
"Mas... mas Bram..." seru Lia mengguncang-guncang tubuh Bram untuk membangunkannya.
Dia meletakkan punggung tangannya di dahinya, terasa panas menyengat hingga Lia langsung menarik kembali tangannya.
"Badannya panas, nafasnya memburu. Apa dia demam?" guman Lia menatap sekeliling ruangan mencari ide apa yang harus dilakukan.
"Dokter iya..ah ambulans... aku harus menelepon ambulans. Aku harus membawanya ke rumah sakit. Oh ya berapa nomor telepon ambulans ya?" Lia tampak berpikir meski raut wajahnya penuh kekhawatiran.
"Aaww..." teriakkan Lia mengagetkan dirinya sendiri saat pergelangan tangannya dicekal oleh Bram. Lia langsung meletakkan ponselnya.
"Mas Bram tak apa, mas Bram sudah sadar?" tanya Lia panik.
"Jangan... hubungi... ambulans, jangan bawa... ke rumah sakit... Bawa aku... ke kamar saja!" ucap Bram terbata-bata, nadanya sangat lemah dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Tapi badan mas Bram panas sampai pingsan pula." ucap Lia masih panik.
"Tak apa... aku... hanya kecapean.. istirahat seben...tar pasti... sembuh." jawab Bram terengah-engah. Dia sungguh kesulitan bernafas karena merasakan pusing.
"Ba...baik...a..aku bantu." jawab Lia menurut.
Dia memapah tubuh besar dan kekar Bram menuju kamar utama apartemennya dengan kesusahan. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan Bram sendiri tubuhnya sangat besar dan tinggi menjulang membuat Lia kepayahan memapah Bram seperti orang mabuk saja.
Untuk dia tidak limbung saat Bram membanting tubuhnya ke ranjang kamar karena sepertinya sudah tak sabar untuk segera istirahat.
"Terima... kasih... Maaf... aku harus... membatalkan janji...kita..." lirih Bram dengan memejamkan matanya.
"Tak apa, seharusnya kau istirahat kalau sakit. Tak usah memaksakan diri." jawab Lia membaringkan tubuh Bram dengan benar.
Menata bantal dan guling dengan benar agar tidur Bram nyaman.
__ADS_1
"Aku... tak mau... mengecewakan... orang...tuaku..." Lia mengehentikan gerakannya dan menoleh menatap Bram yang masih memejamkan matanya menahan sakit.
Dada Lia terasa berdenyut juga, saat mendengar Bram melakukan kencan mereka karena orang tuanya bukan karena semata-mata dia menginginkan kencan itu. Padahal Lia sangat berharap Bram merasakan hal yang sama tentang perasaannya meski mereka dijodohkan.
"Aku akan ambil air untuk mengompres dahimu." Lia segera meninggalkan kamar Bram menuju dapur.
Bram ingin mencegahnya dan meminta Lia untuk segera pulang namun tenaganya sungguh sangat terkuras habis. Dia benar-benar drop karena pekerjaannya menyita seluruh waktunya.
Sebelum persidangan, Bram memang tak pernah istirahat selama seminggu, bahkan dia tidur di firma hukumnya tanpa pulang ke apartemennya untuk istirahat. Dia hanya istirahat sebentar di ruang istirahat firma hukumnya. Bahkan makanannya pun tak terurus dengan benar.
Lia datang membawa baskom air dan juga handuk kecil. Segera mengompres dahi Bram, dia berusaha melepas sepatu dan kaos kaki Bram. Juga jasnya yang terlihat tak nyaman serta dasi dan ikat pinggangnya juga. Meski sebenarnya Lia sambil memalingkan muka karena malu atas kelancangannya.
Pergelangan tangannya lagi-lagi dicekal oleh Bram saat dirinya berusaha membuka ikat pinggang Bram agar lebih nyaman, namun tak menyangka jari tangannya tak sengaja menyentuh adik kecil Bram karena dirinya yang memalingkan muka.
Sehingga membuat Bram refleks menangkap pergelangan tangan Lia. Lia tersentak menoleh menatap Bram yang masih terpejam, tapi cekalannya perlahan mengendur, mungkin tubuhnya sudah lemah kesakitan dan tak bertenaga.
Lia menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk memeriksa kondisi Bram, karena sudah satu jam dikompres dahi Bram masih sama saja. Dia tak peduli kalau Bram marah karena dirinya memanggil dokter. Setidaknya harus diperiksa kenapa dia sakit dan apa sakitnya.
**
Tak sampai lima belas menit, dokter datang ke apartemen Bram. Lia membawanya masuk ke dalam kamar utama pada dokternya.
"Nona sakit?" tanya dokter Wira saat mendapati Lia di apartemen yang bukan milik Lia.
"Bukan dok, ayo masuk!" dokter mengikuti langkah Lia memasuki sebuah kamar.
Dia melihat seorang pria tertidur lemah dan terlihat tak nyaman dengan handuk kecil dikompres di dahinya.
"Akan ku periksa sebentar." ucap dokter mengambil alat-alat yang dibawanya mulai memeriksa keadaan Bram.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Lia setelah beberapa menit dokter memeriksa keadaan Bram dengan seksama.
"Seperti dia punya sakit maag, masih belum parah. Harus dibiasakan makan tepat waktu. Sepertinya beberapa hari ini dia terlalu memforsir pekerjaannya hingga stamina tubuhnya mencapai maksimal dan ambruk. Dan sakit pun dipaksakan untuk bekerja. Lebih baik banyak istirahat agar cepat sembuh. Ini obat untuknya." jelas dokter itu sambil menyerahkan bungkusan obat resep untuk Bram.
"Makasih dok." jawab Lia mengantar dokter itu pergi dari apartemen.
"Dia calon suamimu?" tanya dokter itu membuat pipi Lia memerah karena malu.
"A.. apa yang dokter katakan. Ka...kami masih berkencan." jawab Lia malu-malu.
"Ah, begitu ternyata." jawab dokter tersenyum lucu menatap wajah malu-malu Lia.
***
Lia masuk lagi ke dalam kamar Bram setelah mengantar dokter ke depan. Dia mengganti kompres di dahi Bram.
Lia kembali lagi ke dapur mengambil makanan untuk diberikan pada Bram sebelum minum obat dari dokter tadi. Lia melihat meja dapur tak ada apapun. Di dalam lemari es hanya ada air mineral dan beberapa minuman botol lainnya.
Bahkan makanan atau camilan apapun tak ada. Lia menghela nafas, mau memasak juga tak ada bahan. Lia berinisiatif untuk delivery order.
Tak sampai setengah jam, bubur yang dipesannya tiba. Dia pun membawa ke kamar Bram yang masih terlelap tapi terlihat gelisah dan tak nyaman dalam tidurnya. Lia mendekati ranjang setelah meletakkan makanannya di atas meja nakas samping ranjang.
Lia menatap Bram lekat, mencoba melepaskan kemejanya untuk diganti piyama tidur agar lebih nyaman. Dan lagi-lagi Bram mencekal pergelangan tangannya tanpa membuka mata. Instingnya sebagai seorang pengacara yang harus selalu waspada setiap saat dan setiap waktu dalam keadaan apapun membuatnya refleks setiap ada gerakan di sekitar tubuhnya.
"A..aku mau mengganti kemejamu agar lebih nyaman. Kau... tak terlihat nyaman, padahal harus istirahat." ucap Lia, dan perlahan cekalan tangan itu mengendur, seolah paham maksud Lia.
Setelah selesai mengganti kemejanya, Lia membantu Bram untuk duduk makan makanan yang dipesannya tadi sebelum minum obat. Bram terlihat kesusahan dan kepayahan. Dia hanya bisa menurut apa yang dilakukan Lia. Tubuhnya terlalu sakit untuk menolak atau menjawab setiap perkataan Lia. Dan diamnya Bram dianggap Lia sebagai persetujuan iya.
TBC
__ADS_1