
Ketika langit sudah mulai terang, sang surya pun sudah memancarkan cahayanya yang kuning ke emasan, di timur di atas cakra wala bumi nusantara.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, mulai lagi melanjutkan perjalanannya, menuju perguruan naga bintang, yang bertempat tinggal di lereng gunung galunggung, berada di kawasan wilayah sura laya.
Dalam kekuasa'an keraja'an galuh, dengan kepemimpinan Raja Wretikandayun dengan gelar maha raja Suradarma jaya prakosa raja galuh pertama.
••••••••••
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, memacu kudanya semakin kencang, dengan di sinari cahaya mentari pagi hari, nampak terlihat bayangan dari ke tiga pendekar elang berkelebat-kelebat di tanah, ketika sebuah cahaya sang surya memancar pada ke tiga pendekar elang itu.
''Nyai sebentar lagi kita akan sampai.'' Seru Wira jaya.
"Iya kakang.'' Jawab Dewi harum.
Lalu Darma seta mengingatkan pada ibu dan pamannya, agar lebih hati-hati.
"Ibuk, Paman, sebaiknya lebih berhati-hati karena di kaki gunung galunggung terkenal dengan para pendekar aliran hitam yang berkomplot dalam satu kelompok jurig galunggung.''
''Iya betul, apa yang dibilang kamu seta, disini banyak tokoh-tokoh sakti, yang sudah malang melintang di rimba persilatan.'' Pungkas Wira jaya.
Belum saja ucapan Darma berlangsung lama, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, melihat banyak bayangan berkelebat dari satu pohon ke pohon yang lainnya.
Ke tiga pendekar elang langsung menghentikan kudanya, dan sang kuda pun meringkik, Dewi harum langsung mencabut pedang merahnya, dan di acungkannya ke atas, sambil berteriak.
"Hai keluarlah, tampakan batang hidungmu, jangan cuma main petak kumpet.'' Teriak Dewi harum, sambil memutarkan pedang merahnya.
Kemungkinan yang berkelebat bayangan-bayangan hitam itu sosok dari kelompok jurig galunggung, bukan berarti mereka itu para hantu atau siluman melainkan sekelompok pendekar aliran hitam, yang mempunyai kepandaian ilmu meringankan tubuhnya sudah sempurna, maka tak heran bila kelebatan-kelebatan bayangannya begitu cepat, tapi bagi ketiga pendekar elang, itu hal yang biasa mereka temui dalam setiap petualangannya.
Dewi harum dan Darma seta lalu membenturkan antara pedang merah dan pedang perak, maka terciptalah sebuah sinar merah dan sinar perak yang makin lama makin mengembang, kemudian Wira jaya mendorongnya dengan kekutan tiupan senjata ampel kuning, sungguh kekuatan yang amat dahsyat setelah itu muncul kilatan-kilatan cahaya membentuk kepala elang menyambar-nyambar pada bayangan-bayangan hitam.
''Ayo turunlah kalian semua jangan cuma pamer ilmu meringankan tubuh.'' Teriak Darma seta.
Kini Ke lima bayangan hitam, bertempur dengan cahaya kekuatan yang keluar dari pedang perak dan pedang merah serta suara tiupan ampel kuning yang terus melengking.
Kilatan cahaya kekuatan dari tiga senjata pendekar elang terus memburu ke lima bayangan hitam, kini benar-benar sebuah adu kesaktian yang sangat melelahkan tentunya bagi kelima bayangan hitam, penghuni gunung galunggung, yang sudah terkecoh oleh permainannya ketiga pendekar elang.
"Bedebah ternyata kilatan cahaya itu benar-benar kuat sekali, tapi kita semua yang bodoh, kenapa kita harus menghindar itu cuma bayang-bayang saja.'' Gerutu dari salah satu dari mereka.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta tertawa lepas melihat mereka kucing-kucingan dengan permainannya.
"Ternyata jurig Galunggung yang termashur di rimba persilatan masih sangat bodoh." Teriak Darma seta.
Dengan sangat entengnya kelima bayangan itu, menginjakan kakinya di bumi, pamer ilmu meringankan tubuhnya.
Tapi ke tiga pendekar elang hanya tersenyum mengejek, dan saling pandang di antara mereka.
"Hai kalian bertiga, tentunya kami sangat mengenal kalian dari cara pakaian kalian sudah barang tentu kalian pasti pendekar elang dari timur bukan." Ujarnya.
__ADS_1
"Wah waah rupanya jurig Galunggung sudah mengenal kami, sudah tentu kamu yang pakai ikat merah si kobrek, kepala serdadu jurig Galunghung." Tutur Wira jaya.
"Iya anda benar, saya si Kobrek, dan ini si kordek, si kormen, si Kardut dan si Kuprit." Ujar si Kobrek.
Ketika itu pula Darma seta mendadak tertawa terbahak mendengar ke lima nama dari Jurig Galunggung itu.
"Hahahahahahaha, nama kalian lucu-lucu, gak sepadan dengan julukan kalian, jurig galunggung." Ujar Darma seta sambil menahan perutnya karena ketawanya yang terlampau batas.
"Kurang ajar kau anak muda, mungkin kamu belum tau siapa kami." Ujar si Kobrek tersinggung.
"Iya-iya ma'ap, habisnya nama kalian lucu-lucu hahahaha." Jawab Darma seta tertawa kembali.
Lalu ke empat anak buah si Kobrek terpernjat dengan pasang muka garang dan berkata.
"Anak muda itu sudah sangat menghina kita kakang, kita habisi saja, saya pingin tau kehebatan mereka bertiga yang katanya sangat didjaya." Seru si Kardut.
Sikobrek maju selangkah, sambil bertulak pinggang, lalu menoleh pada si Kardut.
"Tenang rayi Kardut, mereka memancing amarah kita, dan kita jangan sampai terpancing oleh mereka." Ujar si Kobrek.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta pun sudah menyarungkan kembali senjatanya, lalu Wira jaya berkata.
"Ma'ap para tokoh sakti, kami tidak ada urusan dengan kalian semua, dan kami hendak ke padepaokan Naga bintang, mau menemui ki Supraba."
Kelima tokoh Jurig Galunggung saling pandang, sambil tersenyum sinis, dan mengusap-ngusap kumis tebalnya yang tumbuh di atas bibir.
"Kalau kami tidak mau bagaimana?." Tanya Wira jaya.
"Kurang ajar, jangan di ajak bicara terus kakang." Seru si Kormen sambil mencabut pedangnya.
Kemudian si Kobrek, si Kardut, si Kordek dan si Kuprit mengeluarkan senjatanya masing, ke lima senjata yang berbeda, si Korbek dengan senjata rantai api neraka, si Kordek sebuah kapak beracun, si kardut sebuah senjata golok naga iblis dan si kuprit dengan senjata cambuk halilintar, kini kelima senjata itu mulai diperlihatkan kekuatannya pada ke tiga pendekar elang, dengan menghantamkannya pada pepohonan, sebuah bunyi ledakan yang sangat dahsyat, pohon-pohon banyak yang roboh terkena hantaman dari ke lima senjata jurig Galunggung.
Tapi ke tiga pendekar elang tetap berdiri dengan gagah berani seperti menantang dunia, sedikitpun ke tiga pendekar elang tidak kaget atau heran dengan pertunjukan jurig Galunggung, malahan Darma seta tersenyum sambil melemparkan ejekannya.
"Adakah yang lebih dahsyat dari itu, wahai jurig Galunggung." Seru Darma seta.
"Bedebah, ayo kakang jangan diajak bicara terus." Seru si Kuprit sembari melesat menyerang ke tiga pendekar elang.
Kini pertempura pun terjadi begitu hebat, kali ini ketiga pendekar elang harus berhadapan dengan komplotan tokoh-tokoh sakti yang sudah malang melintang di dunia persilatan.
Benturan-benturan senjata begitu nyaring memecahkan kesunyian.
Trang..
Trang..
Trang....
__ADS_1
Jurus demi jurus mereka keluarkan hingga mereka sudah mengeluarkan beberapa jurus andalannya masing-masing.
Jurig Galunggung yang terkenal sakti dan sangat kejam dalam menghabisi lawannya tidak pernah berlangsung lama dalam menghadapi lawannya!, tapi kali ini ia harus menghadapi lawan yang sangat kuat, siapa yang tidak mengenal pada ke tiga pendekar elang dari timur, karena petualangannya yang sangat luas dan sa'at ini masih belum ada tandingannya.
Si kormen melesit ke atas sambil memutarkan pedangnya ingin memecah belahkan Darma seta, Darma seta menolakan kakinya ke bumi langsung melesat menyambut serangan pedang si kormen, permainan dan liukan-liukan pedang perak Darma seta begitu menyilaukan pandangan bagi si Kormen.
Angin menderu kencang begitu Darma seta meningkatkan permainan pedang peraknya ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, cahaya putih perak yang semakin lama semakin mengembang menyambar-nyambar bagaikan kilatan halilintar.
Si kormen sampai melotot begitu melihat permainan pedangnya Darma seta yang sangat ganas dan mematikan.
Trang
Trang
Trang..
Benturan kedua pedang begitu nyaring terdengar, setelah lima belas jurus, si kormen nampak terdesak.
Darma seta menyambarkan pedang peraknya dengan di lapisi oleh tenaga dalam yang sangat sempurna.
Begitu si Kormen menangkis dengan pedangnya, ia nampak melotot sambil mendonggakan mukanya ke atas langit, melihat pedang si kormen patah tinggal separo, dan hanya tersisa satu jengkal dari gagang pedang, kemudian si Kormen melompat mundur kebelakang beberapa tumbak.
Darma seta tertawa mengejek.
"Hahaha, itu pedang apa cukil terasi, kalau memakai senjata itu harus pakai logam pilihan, bukan sebuah besi yang empuk, kaya mainan anak kecil saja." Ujar Darma seta sambil tertawa mengejek.
Si Kormen lalu melemparkan pedangnya yang tinggal sejengkal itu.
"Cuih.. Jangan sombong dulu kau anak muda, saya masih punya senjata yang lebih keras dari pedangmu." Seru si Kormen sambil melepaskan ludahnya.
Kemudian si Kormen mengangkat tangannya ke atas, sambil membaca mantra.
Kilatan cahaya bersama dengan gemuruhnya angin, memecahkan suasana hutan di bawah kaki gunung galunggung.
Setelah itu nampak terlihat oleh Darma seta sebuah senjata berupa pedang yang berukuran lebih besar dari pada pedang yang buntung itu, telah berada di genggaman di kormen.
Darma seta menyeringai sembari menyarungkan kembali pedang peraknya, kemudian tangan kanan Darma seta di tempelkan di bagian dada, dan setelah itu keluarlah hawa panas yang amat sangat bersama'an dengan keluarnya seberkas cahaya merah jingga dari dada Darma seta dan membentuk seperti sebuah pedang, yang kini sudah berada dalam genggamannya Darma seta.
Ternyata Darma seta pun mengeluarkan senjatanya yang sangat sakti dan terkenal pembawa maut, yaitu pedang cipta'aanya ki Teupa Aji santang kakek buyutnya.
Sedangkan si kormen, ketika Darma seta mengeluarkan senjatanya yang di simpan di dalam jiwanya, merasakan epek dari ke dahsyatan pedang tersebut, hawa panas yang menebar keseluruh tempat di sekitar situ di rasakan pula oleh laskar jurig galunggung yang lainnya.
***********
Bersambung
Bila suka dengan cerita ini, jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.