
"Ini obatmu!" Ucap Terry saat masuk ke ruangan kerja Bram.
Bram menerimanya meski sebenarnya enggan, tapi dia tak mau membuat cemas istrinya.
"Kau yakin tak mengabari istrimu?" Tanya Terry menatap Bram cemas setelah melihatnya minum obat yang diresepkan dokternya tadi.
"Aku akan memberitahunya nanti saat pulang. Aku tak mau membuatnya cemas dengan mengabarinya lewat ponsel. Apalagi untuk tiga hari kedepan kita akan pulang atau tidak kita tidak tahu. Kita akan menyelidiki kasus ini setelah sidang perdana besok." Jelas Bram. Terry hanya mengangguk-angguk mengiyakan.
"Kau benar. Setidaknya kau sudah diperiksa dokter. Biar aku yang bekerja bagian kerasnya kau mengendalikan dari laptop dan ponsel saja." Putus Terry mulai membaca berkas.
"Tidak. Aku masih mampu." Tolak Bram, rencana awal mereka keduanya sama-sama menyelidiki secara mendetail baru kemudian bertemu di satu tempat janjian mereka.
"Tidak. Atau aku akan mengabari istrimu tentang keadaanmu?" Ancaman Terry mampu membuat Bram bungkam.
Akhirnya menyetujui apa yang direncanakan ulang Terry. Lagipula Bram memang lebih ahli bekerja di 'balik layar'.
***
"Persediaan hampir menipis, aku akan belanja di supermarket bawah apartemen saja." Guman Lia setelah melihat-lihat isi kulkasnya yang hampir kosong.
Lia mengganti pakaiannya yang lebih tertutup. Sebelum berangkat dia sempat menghubungi suaminya namun ponselnya masih tidak aktif. Lia menatap ponselnya ragu.
"Dia sudah menghubungi akan sibuk dan tidak pulang dalam dua atau tiga hari kedepan. Kurasa tak apa kalau aku belanja sebentar." Guman Lia meski perasaan cemas karena suaminya memutuskan menginap karena kasusnya terdengar tidak sepele.
***
"Kau dimana?" Tanya Terry dalam earphone yang disambungkan pada Bram.
"Masih di posisi."
"Aku akan mengirimkan sesuatu yang pasti akan membuatmu terkejut juga." Ucap Terry misterius.
Bram di balik earphone itu hanya mengernyit mendengar ucapan rekan sekaligus sahabatnya itu.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku sedang mengirimkannya." Bisik Terry sambil mengutak-atik laptop yang selalu dibawanya jika dia sedang menyelidiki kasus.
Bram terlihat membelalakkan matanya saat melihat ke layar laptopnya hasil yang dikirim sahabatnya. Dia menatap nanar layar laptop itu membaca dengan teliti dan seksama. Kadang-kadang dia bergumam tidak jelas dengan tatapan mata sendu sarat akan kekecewaan.
'Setega itu ternyata kau.' Batin Bram tak mengira dengan laporan yang dibacanya itu.
***
Hari sudah mulai menjelang malam, penyelidikan Terry berjalan dengan lancar. Dia juga mendapat banyak bukti yang kuat untuk melawan lawannya besok di pengadilan. Dan entah kenapa Terry merasa ada yang janggal dari semua pencariannya itu hari ini. Karena terlalu mudah dan dapat didapatkan dengan tanpa suatu rintangan yang sulit.
Seolah memang sudah disiapkan untuk ditemukannya entah oleh siapa. Namun Terry tak memikirkan hal itu terlalu berat. Dia pun harus segera kembali ke kantor untuk meneliti dan mengumpulkan satu persatu berkas-berkas tersebut.
***
Sidang hari pertama, Bram dan Terry sudah siap untuk berangkat ke pengadilan. Terry sebagai pengacara Bram yang mengajukan tuntutan kepada perusahaan XXX atas kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu. Keduanya memilih untuk memakai satu kendaraan karena luka yang didapatkan Bram kemarin belum mampu membuatnya untuk mengendarai mobil sendiri.
"Kau sudah siap?" Tanya Terry melihat Bram terlihat gelisah tidak tenang. Namun dia tetap diam tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Eh.. iya..." Jawab Bram ragu membuat Terry mengernyit.
"Sungguh aku tak apa. Entah kenapa perasaanku tak enak." Jawab Bram berkali-kali menghela nafasnya dan membuang nafas berat.
"Apa kau perlu menemui dokterku dulu?" Usul Terry.
"Tidak. Kita langsung ke pengadilan saja. Aku harus segera menyelesaikan kasus ini. Dan..." Ucapan Bram tiba-tiba berhenti saat mengingat istrinya yang ditinggalkannya di apartemen.
"Ada apa?" Tanya Terry melihat Bram tiba-tiba terdiam.
"Istriku? Aku belum menghubunginya setelah kecelakaan kemarin." Terry menghembuskan nafas lega karena itulah yang ternyata dikeluhkan sahabatnya itu.
"Kau hubungi saja dulu, agar kau lebih tenang." Saran Terry mulai mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang dan tenang.
Bram mencari kontak istrinya di ponselnya, terlihat panggilan tak terjawab beberapa kali di ponselnya.
"Oh, ****..." Umpat Bram menyesal.
__ADS_1
Siang kemarin istrinya menghubunginya sebanyak tiga kali namun saat itu... Bram mencoba mengingat kemarin dia setelah diobati lukanya langsung bergegas mengurus penyelidikannya dengan Terry. Dan men silent ponselnya.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Terry mendengar umpatan Bram.
"Istriku menghubungiku siang kemarin sebanyak tiga kali." Jawab Bram langsung menekan nomor ponsel istrinya dan meletakkan ponselnya di telinganya menunggu panggilan itu diangkat di seberang.
Namun sudah lebih dari tiga kali pula dia menghubungi namun ponsel istrinya tidak aktif alias mati. Tumben? Batin Bram mengernyit heran menatap ponselnya lama. Dia bertanya-tanya kemana istrinya.
Dan ponselnya juga tidak aktif. Biasanya sesibuk apapun istrinya tidak pernah mematikan ponselnya. Kalau dia tidak bisa menerima panggilan setidaknya ponselnya dalam keadaan aktif. Namun ponselnya kini tidak aktif.
"Istriku ponselnya...mati." Ucap Bram linglung menatap ponselnya penuh tanda tanya seolah bertanya pada ponsel tersebut kemana istrinya.
Namun tentu saja ponsel itu tetap terdiam membisu karena dirinya adalah benda mati yang tak mungkin mampu menjawab tatapan mata Bram.
"Ada apa?" Tanya Terry melihat sahabatnya terbengong menatap ponselnya.
Terry bergantian menatap Bram dan ponselnya.
"Istriku tak menjawab panggilanku?" Ucap Bram bertanya entah pada siapa.
"Ayolah, mungkin dia sedang sibuk. Atau sedang pulang ke rumah orang tuanya karena kau tak pulang ke rumah." Hibur Terry sambil menepuk pundak sahabatnya menenangkan tak lupa tersenyum agar Bram tidak terlalu cemas.
"Dia selalu memberi tahuku jika ingin berkunjung ke rumah orang tuanya." Jawab Bram.
"Mungkin siang kemarin saat kau dihubungi itu." Ucap Terry membuat Bram tampak berpikir dan mencernanya.
"Mungkinkah?"
"Pasti begitu. Dan sekarang di sedang sibuk dengan ibunya. Kau tahu kan kalau wanita sudah bertemu. Pasti lupa waktu, dan ponselnya mungkin juga mati lupa tak diisi daya." Hibur Terry masih fokus dengan kemudinya.
"Kuharap kau benar." Ucap Bram menghela nafas panjang.
.
.
__ADS_1
TBC