
"Ukh..." Gumaman Lia membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah ranjang.
Lia terlihat menggerakkan kepalanya merasakan sakit yang amat sangat dikepalanya. Dia juga terlihat meringis sambil menekuk sebelum kakinya merasakan nyeri di inti tubuhnya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Bram dengan senyum cemasnya.
"Mas, aku dimana?" Tanya Lia sambil menatap sekeliling ruangan kamar perawatan VVIP.
Terdapat kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya yang mengelilingi ranjangnya menatapnya cemas.
"Aku kenapa mas?" Tanya Lia kembali menatap Bram yang wajahnya tiba-tiba mendung. Bram belum menjawab menatap para orang tua bergantian. Semua orang menganggukkan kepalanya.
"Sabar sayang, kau baik-baik saja."
"Baik-baik saja bagaimana mas? Tadi aku..." Seketika wajah Lia kembali pucat saat mengingat kejadian sebelum dia pingsan dan entah apa yang terjadi setelah itu.
"Apa yang terjadi denganku mas? Tadi... ada darah mengalir di paha..." Lia langsung mendongak hendak menatap pahanya, namun Bram langsung mencegah dan menggelengkan kepalanya mendekap erat tubuh Lia.
"Sabar sayang, mungkin Tuhan belum mempercayakan pada kita." Bisik Bram sambil menitikkan air matanya dalam dekapan istrinya.
"A.. apa... maksudnya mas?" Tanya Lia semakin cemas dan panik dengan ucapan suaminya. Lia menatap kedua orang tuanya dan beralih ke kedua mertuanya yang malah mereka menangis memeluk suami masing-masing.
"Katakan mas! Katakan apa yang terjadi!" Seru Lia melepas pelukannya dan menatap wajah suaminya dengan deraian air mata. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi hingga dia tak tahu sudah terlelap berapa lama, bahkan berada di rumah sakit.
Flashback on
Seminggu sebelum kejadian, Lia merasa lapar pagi itu. Padahal satu jam lalu dia baru saja sarapan dengan suaminya saat hendak berangkat ke kantor.
Lia memilih untuk turun ke dapur mencari makanan camilan yang bisa dimakan. Tak mungkin dia akan makan lagi padahal baru makan sejam lalu. Biasanya dia betah lapar meski beberapa waktu tidak makan. Apalagi saat menunggu suaminya untuk makan malam saat suaminya pulang terlambat.
Namun baru satu jam selesai sarapan Lia sudah kelaparan. Dia mengelus perut ratanya yang terasa agak keras. Hingga Lia bercermin melihat perutnya yang terlihat sedikit buncit.
"Apa aku jadi gemukan?" Guman Lia menatap dirinya pada bayangan cermin seluruh badan di kamarnya.
"Tidak sih. Biasa-biasa saja. Mungkin karena aku hanya makan saja setelah tidak bekerja." Guman Lia lagi memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Ukh... aku lapar." Guman Lia lagi berlalu menuju dapur.
"Nyonya, ada yang bisa kami bantu?" Tanya bi Ijah melihat majikannya turun ke dapur.
"Hehehe..aku lapar bi. Adakah makanan yang bisa kumakan?" Tanya Lia cengengesan merasa malu.
"Eh?" Bi Ijah terdiam.
__ADS_1
"Nyonya mau makan apa, saya buatkan sebentar!" Jawab bi Ijah.
"Apa saja bi, yang penting bisa mengganjal perutku." Jawab Lia cengengesan.
"Ada sedikit makanan ringan di kulkas sebelum saya memasakkan camilan untuk nyonya. Nyonya mau?" Tawar bi Ijah yang diangguki antusias oleh Lia.
"Makasih ya bi."
"Sama-sama nyonya." Lia menuju ke ruang tv sambil membawa semua makanan ringan itu. Tak lupa buah-buahan yang diminta Lia untuk mengirisnya yang ada di dalam kulkas.
"Wah, ada nanas juga?" Seru Lia merasakan buah nanas yang sudah diiris bersama dengan buah lainnya.
"Hanya ada nanas dan buah apel saja nyonya."
"Gak apa bi, aku memang ingin buah nanas sekarang. Bisa belikan lagi?" Pinta Lia dengan tatapan puppy eyes nya.
Bi Ijah hanya geleng-geleng kepala tersenyum melihat tingkah majikannya yang tidak seperti biasanya.
"Baik nyonya." Bi Ijah pun keluar mansion membeli pesanan sang nyonya dan beberapa buah lainnya.
Tak sampai satu jam, bi Ijah sudah kembali dan memberikan irisan buah-buahan lagi ke ruang TV tempat sang nyonya berada. Mata Lia berbinar-binar melihat buah-buahan itu dan langsung menerimanya dengan antusias.
"Tumben nyonya minta camilan dan sudah lapar bi?" Tanya seorang pelayan yang membantu bi Ijah tadi, dia sudah kembali ke dapur memasak untuk makan siang.
"Atau jangan-jangan... nyonya hamil bi?" Suara pelayan itu membuat tubuh bi Ijah menegang. Dia langsung melemparkan barang yang dipegangnya berlari menghampiri sang nyonya yang masih baik-baik saja menonton TV.
"Nyonya!"Suara melengking bi Ijah mengagetkan Lia.
"Ada apa bi? Ngangetin aja?" Jawab Lia sambil mengelus dadanya kaget.
"Nanasnya mana nyonya?" Tanya bi Ijah sambil meneliti piring yang tadi diirisi buah-buahan macam-macam.
"Sudah habis semua bi. Kenapa? Bibi mau?" Jawaban Lia membuat bi Ijah panik menatap sang nyonya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Nona tak merasa apapun? Perut nyonya tidak terasa sakit?" Tanya bi Ijah cemas menatap Lia yang keheranan dengan pertanyaan bi Ijah.
"Enggak bi, kenapa?" Bi Ijah menghela nafas lega dan masih merasa sedikit cemas.
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada nyonya." Lia terdiam menatap bi Ijah masih kebingungan.
"Insha Allah bi." Jawab Lia tersenyum mencoba menghilangkan kecemasan di wajah bi Ijah.
Saat memasuki jam makan siang, bi Ijah memanggil Lia untuk makan di meja makan yang sudah disiapkannya dengan dibantu para pelayan yang lain. Bi Ijah mengetuk pintu kamar Lia dengan hati-hati.
__ADS_1
"Waktunya makan siang nyonya." Suara bi Ijah setelah mendapat jawaban dari dalam kamar saat dia mengetuk pintu.
"Iya bi." Seru Lia bangun dari tidurnya.
Setelah selesai menghabiskan camilan tadi, Lia kembali ke kamarnya dan tertidur pulas karena merasa mengantuk setelah kekenyangan.
"Aduh...sakit.." Rintih Lia saat hendak beranjak dari ranjang. Lia memegangi perutnya yang terasa nyeri dan sakit.
"Bi... sakit..." Suara teriakan Lia yang lemah membuat bi Ijah berbalik kembali karena seperti mendengar rintihan kesakitan. Padahal dia hendak meninggalkan depan pintu kamar majikannya.
"Nyonya... nyonya tak apa?" Tanya bi Ijah sambil menggedor pintu kamar Lia.
"Sakit bi.. hiks..." Rintih Lia lagi semakin nyeri.
"Nyonya, anda tak apa?" Bi Ijah yang tidak tega mendengar rintihan kesakitan membuka pintu kamar meski belum mendapat izin dari sang nyonya.
"Nyonya!" Seru bi Ijah terkejut melihat darah mengalir di paha majikannya.
"Sakit bi..." Lia masih meringkuk memegangi perutnya yang terasa nyeri, hampir tak sadar kalau ada darah mengalir di pahanya.
"Darah nyonya..." Kaget bi Ijah menunjuk paha Lia.
"Apa maksudmu bi?" Bisik Lia yang terkejut saat melirik ke arah pahanya dan langsung pingsan.
"Nyonya... nyonya..." Seru bi Ijah menggoyang-goyangkan tubuh Lia yang sudah pingsan.
"Ada apa bi?" Tanya beberapa pelayan yang mendengar teriakkan bi Ijah berhamburan datang ke kamar Lia. Semua orang langsung terkejut dan menutup mulut mereka masing-masing terkejut melihat keadaan sang nyonya dan darah yang mengalir di pahanya.
"Kamu, suruh pak Maman menyiapkan mobil." Menunjuk seorang pelayan.
"Baik bi." Dia langsung melaksanakan perintah bi Ijah.
"Dan kamu, minta pak satpam membopong nyonya ke mobil." Titah bi Ijah.
"Baik bi." Dia langsung ngacir mengikuti perintah bi Ijah.
Kebetulan pengawal wanita yang disiapkan di sisi Lia sedang cuti. Yang satu pulang ke rumah karena anaknya sakit. Yang satunya, sakit karena kecelakaan saat menyelamatkan Lia saat hampir terserempet mobil beberapa waktu lalu. Meski sudah lebih baik, tapi Lia menyarankan untuk beristirahat. Toh ada teman satunya yang menjaganya. Namun sore kemarin, pengawal wanita satunya tiba-tiba mendapat kabar anaknya sakit dan dia harus segera pulang karena dia seorang single parents.
.
.
TBC
__ADS_1