
Persidangan kasus korupsi yang melibatkan pegawai pemerintah hari itu digelar tepat jam sepuluh pagi. Bram dan tim kuasa hukumnya sudah bersiap untuk mengikuti. Para saksi dan bukti telah diajukan.
Persidangan yang memakan waktu lebih dari empat jam itu diistirahatkan sejenak karena semua orang yang ada di ruang sidang membutuhkan istirahat. Para hakim pun juga memutuskan untuk melakukan mediasi dengan hakim pembantu lainnya.
Begitu juga Bram, dia duduk di ruang istirahat dengan santai sambil mempelajari hal-hal yang akan diucapkannya nanti di ruang sidang.
Sudah lebih dari setengah jam para penghuni ruang sidang memasuki ruangan itu bersiap dimulai lagi persidangan pembacaan putusan pengadilan yang sudah diputuskan hakim.
Semua orang terlihat gugup dan cemas. Berharap yang bersalah mendapatkan hukuman yang selayaknya ditentukan hukum negara ini. Begitu juga Bram berharap kasus yang diperjuangkannya dapat membantu orang-orang yang benar-benar membutuhkan bukan orang yang punya kuasa uang banyak.
***
Bram berjalan dengan penuh senyuman, lega dengan putusan hakim yang telah memberikan hukuman pada orang-orang yang memang berhak mendapatkan hukuman. Dan orang-orang kecil yang dibelanya mendapatkan hak mereka. Bram berjabat tangan saling memberi ucapan selamat pada para tim kuasa hukumnya karena berhasil memenangkan kasus yang memang berbuntut panjang itu.
Meski ada sedikit kekecewaan yang dialami Bram karena masih ada beberapa yang tidak terseret karena kurangnya bukti dan saksi. Namun Bram hari itu harus bersyukur dengan semuanya meski dirinya tidak puas. Wartawan dari surat kabar berhamburan mendatangi Bram dan tim kuasa hukumnya yang terlihat keluar dari gedung pengadilan.
Namun Bram sepertinya enggan berkomentar. Dia menyerahkan pada tim kuasa hukum lainnya. Ada sesuatu yang harus segera dilakukan.
Bram dan sekretarisnya kembali ke kantor firma hukumnya. Namun tidak lama, dia harus pergi ke perusahaan keluarganya sebagai CEO. Dia harus menyelesaikan urusan-urusannya di perusahaan demi pernikahan yang akan dilaksanakan satu minggu kemudian. Dan Bram tak bisa menolaknya lagi.
Kasusnya sedang sepi, kasus besar terakhirnya juga sudah berakhir. Sekarang tinggal menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya di perusahaan keluarganya yang juga harus dikerjakannya. Namun Bram hanya fokus pada firma hukumnya.
"Bram..." panggil mamanya di seberang telpon saat Bram hendak memulai pekerjaannya di ruang kerjanya.
"Ya ma." jawab Bram acuh.
"Dimana kamu sekarang?" tanya sang mama.
"Di kantor ma."
"Kantor mana?"
"Ya di kantor lah."
"Iyaaa... kantormu yang mana? Jangan bikin Mama emosi deh." seru sang mama dalam ponselnya.
__ADS_1
"Di perusahaan papa ma, aku harus menyelesaikan pekerjaanku disini sebelum pernikahan kan?" jawab Bram acuh.
"Oh... nanti saja itu. Sekarang datang ke alamat yang mama kirim. Sekarang!" titah Erika menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari putranya itu.
Bram menatap layar ponselnya yang sudah ditutup sepihak dari sang mama. Dan dalam detik itu, pesan masuk di ponselnya.
Cklek
"Loh Bram." sapa Arya melihat putranya di dalam ruangan CEO.
"Papa! Ada apa pa?" tanya Bram mengernyitkan keningnya heran.
"Mamamu menyuruh papa kemari untuk menggantikan pekerjaanmu karena ada yang harus kau lakukan?" jelas Arya mendekati meja kerja Bram.
Bram menghela nafas saat paham maksud sang mama menyuruhnya untuk meninggalkan pekerjaannya itu.
"Aku harus pergi pa, tolong gantikan pekerjaanku sebentar."
"Okey boy." jawab Arya yang tersenyum seringai, karena semua hal itu tidak luput dari rencana yang disusun olehnya dan istrinya.
***
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" sapa seorang karyawan perempuan itu ramah.
"Bram... kau sudah datang?" sela Erika melihat Bram muncul dari luar pintu.
"Mama." karyawan tadi langsung undur diri melihat siapa tamu yang baru datang itu adalah teman salah seorang langganan butik mereka.
"Kau sudah datang, kemarilah!" Erika menarik lengan putranya menuju sofa di depan ruang ganti gaun pengantin.
Bram menatap sekeliling butik, butik khusus gaun pengantin yang juga tempat langganan sang mama memesan pakaian untuk acara-acara penting. Jas Bram dan milik papanya juga dipesan di butik itu.
"Ada apa ma?" Bram terpaksa menuruti keinginan Erika untuk duduk di sofa tersebut.
"Calon pengantin akan segera keluar." instruksi salah seorang karyawan butik itu yang membantu mencoba gaun pengantin.
__ADS_1
"Lihatlah!" titah Erika yang ditanggapi Bram dengan acuh.
Tirai di depan Bram dibuka, muncullah Lia dengan penampilan yang menawan dengan gaun pengantin. Bram melongo melihat wajah Lia berbalut gaun pengantin putih dengan model sabrina yang menampilkan leher dan bahunya yang putih mulus namun masih berbalut kain tipis yang transparan.
Lia yang tak mengira kalau Bram sudah ada disana terdiam dengan gugup, wajah memerah tersipu malu ditatap Bram sedemikian rupa.
"Wah, cantik sekali nak." puji Erika melihat Lia muncul, Erika melirik Bram yang terpesona dengan penampilan Lia terdiam tak dapat berkata-kata.
"Cantik." guman Bram yang masih dapat didengar Erika meski Lia tak mendengarnya.
"Kau juga coba jasmu!" titah Erika menyenggol lengan Bram yang langsung tersentak terkejut karena kedapatan terpesona melihat Lia.
Bram langsung memerah wajahnya, menahan malu dengan salah tingkah. Bram masuk ke dalam ruang ganti, mencoba jas pengantinnya.
Erika dengan antusias mengambil foto menantunya berulang kali sambil menunggu Bram ganti dengan jas pengantinnya.
Tak sampai sepuluh menit Bram muncul di sebelah Lia yang masih belum menyadari keberadaan Bram karena masih asyik berfoto dengan Erika.
"Ayo, keduanya agak mendekat. Kita foto buat prewedding sekalian." titah Erika membuat keduanya salah tingkah, malu-malu.
Karyawan butik yang melihat keduanya gugup menahan senyumnya.
"Agak mendekat Bram! Yang mesra dong, kamu itu laki-laki kok malu-malu sih." goda Erika membuat Bram semakin memerah.
Dan dengan penuh keyakinan Bram menarik pinggang Lia mendekat kearahnya. Tubuh mereka pun menempel satu sama lain. Erika hanya tersenyum seringai melihat keberanian sang putra.
"Ayo, berhadapan!" seru Erika bersiap mengambil foto mereka.
Bram mengambil posisi seperti yang diucapkan sang mama. Keduanya pun saling berhadapan, mata mereka bertemu. Entah siapa yang memulainya, Bram mencium bibir Lia lembut. Tubuh Lia menegang kaku bibirnya menempel dengan bibir Bram. Wajahnya yang sudah merah semakin merah saja.
"Uh.. mereka memang tak tahu tempat ya?" guman erika tersenyum senang melihat keberanian Bram.
Karyawan butik yang ada di dekat mereka langsung menunduk malu. Erika langsung memerintahkan untuk menutup tirai diam-diam agar pasangan itu lebih lama menikmati ciuman mereka.
TBC
__ADS_1