PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Pendekar Elang Sakti. eps 69


__ADS_3

Para pesilat dari berbagai golongan yang haus akan kekuasa'an turun gunung, hanya karena ingin memiliki pedang sakti Cakra Buana.


Seperti yang nampak terlihat empat orng pendekar yang lagi berduel memperebutkan pepesan kosong yang belum tau dimana jogrogannya pedang tersebut.


Mereka saling adu ke kuatan me mamerkan semua tingkat kepandaiannya.


Nenek angker se orang tokoh sakti dari golongan hitam lagi berduel sama pendekar gelang-gelang, dan ki Darpal tokoh dari halilintar merah sama Balung wesi dari bukit dadap sama-sama lagi adu kepandaian.


Nenek angker yang mempunyai kekuatan senjata Selendang penghancur gunung karang, lagi menangkis senjata gelang-gelang yang menyala seperti api, yang terus melesat menyambar-nyambar ke arah nenek angker, setiap tangkisan gelang terbang yang di lepaskan oleh pendekar gelang-gelang menimbul suara ledakan yang sangat dahsyat, nenek Angker tertawa terkekeh melihat pendekar gelang-gelang, yang terus menghempaskan senjata gelang terbangnya dan nenek Angker menangkisnya dengan meluncurkan selendangnya.


Hehehehee...


"Ayo gelang-gelang keluarkan mainan anak ingusan itu." Seru nenek Angker tertawa terkekeh menyeramkan.


"Tutup mulutmu nenek tua renta, liang kubur sudah menantimu." Teriak Gelang-Gelang.


"Ayo buktikan siapa di antara kita yang akan menghuni neraka terlebih dahulu." Jawab nenek Angker, sembari melesit ke atas, dengan selendang saktinya terus di hempaskan ingin memecahkan batok kepalanya Gelang-Gelang.


Pertarungan para tokoh sakti itu membuat suasana di bukit gadung menjadi mengerikan, suara-suara ledakan dari kedua kekuatan yang saling berbenturan, sampai terdengar jauh.


Pohon-pohon yang tumbang akibat terkena hantaman dari kedua ke kuatan.


Nenek Angker terus menyerang pendekar Gelang-gelang dengan selendang penghancur gunungnya, tenaga dalam gelang-gelang habis terkuras, dan seketika itu selendang sakti nenek Angker di hempaskan dengan ke kuatan tenaga dalamnya, kemudian pendekar gelang-gelang melepaskan senjata gelang apinya.


Siiuuurrr ....Bluarrrr

__ADS_1


Auuugghh.


Suara yang terdengar dari mulutnya pendekar gelang-gelang, bersamaan dengan terpental tubuhnya lima tumbak.


Nini angker tertawa terkekeh mengerikan menyaksikan pendekar gelang-gelang yang lagi melepaskan nyawanya, bekas luka oleh selendang nampak terlihat di dada pendekar gelang-gelang yang jebol dan bermandikan darah, dengan kedua bola matanya keluar berwarna merah.


Setelah itu nenek Angker berkelebat melesat, ke arah pertarungan ki Darpal dan Balung wesi, ilmu halilintar ki Darpal yang termashur telah membuat balung wesi tidak berdaya, kekuatan ilmu kebalnya tidak mampu menahan Ajian halilintar pemecah raga, hingga Balung Wesi harus menerima ke kalahannya, terkapar di atas tanah tidak sadarkan diri, karena mengalami luka dalam yang sangat parah.


Nini Angker menepukan kedua telapak tangannya memberi pujian pada ki Darpal.


"Hebat-hebat ternyata tokoh dari bukit karang ini semakin didjaya saja, lalu untuk apa anda sampai turun gunung hanya karena ingin memiki pedang Garuda Cakra Buana?." Tanya Nenek Angker sambil menyunggingkan mukanya.


Kidarpal terperanjat sambil menolehkan pandangannya ke arah suara yang menegurnya itu.


"Hehehehe, rupanya di balik wajahmu yang hancur masih saja seperti dulu sombong dan jumawa, pantas saja kau masih jomblo, bujang lapuk bau tanah." Jawab nenek Angker tertawa mengerikan.


"Kurang ajar nenek peot, biar ku sumpel mulutmu itu hah." Ujar Kidarpal sembari melompat dan menerjang pada nenek Angker.


Begitulah para tokoh golongan hitam yang tidak pernah puas akan ke kuasa'an yang selalu ingin memperlihatkan tingkat ke pandaiannya. Dan selalu ingin menjadi yang terkuat, padahal ke kuatan manusia itu terbatas di atas langit masih ada langit.


Pertarungan ki Darpal dan dan nenek Angker, tidak lepas dari pengintaian dua bola mata yang tajam bersinar dan berpakaian seperti para bangsawan, lagi bertengker di atas dahan kayu yang besar.


"Kenapa kedua tokoh golongan hitam itu, pada bertarung, mungkin kah karena pedang Garuda itu, wah celaka, bisa-bisa dunia persilatan akan hancur oleh ke rakusan mereka." Gumam orang itu.


Kemudian orang itu duduk bersila sambil bergumam. "Saya paling benci kalau sudah melihat ke serakahan, sekarang kalian akan ku kirim ke tempat asal kalian masing-masing." Gumamnya, yang tidak lain orang itu adalah Raden sedayu yang baru pulang dari gunung Bongkok.

__ADS_1


Raden sedayu memusat kan tenaga dalam dan pikirannya, sambil duduk di atas dahan kayu, kini langit mendadak hitam seperti akan ada nya hujan deras, peralahan daun-daun bergoyang-goyang lalu terdengar suara bergemuruh di angkasa yang di barengi dengan tiupan angin yang sangat kencang seperti angin topan, rupa nya Raden Sedayu lagi mengeluarkan Ajian bayu silantang nya..


Yang lagi bertarung kini seperti di ombang ambing sebuah badai topan yang sangat dahsyat, sekuat apapun tenaga mereka memusatkan tenga dalamnya, tapi karena dorongan angin yang begitu kuat dan dahsyat, sehingga mereka terhempas terbang di bawa oleh ke kuatan Ajian bayu silantang.


Ki Darpal dan nenek angker kini sudah tidak nampak lagi di tempat itu karena di bawa angin yang begitu dahsyat ciptaan Raden sedayu, selepas itu Raden Sedayu pun melompat turun dari atas pohon itu ke atas punggung kuda putihnya.


Kemudian kuda pun di pacunya kembali menuju wilayah barat, yang ia cari adalah tiga pendekar elang. ingin menemani dalam petualangannya bersama tiga pendekar elang, guna ikut menjaga pedang Garuda Cakra Buana, agar tidak sampai jatuh ke tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.


Setiap peloksok negri Raden Sedayu jelajahi, tapi belum bisa menemukan Wira jaya, Dewi harum dan Darma seta.


Hingga di suatu hari Raden Sedayu dapat menemukan jejaknya tiga pendekar elang dari obtolan orang-orang yang membicarakan tiga setan bayangan yang di perkirakan telah tewas oleh tiga pendekar elang, ternyata bisa hidup kembali karena di tolong oleh se orang kakek berjubah merah yang mempunyai ilmu rawa rontek, sehingga tubuh tiga setan bayangan yang sudah hancur kini bisa di satukan kembali dengan ilmu rawa ronteknya.


Ki Giling wesi nama panggilan si kakek berjubah merah, uang usianya sudah sampai satu setengah abad( seratus lima puluh tahun), tapi masih nampak segar bugar.


Apa alasan ki Giling wesi menolong tiga setan bayangan, karena ki Giling wesi adalah musuh be buyutannya tiga serangakai elang, yaitu Raganata, Ragantiri dan Ragantala,


Ki Giling wesi ingin mencari se orang murid yang bisa mewariskan seluruh ilmu ke didjaya'anya, karena ia susah untuk mati dengan kondisi pisik yang sudah semakin melemah, Giling wesi sudah merasa bosan hidup, yang kebetulan menemukan tiga tubuh yang bergeletak, dan setelah di periksa Giling wesi bisa mengenal banget bekas pukulan yang telah menimpa tiga setan bayangan adalah pukulan elang sakti.


Dari situlah Giling wesi tertarik pada ke tiga pendeakar setan bayangan itu untuk di jadikan muridnya untuk mewarisi ilmu rawa ronteknya.


Setelah ilmunya Giling Wesi turun semua pada tiga setan bayangan, Giling wesi pun langsung menghembuskan napas terakhirnya, nyawa berpisah dengan raga untuk menghadap sang pencipta di alam padang hari panjang.


••••••••••


Kemudian Raden sedayu pun memacu lagi kudanya ke arah tepian pantai selatan, karena menurut kabar yang ia dengar tiga pendekar elang bertarung dengan tiga setan bayangan di kawasan pantai selatan.

__ADS_1


__ADS_2