Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 75


__ADS_3

Lia merasa bosan semalaman sendiri. Semalam dia juga tak bisa tidur karena merasa sedikit tidak nyaman dengan perutnya yang terlihat mengganjal. Malam sebelumnya ada suaminya yang dengan setia mengelus punggung dan perutnya jika malam menjelang mereka hendak tidur. Dan semalam dia tidak bersama suaminya membuatnya merasa sangat kehilangan.


Ada sesuatu yang terasa kurang saat dia berbaring di ranjang. Dia terlihat gelisah dalam tidurnya namun video call suaminya saat menjelang dia terlelap membuatnya sedikit nyaman. Suaminya juga terlihat merasa bersalah dan sedih. Karena mereka terpaksa harus berjauhan karena setelah usia kandungan istrinya menginjak delapan bulan, Bram tak pernah absen tidur tepat waktu di dekat istrinya.


Dia mau menjadi suami siaga setiap saat jika istrinya membutuhkannya setiap saat setiap waktu saat malam hari. Kalau saja papanya tidak shock karena kabar buruk itu dan terkena serangan jantung. Mungkin Bram sekarang tidak akan meninggalkan istrinya sendiri di mansionnya meski ada banyak pelayan. Namun menjadi suami siaga tetaplah keinginan para suami.


"Maafkan aku sayang." Sesal Bram malam itu dengan wajah sendu. Keduanya malam itu sedang melakukan video call. Padahal belum ada dua puluh empat jam dirinya berpisah dengan istrinya. Namun Bram seakan sudah lebih dari seminggu tidak bertemu dengan istrinya.


"Gak apa mas, bagaimana keadaan papa?" Tanya Lia meredam rasa bersalah suaminya dengan mengalihkan pembicaraan.


"Papa sudah sadar dari pingsannya. Hanya butuh istirahat yang cukup agar tidak terlalu stres dan banyak pikiran. Jadi...?" Bram menggantung ucapannya menatap istrinya semakin merasa bersalah.


"Jadi apa?" Tanya Lia dengan kening berkerut penasaran dengan ucapan suaminya.


"Aku mungkin agak lama disini. Maaf. Aku janji akan segera menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Bram lagi merasa bersalah.


"Gak apa mas, sungguh. Toh perkiraan kelahiran masih tiga minggu lagi. Misalpun maju mungkin seminggu sebelum perkiraan. Mas juga dengarkan penjelasan dokter terakhir kali." Jawab Lia menenangkan rasa bersalah dan gelisah suaminya.


"Aku ingin menjadi suami siaga untuk calon anak kita. Aku..."


"Iya mas, aku ngerti. Tapi sungguh aku tak apa. Aku malah menjadi merasa bersalah karena mas merasa bersalah juga. Bagaimana pun papa orang tua kita. Mas juga anak tunggal mereka satu-satunya." Hibur Lia tersenyum tulus.


"Maafkan aku sayang. Hanya kau yang bisa mengerti aku." Ucap Bram balas tersenyum.


"Sekarang tidurlah, aku akan terus mengatakan sesuatu agar kau bisa tidur lelap." Lia mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.

__ADS_1


Dia memang sangat mengantuk karena tak ada suaminya disisinya. Namun saat suaminya menghubungi video call untuknya dia malah merasa mengantuk. Seolah perasaan leganya sejak siang tadi terjawab. Dia dan calon anaknya merindukan suaminya.


Bram hanya tersenyum melihat istrinya sudah terlelap saat dia mengoceh beberapa hal tentang pekerjaannya. Dia merasa mendongengi seorang anak kecil untuk pengantar tidur istrinya.


"Selamat malam sayang. Selamat tidur. Semoga mimpi indah." Ucap Bram mengecup layar ponselnya yang terpapang wajah lelap istrinya.


***


Keesokan paginya, Lia bangun menatap ponselnya yang sudah mati kehabisan daya karena video call suaminya semalam memang tak diizinkan mati sampai baterai ponsel salah satu dari mereka habis meski keduanya sama-sama terlelap dalam tidur.


Lia beranjak mengisi daya pada ponselnya lalu kemudian dia membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dia ingin jalan-jalan di halaman mansion untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuhnya di dalam mansion seperti sebelumnya saat suaminya memutuskan untuk pulang tepat waktu menemaninya masa kehamilan yang mendekati kelahiran.


Bram sendiri tak mau kehilangan momen hendak melahirkannya istrinya nanti. Meski sekarang dia terpaksa meninggalkan istrinya untuk mengurus proyek karena kecelakaan yang melibatkan pekerja dan papanya yang seharusnya mengurusnya malam mengalami shock dan mendapat serangan jantung hingga berakhir terbaring di ranjang kamar perawatan.


Lia sudah bersiap untuk ke meja makan setelah mandi. Oh ya, Bram memindahkan kamar mereka di lantai bawah karena tak mau istrinya naik turun tangga. Saat dia berencana memasang lift, Lia langsung menolak keras ide boros suaminya itu. Dan dia menyarankan suaminya untuk memindahkan kamar mereka di lantai bawah saja.


"Iya bi, aku mau kesana." Jawab Lia tersenyum lembut dan melangkah menuju ruang makan diikuti bi Ijah.


***


Bram memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah sakit sebelum meeting penting pagi itu. Semalam Bram diusir mamanya untuk istirahat di hotel saja. Karena tak ingin dia mengganggu kebersamaan kedua orang tuanya. Bram berdecak kesal mendengar alasan mamanya setiap kali diusir. Dia hanya mampu menuruti keinginan mamanya.


"Selamat pagi pa, ma." Sapa Bram saat dia sampai di kamar perawatan papanya. Bram masuk meletakkan paper bag yang berisi makanan untuk mamanya.


"Kau sudah datang?" Tanya Erika yang saat itu sedang menyuapi suaminya sarapan.

__ADS_1


"Ada meeting pagi ini. Aku mengantarkan sarapan untuk mama dan juga pesanan mama." Jawab Bram duduk di kursi sebelah ranjang papanya yang tempati dan berhadapan dengan sang mama.


"Kau sudah sarapan?"


"Sudah ma. Papa sudah merasa baik?" Setelah menjawab pertanyaan mamanya, Bram beralih menatap papanya yang terlihat sudah tidak terlalu pucat meski masih terlihat lemas.


"Maafkan papa. Seharusnya kau menemani istrimu." Ucap Arya lemah merasa bersalah.


"Apa yang papa katakan, istriku baik-baik saja. Makanya papa harus cepat sembuh agar aku tidak terlalu lama meninggalkan menantu kalian." Jawab Bram tersenyum meski sebenarnya dia gelisah karena jauh dari istrinya yang sedang hamil sedang menunggu calon bayi mereka yang kurang dari sebulan melahirkan.


Bram sendiri tidak bisa memprediksi apakah dia akan sebentar atau lama disini melihat kasusnya semakin merembet dengan kasus korupsi proyek mereka.


Ya, setelah menangkap penanggung jawab proyek Bram menemukan banyak laporan keuangan pembangunan proyek yang menyeleweng dana yang tidak sedikit dan itu sudah muncul mulai awal pembangunan proyek itu dimulai.


"Baiklah. Berdoa saja semoga papamu segera sembuh." Ucap Erika tersenyum menatap suaminya dan beralih menatap putranya bergantian.


"Aku harus pamit. Meeting satu jam lagi akan dimulai." Ucap Bram pamit berdiri dari tempat duduknya sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Hati-hati nak!" Saran Erika entah kenapa merasa bersalah dan firasat buruk menghantuinya saat melihat putranya merasa kegelisahan yang sama meski putranya tak mengatakan langsung padanya. Dia mengenal putranya sejak dalam kandungan dan Erika ibu yang perasa jika sesuatu terjadi pada putranya tersebut.


"Semoga semua baik-baik saja." Ucap Arya menangkap kegelisahan istrinya. Erika hanya tersenyum dan mengangguk menatap suaminya.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2