Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 54


__ADS_3

"Oh iya mas." Lia menatap suaminya saat mereka sampai di basemen parkir apartemennya.


"Ya?" Tanya Bram menoleh menatap istrinya dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya. Pasalnya istrinya membatalkan ucapannya untuk tidur di luar kamar mereka. Itu artinya Bram bisa tidur sambil mendekap erat tubuh istrinya bahkan mungkin lebih dari itu.


"Apa ada masalah dengan perusahaan tempat aku bekerja dulu?" Tanya Lia memancing suaminya untuk mengatakan sendiri padanya.


"Ada apa memangnya?" Jawab Bram balik bertanya, senyumnya sedikit luntur meski tidak sepenuhnya.


"Adi menghubungiku, dia ingin bertemu dengan mas?" Jawab Lia menatap suaminya lembut.


"Siapa yang menghubungimu?" Tanya Bram sedikit murka mendengar istrinya berhubungan dengan pria lain. Dan Bram ingat betul siapa pria itu, meski pria itu terlihat tenang dan mampu menyembunyikan perasaannya. Bram tidak suka jika dia menghubungi istrinya meski dulu mereka rekan kerja.


"Adi, rekan kerjaku di perusahaan itu." Bram terdiam, dia masih tidak suka mendengar hal itu. Dia cemburu, sangat.


"Bisakah kau tidak sembarangan berhubungan dengan pria lain?" Ucap Bram menaikkan sedikit nada bicaranya. Lia terdiam mendengar suara keras suaminya. Namun dia langsung menyadari kalau suaminya cemburu.


Lia langsung meraih lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya manja.


"Kenapa? Apa suamiku sedang cemburu?" Bisik Lia menggoda suaminya tersebut. Bram terdiam, dia merasa luluh dengan godaan istrinya.


"Aku tidak suka kau berhubungan dengan pria lain meski itu hanya sekedar teman." Lirih Bram menundukkan kepalanya. Lia duduk tegak dari bahunya tadi yang disandarkan di bahu suaminya, meraih dagu suaminya hingga keduanya saling menatap.


"Aku hanya mencintaimu mas, mas bisa percaya kalau hatiku hanya untukmu." Ucap Lia menatap suaminya lekat penuh cinta.


Bram tersenyum dari cemberutnya mendengar pernyataan cinta istrinya.


"Aku bisa gila jika melihatmu berhubungan dengan pria lain." Jawab Bram mengecup bibir istrinya sekilas.


"Aku hanya mencintaimu mas, sungguh?" Ucap Lia meyakinkan suaminya.


"Terima kasih sayang, aku lebih mencintaimu." Keduanya pun saling berciuman mesra di dalam mobil hingga akhirnya keduanya pun sadar masih berada di dalam mobil.


***

__ADS_1


"Selamat pagi tuan." Sapa resepsionis melihat Bram yang pagi itu datang dan muncul di lobi perusahaan.


Bram tak menjawab menoleh menatap resepsionis itu menunggu pernyataan darinya.


"Tentang tuan Iwan..."


"Oh ya, katakan pada pria itu, jika dia ingin bertemu denganku hari ini. Harus dengan rekannya yang satu lagi. Siapa ya? Adi." Ucap Bram memotong ucapan resepsionisnya karena tahu maksud yang ingin dikatakannya.


"Baik tuan." Jawab resepsionis itu yang langsung membuat Bram menuju ke ruangannya.


***


Kini Bram duduk di sofa ruang kerjanya, berhadapan dengan kedua pria yang duduk di depannya. Meski hal itu yang diharapkan Adi dan Iwan untuk bertemu dengan Bram. Keduanya kini tampak tegang menghadapi Bram yang tatapannya tampak tajam dan dingin serta terlihat mengintimidasi keduanya.


"Kudengar kau hingga membuat keributan karena ingin bertemu denganku?" Sindir Bram menatap Iwan tajam.


Iwan langsung mendongak menatap Bram yang merasakan tersindir. Nyalinya sungguh menciut saat berada di hadapan Bram. Berbeda sekali dengan kemarin-kemarin saat dirinya menggebu-gebu ingin bertemu dengan Bram dan meluruskan kesalahpahaman mereka.


"Maafkan saya tuan. Tolong tarik kembali kerja sama yang ada batalkan! Ini karena kesalahan saya sendiri. Tolong jangan sangkut pautkan dengan masalah perusahaan!" Iwan tiba-tiba berlutut di hadapan Bram dengan menundukkan kepalanya penuh permohonan dan penyesalan yang mendalam.


Dia sungguh-sungguh sangat menyesal dengan kesalahannya. Selain karena fasilitas kartunya semua diblokir, dia juga diteror oleh paman dan kedua orang tuanya. Iwan sedikit terpaksa harus melakukan hal itu meski itu sangat merendahkan harga dirinya. Dia lebih tak bisa hidup tanpa kartu kreditnya ketimbang tak bisa hidup tanpa harga dirinya.


Adi yang melihat perbuatan Iwan yang reka merendahkan dirinya terkejut. Seumur-umur dia mengenal Iwan, Iwan adalah orang yang mempunyai gengsi tinggi dan harga diri yang tinggi pula. Namun hari ini dia mendapat tontonan khusus seorang Iwan merendahkan harga dirinya.


Bram hanya bersikap biasa tak terpengaruh sama sekali dengan perlakuan Iwan. Dia sudah bisa menebak dengan kelakuan pria seperti Iwan. Pria brengsek yang tidak bisa hidup dengan uang, uang dan uang. Apalagi yang dia dengar dia sudah berusaha datang setiap hari untuk bertemu dengannya. Kalau saat pertama kali datang, mungkin Iwan masih akan mempertahankan egonya untuk minta maaf.


Namun ini sudah hari ke sepuluh. Sudah hampir semua pemegang saham di perusahaan itu menarik investasi mereka karena dirinya juga menariknya. Bram sebenarnya tak mau memaafkan kelakuan pria brengsek di hadapannya ini. Namun permintaan istrinya semalam kembali terngiang di telinganya.


Flashback on


"Mas janji akan kembali berinvestasi pada perusahaan tersebut kan?" Tanya Lia saat kini dia berbaring di ranjang saling berdekapan setelah selesai menuntaskan hasrat masing-masing.


"Hmm." Jawab Bram ogah-ogahan.

__ADS_1


"Mas." Seru Lia manja menggoyangkan tubuh suaminya yang pura-pura memejamkan matanya.


"Iya." Jawab Bram dengan berat hati.


"Yang ikhlas dong mas?" Ucap Lia membujuk suaminya dengan nada lembut.


"Sayang.." Ucap Bram menatap istrinya lekat.


"Ya?"


"Kau tahu betul apa kesalahannya hingga aku melakukan hal itu bukan?" Ucap Bram seolah tak rela mengiyakan keinginan istrinya.


"Iya."


"Jadi bukan salahku jika aku melakukan hal itu bukan?"


"Kau salah mas."


"Dimana bagian salahnya?"


"Yang berbuat salah hanya pria itu dan dia itu adalah masalah pribadi. Seharusnya mas tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan bukan?"


"Aku akan melakukan apapun demi melindungi harga diri keluargaku meski itu harus melakukan segala cara. Dia pantas mendapatkannya karena berani menghina istri dan ibuku." Bela Bram tak terima disalahkan karena dia melakukan semua karena pria itu menghina istri dan ibu mertuanya.


"Tapi seharusnya mas cukup menghukum pria itu. Bukan seluruh orang yang bekerja di perusahaan. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan itu. Termasuk aku dulu juga pernah menggantungkan hidupku di perusahaan itu. Juga teman-temanku yang memiliki anak dan keluarga yang harus mereka nafkahi dari pekerjaan mereka. Kalau sampai mas menghukum dengan menarik investasi perusahaan mas, apakah itu sama saja memutuskan rejeki mereka?" Jelas Lia panjang lebar membuat Bram terdiam.


Bram tampak menghela nafas panjang, mencerna ucapan istrinya. Yang dikatakan istrinya benar, tak seharusnya dia melakukan hal serendah itu dengan menyangkut pautkan masalah pribadi dengan masalah perusahaan.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2