
Bram malam itu terpaksa meninggalkan istrinya dengan pelayan di mansionnya. Pekerjaannya yang mendadak membuatnya mau tak mau harus pergi untuk mengurusnya. Terjadi kecelakaan dalam pembangunan proyek hotel baru mereka yang ada di luar negeri. Sang papa juga ikut mengurus disana bersama mamanya.
Pengawal yang biasa disewa Bram tak bisa datang sekarang karena pekerjaannya akan selesai besok siang. Dan mereka akan datang besok sore. Bram sendiri entah berapa lama akan ke luar negeri untuk mengurus itu semua.
Ingin meminta tolong pada kedua mertuanya kini mereka sedang keluar kota karena adik iparnya sedang wisuda besok pagi dan mereka baru saja berangkat kalaupun kembali membutuhkan waktu besok siang sampai kesini.
Entah kenapa perasaan Bram hari itu tidak enak sejak pagi dan dia memutuskan untuk cuti beberapa hari karena mendekati masa kelahiran calon bayi mereka. Hingga kabar dari orang tuanya tentang kecelakaan karena bangunan proyek ambruk membuat papanya terserang penyakit jantung dan mamanya menungguinya papanya dengan sedih.
Bram satu-satunya putra mereka terpaksa pergi meninggalkan istrinya untuk mengurus hal itu sebagai wakil dari orang tuanya.
"Maafkan mas sayang, mas harus meninggalkanmu." Ucap Bram merasa bersalah menatap istrinya yang melihatnya mondar-mandir menyiapkan keperluannya.
"Gak apa mas, aku baik-baik saja. Ada banyak pelayan di mansion." Jawab Lia tersenyum lembut meski sebenarnya dia tak rela ditinggal sendiri. Tapi mendengar papa mertuanya dirawat di rumah sakit dia tak mungkin tidak mengizinkan suaminya pergi. Bagaimana pun juga suaminya adalah putra tunggal keluarga Pamungkas.
"Aku akan kembali secepatnya. Cup." Bram mengecup bibir istrinya sekilas masih mengenakan pakaiannya yang masih belum rapi. Dia melarang istrinya yang hendak membantunya menyiapkan keperluannya.
"Hati-hati ya mas. Aku mencintaimu juga anak kita." Ucap Lia membalas kecupan suaminya dan Bram membalas memagut bibir istrinya agak lama. Dia harus rela menahan hasratnya beberapa hari ini karena dokter melarangnya berhubungan intim karena tinggal beberapa waktu istrinya melahirkan.
"Kau juga sayang. Maafkan mas. Cup."
Bram pergi dengan diantar sopir pribadinya. Setelah meninggalkan gerbang, Bram meminta sopir untuk segera menambah kecepatan agar segera sampai ke bandara.
***
"Pa, bangun pa. Jangan tinggalkan mama sendiri!" Tangisan Erika terdengar hingga keluar ruangan tempat perawatan suaminya.
Setelah operasi yang dijalani suaminya sukses, dokter memindahkan pasien ke ruang perawatan. Erika yang masih belum tenang menangis tersedu-sedu di sisi ranjang tempat perawatan suaminya.
Setelah mendapat kabar dari orang kepercayaannya tentang kecelakaan di proyek, suaminya langsung panik dan bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Ya, keduanya tadi sedang hendak istirahat setelah mengerjakan beberapa pekerjaan. Arya baru saja meletakkan laptopnya hendak tidur. Namun deringan ponsel langsung membuatnya tersentak sontak bangun dari tidurnya yang membuatnya istrinya ikut panik melihat suaminya juga panik.
"Baiklah. Aku segera kesana!" Jawab Arya menutup ponselnya setelah mendengar kabar dari orang kepercayaannya.
"Ada apa pa?" Tanya Erika setelah suaminya meletakkan ponselnya langsung berlari ke lemari mengambil pakaian formalnya.
"Ada kecelakaan di proyek. Aku harus...aduh.. aww... ma..."
Bruk
Tubuh Arya langsung terjatuh tak sadarkan diri membuat Erika sontak berdiri berteriak histeris melihat suaminya tergeletak tak sadarkan diri. Erika langsung menghubungi penjaga di depan resort yang disewanya itu. Dengan deraian air mata Erika mengiringi suaminya yang dibawa ke rumah sakit terdekat.
"Buka matamu pa! Hiks...hiks..." Bisik Erika parau karena serak suaranya kebanyakan menangis semalaman.
"Aku tak mau sendiri pa. Buka matamu pa! Bahkan cucu kita mau lahir." Ocehan Erika terus keluar di ruang perawatan VVIP itu.
***
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Tanya Bram dengan wajah garang dan dingin melihat ketidak becusan para penanggung jawab proyek tersebut.
"Sepertinya karena bahan yang digunakan kurang kokoh." Jawab orang itu takut-takut.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah dana untuk memenuhi bahan-bahan itu sudah lebih dari cukup!" Teriak Bram dengan kesal.
"Sepertinya ada penyelewengan dana sehingga terjadi kecelakaan karena bahannya kurang kokoh."
"Bagaimana dengan pihak penanggung jawab?" Tanya Bram masih dengan raut wajah kesalnya.
"Dia melarikan diri tuan."
__ADS_1
"Apa? Brengsek. Cari dia sampai dapat. Bahkan ke ujung dunia sekalipun." Teriak Bram melempar berkas yang diberikan orang kepercayaan papanya itu.
***
"Bagaimana situasinya?" Tanya Bram saat dia baru datang di lokasi kecelakaan proyek.
"Korban sudah dievakuasi tuan. Tidak ada korban jiwa. Korban luka pun sedikit karena kejadian pas sore hari, banyak pekerja yang sudah sebagian pulang." Jelas pria yang diberi tanggung jawab untuk mengevakuasi.
"Bagaimana dengan korban sekarang?"
"Semua sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan."
"Lalu yang melarikan diri?" Tanya Bram menatap pria itu tajam.
"I..itu...masih dalam pengejaran tuan." Jawab pria itu ragu sambil menundukkan kepalanya takut-takut.
"Cari dan kejar terus sampai dapat! Bawa dia kehadapanku. Kalau perlu sewa beberapa preman untuk mencarinya. Saya mau dia hidup-hidup. Dia harus mempertanggung jawabkan karena mengakibatkan banyak pekerja luka-luka." Seru Bram kesal. Dia pun menuju ke ruang kerja papanya.
"Bagaimana keadaan papa?" Tanya Bram setelah sedikit tenang di dalam ruang kerja papanya.
"Tuan sudah mulai makan. Dan dia menanyakan anda." Jawab orang kepercayaan papanya. Bram mengehentikan gerakannya.
"Kita kesana sekarang!" Titah Bram setelah melirik jam tangannya, dia sudah menghabiskan waktunya di ruang kerja papanya lebih dari dua jam.
.
.
TBC
__ADS_1