Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 19


__ADS_3

Sidang kasus korupsi mendekati waktunya. Bram semakin sibuk saja mempersiapkan segalanya. Bahkan tak ada waktu luang untuk Bram kencan, bertemu atau hanya sekedar menghubungi lewat ponselnya pada Lia. Kasus besar yang ditangani benar-benar menyita seluruh waktunya dua puluh empat jam.


Bahkan Bram tak pernah tidur dan makan dengan benar, dia hanya makan sekedarnya jika ada waktu luang. Juga akan tidur di sembarang tempat jika merasakan kantuk yang tidak bisa dikendalikannya lagi. Dia akan langsung rubuh tertidur pulas di kantor firma hukumnya.


Berhari-hari dia tak sempat untuk pulang ke apartemennya hanya untuk berganti baju sekalian mandi. Hanya jika ingat dia akan mandi dan ganti baju. Berkali-kali panggilan dari sang mama di riject nya karena dirinya benar-benar tak sempat menjawab panggilan sang mama. Yang mungkin membahas pernikahannya.


Erika pun terpaksa menundanya dua minggu ke depan karena mendengar dari sang suami kalau Bram sedang sibuk mengurus kasus korupsi pegawai negeri yang sedikit mengancam Bram akan dituntut ulang oleh lawannya. Namun Bram tanpa gentar sedikitpun malah menantang mereka dengan rasa yakinnya bahwa yang benar akan menang.


Erika tak punya pilihan lain, hari itu dia dan Lia sedang fitting gaun pengantin mereka. Namun Bram tak bisa datang, bukan tak bisa datang, akhir-akhir ini Bram sibuk tak bisa dihubungi atau dicari di kantornya. Kasus itu benar-benar membuat Bram bagai hilang di telan bumi.


Dia sibuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menunjukkan kebenaran pada khalayak umum tentang besarnya korupsi yang dilakukan besar-besaran itu. Dia sudah gerah melihat dan mendengarnya banyak yang menilai pemerintah di negara ini sangatlah buruk. Tumpul ke atas tajam ke bawah.


***


"Bram sepertinya sibuk nak?" hibur Erika saat mereka memilih gaun pengantin.


"Tak apa ma, Lia sabar menunggu mas Bram sampai kasus selesai." jawab Lia ramah, tersenyum sopan dan lemah lembut.


Meski terlihat sedikit raut wajah kecewa di matanya.


"Tapi mama pastikan, Bram pria yang bertanggung jawab dengan ucapannya. Sebenarnya mama yang mendesaknya untuk mempercepat pernikahan agar kau bisa mendampingi Bram saat lelah dengan kasus-kasusnya." senyum Lia melebar mendengar keinginan mama mertuanya.


"Mas Bram memang orang terkenal dan orang penting ma." jawab Lia merendah, dia tak mau dikira mendesak meski sebenarnya dia juga tidak sabar untuk menjadi istri Bram.


Namun kasus Bram kali ini besar dan dia yakin akan sedikit lama penyelesaiannya karena banyak pihak yang tidak bersalah menjadi terlibat. Bram sudah menjelaskan padanya saat terakhir kali bertemu. Dan setelah hampir sepuluh hari mereka belum bertemu bahkan berhubungan lewat ponsel sekalipun.


Lia percaya Bram bukan pria yang tidak akan bertanggung jawab atau mengkhianatinya dengan berselingkuh, bukan. Bram hanya pria sibuk dan lupa yang lainnya jika sedang sibuk mengurus kasusnya. Itulah yang dipelajari Lia beberapa waktu terakhir setelah perjodohan itu terjadi.


Dia tak pernah mendengar skandal Bram di surat kabar manapun tentang hubungannya dengan wanita manapun. Yang dia lihat hanya kata-kata pujian untuk Bram sebagai pengusaha muda pewaris tahta kekayaan keluarga Pamungkas yang juga sebagai pengacara terkenal dengan niat membantu masyarakat menengah ke bawah bahkan tanpa imbalan sepeserpun.


Lia bangga membaca artikel-artikel itu yang memuji sekaligus mendukung karier calon suaminya itu, ah calon suami.


"Sebenarnya Bram sudah meminta pada mama untuk menyiapkan pernikahan setelah kasus selesai. Karena kasus ini tidak sesepele itu. Butuh waktu yang sedikit lama untuk ketuk palu. Namun mama mendesaknya. Harusnya mama mendengarkannya kan?" jelas Erika dengan lebaynya menatap sang menantu yang hanya tersenyum lucu melihat lebaynya sang mertuanya.

__ADS_1


"Kita tunggu mas Bram menyelesaikan kasusnya saja ma." saran Lia terpaksa, mau bagaimana lagi.


"Mama takut Bram berubah pikiran." Lia langsung pias mendengar ucapan calon mertuanya.


"Bukan, bukan pernikahannya. Dia pasti akan memilih untuk menikah sederhana. Dia pasti tak mau ada perayaan pesta. Mama kan hanya punya seorang anak, mama mana yang tak mau merayakan hari kebahagiaan putra satu-satunya. Benarkan sayang?" jelas Erika, membuat Lia menghela nafas lega meski sesaat dia deg-degan dengan pernyataan calon mertuanya tentang perubahan pikiran Bram tidak seperti yang dikiranya.


"Aku ikut mama aja." jawab Lia akhirnya tak mau membantah atau memberi saran apapun karena sepertinya saran atau kritik apapun tak akan didengar sang calon mama mertua.


"Kamu memang calon menantunya mama yang penurut." puji Erika menangkup kedua pipi Lia gemas.


Lia hanya meringis diperlakukan seperti anak-anak oleh calon mama mertuanya.


***


"Kalian semua sudah persiapkan?" tanya Bram saat meeting mereka berakhir sore itu. Besok adalah hari persidangan selanjutnya.


"Sudah semua pak." jawab para tim kuasa hukumnya.


"Siap, baik pak." jawab mereka serempak.


"Ada yang ditanyakan?" tanya Bram sekali lagi.


"Semua sudah jelas pak." jawab salah seorang dari mereka.


"Baiklah, meeting hari ini bubar, besok kita langsung ke pengadilan tepat jam sepuluh pagi!" titah Bram sekali lagi.


"Siap, baik pak."


"Selamat sore." Bram membereskan meja meetingnya dan satu persatu mereka meninggalkan ruang meeting itu.


Bram duduk kembali setelah sekiranya semua orang sudah pergi. Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, mungkin kurangnya jam tidurnya akhir-akhir ini. Setelah sampai di apartemennya, dia akan segera mengistirahatkan tubuhnya agar besok fresh.


**

__ADS_1


Bram membaringkan tubuhnya di ranjang apartemennya. Dia baru saja tiba, menatap langit-langit kamarnya. Entah kenapa wajah Lia terlintas di benaknya. Bram meraih ponselnya melihat jam yang tertera di layar ponselnya menunjukkan pukul sembilan malam.


"Masih belum terlalu malam." guman Bram mencari nama-nama di kontak ponselnya.


Suara deringan pertama terdengar, belum juga diangkat. Dering keduanya, panggilan diangkat di seberang.


"Halo.." sapa seseorang di seberang dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Halo... kau sudah tidur? Maaf mengganggu tidurmu." Bram hendak menutup ponselnya namun suara tolakan di seberang mengurungkan niatnya untuk menutup ponselnya.


"Jangan! Jangan... A...aku sudah bangun." seru di seberang panggilannya.


"Ah, maaf.. pasti kau bangun tidur." ucap Bram merasa bersalah.


Setelah memastikan benar-benar Bram yang menghubungi ponselnya, sontak Lia terduduk di ranjangnya. Dia tadi belum tertidur dengan memegangi ponselnya berharap Bram menghubunginya sampai dirinya terlelap.


"Tidak apa. Aku memang menunggumu untuk menghubungiku.. eh... maksutku... ah..." Lia terdiam, Bram tersenyum.


Dia menduga Lia pasti sekarang wajahnya memerah malu karena spontan dia menyuarakan isi hatinya.


"Maaf aku sibuk. Lama tidak menghubungimu." ucap Bram dengan nada lemah merasa bersalah.


"Tak apa. Aku mengerti." jawab Lia.


"Besok adalah persidangan. Dan kuharap besok akhir sidang dan ketuk palu." jelas Bram.


"Oh ya..." sebenarnya Lia sudah tahu. Setelah Bram sulit dihubungi, dia mendadak menjadi stalker calon suaminya itu.


Apa saja yang dilakukan dan yang terjadi pada kasus dan tentang calon suaminya itu. Kalau dia tak mendapat kabar dari orangnya langsung takut mengganggu. Lia memilih untuk mencari cara lain untuk mengetahui perkembangan kasus dan persidangan yang dilakukan oleh calon suaminya itu.


Dan dirinya sungguh bahagia kini saat persidangan besok dilakukan. Bram menghubunginya untuk memberitahunya. Itu artinya perasaannya tidak berubah padanya kan?


TBC

__ADS_1


__ADS_2