Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 34


__ADS_3

"Ukh .." Rintihan dari mulut Bram membuat Lia terbangun dari tidurnya.


"Apakah sakit? Bagian mana yang sakit?" Tanya Lia langsung tersentak bangun dari tidurnya di sisi Bram dengan duduk di kursi samping ranjang.


Bram hanya menggeleng, terlihat menahan sakit.


"Aku panggil dokter!"


Grep...


Bram meraih pergelangan tangan istrinya seraya menggeleng menandakan menolak untuk diperiksa.


"Maaf." Bisik Bram lirih.


"Untuk?" Tanya Lia mengernyit bingung.


"Sudah beberapa hari tak mengabarimu. Maaf." Lia terdiam.


"Tak apa. Kau pasti sibuk." Jawab Lia membesarkan hati suaminya.


"Kau... tak menghubungi keluarga besar kan?" Tanya Bram membuat Lia tersentak.


"Ah, benar. Aku belum mengabari mama dan ibu." Seru Lia tanpa sadar sambil menutup mulutnya kaget.


"A... aku akan menghubungi mereka." Bram lagi-lagi menggeleng.


"Baguslah kau tidak mengabari mereka." Jawab Bram tersenyum.


"Kenapa? Mereka pasti mencemaskan kita." Tanya Lia keheranan.


"Mama pasti akan heboh."


"Ah, benar. Beberapa hari lalu aku sempat bertanya pada mama. Tapi, mama malah merutuki mas Bram. Ehm..." Bram tertawa namun langsung dihentikan karena merasa nyeri di sekujur tubuhnya.


"Apakah sakit sekali?" Tanya Lia cemas.


"Lebih baik. Pengamanan mobilku sangat lengkap." Jawab Bram sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih, sudah baik-baik saja." Tanpa sadar air mata Lia menetes yang segera diusapnya.


"Maaf, membuatmu khawatir." Sela Bram membuat Lia semakin menangis kencang dengan mendekap erat lengan Bram yang tidak diinfus.


"Harusnya kau hubungi aku, harusnya kau selalu meneleponku!" Seru Lia di sela tangisannya.


"Maaf .. maaf... " Jawab Bram sambil mengelus rambut istrinya. Lia sedikit tenang dan sudah tak menangis lagi.


Tok tok tok


Cklek


"Selamat pagi. Maaf pak, waktunya diperiksa. Sudah sadar ya?" Sapa dokter yang menangani Bram diikuti beberapa perawat.


Lia langsung mundur beberapa langkah ke belakang namun segera dicegah Bram dan berharap istrinya tetapi m di dekatnya. Dokter dan perawat hanya tersenyum simpul melihat keposesifan pasiennya.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Lia begitu dokter sudah selesai memeriksa keadaan Bram.


"Syukurlah... Tubuhnya sudah lebih baik. Hanya butuh sedikit lama untuk istirahat. Hanya luka luar yang agak lama pemulihannya. Mungkin butuh beberapa hari untuk dirawat di sini." Jelas dokter itu ramah.


"Terima kasih dokter." Jawab Lia dengan penuh syukur.


"Tapi dokter bilang mas harus banyak istirahat." Jawab Lia masih tak terima.


"Aku tak mau lama-lama di rumah sakit, sayang." Wajah Lia merona mendengar suaminya memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Mas..."


"Kenapa? Aku sudah lama melewatkan malam pertamaku. Apa kau tak kasihan padaku?" Tanya Bram membuat Lia semakin merona wajahnya.


"I..itu... Biarkan mas sembuh dulu." Jawab Lia malu-malu dengan wajah memerah.


"Kau janji?" Goda Bram tersenyum menatap istrinya yang memalingkan wajahnya karena malu.


Lia mengangguk malu-malu masih belum berani menatap suaminya.


**

__ADS_1


"Mas, ini mama menghubungiku? Apa yang harus kukatakan?" Lia menunjukkan layar ponselnya tertera sang mama di layar itu.


"Berikan!" Bram meraih ponsel istrinya dan menjawab panggilan itu.


"Iya ma."


"Bram...ini benar Bram?" Tanya Erika antusias.


Bram langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya karena mamanya mengomelinya panjang lebar.


"Iya ma, kami sedang berdua. Tak bisakah mama tidak menggangu kami."


"Apa maksudmu mengganggu? Kau bilang mama mengganggu!" Teriak Erika tak terima. Erika terdengar mencak-mencak di seberang sana.


Dan lagi-lagi membuat Bram menjauhkan ponselnya menunggu mamanya ngomel-ngomel tak jelas.


"Sudah ma, omelannya?"


"Bram."


"Kami mau buat anak. Sudah belum mama mengganggu kami?" Erika langsung terdiam di seberang.


"Oh begitu ya. Lanjutkan saja!" Erika terdengar tertawa, membuat Bram menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya mendengar perubahan sikap mamanya.


Lia terdiam dengan wajah kembali merona memerah dengan ucapan vulgar suaminya dengan mama mertuanya. Awalnya dia tersenyum melihat reaksi suaminya saat menerima telepon dari mama.


"Kalau ibu menghubungimu. Katakan saja kita bulan madu lagi sambil menemaniku bekerja." Titah Bram sambil menyodorkan ponselnya istrinya yang diterima Lia dengan muka memerah yang menggemaskan.


Bram tersenyum lucu melihat tingkah istrinya yang malu-malu.


"A... apa maksudmu mas?"


"Aku tak mau membuat mereka cemas. Setelah kasusku selesai, aku akan menjelaskan pada mereka."


"Oh begitu kah." Lia mengangguk-angguk mengerti.


Dan ponselnya tiba-tiba berdering kembali. Sesuai dugaan Bram, sang ibu mertuanya menghubungi istrinya.

__ADS_1


"Katakan seperti yang kukatakan tadi!" Lia mengangguk sambil mengangkat panggilan ponselnya.


TBC


__ADS_2