Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 64


__ADS_3

Bram keluar dari ruang dokter sebelum menyelesaikan administrasi agar bisa pulang. Karena istrinya memaksa untuk pulang setelah seminggu dirawat. Bram meminta izin pada dokter sekaligus bertanya tentang keadaan istrinya pasca keguguran. Dia ingin mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.


"Sejauh ini kondisi istri anda baik-baik saja dan sehat. Tapi untuk segera memiliki momongan lagi lebih baik ditunda dulu sampai kondisi rahim istri anda benar-benar sehat. Karena selain rahim istri anda lemah, juga sulit untuk menerima pembuahan. Sebaiknya istri anda menjalankan KB dulu untuk beberapa bulan sampai rahimnya pulih dan normal." Dokter menjeda penjelasannya menatap Bram yang terlihat sendu.


Sebenarnya dia ingin secepatnya memiliki momongan, namun karena kondisi istrinya membuatnya harus lebih bersabar.


"Setelah sekiranya istri anda sehat. Saya menyarankan untuk program kehamilan demi kesehatan dan keselamatan ibu dan anak." Dokter mengakhiri penjelasannya menunggu pendapat Bram setelah lama terdiam seolah mencerna ucapan dokter.


"Bukankah KB bisa memperlambat kehamilan jika belum pernah melahirkan?" Tanya Bram.


"Itu mungkin saja jika kita tidak melakukan pola hidup sehat. Namun akan lebih baik mencegahnya. Tapi... ada satu KB yang mungkin bisa dilakukan dengan alami."


"Apa itu dok?"


"Bagaimana kalau anda yang melakukannya?"


"Maksud dokter?"


"Anda bisa melakukan KB kalender, dimana saat berhubungan dilakukan saat sang istri mendekati masa haidnya. Itu adalah masa dimana istri tidak sedang dalam masa subur. Atau bisa menggunakan KB ko**om." Jelas dokter hati-hati.


Bram menundukkan kepalanya lemas. Dia memang tak pernah menggunakan ko**om dalam berhubungan intim dengan istrinya. Namun banyak yang mengatakan kalau alat kontrasepsi itu sangat tidak nyaman dipakai saat berhubungan intim. Apalagi Bram termasuk pria dengan kebutuhan se**ual tinggi, meski masih bisa dikendalikan asal tidak bersentuhan dengan istrinya langsung.


Jadi, apa kami harus tidur terpisah. Mana tahan kalau seperti itu? Tapi, ini demi kebaikan dan kesehatan istriku. Huff..


Bram terlihat menghela nafas panjang, dokter yang melihatnya merasa kasihan namun dia tak bisa mengatakan apapun karena bagaimanapun itu juga demi kebaikan keduanya.


"Terima kasih dokter." Bram pun pamit meninggalkan ruangan dokter setelah merasa mendapat penjelasan yang masuk akal.


***


"Kau sudah tak apa-apa bangun sendiri?" Tanya Bram melihat istrinya muncul dari dalam kamar mandi dengan bath rope di tubuhnya. Lia menatap suaminya lekat, menatap suaminya yang sudah rapi tapi dengan pakaian santai.


"Mas, tidak bersiap ke kantor?" Tanya Lia menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Mas, hanya mengerjakan pekerjaan dari rumah. Selebihnya diurus kembali oleh papa." Jawab Bram tenang duduk di sofa dalam kamar.


"Aku sudah sembuh mas, mas bisa ke kantor." Tawar Lia tersenyum lembut menatap suaminya setelah keluar dari dalam walk-in closet.


"Tidak. Aku akan selalu disisimu." Ucap Bram mengikuti langkah istrinya duduk di meja rias merias wajahnya.


"Aku sudah sembuh mas." Jawab Lia lembut tersenyum manis menatap bayangan suaminya dari cermin meja rias yang juga menatapnya.


"Tidak apa. Aku tak mau terjadi sesuatu padamu lagi jika aku tidak berada di sisimu." Jawab Bram.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk dari luar.


"Masuk!" Jawab Bram menghampiri meja yang ternyata bi Ijah memberitahukan sarapan mereka sudah siap.


"Kau tak apa sarapan di meja makan? Atau aku akan membawakannya ke kamar?" Tanya Bram cemas.


"Aku sudah sembuh mas, sudah sanggup untuk berjalan ke meja makan." Hibur Lia menatap suaminya.


"Sungguh mas."


"Kau selalu bilang baik-baik saja meski sedang tidak baik-baik saja." Tanpa sadar Bram mengeluarkan nada suara yang agak kencang membuat Lia tersentak kaget.


Karena suaminya memarahinya. Namun Lia segera mengendalikan rasa terkejutnya. Dia berusaha menghibur dirinya bahwa suaminya melakukan itu semua karena mencintainya dan memperhatikannya.


"Aku .. akan mengatakan pada mas jika memang seperti itu." Lia pun pergi meninggalkan kamar menuju meja makan tanpa menunggu suaminya.


Entah kenapa dadanya terasa sesak setelah mendengar suaminya membentaknya meski tidak sengaja. Dia tak mau suaminya melihat kesedihannya setelah semalam dia ditinggalkan di kamar mereka seorang diri semalaman.


Bram menghela nafas berat merasa bersalah karena tanpa sadar dia membentak istrinya. Dia pun mengikuti istrinya yang meninggalkannya untuk meminta maaf.


"Kalian baru sarapan?" Tanya Erika yang ternyata baru muncul di mansion Bram. Bram mengurungkan niatnya untuk mendekati istrinya untuk minta maaf, karena tak mau membuat sang mama salah paham.

__ADS_1


"Mama." Sapa Bram yang membuat Lia berbalik saat hendak duduk di kursi meja makan.


"Mama datang?" Ganti Lia yang menyapa dan mendekati Erika sambil menyalami dan tak lupa mengecup punggung tangan mama mertuanya.


"Kau sudah baik-baik saja. Maaf, kemarin ada yang harus mama dan papa urus, jadi tidak bisa mengantarmu pulang." Sesal Erika mengelus rambut menantunya.


"Gak apa ma, ada mas Bram yang mengantar." Jawab Lia tersenyum lembut seolah tak ada apa-apa.


"Semoga kau selalu sehat nak." Jawab Erika tersenyum.


"Mama sudah sarapan? Kita sarapan sama-sama yuk!" Ajak Lia tersenyum.


"Ayo!" Bram hanya mengikuti langkah kedua wanita yang disayanginya itu merasa dirinya diacuhkan oleh istrinya. Namun Bram segera membuang pikiran buruknya. Dia akan memperbaikinya nanti setelah sang mama pulang.


***


Setelah sarapan, Bram mengira sang mama akan segera pulang sehingga dia bisa menghabiskan waktunya bersama sang istri dan menyelesaikan salah paham mereka. Namun Bram salah, sang mama mengajak istrinya beristirahat di samping mansion duduk-duduk di gazebo. Dan Bram sama sekali tak bisa menyela pembicaraan diantara keduanya. Malah dia terlihat tidak dipedulikan oleh keduanya yang terlihat seru dalam percakapan mereka.


"Kau tak bekerja Bram?" Tanya Erika menatap putranya yang sejak tadi terdiam menunggui mereka. Lia ikut menatap suaminya.


Bram balas menatap sang mama dan bergantian menatap istrinya. Dan kembali menatap sang mama.


"Memang siapa yang menyuruh Bram untuk tidak bekerja terlalu lama di luar rumah?" Jawab Bram sedikit kesal, bukannya menjawab dia malah balik bertanya.


"Lho, mama hanya mengatakan jangan terlalu sibuk bekerja. Bukannya melarang kerja." Bram menghembuskan nafas lelah.


"Aku akan ke ruang kerja. Jika butuh sesuatu panggil saja!" Ucap Bram meninggalkan keduanya menuju ruang kerjanya.


Beberapa waktu lalu sang mama mengomelinya sepanjang hari saat dia dalam perjalanan pulang ke mansionnya untuk mengambil barang-barang yang mungkin diperlukan istrinya. Dan sang mama ikut menumpang untuk diantarkan pulang sekalian.


Bram mengira sang mama benar-benar hanya pulang. Namun omelan sang mama tak berhenti sepanjang perjalanan mereka menuju mansion mama. Bahkan Bram tak punya celah untuk membela diri atau mengiyakan omelan sang mama untuk mengurangi waktunya di luar rumah mengurus pekerjaannya yang selalu pulang larut dan berangkat pagi-pagi sekali.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2