
Setahun setelah kematian istri dan anaknya. Bram menjadi pribadi yang dingin dan tertutup. Bahkan dia jarang sekali tertawa ataupun hanya tersenyum. Hatinya menjadi dingin dan mati. Bahkan dia tak sudi walau hanya sekedar berbasa-basi. Bram lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus pekerjaannya tanpa mau bergaul dengan siapapun. Bahkan dengan sahabatnya Bram tidak seantusias dulu. Bahkan ini sudah lebih dari setahun.
Erika mencoba mengenalkan dengan wanita lain untuk dijodohkan dengan putranya itu namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Bram. Bahkan Bram memilih menghindari sang mama jika mamanya berusaha untuk mencari pengganti istrinya. Pernah Bram melarikan diri dari semua orang karena terus menerus berulang kali Erika mengenalkan dengan beberapa gadis dan wanita. Namun Bram langsung menghilang selama sebulan penuh tanpa menemui atau memberi kabar pada kedua orang tuanya membuat mamanya kelimpungan.
Hingga akhirnya dia merasa bersalah dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Itupun juga karena bujukan suaminya yang tahu dimana keberadaan putranya dan merahasiakan pada istrinya karena permintaan putranya itu.
"Seharusnya kamu tahu bagaimana watak putramu itu." Nasehat Arya malam itu.
"Hiks...hiks...aku menyesal pa, aku hanya ingin melihat dia move on dari mantan istrinya dan menikah lagi. Dia berhak bahagia. Bagaimana pun juga hampir setahun putra kita seperti itu." Curhat Erika dalam pelukan suaminya.
"Ma, mereka itu suami istri bukan sepasang kekasih yang pacaran apalagi ada anak diantara mereka. Wajar Bram masih belum bisa melupakannya. Apalagi dia cinta pertama putramu. Pasti sangat sulit sekali. Bagaimanapun juga Lia adalah wanita pertama di dalam hidup Bram yang tak begitu mengenal artinya mencintai dan dicintai oleh seorang lawan jenis." Nasehat Arya lagi panjang lebar semakin membuat Erika menangis. Dan Arya hanya mengelus punggung istrinya memberi ketenangan.
"Tapi sekarang dimana dia pa, mama janji kalau dia pulang, mama tak akan melakukannya lagi. Hiks...hiks..."
"Iya... iya... kita coba bicara pada asisten papa untuk mencarinya lebih giat lagi." Jawab Arya masih mendekap tubuh istrinya yang terisak. Arya tersenyum melihatnya, dia juga merasa bersalah pada istrinya karena membohonginya tentang keberadaan putranya.
***
"Tuan." Sapa asisten Arya saat masuk ke ruang kerja Bram di sebuah kota kecil, cabang perusahaan keluarganya.
"Ya?" Jawab Bram tanpa menatap pria yang sudah dikenali suaranya itu. Dia terus sibuk mengerjakan tugasnya meski tidak sebanyak pekerjaannya di perusahaan pusat.
Ya, selama sebulan itu Arya memintanya untuk mengurus perusahaan kecil itu sambil menghindari sang mama karena perjodohannya. Bram menyetujuinya dengan syarat untuk merahasiakan keberadaannya pada sang mama. Arya pun menyetujuinya. Lebih baik begitu dari pada dia tidak tahu dimana keberadaan putranya.
__ADS_1
Bram sendiri menyibukkan dengan pekerjaannya dengan sesekali dia ikut memantau perkembangan di lapangan dan berbaur dengan orang-orang yang berada di kota kecil tersebut. Berbeda dengan di ibukota, di kota kecil itu banyak orang-orang yang ramah meski belum mengenal lama. Bahkan pekerjaan di perusahaan cabang itu terhitung lancar jaya tanpa ada masalah yang berarti semakin membuat Bram tersenyum puas dengan pekerjaan orang-orang disitu.
"Tuan besar meminta anda untuk kembali ke kantor pusat." Ucap asisten itu. Bram langsung mendongak menatap asisten itu yang masih bersikap tenang.
"Aku belum mau pulang." Jawab Bram kembali fokus pada pekerjaannya. Hidup di sini membuat Bram sedikit melupakan kesedihannya tentang istrinya.
"Tapi tuan ..."
"Bilang pada pak Presdir, masih pekerjaan yang harus kuselesaikan disini." Potong Bram melambaikan tangannya mengusir asisten papanya itu.
"Baik tuan." Jawab asisten itu dengan terpaksa, kalau Bram sudah bersikap seperti itu dia tidak mau dibantah atau dia akan terkena imbasnya.
"Hmm." Bram merapikan berkas-berkas pekerjaan yang sudah selesai itu menatanya dan menghubungi sekretarisnya untuk meminta pekerjaan lagi.
"Ya pa." Jawab Bram setelah mengucapkan salam.
"Kau bilang tak mau pulang dulu?" Tanya Arya.
"Aku masih ingin disini." Jawab Bram singkat terdengar ogah-ogahan.
"Mama mu sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi."
"Aku tahu."
__ADS_1
"Huff.. lalu, kenapa kau tak mau kembali? Mamamu merasa bersalah dan sedih tak mendengar kabarmu." Jawab Arya lemah.
"Aku akan menghubunginya nanti. Papa jangan mengatakan dulu dimana aku."
"Baiklah. Kuharap kau baik-baik saja."
"Aku baik pa."
Bram menutup ponselnya. Dia menggulir nama kontak di ponselnya terhenti di nomer ponsel mamanya. Namun ragu untuk menghubunginya. Dia ingin tenang dulu sebelum menghubungi sang mama yang akan heboh dan memaksanya untuk memberi tahukan keberadaannya. Dan Bram lemah pada mamanya. Dan dia pasti tak akan mampu menolak tatapan sedih mamanya padanya.
"Aku akan mengunjungi lapangan." Titah Bram melihat sekretarisnya gelisah sejak tadi diacuhkan Bram karena panggilan sang papa. Dan dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi mamanya.
"Ba..baik tuan." Sekretaris itu mengikuti langkah Bram namun langsung urung saat Bram berbalik menatapnya.
"Aku ingin sendiri, kau lanjutkan pekerjaanmu disini!" Titah Bram membuat sekretaris itu melongo tak percaya.
"Ya?"
Bram meninggalkan sekretarisnya yang terdiam menatap kepergiannya dengan wajah penuh tanda tanya. Bukan karena kagum, tidak dia sudah bersuami. Tapi tuannya itu tersenyum padanya senyum yang baru ditunjukkan setelah lama berada di perusahaan ini. Dan itu membuatnya tak percaya, karena setahunya tuannya itu dingin dan datar. Tak ada manis-manisnya sama sekali.
.
.
__ADS_1
TBC