
Setelah rasa yang mengganjal di hati Wira jaya tentang senjata rahasia milik perguruannya Naga Bintang, kini sudah terpecahkan, Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta akhirnya undur dari padepokan Naga Bintang, dan membawa amanat dari Ki Sura praba untuk mencari muridnya yang durhaka yaitu Jareti Gangga.
Setibanya di depan gerbang, seorang penjaga berjalan sambil menuntun tiga kudanya Pendekar elang.
"Ini kudanya Tuan, sudah kami kasih makan, rupanya tuan Pendekar ini habis melakukan perjalanan yang sangat jauh." Ujar Penjaga.
"Iya betul, tau dari mana kamu?." Tanya Wira jaya.
"Tau dari cara kuda dalam memakan rumput, sepertinya sangat lapar dan ke lelahan." Jawabnya.
Wira jaya hanya tersenyum tipis, sedangakn Darma seta dan Dewi harum hanya diam sembari menatap datar pada penjaga tersebut.
"Saya pergi dulu ya, salam buat semuanya." Ujar Wira jaya sambil melompat ke atas punggung kuda, lalu di ikuti oleh Dewi harum dan Darma seta.
Tidak banyak kata lagi yang terucap dari ke tiga Pendekar elang, mereka langsung memacu kudanya.
Ke tiga kuda mulai melangkah kan kakinya perlahan meninggalkan Gerbang perguruan Naga Bintang.
kteplak
Keteplok
Keteplak
Keteplok
Suara langkah kuda berjalan menuruni jalanan setapak di lereng Gunung Galunggung, teriknya cahaya matahari kini terasa membakar kulit Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta, kini mereka mulai memacu kudanya dengan kencang, setelah jalan yang curam dan terjal sudah di lewatinya, perlahan ke tiga bayangan berkuda itu hilang setelah mereka mulai lagi memasuki hutang Galunggung.
Pepohonan yang rapat satu sama lain membuat mereka memperlambat perjalanannya.
"Kakang apa kita tidak singgah dulu di rumah pohon." Tawar Dewi harum.
Lalu Darma seta menjawab perkata'an ibunda nya.
"Tidak usah Buk, karena dimana se ekor elang singgah di situ pasti bikin sarang." Ujar Darma seta.
"Iya benar nyai, anggap saja itu jejak bahwa tiga elang timur pernah singgah dan menetap di sini." Jelas Wira jaya.
"Baik kalau begitu, Oh iya seta, berarti itu semua sering kamu lakukan?." Tanya Dewi harum.
"Iya benar Buk, ku sering melakukan hal itu kalau ku kemalaman dan ke lelahan di dalam hutan." Jawab Darma seta.
"Ooh pantesan kamu sangat pintar dalam menata dan bikin rumah di atas pohon." Saut Dewi harum sambil berjalan dengan kudanya.
Kemudian Wira jaya memotong pembicara'an, dengan memacu kudanya.
__ADS_1
"Ayo nyai kita harus lebih cepat sampai ke utara, dan sebentar lagi kita akan keluar dari hutan ini, tuh lihat pepohonan pun sudah agak jarang-jarang." Seru Wira jaya.
"Baik kakang."
Suara kaki kuda kini sudah berbeda lagi nada suaranya, terdengar lebih rapat dan kencang, ke tiga pendekar elang meluncur keluar dari hutan Galunggung menuju ke arah utara, dengan tujuan ke Ranca galuh untuk mencari Jareti Gangga.
Setelah sekian jauhnya ke tiga pendekar elang memacu kudanya, sehingga tidak terasa ke tiga Pendekar elang telah memasuki kawasan Sumedang larang, sehingga lajunya kuda pun agak pelan setelah memasuki kawasan pemukiman penduduk.
"Nyai, seta bagaimana kalau kita cari kedai, perut rasanya sudah berisik meminta pemasokan makanan." Ujar Wira jaya.
"Baik kakang, mungkin di depan sana ada sebuah kedai." Saut Dewi harum sambil mengarahkan telunjuknya lurus ke depan.
Selepas itu mereka pun tiba di tempat yang mereka maksud, di sebuah kedai yang menjual beraneka makanan dan minuman.
Ketiga Pendekar elang turun dari atas punggung kuda sambil memegang tali kemudi kuda, lalu mereka mengikat tali kekang kuda itu pada dahan sebuah pohon yang ada di depan kedai.
Di ayunkan kakinya menuju ke dalam kedai, penampilan dan cara berpakaian ke tiga Pendekar elang, menjadi bahan perhatian orang-orang yang baru pertama kali menemui Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta.
"Sampu rasun." Sapa Wira jaya.
"Rampes. Silahkan duduk kisanak mau minum apa?." Tanya pemilik kedai.
Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta langsung duduk di bangku.
"Pak nasi putih tiga ya, lauknya terserah mau pake apa." Ujar Wira jaya.
"Air putih saja pak." Celetuk Darma seta.
Gelak tawa terdengar dari sebelah pojok kedai, Ke tiga pendekar elang hanya melirik dengan netranya yang tajam merobek suasana di dalam kedai, pada empat lelaki berwajah serem dengan kulit warna sawo matang, sembari meneguk segelas arak secara bergantian.
Ke tiga Pendekar elang terdiam tidak menghiraukan ocehan ke empat lelaki yang tidak di kenalinya itu.
Ke empat lelaki itu semakin asik dengan minumannya, dan tak lepas terus melemparkan ocehan-ocehannya seperti ingin membuat gara-gara.
"Hahaha...Hai kisanak kalau lelaki itu minumnya arak bukan air putih." Ejek mereka.
Lalu Darma seta membalas cibiran ke empat lelaki itu dengan tenang sambil menikmati makanan.
"Ma'ap ki sanak, air putih lebih sehat ketimbang minum arak yang bikin otak kalian jadi gak waras." Balas Darma seta.
Ke empat lelaki itu membuka matanya yang merah karena pengaruh dari minuman arak itu yang sudah bereaksi sambil menatap angker penuh kebencian pada ke tiga pendekar elang.
"Haah.. Kuang ajar, berani benar kau berkata begitu hai orang tidak di kenal." Bentaknya.
Sementara Darma seta, Wira jaya dan Dewi harum tetap asik menikmati makanannya, sambil pasang indranya untuk anti sipasi akan bahaya yang akan menyerangnya.
__ADS_1
Dengan sikap acuhnya pendekar elang, membuat ke empat lelaki itu seperti di ejek dan di hina lalu salah satu dari ke empat lelaki yang wajahnya di penuhi oleh jambang, meraih sebuah kendi kosong bekas arak dengan cepat kendi tersebut di lemparkannya pada Darma seta.
Kini Kendi tersebut meluncur dengan cepat, tapi belum saja sampai pada sasaran, kendi tersebut mendadak pecah, karena Darma seta lebih cepat menghadang kendi itu hanya dengan sepotong tulang ayam dari lauk pauk yang ia makannya.
Ke empat lelaki itu tersontak kaget lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri sambil memegang gagang golok yang terselip di balik pinggangnya.
"Rupanya ada yang mau ngajak main-main sama kita." Ujarnya dengan pertentang.
"Kita hajar aja kakang, belum tau siapa kita." Celetuk yang satu nya lagi.
Sambil menunduk ke arah makanan yang belum abis Darma seta nampak santai dan tenang, se olah tidak menghiraukan ke empat lelaki yang lagi pertentang-pertenteng.
Wira jaya dan Dewi harum tersenyum penuh ejekan melihat roman lelaki yang berjambang, lalu sebuah bisikan terngiang di telinganya Dewi harum.
"Coba nyai, kamu perhatikan lelaki yang pakai ikat kepala warna merah, bentuknya aneh sekali." Bisik Wira jaya.
Wira jaya dan Dewi harum terkekeh walau agak di tutup pake telapak tangannya tetap aja bisa ketauan sama di jambang, netranya menatap bringas pada Dewi harum dan Wira jaya.
"Gadis cantik berpakaian serba merah membuat ke lakianku menjadi berdiri kokoh, hehee." Si Jambang tersenyum penuh menggoda sambil berjalan ke arah Dewi harum.
"Hai ki sanak bermuka rumput dia ibuku, jangan macam-macam sama ibuk ku, kalau pingin hidupmu lebih lama lagi." Seru Darma seta.
Mendengar perkata'an dari si Jambang, Dewi harum langsung mendonggakan kepalanya dan netranya menatap penuh kebencian pada si Jambang.
"Bedebah, sungguh tidak bermoral bicaramu kisanak." Ucap Dewi harum sambil menghunus pedang merahnya.
"Ooww. Rupanya nyi sanak seorang pendekar juga, boleh juga tuh pedangnya." Ujarnya.
Setelah Darma seta menghabiskan makanannya yang di susul dengan segelas air putih, lalu ia berdiri dan melangkah kan kakinya mendekati si jambang.
"Kisanak bisakah bicara lebih sopan pada se orang wanita, kata-katamu itu sangat menjijikan sekali, kalau di negri barat lehermu sudah terlepas dari ragamu." Ujar Darma seta
"Haha tidak usah menggertak pada si jambang anak muda, karena kumpulan kami banyak tersebar di mana-mana." Ujarnya.
"Dasar mabuk, bicaramu sudah ngelantur, kami tidak pernah tanya perkumpulanmu." Darma seta.
Sijambang bersama kawanannya langsung menyerang Pendekar elang, Darma seta melompat keluar dari dalam kedai untuk menghindari hancurnya sebuah kedai, si Jambang bersama kawanan nya langsung mengejar Darma seta.
Dewi harum si pendekar elang merah melesat dengan cepat mengejar para begundalnya si Jambang.
*******
Bersambung
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit, berikan vote serta hadiahnya bila suka.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.