Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 13


__ADS_3

Sidang korupsi para pegawai negeri yang merupakan bawahan menteri keuangan sudah memasuki babak kedua. Bram dengan tenang memasuki ruang sidang dibantu dengan beberapa asistennya.


Saat hakim memasuki ruang sidang tersebut, semua orang berdiri memberi hormat pada hakim tersebut tak terkecuali Bram juga. Dia pun memulainya dengan saksi pertama dalam persidangan itu.


***


Cukup lama juga persidangan itu terjadi, hampir tiga jam persidangan berjalan. Karena semakin ditunjukkan buktinya, semakin banyak saja anggota pegawai di bawah menteri keuang*an yang terseret ikut sebagai tersangka. Dan Bram bisa memperkirakan persidangan itu tidak akan berakhir cepat.


Hingga empat jam berlalu tak mendapatkan apapun, akhirnya hakim memutuskan untuk menunda kembali ke persidangan berikutnya. Bram menghela nafas sejenak, merasakan tubuhnya sedikit buruk. Dan akhirnya memilih untuk pulang segera ke apartemennya lebih awal setelah mengatakan pada asistennya.


***


Bram menjatuhkan tubuhnya di ranjang kamar apartemennya. Tubuhnya terasa tak enak, nafasnya tersengal. Dia merasakan berdenyut di kepalanya. Dia melirik jam dinding di kamarnya, hampir pukul tujuh malam. Ah, aku ada janji jam tujuh malam nanti, tubuhku...hah...hah... tubuhku rasanya remuk. batin Bram dengan nafas tersengal.


Dia merasa dahinya panas, tapi tak bisa mengabaikan janjinya. Mamanya terus menerus mengiriminya pesan saat persidangan tadi untuk harus datang pada temu janji kami malam ini. Bram tak bisa menolak keinginan sang mama, kalau sampai menolak papanya akan mendengarnya dan berakhir dengan impiannya harus dia relakan.


Apalagi kasusnya semakin panas saja. Bram harus menyelesaikan kasus itu sampai tuntas.


Bram berdiri dengan kepayahan saat hendak membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, air hangat tak mampu membuatnya merasa lebih baik. Dia malah semakin kesakitan pada seluruh tubuhnya. Bram segera menyudahi mandinya, persetan jika dirinya belum benar-benar sempurna bersih dari mandinya. Dia sudah tak kuat lagi.


Setelah memakai pakaiannya, Bram beranjak ke pintu depan rumah namun kepalanya semakin pening dan berdenyut tak tertahankan dan dia merogoh ponselnya di saku jasnya. Dengan susah payah mengangkat panggilan yang terus berdering di ponselnya berkali-kali. Nafas Bram semakin tersengal, merasa degup jantungnya berdetak kencang karena sesak.


"Halo." jawab Bram pada seseorang di seberang sana.


"Halo, mas Bram?" jawab suara lemah lembut di seberang.


"I..iya...hah..hah.." jawab Bram dengan nafas terengah-engah sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Kau tak apa-apa? Kau terdengar..." pertanyaan Lia belum selesai tapi dia mendengar suara sesuatu yang jatuh.


Setelah itu Lia tak bisa mendengar suara Bram.

__ADS_1


"Bram...mas Bram...mas..." seru Lia dalam ponselnya.


"Kenapa nak? Ada apa dengannya? Apa dia mengingkari janjinya?" seru ayah Lia emosi.


Pasalnya ini sudah lebih dari setengah jam Bram belum menjemput Lia untuk kencan mereka yang tentu saja sudah diatur orang tua Bram dan orang tua Lia.


Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, ayah Lia mendesaknya untuk menghubungi Bram karena tak kunjung datang, biasanya Bram selalu tepat waktu atau malah datang lima menit sebelumnya. Ayah Lia cemas Bram melarikan diri dari perjodohan mereka.


"A..aku... mendengar benda jatuh." jawab Lia gugup dengan wajah penuh kecemasan.


"Apa maksudmu benda jatuh nak?" tanya ibu Lia yang sejak tadi hanya menyimak percakapan suaminya dan putrinya.


"Aku tak tahu ibu, nafas mas Bram terdengar berat dan terengah-engah, aku takut terjadi sesuatu padanya. Dia tak apa-apa kan Bu?" tanya Lia cemas menggenggam tangan ibunya cemas.


"Sebaiknya kau datang ke apartemennya dan melihat apa yang terjadi!" saran ibu Lia dan Lia mengangguk-angguk antusias menyetujui saran ibunya.


Lia bergegas meninggalkan rumahnya, belum sampai membuka pintu depan rumah, Lia kembali menghampiri ibunya.


"I..itu bu, a..aku... belum tahu dimana alamat apartemennya." ucap Lia menunduk malu-malu.


"Ya Tuhan.." ibu Lia menepuk jidatnya, ayahnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, sudah kencan lebih dari sebulan tapi putrinya tak tahu alamat apartemen calon tunangannya.


"Kau tanya alamatnya pada ibu mertuamu!" suruh ibu Lia, membuat Lia tersentak, sontak wajahnya memerah tersipu malu.


"Ibu..." ucap Lia malu-malu sambil mengambil ponselnya menghubungi Erika.


***


Lia melajukan mobilnya menuju alamat yang dikirim Erika sekaligus password pintu apartemen Bram jika tak menjawabnya. Setelah sampai di basemen apartemen. Lia segera berlari menuju alamat apartemen Bram. Dia mencoba lagi menghubungi ponsel Bram namun tak ada yang mengangkatnya meski sambungan terhubung.


Lia semakin cemas dan panik saja, dia takut terjadi sesuatu pada Bram. Mungkin mereka dijodohkan dan baru beberapa waktu berkenalan, tapi perasaan Lia sudah bisa menerima Bram sebagai calon tunangannya yang akan dilaksanakan sebulan ke depan.

__ADS_1


Meski Bram tak menunjukkan penolakan atau menerima namun Bram selalu datang di setiap kencannya meski itu semua diatur oleh kedua orang tua belah pihak dengan alasan agar keduanya saling dekat. Namun Lia sudah merasakan perasaan lain pada Bram, mungkin menyukai entahlah bisa jadi Lia sudah mencintainya apalagi mendengar Bram terlihat kesakitan saat percakapan mereka di ponsel tadi.


Ting tong ting tong


Lia menekan bel pintu apartemen Bram, namun tak ada sahutan setelah berkali-kali menekannya. Dia juga menggedor-gedor pintu apartemen Bram sambil memanggil-manggil nama Bram.


Untung saja tetangga apartemen Bram cuma satu unit dan tidak memergokinya berteriak di depan pintu tetangganya, sepertinya tetangga Bram sedang tak ada di unitnya.


"Mas...mas Bram... kau di dalam? Kau tak apa? Buka pintunya mas? Aku Lia..." teriak Lia sambil menempelkan sebelah telinganya di pintu.


"Bodohnya aku, ini kan apartemen elite, mana mungkin dia mendengarnya. Pasti ada peredam suara di apartemen elite seperti ini." guman Lia mondar-mandir kesana-kemari berpikir apa dia akan dengan tidak sopannya masuk ke dalam.


"Apa aku harus membukanya? Toh, mama Erika sudah memberi tahu password pintu apartemen. Tapi... apa nanti pendapat mas Bram jika aku dengan lancangnya masuk tanpa izinnya. Dan lagi... bagaimana kalau mas Bram tak apa-apa. Ah, tidak. Ponselnya berdering tapi tak diangkat. Oh ayolah Lia, berpikir-pikir... tidak. Aku harus nekat masuk." putus Lia setelah mondar-mandir kesana-kemari kebingungan mencari keputusan.


Sudah hampir tiga puluh menit dia perjalanan ngebut kemari karena mencemaskan Bram.


Tit tit tit tit tit tit


Cklek


Pintu unit apartemen Bram terbuka, Lia segera masuk ke dalam. Dan terkejutnya Lia saat mendapati Bram tergeletak tertelungkup di depan pintu apartemen dengan ponselnya berada di sebelah kepalanya.


"Mas Bram.." teriak Lia.


TBC


Semoga suka


Jangan lupa tinggalkan jejak


Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2