PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 51


__ADS_3

Pedang yang sakti dan haus akan darah, kini mulai di ayunkan oleh Darma seta, karena pedang itu, sebelum memakan korban, pedang tersebut akan susah untuk di taklukannya, apalagi hingga saat ini pedang tersebut belum mempunyai warangkanya.


Makanya Aji santang menyuruh Darma seta untuk menyimpan pedang tersebut dalam wadak Darma seta, dan bila dalam ke ada'an terpaksa sewaktu-waktu bisa di gunakan.


Ke lima Jurig galunggung terkesima sambil mendonggakan wajahnya ke atas ke tika pedang yang haus darah di acungkan oleh Darma seta ke atas langit, tebaran hawa panas terus menyebar ke sekitar tempat itu.


"Sungguh sebuah senjata yang sangat angker, siapa pembuat pedang itu." Gumam si Korbek dalam hati.


Dewi harum dan Wira jaya pun sampai tercengamg kaget, karena tidak biasanya Darma seta mengeluarkan senjata andalannya itu, ia lalu melompat ke pinggir arena ketika Jurig galunggung minggir ke jarak yang agak jauh.


"Kenapa dengan nanda Darma seta, apakah harus di keluarkan pedang itu." Bisik Dewi harum pada Wira jaya.


"Entahlah nyai, padahal nanda Darma seta masih mempunyai ajian yang sangat sakti, kenapa tidak menggunakan ilmu Cakra dewa saja." Ujar Wira jaya.


Sementara yang lagi di perbincangkannya, lagi mengacungkan pedangnya siap untuk menghisap darah si Kormen.


"Ayo jurig Galunggung, tunjukan kehebatan pedangmu itu, apakah sanggup menahan pedang saktiku ini." Maki Darma seta.


Sii kormen tidak mau kalah hebat, secepat kilat si kormen menyerang Siliwata dengan pedang saktinya, dan Darma seta pun langsung melesat menyambarkan pedang Garuda Cakra buananya.


Kilatan-kilatan cahaya saling menyambar-nyambar menunjukan kesaktiannya, Kemudian dua kekuatan dari pedang itu beradu dan menimbulkan daya ledakan yang sangat luar biasa sekali.


Bluuuuaaaerrrr....


Auuuuuggghhh....


Tubuh si Kormen terpental lalu pedangnya lepas dari genggaman dan menancap di atas sela-sela bebatuan, salah satu Jurig Galunggung kini terkapar di atas tanah kering, dengan sekujur tubuh menggosong, dan darah kental mengalir dari kedua sudut bibirnya, bola mata mendelik ke atas memerah oleh darah, karena semua urat sarapnya si kormen telah pecah.


Melihat salah satu sekutunya telah tewas dengan sangat mengenaskan, Jurig galunggung yang tinggal empat orang lagi, kini nampak merah padam di wajahnya, amarah dan kebenciannya kini bangkit ingin memusnah ke tiga pendekar elang dari timur.


Ke empat Jurig galunggung kini sudah siap dengan semua senjata saktinya, golok naga iblis, Rantai api neraka, Kapak beracun dan cambuk halilintar sudah siap untuk memusnahkan ke tiga pendekar elang.


Ke emapat Jurig Galungung mekesit ke atas dengan senjatanya masing-masing langsung menyerang ke tiga pendekar elang.


Darma seta, Dewi harum dan Wira jaya pun, tidak mau kalau harus mati konyol. Darma seta yang masih menggemgang pedang Garuda cakra buana, langsung menyongsong ke empat Jurig Galunggung, dengan jurus garuda winata Darma seta memainkan pedang Garuda.


Sedangkan Dewi harum dan Wira jaya. langsung mengerahkan tenaga dalamnya guna mengeluarkan ilmu butiran salju, duduk bersila di atas hamparan rumput ilalang.


Kini langit mendadak mendung, gemuruh suara angin datang seperti bergelombang dari angkasa, dan setelah itu titik-titik butiran salju turun dengan derasnya dan menghujani ke empat Jurig galunggung.


Adu kesaktian yang sangaat luar biasa sekali, Ke empat senjata andalan dari Jurig galunggung memancarkan aura kesaktiannya cambuk halilintar, golok Naga iblis dan kapak beracun memancarkan sinar yang berbeda-beda untuk menahan dinginnya dari ilmu butiran Salju.


Tebaran hawa panas dan dinginnya butiran-butiran salju yang terus berjatuhan dari Angkasa terus beradu sama-sama ingin menjatuhkan siapa yang lebih unggul.


Sedangkan si Kobrek yang lagi bertarung melawan Darma seta, dengan senjata Rantai api nerakanya, begitu dahsyat sekali setiap pohon atau benda apa saja yang terkena sabetan rantai api neraka langsung hancur dan terbakar


Darma seta berkelebat-kelebatan menghindari semburan api dari senjata rantai api neraka dengan jurus garuda winata.


Jurig galunggung yang terkenal sangat sakti kini menemui lawannya yang sepadan bahkan kalau di lihat dari ke didjaya'annya masih unggul Pendekar elang.

__ADS_1


"Pedang itu sangat luar biasa, hempasan api dari senjata Ratai ini bisa di lumatnya, pokonya saya harus bisa mengalahkan pemuda itu, dan bisa memiliki pedangnya untuk melebarkan sayap di du dunia persilatan." Gerutu si Kobrek sangat ber ambisi ingin memiliki pedang garuda cakra buana.


Pertarungan yang sangat melelahkan tentunya, dan banyaknya tenaga yang terkuras, karena banyaknya megeluarkan tenaga dalam, kini Si kobrek nampak terlihat seperti kehabisan tenaganya, terlihat dari cara si kobrek dalam memainkan senjata rantai api nerakanya sudah nampak melemah.


Kelebatan pedang Garuda cakra buana dengan sangat cepat sekati menebas senjata rantai apai neraka


Sreerng...


Praaak trak trak


Senjata yang sangat di andalkan oleh di kobrek kini terputus-putus menjadi tiga bagian dan jatuh berhamburan di tanah.


Dusa'at itu pula pedang Garuda cakra buana melesat dan mengarah pada si kobrek, tapi si kobrek bukan pendekar sembarangan secepat kilat si kobrek melemparkan jarum-jarum beracunnya sambil melesit ke atas.


Trang


Trang


Trang...


Clekcek.


Darma seta dengan replek menangkis jarum-jarum beracun tersebut dengan Pedang garuda cakra buana, tapi dari sekian banyaknya jarum-jarum beracun yang ditangkis, ada satu jarum beracun yang meluncur hingga menusuk pangkal lengannya Darma seta.


Auuugghhh..


Darma seta meringis sebentar karena jarum tersebut menusuk hingga terasa ke tulang.


Mata Darma seta nampak memerah, lalu ia duduk bersila dan pedang Garuda cakra buana, telah ia kembalikan ke wadaknya, kemudian ia mengambil napas panjang untuk mengerahkan tenaga dalamnya guna mengeluarkan jarum beracun dari pangkal lengan yang masih menancap.


Keringat dingin terus keluar dan tubuh Darma seta bergetar kencang, lalu sedikit demi sedikit jarum tersebut keluar.


Heaaaaaa...


Darma seta berteriak bersama'an dengan lepasnya jarum beracun tersebut, melesat kencang dan menancap di sebuah pohon yang besar.


Darma seta tersontak kaget ketika melihat sebuah pohon yang terkena jarum tersebut, daun-daunnya mendadak layu, lama kelama'an daun-daun itupun mengering dan akhirnya jatuh berhamburan di tanah.


"Jagat dewa batara, sungguh ganasnya racun pada jarum itu, dan ku harus cepat-cepat mengeluarkan racun sebelum menjalar ke seluruh tubuhku." Gumam Darma seta dalam hati.


Ketika Darma seta lagi melakukan meditasi sambil menarik tenaga inti alam, untuk mengeluarkan racun ganas yang mungkin sudah merasuk kedalam tubuhnya, tiba-tiba terngiang di telinga Darma seta sebuah bisikin lembut.


"Jangan cemas cucuku, tubuhmu sudah kebal segala jenis racun, lihatlah pohon itu, kalau racun itu sudah menjalar dalam darahmu, tidak mungkin pohon itu akan mengering." Tutur bisikan lembut di telinganya Darma seta.


Darma seta langsung terperanjat dan berkata.


"Kek, benarkah itu, lalu kakek siapa, kenapa kakek selalu datang di sa'at ku lagi ke susahan." Darma seta bertanya.


"Akulah Raga nata cucuku." Bisiknya dan terus menhilang.

__ADS_1


Darma seta lalu membuka matanya dan memanggil-manggil Raga nata.


"Kek kakek, kakek Raga nata." Teriak Darma seta.


Sementara Dewi harum dan Wira jaya yang lagi bertarung melawan ke tiga orang dari jurig galunggung mendadak konsentrasinya terpecah setelah mendengar teriakan Darma seta yang memanggil nama Raga nata, dan menoleh pada keberada'annya Darma seta.


Dewi harum dan Wira jaya tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan telah mengancam keselamatannya, di sa'at itu pula ketiga jurig galunggung yang sempat sudah mulai melemah mendadak seperti punya peluang dan kesempatan, di sa'at itu dan di sisa tenaganya mereka menghempaskan tiga kekuatan dari senjatanya.


Wes wes wes..


Traktak trak traktak, Deeeaasss.....


Auuugghhhh.....


Tubuh Dewi harum dan Wira jaya terpental dan butiran salju yang turun dari angkasa pun langsug sirna.


Darma seta langsung kaget dengan teriakan dari ibuk dan pamannya, dengan gerakan yang sangat cepat Darma seta melompat dan menghempaskan pukulan cakra dewanya.


Heaaaa.....


Cakraaaa dewaaaaa....


Bluuuuuueeeerrr...


Auuuuggghhhhh....


Si Kordek, si Kardut dan si Kuprit menjerit bersama'an dengan terpentalnya tubuhnya, karena terkena pukulan Cakra dewa yang maha dahsyat.


Sementara Darma seta langsung memburu tubuh ibuknya Dewi harum dan Wira jaya yang tergeletak di tanah.


"Ibuuuuk.. Pamaaaan...?" Tanya Darma seta cemas.


Dewi harum dan Wira jaya membuka matanya perlahan, kemudian darma seta membangun kan tubuh Dewi harum dan Wira jaya dengan posisi duduk.


"Ibuk, Paman tarik napas perlahan, lalu kosongkan tenaga dan pikirannya, saya akan memasukan hawa murni untuk mengeluarkan racun dalam tubuh kalian." Ujar Darma seta.


Darma seta lalu duduk bersila menghadap pada Dewi harum dan Wira jaya yang lagi duduk membelakanginya, lalu ke dua telapak tangan Darma seta di tempelkannya pada punggung Dewi harum dan Wira jaya, sebuah hawa murni kini telah merasuk kedalam tubuh ibuk dan Pamannya itu.


Selang tiga menit terdengar suara muntah dari Dewi harum dan Wira jaya.


Ohhooo..Uuuoooo


Ohooo........Uoooo.


Sebuah darah kental merah kehitaman terhempas keluar dari dalam mulutnya, Dewi harum dan Wira jaya.


Lalu Darma seta memberikan minum pada mereka dengan air di guci yang biasa dibawanya kemanapun ia pergi.


Setelah itu, Dewi harum merasakan tubuhnya agak membaik, begitu pula apa yang di rasakan Wira jaya pergerakannya kita sudah mulai enteng.

__ADS_1


Duduk bersila dengan menarik napas dalam-dalam lalu di keluarkannya secara perlahan, begitu dan begitu seterusnya apa yang telah di lakukan oleh Dewi harum dan Wira jaya.


__ADS_2