
"Kalau istrimu mau selamat, batalkan tuntutanmu!"
Isi pesan teks yang didapat Bram saat persidangan kurang dari setengah jam lagi. Jantung Bram berdetak kencang saat melihat foto istrinya dengan tangan dan kaki terikat di belakang tubuhnya yang terbaring di sebuah ranjang. Bram tak kepikiran sampai disitu. Dia sekarang mempunyai orang yang penting untuk dilindunginya setelah dirinya sendiri.
Kalau orang tuanya, sudah memiliki pengawal tersendiri. Itulah sebabnya Bram tak cemas kalau-kalau ada yang mengancamnya lewat orang tuanya. Tapi istri, istrinya yang baru beberapa waktu sah menjadi istrinya tak diperhitungkan sama sekali. Pihak musuh sudah dengan tega mencelakainya dengan menyalahi mobilnya namun gagal.
Dan Bram tak memperhitungkan kalau mereka akan menculik istrinya dan dijadikan sandra. Bram langsung menghubungi nomer telpon yang mengiriminya foto istrinya. Namun nomer itu sudah tidak aktif lagi. Bram berlari keluar dari ruang sidang dengan pincang karena kakinya yang belum benar-benar sembuh.
"Bram, mau kemana kau?" Seru Terry melihat Bram meninggalkannya yang sedang menyusun berkas persidangan.
Bram tak menjawab hanya melambaikan tangannya sambil berlalu dari ruang persidangan. Terry menoleh pada asisten Bram yang duduk di belakangnya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Terry yang hanya dijawab dengan angkatan bahu asisten itu.
"Dia melihat ponselnya dengan terkejut dan langsung berlari keluar saat melakukan panggilan tidak berhasil. Begitulah kira-kira yang dapat kucerna." Jawab asisten itu membuat Terry semakin mengernyit heran.
"Kau disini sebentar!" Titah Terry pada asisten tadi dan keluar mencari sosok Bram yang tidak ditemukannya di manapun.
***
"Jangan sentuh dia!" Ucap Bram begitu mendapat panggilan dari nomer privat yang menghubunginya.
"Itu tergantung pada dirimu. Hahaha...." Tawa di seberang menggelegar terdengar di telinga Bram.
Bram mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarahnya. Dia merasa bersalah karena melibatkan istrinya. Dia sungguh tak mengira istrinya akan dijadikan sasaran untuk menyerangnya setelah menyerang dirinya gagal.
__ADS_1
"Aku sudah meninggalkan persidangan. Jadi? Kemana aku harus pergi?" Tanya Bram mengendalikan amarahnya agar musuhnya tidak melakukan sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Kau pergi bukan berarti persidangan berakhir. Kulihat rekanmu masih di tempat persidangan." Ucap seseorang disana yang menggunakan alat pengubah suara untuk menyamarkan dirinya.
"Baik. Aku turuti keinginanmu. Jangan kau berani menyentuhnya jika ingin nyawamu masih berada bersamamu!" Jawab Bram sarat akan ancaman.
"Huh...aku takut... Hahaha..." Gelak tawa terdengar di seberang dan panggilan pun langsung ditutup.
"Bagaimana?" Tanya Bram menyalakan ponsel satunya lagi yang ternyata sejak tadi sudah terhubung dan mendengar serta menyadap percakapan Bram melalui ponsel tadi.
"Sedikit lagi! Yup ... dapat... lokasinya adalah hotel xxx no kamar 2251." Jawab Budi yaitu ketua tim keamanan Alensio grup.
"Bawa anak buahmu dan bersiap di tempat!" Titah Bram yang diiyakan Budi dan segera bergegas sesuai rencana Bram.
"Maafkan aku sayang, aku...aku ..." Guman Bram merasa bersalah karena istrinya menjadi sasaran penculikan lawannya di persidangan.
***
Lia berjalan menuju supermarket di bawah apartemen suaminya. Setelah bergantian pakaian casual membawa dompet serta ponselnya. Lia menuju ke bawah untuk belanja persediaan kebutuhan sehari-hari. Lia berjalan dengan santai tanpa memperdulikan orang-orang yang ikut masuk ke dalam lift yang ditumpanginya.
Dua orang pria bermasker hitam dan bertopi hitam yang tampak mencurigakan namun hanya ditanggapi dengan Lia biasa saja. Mungkin seseorang yang tinggal di unit apartemen di gedung yang sama dengan unit milik suaminya.
Ting
Suara lift terbuka di lantai tiga, seorang ibu-ibu masuk ke dalam bersama anaknya yang mungkin masih berusia tiga tahun yang ada dalam gendongannya. Lia sempat mengangguk tersenyum menyapa ibu paruh baya tersebut. Dan hingga di lantai bawah mereka semua turun terkecuali dua pria bermasker tadi. Lia keluar bersama-sama dengan ibu paruh baya tadi yang diyakini tetangga bawah apartemennya.
__ADS_1
"Mau kemana neng?" Tanya ibu paruh baya tadi.
"Mau belanja di sana Bu." Jawab Lia menunjuk supermarket di lantai tersebut.
"Wah, aku juga. Mari sama-sama!" Ajak ibu paruh baya tadi.
"Iya." Jawab Lia singkat dan mereka pun berjalan bersisian sambil mengobrol dengan begitu akrab, seolah sudah saling mengenal lama.
Lia yang memang jarang bergaul hanya menanggapi iya dan tidak serta senyuman meski dirinya tak mengerti apa yang dibicarakan ibu itu.
Hingga tiba di supermarket mereka pun berpisah. Ibu paruh baya tadi menuju kebutuhan anak-anak, sedang Lia menuju sayur-sayuran dan daging. Lia memilih bahan-bahan makanan serta kebutuhan sehari-hari.
Hingga sudah lebih dari tiga jam Lia selesai dan mengantri di kasir yang kurang dua orang itu.
Lia membawa belanjaannya yang mendesak dengan kedua tangannya. Belanjaannya yang lain akan diantar nanti ke unit apartemen suaminya. Lia berjalan tanpa kesulitan karena barang belanjaan yang dibawanya barang yang tidak terlalu berat. Masih beberapa langkah lagi menuju lift.
"Hupmmm...." Tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang dan belanjaan yang dibawanya spontan terjatuh berhamburan dan pandangan matanya tiba-tiba gelap.
Lia tak sadarkan diri.
Flashback off
.
.
__ADS_1
TBC