PENDEKAR ELANG SAKTI

PENDEKAR ELANG SAKTI
Eps 92 Rajapati


__ADS_3

Kematian ketua perguruan Halimun, membuat para murid-murid halimun menjadi geram.


Semua melompat dan berlari memburu pada guru, yang telah binasa di tangan Surapati pendekar Sadus dari lembah Gunung Gambir.


Sebagian murid dati perguruan Halimun yang kepandaiannya sudah terbilang cukup, menyerang Surapati, sebagai baktinya pada ki Jagar alang intuk membalaskan kematian gurunya.


Tapi semua sia-sia, Surapati terlalu kuat bagi para murid Halimun.


Gurunya pun sudah di buat binasa, apalagi murid-muridnya yang masih mentah hanya dalam delapan jurus semua murid Halimun sudah di buat tidak berdaya.


Banyak yang terluka parah dari murid-murid perguruan Halimun.


Area padepokan Halimun telah di banjiri oleh darah-darah dari para murid yang terluka.


Sura pati masih berdiri dengan sebuah pedang melengkung di genggamannya.


Berkoar dengan hati merasa puas karena sudah membumi hanguskan perguruan Halimun, sebuah perguruan beraliran putih.


Begitu pula para tamu undangan yang sempat terlibat pertempuran dengan Surapati, tidak mampu untuk melumpuhkannya.


Semua pulang membawa luka dan dendam yang begitu besar pada sura pati.


"Hahahaha..... Sekarang akulah yang menjadi penguasa di dunia persilatan, bagi kalian yang mau selamat dan masih sayang pada nyawa kalian, ikutlah bergabung menjadi sekutuku, barang siapa yang membangkang maka pedang bulan sabit ini yang akan membinasakan kalian." Gelak tawa Surapati merasa puas.


Wanaraja yang tidak terima perguruan Halimun harus di kuasai oleh tokoh bejad seperti Surapati, ia lebih baik mati berkalang tanah dari pada harus jadi pengikut Surapati.


"Sungguh mudah sekali kau bercakap, Sura pati, dari pada harus menjadi pengikut iblis, lebih baik saya mati."Dengus Wanaraja.


"Owhh, hebat se orang murid yang sangat berbakti, tapi sayang ia harus mati mengikuti Jagar alang, yang ternyata tidak ada apa-apanya." Ujar Sura pati tersenyum menyeringai penuh dengki.


"Jangan jumawa kau manusia iblis." Seru Wanaraja melompat dengan sekelebatan pedangnya.


Trang trang trang..


Suara dua logam yang saling berbenturan begitu nyaring terdengar.


Di sisa tenaganya, wanaraja terus berusaha untuk mempertahankan perguruan Halimun supaya tidak sampai jatuh ketangan Surapati.


Tapi apalah daya ilmu kanuragan Surapati jauh lebih unggul dari Wanaraja.


Wanaraja terpental jauh dengan luka merobek di bagian dada, di sertai luka bakar menghitam


gosong.


Akibat berbenturan antara dua kekuatan, yang mengakibatkan Wanaraja harus tewas mengenaskan di tangan Surapati.

__ADS_1


Kini selesailah sudah perjalanan perguruan Halimun, sudah berpindah tangan pada pendekar sadis dari lembah Gunung Gambir.


Surapati berdiri dengan congkaknya di atas tubuh Wana raja yang lagi melepaskan sekaratul mautnya.


Di angkatnya tangan surapati ke udara sambil memggenggam pedang bulan sabit.


Lalu...


"Kau harus segera menyùsul jagar alang, gurumu, ke neraka Wana raja, heeeaaaaa....." Dengus Surapati sambil menyabetkan pedang bulan Sabitnya mau mengarah pada lelhernya Wanaraja.


Sekelebatan pedang bulan sabitnya Surapati, menderu ingin memenggal lehernya Wanaraja yang tinggal sedikit lagi nyawanya akan melayang.


Tapi tiba-tiba kelebatan pedang bulan sabit itu mendadak kandas bersama'an dengan nyaringnya suara yang membentur pedang Bulan sabit itu.


Traaaang.


Pedang bulan sabit sampai terlepas dari genggamannya Surapati.


Sebutir batu bulat sebesar ibuk jari telah menghentikan pedang tersebut hingga terlepas.


Surapati tersontak kaget, lalu celingukan kesekeliling tempat itu.


"Setan alas, siapa yang mau bermain-main dengan Surapati, tunjukan batang hidungmu pengecut." Koar Surapati.


Setelah itu terdengar suara yang bergema memecahkan suasana.


"Hahaha... Rupanya masih ada yang iba pada murid Jagar alang, keluarlah dari tempat persembunyianmu itu, kalau nasibmu ingin seperti Wanaraja." Tantang Surapati.


Whesss.wheessss..


Kelebaaatt.


Kelebatan tiga cahaya berwarna merah, kuning dan putih perak telah menjelma dan berdiri di depan Surapati.


Surapati tersenyum menyeringai, dengan netranya mentap penuh keji pada ke tiga pendekar yang telah berdiri menantang.


"Sungguh suatu kehormatan bagiku, jadi inilah tiga pendekar elang dari timur, yang banyak di perbincangkan oleh para pendekar itu, ku jadi penasaran akan kehebatan ilmu kanuragan kalian bertiga." Cibir Surapati.


Lelaki berpakaian perak tersenyum tipis, sambil melangkah pelan teratur.


"Murid murtad dari lembah Gunung Gambir, Ki Bantrang pastinya akan menyesal telah menurunkan ilmunya pada murid yang durhaka semacam kamu Surapati." Maki pendekar perak yang tak lain adalah Darma seta.


"Hahahaha...Pendekar Perak, sudah sepatutnya kalau seorang guru yang sudah tidak berguna lagi menyudahi masa hidupnya." Tukas Surapati.


"Jumawa." Ujar Pendekar merah yang tak lain adalah Dewi harum.

__ADS_1


Sementara Wira jaya yang memberi pertolongan pada Wanaraja, yang nyawanya tinggal sejengkal lagi.


"Denyut nadinya masih terasa walau sudah mulai melemah, aku harus berusaha menolong muridnya ki Jagar Alang ini." Batin Wira jaya sembari mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuang racun yang bersarang di tubuh Wanaraja akibat hantaman sebuah kekuatan ilmu kanuragan.


Asap putih tipis keluar dari telapak tangannya Wira jaya bersama'an dengan sinar putih yang menyala nyala seperti meresap masuk kedalam tubuhnya Wanaraja.


Selang beberapa menit kemudian, tubuh Wanaraja nampak bergetar, dengan raut muka pucat pasi seperti mayat.


Lalu setelah itu Wanaraja muntah.


Uuuooooo


Uuuooooooo...


Semburan darah yang sudah hampir mengental berwarna coklat kehitaman keluar dari mulutnya Wanaraja.


Setelah itu Wanaraja nampak terkulai dan tidak berdaya.


Kemudian Wira jaya buru-buru meninumkan air putih bersama tiga butir pil penawar racun.


Dengan bantuan dorongan tenaga dalam, agar pil penawar racun itu bisa masuk kedalam tenggorokannya Wanaraja.


"Akhirnya pil penawar racun ini bisa masuk, mudah-mudahan saja sang pencipta masih memberi umur panjang pada murid ki Jagar alang ini." Batin Wira jaya sambil merebahkan tubuhnya Wanaraja di atas hamparan tanah yang di penuhi oleh batu kerikil.


Sengaja Wira jaya membuka pakaiannya Wanaraja dan di rebahkan di atas batu-batu kerikil biar tenaga inti alam bisa menyerap racun yang masih tersisa di dalam organ tubuh Wanaraja yang kurang berpungsi karena melemah denyut jantung untuk memompa darah.


Sementara Darma seta dan Surapati yang lagi bertarung berlangsung sengit.


Surapati Melesit ke udara sambil mengayunkan pedang bulan sabitnya.


Whees whess whes...


Sinar merah jingga terhempas dari pedang bulan sabitnya Surapati.


Darma seta melompat ke udara sambil jungkir balik melakukan salto di udara, menghindari hempasan-hempasan sinar merah jingga.


Setelah Darma seta menginjakan kakinya di tanah, iapun langsung mencabut pedang Garuda Cakra Buana.


Sinar putih keluar dari pedang garuda yang kian menebal, bersama dengan gemuruhnya suara Angin yang banyak menerbagkan dedaunan dan ranting pohon.


Sura pati yang belum mengetahui kesaktian dari pedang Garuda, menjadi tertarik ingin memilikinya.


"Peadang apa yang di gunakan pendekar elang perak itu, aura membunuhnya begitu kuat sekali, aku harus bisa merebut pedang itu." Batin Surapati.


Suarapati sangat berambisi ingin memiliki pedang cakra buana.

__ADS_1


Tapi ke inginannya Surapati mustahil akan terwujud, karena di saat yang bersama'an Hempasan dinar putih perak melesat dengan cepat menghantam pedang bulan sabit miliknya Surapati.


__ADS_2