
Lengkingan tiupan suling begitu merdu, mengelilingi Wilayah Bukit Haur Gereng, tempat di mana kedua Setan bayangan bercokol, mungkin bagi orang awam tiupan itu sebuah tiupan suling dari para bangsawan yang menggemari ilmu sastra yang di kolaborasikan dengan lantunan tiupan suling.
Tapi lain lagi bagi Kedua Setan Bayang, bahwa suara itu keluar dari senjata ampel kuning Wira jaya alias si elang Kuning.
Sebagian orang yang berilmu tinggi, tiupan suling itu seperti pertanda sang malakal maut yang akan menjemput kematian.
Semakin lama tiupan suara seperti seruling itu sampai menggetarkan Bukit Haur Gereng.
Kedua Setan Bayangan yang lagi menyempurnakan ilmunya sampai terpecahkan konsentrasinya, terbangun dari semedinya sambil membulatkan kedua netra yang merah menyala menghiasai wajahnya yang sangar.
"Setan alas." Setan Merah dan Setan Hijau lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk membendung gelombang suara yang semakin kuat menggetarkan Bukit Haur Gereng.
"Suaranya teras dekat kakang." Ujar Setan Hijau.
"Berarti elang kuning berada jauh dari Bukit ini rayi, dan ini lantungan tantangan pada kita untuk keluar dari bukit ini." Sungut Setan Merah.
"Bukankah tiupan Ampel kuning khusus buat memanggil para sekutu elang kakang." Protes Setan Hijau.
"Panggilan buat para sekutu elang tidak akan sampai menggetarkan bumi, ini lantunan tantangan untuk kita." Ujar Setan Merah.
.....................
Selepas itu kedua Setan Bayang bangkit dari semedinya, lalu mereka bergerak dan melesat dengan cepat untuk memenuhi panggilan dari Wira jaya.
Begitu sampai di bawah kaki Bukit Haur Gereng, nampak terlihat lelaki berpakain serba kuning dengan corak burung raja wali lagi duduk bersila di atas batu hitam.
Kedua Setan Bayangan menyeringai penuh dendam, lalu berkata.
"Rupanya kamu ingin mengantarkan nyawamu elang kuning." Maki Setan Merah.
Lelaki yang berpakaian serba kuning itu, membuka matanya dan menatap tajam pada ke dua Setan Bayangan, dan melangkah turun dari atas batu sambil menyelipkan senjata ampel kuning di balik sabuknya.
"Apa kau sudah bosan hidup datang seorang diri kesini." Hardik Setan Hijau.
Wira jaya hanya tersenyum tipis lalu berkata.
"Untuk membunuhmu, cukup saya seorang diri iblis keparat." Ujar Wira jaya.
"Jumawa sekali." Cetus Setan merah sambil memutar tongkat besi setan bertanduk.
Kilatan-kilatan cahaya hitam dari kedua senjata Setan Bayangan mengeluarkan angin yang begitu kencang, Wira jaya masih tetap berdiri belum tanpak melakukan gerakan, lalu tangan kanannya mencabut senjata Ampel kuningnya dan di putar begitu kencang, sehingga perlahan lahan mengeluarkan cahaya kuning yang semakin lama semakin menebal membentuk se ekor burung elang. menyambar-nyambar bagaikan kilatan halilintar.
Kini dua Setan Bayangan melesat mundur sambil memainkan Tongkat Besi setan bertanduk untuk menghadang kilatan cahaya kuning yang menyambar-nyambar bagaikan burung elang.
__ADS_1
Di lain tempat Darma seta dan Dewi harum yang lagi dudik di bangku kayu, bersama kepala kampung Batu Gambir, sedikit keheranan karena tidak melihat Wira jaya/Pamannya, lalu Darma seta bertanya? pada ibuknya.
"Paman kemana Buk? Tanya Darma seta.
"Tadi bilang mau mencari Angin, tapi tadi sayup-sayup ibuk dengar suara lantunan yang keluar dari senjata ampel kuningnya." Tukas Dewi Harum.
"Iya Buk, aku pun mendengarnya tapi itu bukan lantunan suara memanggil para sekutu elang, apa jangan-jangan paman pergi untuk mencari keberadaan Setan Bayangan." Ujar Darma Seta.
"Coba saja kamu jelajahi pakai ilmu mata elang sukma." Ujar Dewi Harum.
Darma seta mencoba menutupkan kedua matanya, untuk mencari tahu keberada'annya Wira Jaya, di pandangan batin Darma seta nampak terlelihat ada tiga bayangan berkelebat di sebuah perbukitan, yang di penuhi oleh bambu duri.
Selepas itu Darma seta membuka matanya, lalu menoleh pada Dewi harum dan bertutur kata.
"Ibuk tunggu saja di dini, aku mau menyusul paman." Ujar Darma Seta.
"Lantas apa yang kamu lihat Seta?." Tanya Dewi harum.
"Paman lagi bertempur di sebuah bukit, sebelah timur kampung ini." Jawab Darma seta.
"Apa mungkin yang menjadi lawannya, kedua Setan Bayangan." Tukas Dewi Harum.
"Kemungkinan besar, yang menjadi lawan Paman kedua iblis itu." Ujar Darma seta. langsung berkelebat dalam sekejap pandangan tubuh Darma seta sudah lenyap dari pandangan Dewi Harum dan Kepala Kampung.
Darma seta berkelebat cepat bagaikan angin, menuju kaki bukit Haur Gereng.
Tebaran hawa panas kini di rasakan oleh kedua Setan Bayangan dari selintingan sinar perak yang terpancar dari tubuh Darma seta.
Ke dua setan bayangan melompat mundur beberapa tumbak.
"Bedebah, ilmu apalagi yang di gunakqn oleh elang perak." Sontak Setan Merah terkesima oleh tebaran hawa sakti yang keluar dari tubuh Darma seta.
Wira jaya lalu menoleh pada Darma seta, dengan sedikit rasa heran kenapa dua Setan Bayangan sampai menghindar ketika Darma seta melesat menembus dalam pertempuaran itu.
"Seta apa yang telah kau lakukan? sehingga kedua iblis itu bergerak mundur?." Tanya Wira jaya.
Darma seta seperti tidak mengerti dengan pertanya'an yang di lontarkan oleh Wira jaya.
"Apa maksud Paman?." Darma seta balik bertanya.
"Apa kamu tidak merasakan, kedatanganmu membuat kedua iblis itu seperti ketakutan." Ujar Wira jaya.
Ketika Wira Jaya dan Darma seta lagi saling bertatap muka, gelembung cahaya merah melesat
__ADS_1
"Awaass...Paman." Teriak Darma seta dengan cepat menyambar tubuh Wira jaya untuk menghindari pukulan Rawa Rontek yang di hempaskan oleh kedua Setan Bayangan.
Kedua Setan Bayangan tertawa puas penuh hina'an dan cacian.
"Huhahahahaha...Rupanya elang sakti takut juga dengan kematian." Maki Setan Merah.
Setelah Darma seta dan Wira Jaya sudah menapakan kakinya di atas tanah.
"Kesombongan dan kecongkakan mu, akan mengantarakan kalian ke gerbang kematian." Ujar Darma seta. Langsung bergerak cepat sambil menghunus pedang Garuda, tubuhnya memutar menyerang dua Setan Bayangan.
Sedangkan Wira jaya duduk bersila di atas batu hitam yang sebelum nya di pakai buat duduk, perlahan senjata ampel kuningnya di tempelkan di dekat bibir dan di tiupnya, setelah itu terciptalah suara yang melengking yang lama-kelama'an suara yang keluar dari senjata Ampel kuning itu sampai mengetarkan bumi, dan terasa ingin memutuskan seluruh urat-urat nadi, yang kini sudah mulai di rasakan oleh kedua Setan Bayangan.
Tongkat Besi setan bertanduk yang di pusatkan untuk menstabilkan kekuatan Rawa Ronteknya, perlahan mulai bergetar Tak kuasa menahan lengkingan suara dari tiupan Ampel kuning.
Pada sa'at itulah, ketika darah dari dua setan bayangan seperti tersedot oleh lengkingan suara Ampel, Darma seta melesat dengan pedang Garudanya.
Cleek
Cleek..
Tebasan pedang Garuda dengan sangat cepat memenggal dua kepala Setan bayangan, lalu di bungkus dengan kain sutra warna putih yang sebelumnya sudah di persiapkannya.
Sementara ke dua tubuh yang sudah tidak berkepala kini masih berdiri dan langkahnya yang bearat ingin mendekat pada Wira jaya, namun tiupan senjata Ampel kuning semakin kuat melengking, sehingga tidak lama kemudian semua urat-urat yang menghubungkan jalan darahnya kini terputus dan meletus keluar dari kulit dan mengering darah yang ada di tubuhnya, lama kelama'an bersama'an dengan suara tiupan yang terdengar semakin menggidikan bulu kuduk, kedua tubuh dari Setan Bayangan itu hancur berkeping-keping menjadi abu.
Itulah ke unggulan dari ilmu Ki Ragantala alian elang kuning, yang kini sudah di wariskan pada Wira jaya.
Tiga pendekar elang, semua mempunyai ilmu andalannya itupun di gunakannya bila dalam ke ada'an terdesak dan sangat terpaksa.
Sedangkan elang merah ke unggulannya pada senjata pedang merah yang mampu memporak porandakan gunung karang hanya dalam satu kali tebasan, yang kini telah di kuasai oleh Dewi harum, pewarus tunggal seluruh ilmu dan kedidjaya'annya Nini Ragan Tiri/si elang merah.
Sedangakn ke unggulan dari elang perak, sebuah pedang berwarna perak dan Ajian Cakra Dewa yang sangat dahsyat.
Selepas itu Darma seta telah menguburkan kepala dari dua Setan Bayangan yang di masukin pada sebuah peti kayu yang tahan ratusan tahun di atas bukit haur Gereng.
Para Warga Kampung Haur Gereng begitu senangnya, karena kampungnya kini sudah terbebas dari para penindas sang Durjana, yang selalu mengeruk harta rakyat kecil dari hasil panennya yang cuma cukup buat menyambung hidup.
Pesta pembebasan kampung Haur Gereng dari para perampok di adakan sangat meriah, seni tarian Ronggeng yang kemarin lusa sempat gagal kini di adakan lagi sampai selesai.
Wira jaya dan Dewi Harum naik ke atas panggung menari bersama, berbeda dengan Darma seta ia cuma duduk di kursi di samping kepala kampung, walau banyak gadis-gadis yang naksir, ia tetap diam tanpak memberikan harapan palsu, paling cuma tersenyum dan menjawab apa adanya bila di tanya.
Adat dan tradisi di waktu itu masihlah sangat kental, kepercaya'an animisme dan dinamisme masih sangat kuat sekali, sehingga di waktu mau bercocok tanam atau waktunya mau panen, kepala kampung selalu mengadakan acara selamatan untuk para leluhur, seperti halnya yang lagi diadakan malam ini, mereka memberi puji dan doa atas terbebasnya kampung mereka dari para penindas dengan di turunkannya sang Dewa
..............
__ADS_1
Malam kini telah larut, acara tarian pun sudah selesai.
Tiga pendekar elang sudah beristirahat di kediamannya Kepala Kampung, untuk mengumpulkan energi buat kepulangannya besok pagi ke Batu Gambir.