Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 9


__ADS_3

Ken nekat pergi ke ibukota secara diam-diam tanpa pamit pada kedua orang tuanya. Dia ingin mencari kebenaran tentang Lena yang akan menikah karena dijodohkan. Setelah insiden perkelahiannya dengan Bram sebulan lalu. Ken dibuat kalang kabut karena tak menemukan Lena dimanapun.


Baik di rumah maupun di kampus. Padahal wisuda tinggal menghitung hari. Apalagi skripsi sudah lolos. Berdasarkan kabar simpang siur, Lena diboyong orang tuanya ke ibukota untuk melanjutkan kuliah disana. Selain ayahnya karena dipindah tugaskan kesana, Lena juga akan dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak rekan bisnisnya. Ken dengan tak sabaran menuju ke ibukota hari itu juga.


Setelah sampai di ibukota berbekal alamat dari seseorang yang bisa dipercayai olehnya. Ken akhirnya tiba di rumah mewah dan besar, malah mirip mansion. Dengan percaya diri Ken mendekati mansion gerbang besar itu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Permisi pak?" sapa Ken pada satpam rumah itu.


Satpam itu tersenyum ramah meski awalnya mendelik menatap penampilan Ken yang berantakan dan kusut.


"Ya den?"


"Benar ini rumahnya Magdalena Camila?" tanya Ken penuh harap.


"Oh, non Lena? benar den." ken bernafas lega. Perjuangannya untuk datang kemari tidak sia-sia.


"Saya teman kuliahnya di kota A, perkenalkan Keanu, panggil saja ken. Apa Lena ada?" satpam itu menerima uluran tangan Ken dengan ramah pula.


"Ah, sayang sekali den, non Lena sudah menikah hari ini." ucapan satpam itu membuat Ken terpundur hingga hampir terhuyung ke belakang.


Untung saja satpam itu memiliki refleks yang cepat hingga menangkap Ken yang hendak jatuh.


"Apa maksud bapak?" tanya Ken tak percaya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Iya den, pagi tadi seluruh keluarga sedang melaksanakan pernikahan di gedung hotel milik mempelai pria. Mungkin mereka sekarang sudah sah sebagai pasangan suami istri." satpam itu agak hati-hati dalam bicaranya, sepertinya dia mulai tahu apa hubungan keduanya. Sepasang kekasih mungkin.

__ADS_1


"Dimana gedung itu pak? Dimana? Saya mau melihatnya dengan mata kepala saya sendiri." ujar Ken antusias dengan hati entah seperti apa.


Hancur lebur berantakan mungkin. Satpam itu menatap kasihan pada Ken. Akhirnya memberikan alamat gedung pernikahan yang lumayan jauh dari mansion Lena.


Dengan kecepatan di atas rata-rata, Ken mengemudikan mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh satpam tadi. Hingga tak lebih dari satu jam, mobilnya sampai di gedung pernikahan yang dimaksud. Banyak mobil mewah terparkir dan tamu undangan yang tampak bukan orang dari kalangan biasa.


Bahkan bisa dikatakan yang datang banyak dari kalangan elite, pejabat, rekan bisnis dan masih banyak lagi kalangan masyarakat kelas atas. Ken turun menatap pakaiannya yang hanya pakaian casual. Tentu saja karena itu adalah pakaiannya saat kuliah sehari-hari. Dia juga jarang berpakaian formal.


Namun Ken sepertinya tak peduli dan masuk ke gedung itu hingga akhirnya securiti melarangnya masuk karena pakaian Ken yang tidak formal.


"Pak, tolong izinkan saya masuk sebentar. Saya hanya ingin melihat siapa pengantin wanitanya pak." pinta Ken memelas saat kedua securiti memegang kedua tangannya masing-masing. Ken bahkan menangkupkan kedua tangannya di dada memohon.


"Please pak..." mohon Ken dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf nak, ini bukan acara sembarangan. Kalau kamu ingin melihat siapa pengantinnya. Kamu bisa melihat pada foto prewedding di sebelah sana." jelas salah seorang securiti yang tidak memegangi tangannya itu.


Ken terdiam di depan foto prewedding itu. Di foto itu benar-benar terdapat foto Lena dengan cantiknya berbalut gaun pengantin. Cantik, sangat cantik. Itulah yang dinilai Ken saat menatap foto itu. Sayangnya bukan dengan dirinya. Begitulah kira-kira batin Ken.


Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya. Hatinya berkecamuk, dadanya bergemuruh. Setega itukah kau Lena? Kau bilang kau sangat mencintaiku dan berjanji kita akan menikah jika sudah wisuda nanti. batin Ken meremas dadanya yang terasa sakit.


Dengan langkah lunglai, Ken meninggalkan gedung hotel pernikahan itu dengan rasa hampa dan hancur.


Bram memasuki gedung hotel pernikahan itu, sempat melirik ke arah foto prewedding, seperti mengenali seseorang yang sedang berdiri meninggalkan foto itu. Namun tepukan sang papa membuatnya mengikuti langkah papanya tanpa mampu lagi melihat siapa sosok yang sangat familiar itu.


"Ayo masuk Bram, kita sudah sangat terlambat." ajak Arya yang diangguki Bram.

__ADS_1


***


"Hai..." sapa Bram begitu menyapa kedua mempelai.


Lena dan Indra, Lena sahabatnya dan Indra adalah sepupu dari ibu kandungnya.


"Hai..." sapa balik Lena dengan semburat wajah yang terlihat kurang bahagia namun dipaksakan untuk tetap tersenyum karena tak mau mempermalukan orang tuanya.


Ya, semua ini adalah perjodohan orang tuanya. Karena ingin memperbesar bisnis ayahnya yang baru dimulai sejak mereka pindah ke ibukota. Lena putri mereka satu-satunya terpaksa mengikuti perjodohan yang ditentukan oleh kedua orang tuanya demi menyenangkan orang tuanya.


Meski tak ada cinta sedikitpun yang dirasakannya pada pria yang dijodohkannya dengannya itu. Pernikahan mereka hanya karena bisnis. Namun sepertinya itu tidak berlaku untuk Indra, Indra terlihat sangat mengagumi wanita yang baru beberapa jam lalu sudah sah menjadi istrinya itu. Indra memang sudah lama mengagumi Lena sejak perkenalan satu bulan lalu.


Dan mencoba mendekati Lena, namun Lena tetap dingin. Dan Indra tak akan menyerah untuk mendapatkan cinta dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Dimana Jo?" tanya Indra tak melihat sepupunya yang lain itu.


Karena kedua orang tua Jo pun datang dengan putri sulungnya. Bram yang ditanya hanya mengedikkan kedua bahunya acuh.


"Kau kan yang lebih akrab dengannya?" tuntut Indra tak percaya.


"Itu dulu." jawab Bram acuh sambil meneguk jus jeruknya.


Dia tadi ingin minum red wine tapi langsung direbut paksa oleh Erika sang mama. Entah bagaimana mamanya itu tahu kalau dia akan mengambil minuman beralkohol itu.


"Payah kau."

__ADS_1


TBC


__ADS_2