaksa harus mencari tempat penginapan karena hari sudah mulai senja, karena mengingat pada kuda yang mereka tunggangi sangatlah kelelahan yang pastinya membutuhkan istirahat untuk mengumpulkan energi guna melanjutkan lagi perjalanannya esok pagi.
Setibanya di sebuah perkampungan ke tiga Pendekar elang memperlambat lajunya kuda.
"Terpaksa kita harus cari penginapan nyai, kasihan juga pada kuda-kuda kita sangatlah kelelahan." Ujar Wira jaya.
"Iya betul kakang, apakah di kampung ini ada yang menyewakan penginapan untuk kita istirahat." Saut Dewi harum.
"Sebaiknya kita tanya pada warga penduduk." Pungkas Darma seta.
Kemudian Darma seta memacu kudanya ke arah para penduduk yang lagi kumpul di sebuah pos penjagaan kampung.
"Sampu rasun ki sanak." Sapa Darma seta.
__ADS_1
Lalu salah satu dari warga penduduk yang lagi kumpul itu menjawab. "Rampess. Ada apa tuan, sepertinya tuan bukan penduduk sini?." Tanya Warga.
"Iya betul ki sanak, kami kemalaman, barang kali di sini ada yang menyewakan penginapan, hanya untuk satu malam saja." Jawab Darma seta.
"Ooh ada tuan, dari sini tuan lurus dulu nanti belok kiri setelah itu tanya kan penginapannya pak marduki, semua orang juga tau, karena pak marduki orang kaya di kampung ini." Ujarnya.
"Ooh baik, terima kasih kisanak." Ucap Darma seta.
Setelah itu Wira jaya dan Dewi harum mengikuti Darma seta menelusuri jalan yang di tunjukin oleh para warga tadi, lalu Drama seta berbelok ke kiri sekiranya Darma seta sudah berjalan agak jauh ia brrtanya pada seorang lelaki bertubuh tegap.
"Sampu rasun,, maap ki sanak rumahnya pak Marduki di mana ya?." Tanya Darma seta.
"Rampes,, ada perlu apa ki sanak sama pak Marduki?." Balik bertanya.
"Apa benar dia menyewakan penginapan?." Tanya Darma seta.
"Ooh kisanak mau mencari buat penginapan, ayo ikut saya." Ujarnya.
Darma seta, Wira jaya dan Dewi harum turun dari kudanya lalu berjalan kaki sambil menuntun kudanya, tidak lama kemudian mereka pun telah sampai di depan rumah penginapan dengan textur bangunan permanen berbahan kayu jati dengan bentuk rumah joglo.
"Nah ini penginapannya, dan saya sendiri yang bernama Marduki, mau pesan berapa kamar Tuan?." Tanya Marduki.
"Dua kamar saja pak, saya bersama istri saya satu kamar berdua, dan satu kamar lagi untuk anak saya ini."Ucap Wira jaya.
"Kami hendak pulang pulang, abis dari Galunggung." Jawab Wira jaya.
"Ooh perjalanan yang sangat jauh tentu saja sangat melelahkan, dan kuda-kuda tuan di masukin ke tempat khusus buat kuda di belakang, dan biaya sewa penginapan berikut rumput buat makan kuda sudah saya siapkan, total semuanya lima puluh ringgit Tuan." Ungkap Marduki.
Kemudian Wira jaya langsung mengeluarkan uang lima puluh ringgit untuk biaya sewa penginapan dan makan kuda.
Selepas itu Marduki memanggil pegawainya untuk membawa tiga kuda miliknya tiga pendekar elang ke tempat khusus kuda-kuda.
Senja pun kini telah berlalu wira jaya, Dewi harum dan Darma seta telah ber'istirahat di kamarnya masing-masing, untuk melepaskan rasa lelahnya setelah dua hari satu malam mereka melakukan perjalanan, yang sudah barang tentu sangatlah melelahkan.
Dewi harum bersandar di dadanya Wira jaya menikmati lembutnya belaian tangan Wira jaya, semilir angin malam yang masuk melalui celah-celah dinding kayu yang kurang rapat, masuk begitu dingin sehingga membuat wira jaya dan Dewi harum semakin erat dalam pelukan.
Sentuhan-sentuhan lembut kini telah terasa oleh Dewi harum membakar gelora cinta sang Dewa Kamajaya, sekian lamanya dua Pendekar itu berpetualang karena tidak ada waktu dan tempat untuk mereka melepaskan hasratnya, malam itu menjadi malam yang paling indah untuk melepas rasa rindu dan cintanya.
Rumah penginapan yang lagi sepi oleh pengunjung sehingga cuma ke tiga pendekar elang saja yang menempati penginapan itu, dan masih banyak beberapa kamar yang kosong membuat Dewi harum dan Wira jaya merasa tenang dan nyaman apa lagi Darma seta memilih kamarnya di paling ujung.
Malam pun kini semakin bergeser, Wira jaya dan Dewi harum nampak sudah tertidur pulas, di selimuti angin dingin yang masuk melalui ventilasi udara yang terpasang di atas jendela, tentu saja pasangan suami istri ini tambah erat saja dalam rengkuhannya untuk mendapat kehangatan.
__ADS_1
Sementara Darma seta yang nampak masih belum tidur, lagi duduk di teras depan penginapan sambil menatap keluar.
Lalu pegawainya Marduki datang menghampiri Darma seta
"Tuan belum tidur?." Bertanya.
Darma setapun menoleh ke arah suara yang menyapanya. "Oh mamang, belum ngantuk mang." Jawab Darma seta.
"Mamang temenin ya."
"Oh dengan senang hati, lantas mamang sendiri belum mengntuk?." Darma seta bertanya.
"Belum Tuan, sebenarnya Tuan ini mau kemana atau habis dari mana?."
"Saya habis dari Galunggung Mang, mau pulang ke Benda." Jawab Darma seta.
"Uluuh, perjalanan yang sangat jauh, baru pertengahan, masih satu hari satu malam lagi perjalanan." Ujarnya.
"Ko Mamang tau, memangnya pernah kesana?."
"Ya pernah tapi itu dulu, kan Mamang juga bukan Asli orang sini, mamang asli orang Kawali Tuan."
"Kenapa Mamang tidak tinggal di Kawali, disana kan ramai pusat kota keraja'an Galuh." Ujar Darma seta.
"Mungkin perjalanan hidup mamang sudah di atur oleh semesta untuk menetap di sini,, enak ya kalau jadi pendekar bisa menjelajah negri." Ujarnya
"Jadi pendekar itu, penuh dengan kekerasan dan kekejaman banyak tipu daya." Ujar Darma seta.
"Lalu Tuan sendiri kenapa mau menjadi pendekar?." Tanya si Mamang.
"Ya mungkin semesta telah menakdir kan saya menjadi pendekar." Jawab Darma seta.
Pegawai Marduki hanya manggut-manggut tanda mengerti dengan perkata'an Darma seta.
Malam pun semakin larut, pegawai Marduki pun sudah undur dari hadapan Darma seta karena rasa kantuk sudah menyerang dirinya, begitu pula Darma seta, setelah kepergiannya pegawai Marduki ia pun pergi memasuki kamar penginapan tersebut. Setibanya di dalam kamar Darma seta langsung merebah kan tubuhnya di atas tempat tidur yang telah di sediakan oleh sang pemilik penginapan.
Perlahan ke dua bola mata darma seta tertutup oleh kelopak yang di hiasi oleh jentiknya bulu-bulu menutupi rapat manik-manik bola matanya.
******
Terima kasih atas dukungannya, jangan lupa sertakan like, comentar, saran, jadikan favorit bila suka dan berikan vote serta hadiahnya.
__ADS_1
Salam sehat dan sukses selalu.
-------------------BERSAMBUNG------------------