Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 76


__ADS_3

"Bi, aku ke supermarket depan dulu ya?" Pamit Lia sambil memegangi perut buncitnya. Setelah jalan-jalan pagi di halaman rumah, dia tadi melihat anak kecil yang membawa es krim. Dan entah kenapa, Lia menginginkannya. Saat menatap es krim anak kecil yang baru keluar dari supermarket depan rumahnya, tanpa sadar air liur Lia menetes karena hal itu.


Tak mau berlama lagi, dia langsung masuk ke dalam memakai cardigannya untuk menutupi daster ibu hamil lengan pendeknya dan dompet kecil yang selalu dia bawa di dalam tas kerjanya. Tentu saja tanpa ponsel karena dia hanya akan pergi sebentar membeli es krim karena dia menginginkannya. Katakanlah Lia sedang ngidam pada kehamilan sembilan bulan kurang dua minggu.


"Nyonya mau kemana? Biar saya belikan, nyonya tunggu di rumah saja." Jawab bi Ijah melihat Lia sudah bersiap hendak pergi.


"Bentar aja kok bi, bibi kan juga sedang sibuk. Lagian cuma di supermarket di depan." Tolak Lia sambil tersenyum.


"Tapi nyonya..."


"Bener bi gak apa, bibi lanjutkan pekerjaannya saja ya?" Bujuk Lia yang terpaksa diangguki oleh bi Ijah dengan nada terpaksa.


"Saya ikut ya nyonya?" Tawar bi Ijah.


"Aku sendiri gak apa kok bi." Tolak Lia lagi.


"Tapi..."


"Bener bi, percaya sama saya." Lia tersenyum sambil meninggalkan rumah menuju supermarket di depan rumahnya hanya terpisah jalan raya utama.


***


Bram merasa gelisah dalam meeting nya pagi itu. Entah kenapa firasat buruknya masih belum hilang juga. Dia mengira kalau firasat buruknya karena keadaan papanya yang terkena serangan jantung. Tapi padahal beliau baik-baik saja. Namun firasat buruknya masih terngiang-ngiang di pikirannya.


"Maaf pak." Tegur seorang bawahan Bram yang masih membuat Bram tak bergeming dari lamunannya.


"Pak Bram!" Seru bawahan itu lagi.


Semua yang hadir di meeting itu mengernyit heran dan saling berpandangan dengan jawaban mengedikkan kedua bahunya acuh.


"Tuan Bram." Panggil bawahan yang lainnya.


Bram tersentak menatap pria yang memanggilnya sambil menepuk bahunya pelan itu.


"Ada apa?" Tanya Bram seolah tak tahu apa yang terjadi. Namun pandangan matanya menatap setiap orang yang ada di ruang meeting yang balas menatapnya juga.

__ADS_1


"Kita tunda dulu meetingnya." Ucap Bram akhirnya memilih untuk menghentikan meetingnya karena dia pikir percuma dilanjutkan jika tak ada satupun yang berhasil masuk dalam otaknya.


Bram langsung bereaksi dengan ponselnya yang tiba-tiba berdering, nada khusus dari istrinya. Seketika Bram tersenyum sumringah melihat nama di layar ponselnya.


"Ya sayang." Jawab Bram tanpa basa-basi.


"Ma...maaf tuan." Bukan suara istrinya yang seperti dikiranya. Seketika raut wajah Bram berubah menegang dengan rasa cemas yang amat sangat. Dadanya seketika bergemuruh kencang seolah menerima jawaban dari firasat buruknya.


"Iya bi." Jawab Bram lemah berusaha untuk berpikir positif.


"Huhuhu...hiks...hiks..." Bukan jawaban yang didapat Bram namun suara tangisan dari seberang ponselnya dan Bram tidak hanya mendengar tangisan satu atau dua orang bahkan mungkin lebih.


"Katakan ada apa bi!" Seru Bram membuat semua orang yang ada di ruang meeting yang hendak keluar ruangan berjengit kaget langsung berbalik melihat reaksi tuannya yang tidak seperti biasanya.


*Ada apa dengan tuan Bram?


Sejak tadi dia terlihat aneh.


Dia juga banyak melamun tadi.


Bukannya tadi dia berteriak?


Apa ada kabar buruk?


Setahuku dia sangat baik dan ramah. Kenapa sekarang terlihat sangat marah tapi juga sedih.


Apa sesuatu kabar buruk dari penelpon itu*.


Suara bisik-bisik para bawahannya membuat mereka semua merasa empati pada Bram. Namun kemudian Bram tiba-tiba terduduk lemas ke lantai dan asistennya langsung menghampirinya.


"Tuan, baik-baik saja?" Tanya asistennya itu. Bram menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. Tanpa sadar air matanya menetes mengalir di pipinya tanpa sadar.


"Tuan, berdirilah! Anda baik-baik saja?" Tanya asisten Bram yang terlihat cemas melihat Bram menatap kosong ke depan.


"Siapkan tiket pesawat untuk pulang! Sekarang!" Titah Bram tegas segera berdiri meninggalkan ruang meeting.

__ADS_1


***


Bi Ijah menangis tersedu-sedu di ruang UGD rumah sakit. Dengan bantuan sopir dan tukang kebun mansion. Bi Ijah membopong tubuh sang nyonya yang berlumuran darah akibat tertabrak mobil dan sayangnya mobil yang menabraknya melarikan diri.


Karena mencemaskan keadaan sang nyonya bi Ijah shock dan langsung berteriak histeris. Banyak orang-orang mengerubungi bi Ijah dan Lia yang sudah terbujur lemas bersimbah darah di tengah jalan raya. Seketika jalanan langsung macet.


"Nyonya, bangunlah nyonya! Nyonya..." Seru bi Ijah dengan deraian air mata dan rasa bersalah karena membiarkan sang nyonya pergi sendiri dan dia gagal mengejarnya. Lia sempat sadar sebentar hingga kemudian pandangan matanya menggelap dan dia pun pingsan.


Orang-orang merasa kasihan, seorang asisten rumah tangga tetangganya langsung berlari menuju mansion Bram untuk memberi tahukan namun dia hanya menjumpai tukang kebun yang sedang bekerja. Tukang kebun itu terkejut dan segera berlari setelah memberi tahu sopir nyonya untuk menyiapkan mobil. Yang mungkin saja segera membawa sang nyonya ke rumah sakit.


Flashback on


Bi Ijah segera mencuci tangannya untuk mengikuti langkah sang nyonya. Dia ragu untuk melepas Lia berangkat sendiri ke supermarket depan rumah karena kondisi kehamilannya. Sesaat mata bi Ijah melirik meja dekat tangga, ponsel Lia tergeletak disana yang langsung disambar oleh bi Ijah untuk mengikuti Lia.


Namun bi Ijah langsung berteriak histeris melihat tubuh sang nyonya terpental lumayan jauh karena tertabrak mobil dari arah kanan sang nyonya. Lia yang tidak sempat menghindar hingga langsung secepat kilat tubuhnya melayang dan menghantam aspal jalanan.


Sepertinya mobil itu menerobos lampu lalu lintas karena setahunya semua mobil berhenti tepat dibelakang garis karena sedang menyala lampu merah. Dan Lia tanpa ragu langsung menyeberang tanpa tahu kalau ada satu mobil yang menerobosnya dan langsung menghantam tubuhnya.


"Mas Bram.." Gelas di samping tempat duduk Bram tempat meeting jatuh dan pecah. Semua orang dalam ruang meeting terdiam. Bram juga cuek meski merasakan perasaan tak enak di hatinya. Hingga dia terus melamun memikirkan istrinya saat itu.


Tubuh Lia terpelanting sejauh lima ratus meter dari zebra cross membuatnya langsung mengeluarkan darah segar di seluruh tubuhnya. Darah segar mengalir di kepala dan pahanya. Bi Ijah langsung mendekati dan berteriak histeris mendekati tubuh Lia yang berlumuran darah.


"Nyonya, buka mata nyonya. Nyonya..." Panggil bi Ijah dengan wajah panik dan cemas. Air matanya menetes membasahi wajahnya. Awalnya bi Ijah masih bisa melihat sang nyonya komat-kamit entah mengucapkan apa hingga kemudian dia menutup matanya dengan darah segar terus mengalir.


"Nyonya, tolong....tolong nyonya...!" Teriaknya entah kepada siapa. Hingga asisten rumah tangga tetangganya mengambil inisiatif untuk memberi kabar orang rumah. Dia sangat mengenal baik bi Ijah jika mereka berbelanja di depan rumah mereka.


Satu jam kemudian, bi Ijah mengikuti brankar rumah sakit dimana tubuh sang nyonya dibawa oleh para perawat rumah sakit untuk segera ditangani. Bi Ijah terpaksa menunggu di luar ruang dengan tukang kebun tuannya.


"Sabar bi. Berdoa saja nyonya dan bayinya akan baik-baik saja." Hibur tukang kebun itu ikut bersedih. Dia juga merasa sedih melihat majikannya kini terbaring di rumah sakit karena kecelakaan. Kedua majikannya sangat baik memperlakukan mereka meski hanya asisten rumah tangga. Mereka bahkan tak memandang sebelah mata pada mereka. Makanya tukang kebun itu merasa simpati pada majikannya itu.


"Kasihan nyonya pak, kasihan nyonya. Aku berharap yang terbaik untuk mereka tapi... hiks... hiks..." Bi Ijah tak bisa melanjutkan kalimatnya karena merasakan kesedihan yang mendalam.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2