Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 17


__ADS_3

Bram terduduk lemas di kursi kerjanya. Sebenarnya dia masih merasakan sedikit tidak enak badan. Tubuh demamnya semalam masih belum pulih benar, meski rasa sakit kepalanya sudah sedikit berkurang. Dia terpaksa bangun untuk memperlihatkan dirinya sehat karena tak mau berlama-lama dengan Lia di apartemennya.


Bukannya tak mau, Bram takut tak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Dia akui Lia adalah gadis baik-baik yang terlalu lugu dan polos. Bisa saja dirinya memanfaatkan gadis itu karena melihat kebaikan hati Lia juga kepolosan dan keluguannya.


Bram menyentuh dadanya yang berdebar saat dirinya mengingat Lia. Dan momen yang terjadi pada keduanya semalam. Lia merawat dirinya yang sakit dengan tulus. Dia tak cemas pada dirinya jika Bram berani menyerangnya malam itu. Berkali-kali menolak sentuhan langsung Lia dan berkali-kali pula Lia menguji kesabarannya. Bram tak mau dianggap memanfaatkan gadis itu.


Hingga debaran jantungnya semalam membuatnya memantapkan hatinya untuk meminang Lia secepatnya untuk menjadi istrinya adalah keputusannya. Bagaimana pun juga usianya sudah tak muda lagi hampir kepala tiga. Dan Lia juga gadis baik-baik yang pantas dijadikan pendamping hidupnya untuk kehidupan rumah tangganya kelak.


Bram tersenyum-senyum sendiri di kursi kerjanya, mengingat kepolosan Lia yang membuat wajah gadis itu memerah tersipu malu.


"Dia... sangat lugu. Wajah cantiknya... eh cantik. " Bram tersenyum sendiri mendengar gumamamnya yang memuji gadis itu.


Sejak dulu Bram tak pernah memuji siapapun. Pada sahabatnya Lena yang secantik itu sekalipun, Bram tak memandang dia cantik atau tidak. Baginya cantik itu hatinya, kalau hatinya cantik, wajah pun akan terlihat cantik pula.


Suara dering pesan berbunyi di ponselnya. Bram meraih ponselnya, melihat nama gadis yang sedang dipikirkannya.


'Apa kau sudah sehat, hingga harus sudah mulai bekerja?' isi pesan Lia, membuat Bram tersenyum simpul.


**


Lia terkejut mendengar nada dering panggilan di ponselnya yang baru diletakkan setelah mengirim pesan pada Bram untuk menanyakan keadaannya.


"Eh, ke.. kenapa dia melakukan panggilan?" ucap Lia kebingungan, dia menatap layar ponselnya lama.


Antara ingin mengangkatnya atau tidak. Apa yang akan dibicarakannya? batin Lia. Aku bingung harus menjawab apa nanti? batin Lia lagi masih mondar-mandir kesana-kemari di dalam kamarnya.


"Tenang Lia, jawab dengan santai seperti biasanya." guman Lia.


Deringan ponsel pun mati, ketika Lia hendak mengangkatnya dan dia sungguh sangat menyesali hal itu.

__ADS_1


"Kok mati... bagaimana ini? Dia pasti berpikir aku aneh." guman Lia lagi, dia terus-menerus menatap layar ponselnya.


Berharap Bram menghubunginya lagi. Namun hingga sampai setengah jam, tampaknya Bram tak akan menghubunginya lagi. Lia menghela nafas berat.


"Ah, seharusnya aku tadi segera mengangkatnya." guman Lia merasa bersalah. Dia pun membaringkan tubuhnya di ranjang dengan malas dan tak bersemangat.


"Ayolah, hubungi aku lagi!" harap Lia. Namun sampai satu jam lebih tak ada tanda-tanda ponselnya akan mendapatkan panggilan kembali dari Bram.


Bunyi notifikasi berulang kali muncul membuat Lia waspada kalau-kalau yang menghubunginya Bram lagi. Namun hanya notifikasi tidak penting. Lia mendesah lelah dalam sesalnya. Entah sejak kapan dia mulai tertidur pulas di ranjangnya.


Oh, iya. Lia memilih untuk izin tidak masuk kerja karena sepertinya dia butuh tidur karena semalaman harus begadang karena kurang tidur dan waspada menunggui Bram di apartemennya yang sedang sakit.


***


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bram saat tamu yang dibilang sekretarisnya hingga dirinya membatalkan niatnya untuk menghubungi kembali calon istrinya.


"Selamat pagi tuan Bram. Saya Malik Hendrawan, menteri perhubungan." jawab pria paruh baya itu memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Perusahaannya saat ini sedang dipegang oleh putra sulungnya sedang dia lebih memilih terjun ke dunia politik. Bram menerima uluran tangan itu untuk berjabat tangan.


"Silahkan duduk! Ada keperluan apa gerangan datang ke firma hukum saya?" tanya Bram langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Ah, anda orangnya to the point ya, langsung pada intinya tanpa basa-basi dahulu." Bram tak menjawab, dia masih tetap menatap pria paruh baya di depannya ini dengan tatapan datar.


Dia hanya ingin segera menyelesaikan apa yang diinginkan pria dihadapannya ini.


***


"Ada kabar apa pa?" tanya Erika saat suaminya selesai mendapat panggilan telepon dari calon besannya.

__ADS_1


Arya terlihat senyum bahagia setelah mendengar kabar dari calon besannya itu.


"Akhirnya..." jawab Arya menjeda ucapannya melihat istrinya yang cemberut kesal suaminya sedang menggodanya.


"Ada apa pa, cepat katakan!" desak Erika bergelayut di lengan suaminya.


Mereka sedang duduk santai di sofa ruang keluarga. Keduanya memang sedang malas untuk keluar rumah. Semalam mereka mendengar putranya itu pingsan karena demam di apartemennya saat hendak berangkat kencan. Dan kedua pasang orang tua itu memang membiarkan pasangan yang dijodohkan itu berduaan di apartemen milik Bram.


Arya yang memutuskan membiarkan keduanya. Dia ingin melihat seberapa tulus Lia pada putranya. Dan seberapa besar usahanya untuk meluluhkan hati Bram yang dingin itu. Ternyata ujian calon menantunya berhasil. Dan Arya sangat bahagia mendengar kabar dari calon besannya dengan kedatangan Bram ke rumah orang tua Lia untuk melamar langsung pada orang tuanya.


Awalnya ayah Lia tak setuju, putrinya dibiarkan menginap di apartemen Bram malam itu. Dia takut keduanya kebablasan, sama-sama tidak akan bisa mengendalikan diri. Bagaimana pun juga keduanya sama-sama pria normal dan gadis yang normal. Kalau Bram sewaktu-waktu menyerang Lia yang polos itu, tentu saja pihak Lia dan orang tuanya yang rugi.


Namun Arya meyakinkan calon besannya untuk percaya padanya. Bram putranya bukan pria tidak tahu tata krama seperti itu. Bahkan putranya itu terlalu lugu juga polos. Bram juga pria yang bertanggung jawab, Arya berani menjamin, tidak akan ada apapun yang terjadi pada mereka malam itu.


Dan ucapan Arya terbukti benar, Bram yang sakit juga tak mungkin menyerang Lia dengan tubuh lemahnya bukan? Arya tersenyum-senyum sendiri di sofa. Membuat sang istri cemberut kesal.


"Istri cantikku kenapa cemberut?" rayu Arya meraih tubuh istrinya dalam dekapannya.


"Papa sih ngeselin, ditanya malah senyum-senyum sendiri." jawab Erika masih cemberut tak membalas dekapan suaminya.


Dia malah menyedekapkan tangannya di depan dadanya kesal.


"Maaf... ma... maaf... papa kan cinta mama." rayu Arya tersenyum melihat istrinya merajuk.


"Huh... untung cinta." bisik Erika membuat Arya tersenyum.


Cup


Erika menyentuh pipinya yang dikecup suaminya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2