Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 59


__ADS_3

Bram berlarian di lorong rumah sakit menuju kamar perawatan yang diberitahukan sang mama. Bahkan karena saking cemasnya, dia tak sengaja menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya. Namun mendengar istrinya dirawat, akal sehat Bram terlihat hilang. Dia bahkan tak mengatakan apapun setelah menabrak beberapa orang tersebut.


Asistennya yang mengikuti bosnya dari belakang karena merasa bosnya tidak baik-baik saja menggantikannya untuk meminta maaf pada orang-orang yang tidak sengaja tertabrak Bram.


"Mama!" Seru Bram melihat Erika muncul dari pintu kamar perawatan Lia.


"Bram." Balas Erika menyapa putranya.


"Apa yang terjadi dengan istriku ma?" Tanya Bram melihat mamanya malah menangis saat mereka bertemu.


"Maafkan mama Bram. Tapi ini juga bukan kesalahan para pelayan. Itu adalah murni kecelakaan. Mungkin memang Tuhan belum mempercayakan anak pada kalian." Ucap sang mama sambil menangis sesenggukan di dalam pelukan Bram.


"Apa maksud mama? Bram gak ngerti ma." Jawab Bram kebingungan melepas pelukannya sang mama.


"Jangan salahkan istrimu! Dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya." Ucap Erika lagi semakin gencar dengan tangisannya.


"Tolong katakan ada apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Bram tidak sabaran. Mamanya masih memberikan teka-teki yang sulit dicerna, apalagi keadaan sedang genting.


"Kau masuklah dulu! Hiburlah istrimu!" Saran Erika setelah mengehentikan tangisannya.


Bram terdiam dan mulai masuk ke dalam kamar perawatan istrinya diikuti Erika. Bram menatap ke arah ranjang perawatan melihat istrinya masih terlihat pulas karena pengaruh obat bius.


Bram mendekati istrinya menggenggam erat jemari tangannya seolah memberi kekuatan pada istrinya.


"Istrimu keguguran." Tubuh Bram membeku demi mendengar ucapan sang mama.


"A... apa maksud mama?" Bram berbalik menatap wajah Erika.


"Usia kandungan istrimu sudah memasuki usia dua bulan. Bahkan dia tak mendapatkan tanda-tanda bahwa dirinya hamil. Dia hanya merasa lapar dan lapar. Sehingga banyak makanan yang dikonsumsinya. Namun hari ini dia menginginkan nanas entah karena apa. Bi Ijah pun membelikannya karena istrimu menginginkannya tanpa mampu menolak. Hingga akhirnya, kejadian ini pun terjadi...hiks...hiks... cucu mama, cucu mama...hiks...hiks..." Lagi-lagi Erika kembali menangis mengingat kejadian itu. Bram terdiam membeku, tubuhnya menegang mendengar anak yang diinginkannya harus secepat itu meninggalkan dirinya bahkan saat dirinya belum sempat tahu keberadaannya.

__ADS_1


Air mata Bram tanpa sadar menetes merasakan kesedihan terdalamnya. Bayi yang diinginkannya sekarang telah meninggal saat masih berusia dua bulan dan masih di dalam kandungan istrinya.


"Maaf... saya ingin memeriksa keadaan pasien pasca penguretan." Izin seorang dokter wanita yang bertanggung jawab dengan yang menimpa Lia.


"Ah, silahkan dok!' Jawab Erika sambil mengusap air matanya yang tak henti-hentinya mengalir. Erika menarik Bram mundur sejenak memberi ruang pada dokter untuk memeriksa menantunya.


Bram yang sejak tadi melamun dengan tubuh tegangnya tersentak mundur ke belakang atas tarikan tangan mamanya. Dia pun spontan menatap dokter yang menatapnya memberi semangat. Bram memalingkan wajahnya diam mundur memberikan ruang pada dokter.


"Bagaimana keadaan menantu saya dok?" Tanya Erika setelah dokter selesai memeriksa Lia dengan teliti.


"Keadaannya lebih baik, hanya menunggu dia siuman saja. Jangan pantang menyerah untuk memberi semangat pada pasien! Pasien pasti akan mengalami shock jika dia sudah sadar. Sebagai pendamping pasien akan lebih baik jika kalian semangat tanpa menunjukkan kesedihan yang mendalam. Hal itu malah akan membuat pasien trauma dan mengakibatkan sakit secara psikisnya." Jelas dokter panjang lebar menatap Erika dan Bram bergantian yang sejak tadi hanya menatap Lia yang masih betah memejamkan mata.


"Dan untuk pak suami, jangan menyalahkan istri anda karena ini. Hal ini bisa dialami siapapun. Apalagi mengingat kondisi rahim istri anda sangat lemah dan rawan akan keguguran. Bukan karena perkara nanas atau makanan lainnya. Ini semua murni karena kondisi tubuh istri anda secara mental sangat lemah sekaligus rahimnya juga lemah. Tapi anda jangan khawatir istri anda masih bisa mengandung lagi dengan catatan harus diperhatikan segala keseharian saat hamil mengingat kandungannya lemah." Jelas dokter itu menatap Bram dengan ramah. Bram sontak menoleh menatap dokter dengan rasa bersalah.


"Untuk saat ini penjelasannya saya rasa cukup. Saya permisi dulu!" Pamit dokter yang diangguki Erika. Bram kembali menatap istrinya sendu dan duduk di kursi dekat ranjang sambil menggenggam jemari tangan istrinya, mengecupnya penuh kasih sayang.


Cklek


Tiba-tiba suara orang tua Lia datang memasuki ruang perawatan putrinya setelah mendapat kabar dari Erika beberapa menit lalu. Erika yang panik dan cemas tak bisa berpikir jernih dan melupakan menghubungi orang tua Lia saat Lia sedang ditangani di ruang UGD tadi. Dia baru ingat setelah dia menghubungi Bram. Itupun karena bi Ijah ART yang dikirimnya ke mansion baru putranya demi menjaga menantunya jika Bram sedang bekerja.


Mata tajam ayah Lia menatap Bram dingin, seolah menyalahkan Bram yang membuat putrinya berbaring di ranjang kamar perawatan rumah sakit. Dan dia pun harus rela kehilangan calon cucunya yang bahkan tak ada orang yang tahu.


Bram langsung berdiri menyalami kedua mertuanya sopan namun ayah Lia tampaknya sangat kecewa dengan Bram dengan menolak punggung tangannya dikecup oleh Bram. Namun hal itu langsung diurungkan dengan terpaksa karena istrinya yang menyikutnya.


"Maaf jeng, baru bisa mengabari kalian, saya panik dan bingung saat itu. Dan maaf tidak bisa menjaga keduanya dengan baik." Sesal Erika memecah kecanggungan diantara mereka.


"Tidak ada jeng, saya paham dengan keadaan yang mendadak ini. Mungkin Tuhan belum mempercayakan mereka untuk menitipkan momongan pada mereka." Jawab ibu Lia bijak, meski kesedihan memenuhi wajah cemas dan paniknya.


Cklek

__ADS_1


"Bagaimana keadaan menantu?"


Ganti papa Bram muncul setelah mendapat kabar juga dari istrinya. Dia tadi sedang meeting dengan beberapa klien dan ponselnya terlupa di ruangannya. Sehingga saat istrinya menghubunginya dia tak bisa mengangkatnya namun pesan istrinya baru dibacanya dan dia langsung pergi ke rumah sakit segera.


"Papa." Erika menghampiri suaminya dan memeluk suaminya. Tangisannya yang sudah sejak tadi reda kini menyeruak lagi saat melihat suaminya.


"Lia ma... kasihan Lia... hiks...hiks..." Bisik Erika dalam pelukan suaminya.


"Sabar ma, ini cobaan. Ini cobaan dalam rumah tangga putra kita. Sabar ma." Jawab Arya balas memeluk istrinya memberi semangat setelah menyapa kedua besannya yang juga ada disitu.


Ibu Lia duduk di sisi berlawanan tempat Bram berada. Dia pun ikut mendekap jemari tangan putrinya yang dipasang infus. Karena jemari tangan yang tidak dipasangi infus sudah digenggam oleh Bram.


"Maaf ayah, ibu .. maafkan Bram. Bram lalai menjaga istriku. Maaf...hiks..." Ayah dan ibu Lia serta kedua orang tua Bram terdiam mendengar ucapan Bram yang penuh dengan penyesalan. Pasalnya akhir-akhir ini dia sering lembur dan pulang malam. Bahkan weekend dia jarang di mansion meski tak sampai lembur. Dan perhatiannya terkuras habis dalam pekerjaannya yang baru ini.


"Ini sudah takdir yang harus dijalani nak. Bukan salah siapapun. Ini cobaan dalam rumah tangga kalian. Kalian harus sabar dan saling mendukung. Ibu tidak akan mengatakan apapun. Kalian tetaplah saling menyemangati." Jawaban ibu Lia membuat Bram lega dan juga kedua orang tua Bram.


Beda dengan ayah Lia yang sejak awal perkenalan sudah sangat sentimen pada Bram. Namun dia tak bisa mengelak kalau putrinya bahagia dengan pernikahannya.


"Setelah ini, jaga putriku baik-baik!" Titah ayah Lia menatap Bram dingin.


"Baik ayah."


Semua orang tersenyum mencoba untuk menerima kehilangan calon cucu dan calon anak.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2