
Iwan sudah berada di gedung perusahaan kantor Bram. Namun saat dia bertanya pada resepsionis perusahaan tersebut. Mereka mengatakan kalau Bram sedang tidak ada di tempat. Memang Bram saat itu sedang tidak mengurus perusahaan papanya. Dia sedang menyelesaikan kasusnya yang berkaitan dengan penculikan istrinya.
Bram tetap menempatkan banyak pengawal di dekat istrinya yang akan mengikuti kemanapun istrinya pergi. Meskipun hanya ke rumah orang tuanya. Meski lama kelamaan Lia jengah, namun dia sadar, suaminya melakukannya untuk kebaikannya juga. Dan apalagi sudah seminggu ini suaminya tak pulang ke apartemen mereka. Tapi suaminya selalu menghubunginya setiap malam saat Lia hendak beristirahat sekedar mengucapkan selamat malam.
"Maaf aku meninggalkanmu lagi." Sesal Bram dalam panggilan video malam itu.
"Kau kan bekerja." Jawab Lia tetap mempertahankan senyumannya meski sebenarnya dia juga merindukan suaminya.
"Tinggal besok, aku akan pulang. Setelah itu aku akan mengajakmu bulan madu lagi. Dan aku harap tidak ada yang membuat gagal bulan madu kita." Bram bicara dengan daun telinga yang semakin memerah. Lia sendiri sontak tersipu malu mendengar ucapan suaminya yang sangat vulgar.
"I..itu... A..aku..." Lia menjadi gugup karena ucapan suaminya membuat Bram tersenyum melihat istrinya yang malu-malu terlihat semakin menggemaskan.
"Kenapa kau begitu cantik sayang, aku jadi ingin menerkammu sekarang juga." Ucapan Bram membuat Lia terkejut dan sontak langsung memerah pipinya.
"Mas, jangan menggodaku!" Seru Lia dengan wajah memerah tersipu malu. Bram tergelak di seberang sana melihat sikap istrinya yang menggemaskan.
"Aku merindukanmu sayang."
"Aku... juga..." Lia segera menutup panggilannya karena saking malunya dan Bram hanya tergelak melihat kegemasan istrinya.
***
Iwan sungguh frustasi dibuatnya. Sudah seminggu dia selalu datang setiap pagi ke gedung kantor Bram. Namun lagi-lagi dia harus gagal untuk bertemu dengan Bram dengan alasan Bram tidak ada di tempat. Sedang berada di luar kota mengurus sesuatu yang penting. Mungkin untuk beberapa hari yang lalu dia bisa menerimanya karena bagaimanapun juga Bram adalah orang yang sibuk. Namun kesabaran Iwan seperti diuji.
"Jangan beralasan lagi kalau dia tidak ada di tempat! Aku tahu dia menghindar untuk bertemu dengan diriku! Hubungi dia karena ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya!" Seru Iwan tak sabaran dengan mata tajam dan dingin menatap resepsionis itu yang menjadi ketakutan mendengar suara Iwan.
"Maaf tuan. Sungguh tuan Bramantyo sedang tidak ada di tempat. Beliau sudah seminggu ini tidak datang karena ada pekerjaan di luar kota. Mungkin jika suatu hari beliau kembali saya akan menghubungi anda dan membuat janji bertemu." Ucap resepsionis itu berusaha tenang meski masih bergidik jika Iwan kembali emosi.
__ADS_1
"Aku tak percaya, cepat katakan aku ingin bertemu. Ini penting." Seru Iwan lagi mendesak resepsionis itu.
"Tapi tuan..."
"Ada apa ini?" Tanya suara pria paruh baya dengan penampilan yang masih terlihat memukau di kalangan para karyawannya.
"Maaf tuan besar. Tuan ini mendesak ingin bertemu dengan tuan muda." Ucap resepsionis itu takut-takut melihat Presdir utama perusahaan mereka yang tak lain adalah pap Bram, Arya Wiguna Pamungkas.
Arya menatap Iwan yang menunjukkan wajah juteknya yang terlihat frustasi karena merasa keinginannya tidak terpenuhi.
"Ada perlu apa anda dengan putra saya?" Tanya Arya menatap Iwan tajam dan dingin.
"Maaf, saya terpaksa membuat keributan karena merasa tidak dianggap disini." Ucap Iwan mencari pembenaran. Arya menatap Iwan dari ujung kaki hingga ujung kepala berusaha menilai pria itu.
"Saat ini putra saya memang tidak ada di tempat. Dia sedang keluar kota mengurus sesuatu yang penting. Jika mau anda bisa bicara dengan saya jika keperluan anda mendesak." Saran Arya.
***
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Arya setelah keduanya duduk di sofa ruang kerjanya.
"Maaf sebelumnya. Saya ada sedikit urusan dengan tuan Bram terkait kerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja." Jelas Iwan menatap Arya datar meski dirinya merasa terintimidasi dengan aura Arya yang hampir sama dengan Bram.
"Memangnya apa kalau saya boleh tahu?" Tanya Arya mengernyitkan dahi.
"Begini, tuan Bram memutuskan secara sepihak kerja sama dengan perusahaan tempat saya bekerja tanpa ada perundingan terlebih dahulu dengan perusahaan saya." Iwan menjeda kelimatnya menunggu reaksi pria paruh baya di hadapan ini.
"Lalu?"
__ADS_1
"Seharusnya tuan Bram tidak mencampur adukkan masalah perusahaan dengan masalah pribadi diantara kami." Arya masih mengernyit belum mengerti, seolah-olah Iwan memang memberi penjelasan berbelit-belit yang seakan dia tak mau menjadi biang masalah dari urusan pribadi dan urusan perusahaan itu sendiri.
"Langsung intinya saja!" Titah Arya mulai tidak sabaran. Dia memang belum mendengar tentang putusnya sepihak urusan kerja sama perusahaannya dengan perusahaan yang pernah menjadi tempat kerja menantunya.
"Saya hanya memohon dengan sangat untuk perusahaan anda membatalkan memutuskan kerjasama dan tidak menarik investasinya terhadap perusahaan kami." Jelas Iwan akhirnya membuat Arya mencerna ucapan Iwan dan kemudian dia tersenyum.
Putranya Bram bukan pria yang gegabah atau berpikiran sempit. Dia tahu betul putranya itu sangat hati-hati dalam mengatasi segala masalah baik pribadi ataupun pekerjaan. Pasti ada sesuatu yang membuat putranya itu mengambil keputusan sefatal itu jika kesalahan pihak perusahaan lain membuat masalah dengannya.
"Begini! Saya tahu betul maksud dari kedatangan anda. Tapi? Itu semua bukan urusan saya. Karena masalah anda dengan putra saya, sebaiknya anda selesaikan dengan putra saya. Saya tahu betul keputusan putra saya bukan hanya keputusan gegabah tanpa mempertimbangkan dari segala segi. Kalau anda ingin bersabar. Tunggulah putra saya sepulang dari perjalanan bisnisnya!" Putus Arya sambil berdiri dari duduknya. Dia merasa sudah cukup memberikan penjelasan pada pria yang terkesan brengsek ini. Arya tahu betul dari gelagat kegugupan yang ditangkapnya dari sikap pria itu.
"Tapi tuan, saham perusahaan kami Turing drastis pasca kejadian itu. Dan para investor lain mulai menarik investasinya." Pinta Iwan meski dengan raut wajah terpaksa.
Pamannya setiap hari menerornya dan mengomelinya sepanjang hari. Tidak hanya pamannya. Ayahnya dan ibunya ikut mengomelinya dan benar-benar semua fasilitasnya tidak bisa digunakan karena dibekukan oleh paman dan orang tuanya. Dia sungguh seperti gembel sekarang.
"Tuan, saya mohon!" Pinta Iwan penuh harap menurunkan sedikit egoisme nya.
"Saya sudah bilang, itu urusan anda dengan putra saya. Saya tidak berhak untuk ikut campur sebelum putra saya bicara langsung memberi penjelasan pada saya." Arya hendak duduk di kursi kebesarannya sebelum akhirnya kembali menoleh menatap Iwan. "Oh ya, satu hal lagi. Saya akan mengambil tindakan tegas jika anda berani membuat keributan lagi di lobi. Silahkan! Pintu keluar ada di sebelah sana!" Tunjuk Arya tegas mengusir Iwan secara halus. Wajahnya sudah tidak menunjukkan keramahan lagi. Jika satu suara saja mungkin Arya akan kehilangan kesabarannya dan bisa mengeluarkan suara yang mungkin akan terdengar bentakan yang menggelegar.
Iwan terlihat mengepalkan tangannya erat. Dia merasa tidak dihargai dan diinjak harga dirinya padahal dia sudah memohon dengan sangat, namun dia lagi-lagi harus menunggu kedatangan Bram yang entah kapan.
"Terima kasih, saya permisi!" Pamit Iwan terpaksa meski dengan nada sedikit ketus yang tidak terlalu kentara.
.
.
TBC
__ADS_1