
Bram melangkah menuju apartemennya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Sesuai yang dikatakannya, dia menepati janjinya untuk pulang esok harinya. Namun harus sampai malam karena dia harus menyelesaikan tahap akhir kasusnya
"Selamat malam tuan." Sapa kedua pengawal yang berjaga di depan pintu bersamaan.
Bram yang terlihat kelelahan hanya mengangguk mengiyakan sapaan keduanya. Tenaganya sudah sangat habis hanya sekedar membalas sapaan para pengawal itu. Bram menekan password pintu apartemennya. Dia ingin segera bertemu istrinya yang sangat dirindukannya. Mungkin dengan melihat istrinya rasa lelahnya akan hilang.
Cklek
Pintu dibuka menampakkan apartemennya yang lengang. Dia menebak kalau istrinya mungkin sudah tidur. Bram menghela nafas lelah masuk ke dalam kamarnya mendapati istrinya berbaring dengan mata terpejam menandakan bahwa dirinya sudah terlelap. Bram tersenyum sumringah melihat istrinya yang dirindukannya beberapa hari ini.
"Maaf, meninggalkanmu sendirian." Bisik Bram mengecup kening istrinya penuh kasih.
Dia pun beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. Tak sampai lima belas menit, Bram kembali ke kamar memakai piyama tidurnya. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya yang lelah dengan mendekap tubuh istrinya yang sudah menjadi candu baginya. Bram mulai menyusupkan tubuhnya ke dalam tubuh istrinya, memeluknya yang langsung membuatnya terlelap karena saking lelah tubuh dan pikirannya.
***
Lia membuka matanya perlahan merasa berat di pinggangnya. Dia meliriknya dan tersentak melihat tangan kekar yang terasa familiar.
Dia sudah pulang? Batin Lia tersenyum bahagia. Dia pun membalikkan tubuhnya menatap wajah suaminya yang tertidur pulas. Dia menatap wajah yang sangat dirindukannya.
"Mengagumiku?" Bisik Bram dengan suara serak khas bangun tidur. Lia langsung menarik jemari tangannya mendengar suara suaminya yang masih memejamkan mata.
"Kau... sudah bangun?" Jawab Lia merasa malu karena dirinya kepergok sedang mengagumi suaminya.
"Hmm." Bram mencari pinggang istrinya merapatkan tubuhnya.
"A..aku mau bangun." Ucap Lia terbata.
__ADS_1
"Sebentar lagi! Aku merindukanmu sayang. Tega sekali kau meninggalkanku tidur saat aku pulang." Rengeknya membuat Lia serba salah.
"Maaf, aku tak tahu kau akan pulang malam." Jawab Lia merasa bersalah. Bram langsung membuka matanya melihat istrinya menganggap serius ucapannya padahal dia hanya berniat untuk bercanda. Sungguh sangat polos istrinya.
"Hanya dengan maaf?" Goda Bram tersenyum seringai.
"La... lalu?" Tanya Lia dengan lugunya.
"Aku menginginkanmu... di atasku." Bisik Bram di telinga istrinya dengan nada sensual sambil menjilat cuping telinga istrinya menggoda. Lia langsung tersipu malu mengerti maksud suaminya.
"I...itu...a...aku..." Jawab Lia gagap.
"Ayolah!" Pinta Bram dengan raut wajah memelas penuh harap dan jemari tangan istrinya ditariknya dan didekatkan pada sesuatu yang sedang berdiri tegak menjulang di bawah sana yang meminta untuk ditidurkan.
Lia sontak menarik jemarinya malu, namun Bram langsung menarik tubuh istrinya hingga berada di atas tubuhnya. Lia pun tersipu malu-malu menatap suaminya yang menatapnya mes*m.
"Lakukan sayang!" Pinta Bram mulai menjelajahi seluruh tubuh istrinya memberikan rangsangan padanya hingga Lia pun bergerak penuh nafsu karena dia juga merindukan sentuhan suaminya dan menginginkannya juga.
Hingga waktu hampir menjelang siang, Bram belum melepaskan istrinya. Hingga saat di dalam kamar mandi Bram mulai melancarkan aksinya lagi untuk mendominasi seluruh tubuh istrinya yang tak sanggup membuatnya lepas dan bosan. Dia juga menginginkan segera mempunyai anak di dalam rahim istrinya.
***
"Jangan terlalu capek! Istirahatlah!" Bisik Bram mesra saat melihat istrinya sedang memasak di dapur. Bram mendekap tubuh istrinya dari belakang, tak lupa kecupan-kecupan di daratkan di tengkuk leher jenjang istrinya apalagi rambut istrinya sedang dicepol ke atas.
"Mas, hentikan! Aku lapar." Bram menghentikan cumbuannya.
Tidak hanya satu dua jam tadi mereka bercinta. Namun hal itu seolah tak membuat puas dirinya, bahkan di menginginkan lagi, lagi dan lagi. Kini bahkan adik kecilnya mulai berdiri tegak lagi setelah sedikit mencumbui istrinya tadi. Hingga dia berjanji pada dirinya sendiri saat bulan madu nanti, dia tak akan melepaskan istrinya dari dalam kamarnya nanti.
__ADS_1
"Baiklah. Kita makan dulu!" Bram duduk di meja makan menunggu istrinya menyiapkan sarapan yang merangkap menjadi makan siang mereka.
Dia menatap punggung istrinya yang terlihat seksi. Bram menelan ludah kasar, lagi-lagi dia tidak mampu mengendalikan nafsunya saat melihat tubuh istrinya yang mempesona.
"Ini, makanlah!" Ucap Lia sambil meletakkan makanan untuk suaminya di meja depan suaminya. Bram tersentak karena lamunannya buyar. Dia tertawa sendiri karena baru saja dia melamun jorok tentang istrinya.
"Ada apa mas?" Tanya Lia melihat suaminya tersenyum-senyum sendiri.
"Tidak apa." Jawab Bram mulai makan masih dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Mas.."
"Ya?"
"Mas, gak sedang ngelamun mes*m kan?" Tanya Lia hati-hati membuat Bram tergelak mendengar pertanyaan istrinya.
"Kenapa? Aku hanya mes*m pada istriku." Jawab Bram masih tersenyum sumringah menggoda istrinya dengan tatapan mes*m.
"Mas, a... aku... setidaknya... biarkan aku... istirahat...i..itu.. a...anuku...sakit ..." Jawab Lia tergagap dengan nada polosnya.
"Hahaha... istriku sangat polos ya? Kalau begitu, kapan?" Ucap Bram menatap mes*m istrinya dengan kedua tangannya diletakkan di bawah dagunya. Lia tersipu malu merasa digoda suaminya.
"Mas..."
"Hahahaha..." Gelak tawa Bram memenuhi apartemen mereka.
.
__ADS_1
.
TBC