
Bram terdiam di dalam mobil yang dikendarainya setelah pertemuannya dengan istri sah atau yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri suami Lena. Ah, bingung mengatakannya, tapi seperti itulah. Dia pernah melihat wanita tadi. Bram mencoba mengingat-ingat kembali tentang pertemuannya yang mungkin terlupa dalam ingatannya karena dia akhir-akhir ini sering menghabiskan waktunya bersama sang istri untuk kehamilannya. Apalagi dia sudah tidak menggunakan jasa pengawal pribadi untuk istrinya itu.
Bukan karena dia yang tak melakukannya tapi karena istrinya menolak mentah-mentah pengawalan itu. Dia merasa seperti seorang tahanan. Dan stres berat menghampirinya membuat Bram menuruti keinginan istrinya.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Bram saat dirinya asyik dengan pikirannya tentang wanita yang bernama Karina tadi. Kalau bukan karena dering ponsel itu Bram pasti larut dalam pikirannya lagi. Apalagi saat melihat layar di ponselnya terdapat nama my wife membuat Bram seketika merasa bersalah seolah ketahuan berselingkuh.
"Ya sayang?"
"Mas, dimana?" Tanya Lia di seberang.
"Aku perjalanan pulang sayang."
"Bisa bawakan aku buah stroberi! Aku sedang menginginkannya." Ucap Lia manja. Dan setelah kehamilan keduanya ini, Lia yang biasa malu-malu kucing, sekarang sudah tidak lagi. Dia mencurahkan apa saja yang ada dalam isi kepalanya pada suaminya. Entah karena apa, mungkin karena hormon kehamilannya membuatnya bertingkah blak-blakan dan apa adanya. Tidak seperti sebelumnya masih sungkan dan canggung pada suaminya.
"Baiklah, aku akan bawakan? Hanya itu?" Tanya Bram.
"Iya, cepat ya sayang. I love you."
__ADS_1
"I love you too." Jawaban Bram namun sepertinya tak didengar istrinya karena sebelum Bram sempat menjawab, terdengar nada ponsel ditutup. Bram hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya menatap layar ponselnya.
***
"Selamat malam tuan." Sambut bi Ijah saat membukakan pintu untuk Bram.
"Selamat malam bi. Dimana istriku?" Tanya Bram terlihat antusias sambil menenteng sebungkus stroberi. Sekarang waktu menunjukkan pukul delapan malam.
"Nyonya sudah tidur tuan." Jawab bi Ijah membuat Bram mengernyit.
"Sudah tidur? Tumben? Tadi pesen stroberi, gak nunggu dulu bi?" Tanya Bram sambil menyerahkan bungkusan stroberi itu pada bi Ijah.
Tadi dia sedikit bekerja keras untuk mendapatkan stroberi itu. Karena beberapa supermarket tidak ada stroberi yang menyediakan. Bram sempat berkeliling-keliling memutari kota demi mendapatkan sebungkus stroberi. Namun istrinya tidak sabaran dan sudah tertidur.
"Simpan dulu bi, mungkin nanti malam dia menginginkannya!" Titah Bram masuk ke dalam kamarnya di lantai dua.
"Baik tuan."
__ADS_1
***
Bram menatap istrinya yang terlelap di ranjang kamarnya. Bram mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang setelah selesai membersihkan tubuhnya. Ditatapnya mata istrinya yang terlihat sembab karena menangis. Seketika Bram merasa bersalah.
"Maaf sayang, mas telat pulangnya." Bisik Bram sambil membelai lembut rambut istrinya yang tampak berantakan meski mas tetap terlihat cantik.
Bram beralih pada perut buncit istrinya yang sebulan ke depan mungkin anak yang ditunggu-tunggunya itu akan melihat dunia ini. Bram tersenyum mengelusnya.
"Maaf nak, papa tadi mencari-cari di segala tempat demi menuruti keinginan mamamu. Tapi karena banyak yang habis, papa terpaksa mencari lebih jauh, sehingga pulang terlambat. Maaf." Bisik Bram mengecup perut buncit itu penuh cinta. Dan beralih mengecup kening istrinya lama.
Bram pun ikut membaringkan tubuhnya di sisi istrinya sambil menarik kepala istrinya ke atas sebelah tangannya untuk dijadikan bantal. Dan Bram mendekap tubuh istrinya dari belakang dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"I love you sayang." Bisik Bram hingga akhirnya dia pun ikut memejamkan matanya karena lelah.
.
.
__ADS_1
TBC