PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 52


__ADS_3

Angin yang meniup sepoi-sepoi, se akan memberikan kesegaran pada Dewi harum dan Wira jaya, ketika keduanya lagi melatih tenaga dalamnya untuk menggerakan otot-ototnya, yang sedikit kaku akibat hempasan pukulan dari ke tiga cahaya senjata para laskar jurig Galunggung.


Sementara para jurig Galunggung, setelah terkena pukulan sakti cakra Dewa dari Darma seta, kini telah siuman kembali dengan luka membiru di bagian dada dan darah keluar dari hidung dan kedua sudut bibir, kini bangkit saling bopong satu sama lain dengan jalan terhuyung-huyung, segera menjauh dari tempat itu, sebelum Darma seta mengetahui kepergiannya, mungpung lagi pokus sama ke dua pendekar elang Dewi harum dan Wira jaya yang di maksud oleh jurig Galunggung.


Setelah ke tiga jurig Galunggung berjalan sudah sangat jauh dari tempat beradanya Darma seta, dan kedua pendekar elang, kini mereka menghentikan perjalanannya, karena luka yang mereka derita sangat tidak memungkinkan untuk di lanjutkan lagi.


Kini ke tiga jurig Galunggung menurunkan tubuhnya di bawah pohon seno keling yang tinggi menjulang, kemudian ke tiganya duduk bersila saling berhadapan dengan membentuk ukuran segi tiga, lalu tangan mereka saling menempelkan pada punggung secara estapet dan di kerahkannya tenaga dalam dengan tenaga yang tersisa, untuk mengeluarkan racun yang menggumpal dalam dada, sehingga pergerakan jantung untuk memompa darah ke seluruh organ tubuh menjadi sangat terganggu.


Kini tubuh mereka nampak terlihat bergetar, dan asap putih tipis keluar dari telapak tangan mereka satu kekuatan hawa murni telah merasuk kedalam tubuh untuk mendorong dan mengeluarkan racun di dalam dada mereka, tidak lama kemudian mereka terdengar batuk sambil memuntahkan darah kental yang sudah kehitaman.


Uuuoooo....


Sebuah darah kental panas, meluncur keluar dari mulut ke tiga jurig Galunggung, dan mendarat di hamparan rumput, sehingga rumput yang terkena darah kental tersebut menjadi gosong dan terbakar, mereka sampai melotot kaget.


"Sebuah pukulan yang maha sakti, hebat sekali ajian yang di miliki pemuda itu, kalau kita tidak buru-buru mengeluarkannya, bisa mati konyol kita bertiga." Celetuk si kuprit.


"Iya benar, saya pun merasakannya, ketika pukulan anak muda itu menghantam dada, rasa seperti sebuah gunung yang menerjang." Ujar di kordek.


"Lalu Kakang Kobrek kemana, kenapa tidak menolong sama kita." Pungkas si Kardut.


"Entahlah, biarkan saja, yang penting sekarang kita harus cepat pulih dari luka dalam ini." Ujar si Kuprit.


................


Kembali pada ke tiga pendekar elang.


Kini Wira jaya dan Dewi harum, setelah berhasil mengeluarkan racun dalam tubuh akibat pukulan dari hempasan ke tiga senjata sakti dari laskar Galunggung, kini mulai terasa segar kembali setelah menyerap tenaga inti alam. Dan meminum ramuan penawar racun yang di berikan oleh Darma seta.


"Melihat dari kondisi Ibuk dan Paman yang belum begitu pulih benar, terpaksa kita harus menunda perjalanan kita ke Naga bintang." Tutur Darma seta.


"Kamu benar seta, alangkah baiknya kita menetap dulu di hutan ini, barang satu hari atau dua hari dua malam." Ujar Dewi harum.


"Dan untuk menghindari dari binatang buas terpaksa kita harus bikin rumah pohon, dan kita cari tempat yang tidak terlalu di penuhi oleh pepohonan." Wira jaya.


Setelah itu Darma seta mencari batang kayu yang tidak terlalu besar dan sebuah tali untuk di jadikan tempat tinggal di atas pohon, setelah semua batang terkumpul, Darma seta naik ke atas dahan pohon yang bercabang dan cukup tinggi, lalu semua batang kayu itu di tariknya pake tali yang sudah di sediakan sebelumnya, setelah itu Darma seta menatanya serapi mungkin.


Setelah rangka terbentuk. Darma seta turun melalu tali yang sengaja di pasang untuk turun, setelah Darma seta berada di bawah, ia berjalan mengelilingi hutan untuk mencari pohon bambu.

__ADS_1


Cukup jauh Darma seta berjalan di dalam hutan dan setelah itu ia menemukan banyak pohon bambu di lereng hutan Galunggung.


Dengan kekuatan pedang peraknya Darma seta memotong banyak batangan pohon bambu, lalu di potong sekitar dua meteran dan di belah menjadi dua, setelah semua terkumpul. Darma seta langsung mengangkutnya dan langsung di susun rapi untuk menutupi dinding untuk menahan dari terpa'an angin, setelah bagian dinding selasai di susun, Darma seta langsung memasang bagian atapnya dengan daun lontar ditata rapi untuk melindungi dari air hujan dan terik cahaya matahari.


Tidak lama kemudian Darma seta pun turun melewati tali yang terbuat dari kulit batang pohon waru yang telah di kepang menyerupai sebauh tambang, tubuh Darma seta melayang dan melorot sambil bergelantung di tali tersebut setelah kakinya mendekati tanah Darma seta pun langsung melompat dan melepaskan tali dari cengkramananya.


Kemudian Darma seta berjalan ke sebuah tempat di mana ibuknya dan Pamannya yang sekaligus ayah sambungnya berada.


Setelah Darma seta tiba di tempat nampak Dewi harum dan Pamannya Wira jaya lagi mekakukan gerakan ringan untuk memulihkan tenaganya. Darma seta duduk di atas batu hitam menunggu ibuk dan Pamannya selesai.


Langit kini sudah nampak mendung udarapun berhembus semakin kencang, dan kliatan-kilatan halilintar terus berkelebat seperti ingin membelah angkasa. Darma seta pun berteriak memanggil ibuknya dan Wira jaya.


"Ibuk paman, coba tengok ke angkasa, sepertinya akan segera turun hujan, ayo kita berteduh, Rumah pohonnya sudah selesai ku buat." Seru Darma seta.


"Iya seta baiklah." Kata Dewi harum sambil melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, kemudian di ikuti oleh Wira jaya.


Darma seta menggelengkan kepalanya sambil bergumam dalam hatinya.


"Rupanya ibuk dan Paman Wira jaya sudah mulai tahap pemulihan, dan ilmu meringankan tubuhnya pun nampak sudah mau sempurna, paling tinggal beberapa hari lagi mereka akan pulih benar." Gumam Darma seta.


Darma seta menolakan kakinya ke bumi, dan tubuhnya mulai terpental melesit ke atas lalu berlari di udara menuju pada rumah pohonnya itu.


"Kamu sangat pintar seta, dalam merangkai dan menata rumah ini, kalau kamu berada di kota raja pasti keahlianmu sangat di butuhkan oleh orang-orang keraton." Ujar Wira jaya.


"Ah Paman Ayah bisa aja, cuma rumah pohon begini masa di bilang hebat, ini pekerja'an anak-anak Paman." Ujar Darma seta.


"Kamu itu kalau mau panggil Paman ya Paman, masa panggilnya Paman Ayah." Pungkas Dewi harum.


"Ya kan semua kebawa ibuk, Pamannya kebawa Ayahnya kebawa, betul kan Paman Ayah." Jawab Darma seta.


Wira jaya dan Dewi harum pun tersenyum melebar sambil saling pandang dengan manik bola matanya yang tajam.


Dan ketika itu pula rintik-rintik air turun dari angkasa sudah mulai membasahi bumi, suara-suara petir menggelegar bersama'an dengan kilatan cahaya halilintar masuk dan membelah kawasan hutan Galunggung. Kala itu hari pun sudah mulai senja, dan suasana di hutan Galunggung sudah nampak gelap, tidak ada cahaya sedikit pun yang menerangi ke tiga Pendekar elang, mereka menikmati malam yang gelap di sertai dengan deras nya air hujan yang berjatuhan dari langit.


"Hujan deras sekali, terus malam ini kita mau makan nyai." Ujar Wira jaya.


"Biarlah malam ini kita jangan dulu memikirkan makanan, bisa berteduh juga kita masih untung." Jawab Dewi harum.

__ADS_1


"Ya tadinya ku kuatir sama kondisi kesehatanmu nyai, apalagi kita habis bertarung, sudah barang tentu kita membutuhkan masukan energi dalam tubuh kita, untuk bisa memulihkan tenaga kita." Tutur Wira jaya.


"Terima kasih kakang sudah sangat peduli pada istrimu, saya merasa bangga dan serasa di ingatkan sama mendiang kakag Danang yang sam persis sipat dan karakternya sama kakang Wira." Ujar Dewi haru sembari bersandar di dada Wira jaya.


Darma seta merasa tidak tega melihat ibuk dan Paman yang sejaligus Ayahnya seperti ke lelahan kekurangan masukan energi, lalu Darma seta pamit sama ibuk dan Pamannya untuk mencari makanan di tengah-tengah derasnya air hujan.


"Ibuk dan Paman tenang saja, ku akan mencari makanan untuk malam ini." Ujar Darma seta.


"Kamu mencari makanan kemana seta, lihatlah hujan semakin deras, biarlah ibuk masih kuat bertahan." Seru Dewi harum.


"Ibuk tidak usah kuatir, selam di gua elang ku sudah terbiasa dengan suasana begini, tunggu ku tidak akan lama juga kembali." Ujar Darma seta tidak menghiraukan seruan ibuknya, ia langdung melompat kebawah dengan ilmu meringankan tubuhnya.


Di dalam gelapnya malam dan deras nya air hujan, Darma seta terus berjalan mencari apa yang bisa di jadikan makanan malam itu untuk ibuk dan Pamannya.


Darma seta seperti sudah mengerti kemana harus mencari makanan, karena sejak kecil hingga dewasa ia telah terbiasa mencari makanan di hutan di malam hari maupun siang hari.


Tidak lama kemudian Darma seta menghentikan langkahnya dengan pandangan mata elangnya terus mengintai ke sebuah tempat, lalu Darma seta merunduk dan tangan kanannya meraih tiga biji batu kerikil, dengan kekuatan tenaga dalamnya tiga batu kerikil itu di lemparkannya meluncur sangat cepat.


Tak


Tak


Tak


Keoookkk...


Tiga batu keriki itu menghantam tiga biantang Ayam hutan yang lagi berteduh di bawah tebing batu.


Setelah itu Darma seta melesat ke arah tebing itu dan nampak terlihat tiga ekor Ayam hutan jantan tergeletak, Darma seta langsung meraih tiga ayam hutan tersebut, dan di bawa ke tempat yang tidak terkena oleh air hujan.


*********


Bersambung


Hanya satu kata yang bisa saya ucapkan.


Terima kasih yang sudah memberikan dukungannya.

__ADS_1


Salam sejahtera, sehat-sehat dan sukses selalu.


__ADS_2