
Blarr...
Lampu ruang kerja Bram menyala. Orang yang dicurigai Bram tersentak sontak menatap lampu menyala berada. Dia pun menatap sekeliling di mana saklar lampu itu ada. Disana, berdiri Bram dan Terry yang memergokinya sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya dengan mengobrak-abrik meja dan laci-laci di ruangan Bram.
"Aku ingin tidak mempercayai kecurigaanku, Theo." Suara Bram memecah keheningan malam itu.
"Kami sudah sangat mempercayaimu dan menyangkal semoga dugaan kami salah." Ucap Terry yang ganti bersuara.
"Ka... kalian ada disini?" Jawab Theo gugup.
"Kenapa kau lakukan ini Theo?" Tanya Bram antara kecewa dan sedih namun lebih dominan sedih.
Hanya karena uang yang tidak seberapa, tim kuasa hukum sekaligus pria yang sudah dianggap sahabatnya itu berani mengkhianati dirinya.
"Kau butuh uang? Berapa yang kau butuhkan? Aku bisa memberimu jika kau memintanya baik-baik." Hibur Bram.
"Huh, kenapa? Kalian menyesal tidak meminjamiku uang karena terlalu besar jumlahnya? Kalian putra tunggal dari keluarga kaya dan memiliki banyak harta. Kalian tak akan tahu bagaimana perjuanganku untuk menyetarakan derajat ku di hadapan kalian. Bahkan aku harus menjual harga diriku agar aku bisa bertahan. Sekarang kalian menyayangkan kenapa tak mengabulkan pinjamanku? Apa karena aku sudah meminjam terlalu banyak takut tidak bisa mengembalikannya." Sentak Theo emosi.
"Theo, kau salah paham." Ucap Bram mendekati Theo yang sedang emosi.
"Kami bukannya tak mau meminjamimu lagi, kami hanya ingin membuatmu sadar. Yang kau lakukan..."
"Persetan kalian!" Theo menerobos sambil sengaja menyenggol bahu Bram kencang hingga Bram terguncang.
Bram terdiam mendengar pernyataan sahabatnya. Hanya karena uang. Bram tertawa miris.
__ADS_1
"Theo... tunggu!" Seru Terry yang tak diikuti Bram. Bram terduduk di sofa ruangan.
Menutup wajahnya dengan lengan kanannya. Kata-kata Theo masih terngiang-ngiang di benaknya.
**
Cklek
"Mas, sudah pulang? Mas kan belum sembuh benar? Kenapa lembur?" Lia berhenti melihat suaminya berdiri dengan tidak bersemangat menatapnya dengan pandangan lelah.
"Mas .." Bisik Lia lirih. Bram mendekati istrinya, meletakkan kepalanya di bahu istrinya.
"Maaf. Bolehkah ceramahnya besok saja? Aku lelah." Bisik Bram dalam pelukan istrinya. Lia mengelus kepala suaminya lembut.
"Aku mau mandi dulu." Jawab Bram berlalu menuju kamar mereka sambil melepaskan kancing kemejanya yang langsung digantikan oleh istrinya.
Bram tersenyum, diperlakukan baik oleh istrinya.
"Aku sudah menyiapkan air hangatnya mas. Mandilah!" Titah Lia menuntun suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
"Terima kasih sayang."
"Aku akan menyiapkan makan malam dulu." Jawab Lia meninggalkan kamar menuju dapur.
***
__ADS_1
"Duduklah! Kita makan bersama!" Ajak Lia tersenyum lembut menatap Bram dengan membantu menarik kursi meja makan untuk Bram.
"Terima kasih sayang." Jawab Bram sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
Lia hanya tersenyum malu-malu sambil menuju dan duduk di kursi meja makannya.
Tak sampai setengah jam, Lia membereskan meja makan dan langsung mencuci piring-piring sehabis makan. Bram masih setia duduk di meja makan sambil menatap punggung istrinya tersenyum lebar.
Deg
Dada Lia tiba-tiba berdebar kencang mendapati kedua tangan suaminya sudah melingkar sempurna di perutnya. Hembusan nafas di tengkuknya membuat Lia merasa merinding geli.
"Apa aku boleh minta hakku sekarang?" Bisik Bram di dekat telinga istrinya sensual.
"Geli mas." Bisik Lia merasakan hembusan nafas suaminya.
Entah sejak kapan Bram sudah membopong tubuh istrinya ke kamar tanpa melepaskan ciumannya.
***
Malam pertama yang terlambat pun, akhirnya berakhir nikmat diantara keduanya. Bram membaringkan tubuh istrinya di ranjang dan Bram meraih istrinya masuk ke dalam pelukannya. Tak lama keduanya pun mulai bernafas teratur.
"Terima kasih sayang. I love you."
TBC
__ADS_1