PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar elang sakti eps 76


__ADS_3

Setelah usai pertempuran di hutan jati, ke empat pendekar masih duduk sambil menunggu Bara wenda siuman, setelah meminum obat penawar yang di berikan oleh Raden Sedayu.


Jurus Telapak angin dewa hasil ciptaannya Raden sedayu sendiri, ternyata sebuah jurus yang berbahaya.


Raden sedayu sendiri menciptakan jurus itu sampai dua belas tingkatan, mungkin di tingkat dua belas akan lebih mengerikan lagi, karena Raden sedayu menciptakan jurus itu dari empat unsur alam, air, udara, api dan bumi, yang di kombinasikan dengan ilmu bayu silantang, sebuah ilmu Angin topan yang dhsyat yang ia pelajari di Gunung Bongkok, waktu berguru pada sang pertapa sakti ki Ajar saketi.


Bahkan Ke tiga pendekar elangpun begitu mengagumi pada jurus ciptaan Raden Sedayu, yang begitu sempurna dan menyimpan sebuah kekuatan pukulan yang sangat dahsyat.


Ketika itu pula Nampak terdengar suara parau, yang datang dari Bara Wenda, lalu Raden Sedayu dan ke tiga pendekar elang langsung terperanjat sambil menolehkan pandangannya pada sosok tubuh tinggi besar yang terkujur kaku, kini sudah nampak terlihat mulai menggerakan badannya.


"Rupanya dia mulai siuman Raden." Cetus Dewi harum.


"Iya itu karena obatnya sudah mulai bekerja untuk membantu melancarkan darah." Ujar Raden Sedayu sembari mengankat tubuhnya untuk berdiri, lalu di ayunkan kakinya menuju pada Bara Wenda yang sudah mulai sadar kembali.


"Rayi kamu sudah sadar?." Tanya Raden Sedayu.


Bara Wenda pun langsung membukakan matanya, dan menatap Raden Sedayu dengan intens.


"Kakang, masih setia menemani aku di sini." Ujarnya.


"Iya Rayi, kakang dan ke tiga pendekar elang dari tadi di sini menunggu rayi siuman." Cetus Raden Sedayu.


"Terima kasih kakang, saya merasa malu pada kakang dan ke tiga teman kakang." Cetus Bara wenda.


"Malu kenapa rayi." Ucap Raden Sedayu.


"Malu, saya sudah berlaku jahat pada kakang dan ke tiga pendekar elang, tapi kalian masih bisa berbaik hati padaku." Jelas Bara Wenda.


"Yang penting rayi tidak akan mengulang kembali kesalahan yang pernah rayi lakukan selama di hutan jati ini, dan rayi harus menebus dosa-dosa yang pernah rayi perbuat, dengan berbuat baik pada setiap orang yang membutuhkan." Tutur Raden Sedayu memberi wejangan pada adik seperguruannya.


"Baik kakang, aku akan tebus semua dosa-dosaku selama ini." Ujar Bara Wenda.


"Dan rayi harus menjalani pengotan atas luka dalam mu itu." Ujar Raden Sedayu.


"Bagai mana kalau kalian, tinggal dulu bersamaku di dalam goa, tempat yang pernah saya diami selama ini." Tawar Bara Wenda.


Kemudian Raden Sedayu mengajak pada Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta untuk beristirahat dulu di dalam goa.


Mereka pun menaiki punggung kudanya, termasuk Bara wenda di bantu di naikin di kudanya Raden Sedayu, dengan penuh rasa iba Raden Sedayu pada adik seperguruannya, sambil memegang tali kekang kuda di tangan kanannya, dan di tangan kirinya memeluk erat tubuh Bara Wenda yang masih nampak lemas tak bertenaga, terus memacu kudanya di jalan setapak yang menanjak, sehingga membuat laju kuda tidak bisa begitu kencang, sedangkan ke tiga pendekar elang mengikutinya dari belakang.


Jalanan yang cukup terjal dan sangat menyulitkan untuk para kuda mendakinya, karena medan yang di laluinya begitu mendaki, sehingga pada akhirnya Wira jaya memutuskan untuk turun dari punggung kudanya, dan melanjutkan perjalanan menuju goa dengan jalan kaki.


Dewi harum dan Darma setapun turun dari kudanya begitu pula Raden Sedayu, sambil membopong tubuh Bara wenda, sementara mulut goa jati sudah nampak terlihat.


"Sebaiknya kuda-kuda di sini saja." Seru Wira jaya.


"Iya, karena sangat tidak memungkinkan untuk kuda naik ke atas, kita pun terpaksa harus menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk bisa sampai ke mulut goa." Cetus Raden Sedayu.


Setelah kuda-kuda terasa aman, dan tali kekangnya sudah di tambatkan di dahan pohon jati, mereka pun langsung melesit ke atas dengan ilmu meringankan tubuhnya.


Weess

__ADS_1


Weess


Wess


Weess...


Ke empat bayang berkelebat masuk ke dalam mulut goa, sungguh tempat yang sangat susah untuk di jangkau dengan cara olah pisik, hanya orang-orang berilmu lah yang bisa masuk ke dalam goa jati tersebut.


Setibanya di dalam Goa, Raden sedayu lalu membaringkan tubuh Bara Wenda di atas hamparan batu hitam yang mengkilap, karena seringnya tersentuh oleh manusia batu itupun seperti terlihat licin.


"Goa yang lumayan besar, pantesan pasukan rambut merah bisa tau bila datang mangsa, karena tempat ini sangat tinggi, dan bisa memantau setiap para sodagar yang lewat mau berniaga." celoteh Wira jaya.


"Goa ini tidak jauh beda ke ada'annya dengan goa siluman tempatnya Gopala Barda di gunung Dulang nangkub, keada'an di dalamnya sama persis." Pungkas Dewi harum.


"Iya benar, ada kamar khususnya juga, apa mungkin Bara wenda sering membawa para gadis kesini, soalnya saya menemukan banyak pakaian dalam wanita di sini." Lanjut Dewi harum.


"Kalau begitu, sungguh terkutuknya para bajingan rambut merah itu, berarti dalam setiap aksinya kemungkinan istiri-istri dari para sodagar atau mungkin juga gadis-gadis kampung di bawa ke sini." Cetus Darma seta.


"Bisa jadi juga begitu, sayang sekali andaikan benar Bara wenda sering melakukan hal yang terkutuk, dan ilmu yang di dapatnya dari sang pertapa suci malah di sia-siakan dan di pakai untuk melakukan kejahatan, demi memenuhi kepuasan napsu serakahnya." Ujar Wira jaya.


Ke tiga pendekar elang bejalan keliling goa jati, karena rasa penasaran apa saja yang ada dalam goa tersebut, karena Darma seta mencium aura iblis yang sangat kuat di dalam goa tersebut.


Setelah di telusurinya ternyata banyak sekali bekas ritual dan pesta perkawinan masal di dalam goa itu.


Aroma bau anyir yang sangat menyengat, dalam setiap hamparan batu, banyak sekali di temukan kain-kain dan rambut yang memancarkan bau tak sedap.


"Jagat dewa batara, ternyata benar, ini tempat dimana mereka melakukan pesta, setelah mendapat hasil dari merampok." Cetus Darma seta.


Ketika mereka lagi asik melihat-lihat suasana di dalam goa, mereka di kagetkan oleh suara benda jatuh.


prak


Praaallaak.


Ke tiga pendekar elang tersontak kaget, lalu mereka memburu ke arah suara tersebut, perlahan mereka melangkah dengan mengendap, lalu Wira jaya mencabut obor yang menempel di dinding goa, dan di bawanya ke tempat suara seperti benda jatuh itu, begitu sampai di tempat yang di perkirakan benda jatuh itu, mereka semua tercengang sembari membelalakan bola matanya, ketika melihat kerangka manusia yang masih terbungkus oleh pakaian serba merah.


"Oh sanghiang widi, tapi sepertinya itu kerangka manusia jenis lelaki." Ujar Wira jaya.


Lalu Dewi harum menunjukan sesuatu pada suaminya, entah apa yang telah di lihatnya.


"Coba lihat kakang, sepertinya kerangka ini jatuh dari tempat itu, dan di situ sepertinya ada sesuatu." Tunjuk Dewi harum.


Perlahan mereka melangkahkan tungkai kakinya, dengan sebuah obor tergenggam di tangan kanannya Wira jaya, begitu sudah dekat, nampak terlihat banyaknya berserakan rambut yang sangat panjang dan berwarna merah.


"Owh, sebuah rambut yang sangat panjang sekali, ini rambut usianya seperti sudah ratusan tahun." Cetus Wira jaya.


Darma seta menatap tajam pada rambut tersebut, sembari menggaruk-garuk pelipisan yang tidak gatal.


"Apa mungkin rambut merah yang sebenarnya adalah ini." Cetus Darma seta.


"Bisa jadi begitu, kalau melihat dari kerangkanya, orang ini meninggal karena bertapa untuk mengakhiri hidupnya." Ujar Wira jaya.

__ADS_1


Banyak sekali kisah misteri yang tersimpan di dalam goa jati itu, dengan banyaknya di temukan bukti-bukti bahwa goa jati sering di pakai buat berpesta pora lalu kerangka siapakah yang ada di dalam goa itu, apakah rambut merah yang sebenarnya adalah seorang pendekar sakti yang mengakhiri hidupnya dengan bertapa.


..........


Kemudian ke tiga pendekar elang kembali ke tempat di mana Raden Sedayu dan Bara Wenda berada.


Setiba di tempat, nampak Raden Sedayu dengan telaten memberikan ramuan obat untuk kesembuhan adik seperguruannya.


"Bagai mana Raden, apa ada kemajuan pada kesehatan Bara Wenda?." Tanta Wira jaya.


"Sekarang sudh agak mendingan peredaran darahnya sudah mulai lancar, dan saya lagi memberikan ramuan untuk menyembuhkan luka dalamnya." Jawab Raden Sedayu.


"Syukur kalau begitu, bearti Bara Wenda kemungkinan besar bisa sembuh."


"Iya sepertinya begitu, lalu kalian habus dari mana?." Tanya Raden Sedayu.


"Kami habis telusuri di dalamnya goa ini, tenyata goa ini sangat panjang sekali." Jawab Wira jaya.


"Lalu apa saja yang kalian temukan di dalam goa ini?." Raden Sedayu lanjut bertanya.


"Goa ini banyak menyimpan misteri, yang belum terpecahkan mungkin kita bisa tanya pada Bara wenda nanti kalau dia sudah pulih benar." Ujar Wira jaya.


...........


Tiga hari tiga malam sudah, ke tiga pendekar elang dan Raden Sedayu tinggal di goa jati, dan kesehatan Bara wenda nampak terlihat sudah membaik, dan sudah bisa menggerakan lagi tubuhnya yang terasa kaku, dengan melatih pernapsan dan tenaga dalamnya.


Kemudian Wira jaya dan Raden Sedayu datang menghampiri Bara wenda dengan menurunkan tubuhnya duduk di samping kiri kanannya Bara wenda.


"Bagaimana dengan kondisi kesehatanmu rayi?." Tanya Raden Sedayu.


"Tubuh saya sekarang terasa enteng kakang, terima kasih kakang, dan ketiga pendekar elang yang sudah mau membantu memulihkan tenaga saya." Tutur Bara Wenda.


"Iya sama-sama."


"Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan padamu rayi?." Tanya Raden Sedayu.


"Tentang apa itu kakang?." Bara Wenda balik bertanya.


"Apa saja yang kamu dan anak buahmu lakukan di dalam goa ini?."


"Jujur kakang, setelah kami berhasil merampok setiap para sodagar atau orang yang melintas di kawasan ini, malamnya kami selalu mengadakan pesta dengan minum arah, dan menikmati wanita-wanita penghibur." Jawab Bara Wenda.


"Lalu sebelum kamu menempati goa ini, apa ada orang yang menempati terlebih dahulu?." Tanya Wira jaya.


"Ada, seorang kakek tua, dengan julukan pendekar rambut merah, waktu itu si kakek lagi menghabiskan masa hidupnya dengan bertapa di dalam goa, dan dialah orang yang pertama kali sebagai penguasa hutan jati ini, banyak pendekar-pendekar sakti yang mengawal para sodagar mati terbunuh, kemudian Rambut merah terjangkit penyakit aneh, di setiap kulitnya tumbuh benjolan-benjolan bernanah, nah dari situ rambut merah bertapa ingin menyembuhkan penyakitnya, setelah hampir satu tahun rambut merah bertapa di dalam goa sakitnya bukannya sembuh malah bertambah parah dan mengerikan sampai terus menggerogoti kulit dan dagingnya yang akhirnya rambut merah mati meninggalkan tubuh yang tinggal tulang belulang." Cerita Bara Wenda.


"Jagat dewa batara, sangat menggidikan mendengar kisahnya, lalu julukan rambut merah di terusin sama kamu?."


"Awalnya kami tidak pernah memakai gelar itu, hanya orang-orang yang menyebut kami komplotan rambut merah, karena berada di wilayah yang sama, tapi setelah lama-kelama'an kami pun bersepakat untuk mewarnai rambut berwarna merah." Jawab Bara Wenda.


"Sebelum.rambut merah meninggal apa ada pesan tertulis atau lisan?." Tanya Wira jaya.

__ADS_1


"Semenjak rambut merah terjangkit penyakit aneh, kami pun tidak ada yang berani mendekatinya, karena takut tertular oleh penyakitnya itu, makanya goa tempat ia bertapa kami tutup, setelah ia meninggal dan hanya tulang yang tersisa penutup goa itu kami buka kembali." Ujar Bara Wenda bercerita tentang pendekar rambut merah penguasa hutan jati.


__ADS_2