Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Episode 46


__ADS_3

"Auww...auww..sakit ma...sakit...malu sama istriku, ayah juga ibu mertuaku juga ada disini." Bram merendahkan suaranya saat di akhir kalimatnya sambil memegangi telinganya kesakitan karena Erika menjewernya tanpa ampun.


"Dasar ya anak nakal. Tak tahu diri, berapa hari kau meninggalkan menantuku sampai tak memberi kabar..ha... dasar anak nakal. Kau tahu pekerjaanmu berbahaya, kenapa kau tak memberikan pengawalan padanya. Dasar anak nakal... bagaimana kalau menantuku terluka. Mama tak akan membiarkan dia bersamamu kalau kau selalu meninggalkannya." Omel Erika panjang lebar masih menjewer telinga Bram dengan tarikan kencang yang membuat siapapun melihatnya pasti akan sangat meringis menyakitkan seperti Lia saat ini.


Dia mau turun dari ranjang mencegah mama mertuanya agar tidak menyakiti suaminya.


"Ma, mas Bram sudah minta maaf dan menyesal ma..." Bujuk Lia tak tega melihat suaminya terlihat kesakitan.


"Huh... biarkan saja nak. Dia sekali-kali harus diberi pelajaran. Tidak sekali dua kali dia meninggalkanmu sendirian di apartemen karena pekerjaan. Mama perlu memberi pelajaran." Jawab Erika masih terus menjewer telinga Bram tanpa ampun. Membuat Lia da Bram meringis kesakitan.


"Ma, sakit ma... ampun ma, maaf... Bram menyesal telah meninggalkan istriku sendiri di apartemen. Maaf ma... sakit.. lepaskan ma...Bram mohon!" Pinta Bram sambil memegangi telinganya untuk mengurangi rasa sakit jeweran Erika.


"Aku tak percaya kau benar-benar akan menyesal. Tidak sekali kau melakukannya, sudah berkali-kali. Untung saja menantuku tidak terluka, kalau sampai terjadi sesuatu padanya... mama akan menghukummu lebih dari ini." Omel Erika panjang lebar dengan suara kencang.


Lia dan ibunya meringis ikut memegangi telinganya masing-masing seolah ikut merasakan kesakitan juga. Ayah Lia malah diam-diam tersenyum seringai mendukung besannya menghukum putranya sendiri.


"Sudah jeng, kasihan. Bram juga tidak baik-baik saja, saat menolong Lia. Dia juga sempat diikat dan dibuat pingsan dengan dipukul tengkuknya." Hibur ibu Lia memegangi tangan Erika yang menjewer telinga menantunya agar segera dilepaskan.


"Benarkah?" Tanya Erika langsung melepas jewerannya.


Pak Budi tak memberi tahu hal itu saat memberi kabar pada atasannya. Yaitu suami kakaknya Alensio. Erika beralih menatap Bram yang menggosok telinganya yang sudah memerah karena jeweran mamanya yang dibantu dengan elusan hangat istrinya.

__ADS_1


"Itu... aku... sengaja ditangkap oleh mereka agar tuntutanku dicabut sekaligus mencari tahu dimana posisi istriku saat itu. Itu semua rencana pak Budi." Jawab Bram masih meringis kesakitan.


"Maaf kan mama sayang.. Mama tak tahu.. pak Budi tak memberi tahu mama tadi." Tanya Erika setelah mendengar penjelasan putranya kini ganti melembut sikapnya.


"Mama lah yang malah menyakiti Bram." Omel Bram cemberut mengalihkan pandangannya ke arah lain merajuk pada sang mama.


"Maafkan mama nak... mama kan tidak tahu.." Bujuk Erika membuat semua orang tertawa melihat tingkah kekanakan Bram.


***


"Kau butuh sesuatu?" Tanya Bram pada istrinya setelah orang tua Lia pulang dan Erika juga ikut pamit setelah memastikan keadaan menantunya baik-baik saja.


"Aku mau pulang mas, aku sudah baik-baik saja." Jawab Lia menatap suaminya dengan penuh permohonan.


"Aku akan coba bicara pada dokter." Putus Bram membuat Lia tersenyum sumringah sambil memeluk tubuh suaminya erat.


Bram balas memeluk, mengecupi puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.


Entah sejak kapan keduanya kini sudah saling mencium, melum**, menghi**p. Lia bahkan mengalungkan lengannya ke leher suaminya dengan semangat juga membalas ciuman suaminya.


"Ehm...ehm..." Suara deheman dokter membuat kedua insan itu menghentikan ciumannya.

__ADS_1


Lia menunduk menahan malu menyadari kegiatan mes** nya dipergoki oleh dokter yang hendak memeriksanya.


"Biar saya periksa dulu pasiennya, nanti bisa dilanjutkan di rumah tuan." Goda dokter yang sudah berumur itu.


Bram hanya terdiam meski telinganya semakin memerah melebihi saat dijewer mamanya tadi.


Dokter pun memeriksa seluruh tubuh Lia. Karena salah seorang perawat mengabarinya kalau pasien ingin segera pulang.


"Bagaimana dok? Apa istri saya diizinkan pulang sekarang?" Tanya Bram begitu dokter selesai memeriksa dengan teliti.


"Karena kondisi pasien baik-baik saja dan tak ada keluhan yang lain. Pasien sudah diizinkan pulang. Silahkan urus administrasinya dan bisa persiapan untuk pulang. Kalau nanti saat di rumah ada yang dikeluhkan, anda bisa memeriksakan kembali." Jelas dokter itu tersenyum ramah.


"Terima kasih dok." Jawab Lia tersenyum sumringah mendengar dokter mengizinkannya pulang.


"Terima kasih sekali lagi dok." Ganti Bram yang mengucapkan pada dokter.


"Sama-sama. Tapi untuk aktivitas yang menyita banyak tenaga lebih baik menunggu kondisi istrinya membaik dulu ya tuan. Kasihan istrinya sedang dalam masa pemulihan." Saran dokter itu sambil tergelak karena berhasil menggoda pasien dan suaminya itu.


Lia hanya terdiam tersipu malu mendengar ucapan dokter yang langsung dipahami pasangan pengantin itu.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2