
Wisuda pun dilaksanakan seminggu setelah pernikahan itu. Bram tak hanya wisuda dengan jurusan fakultas manajemen bisnis, dia juga di wisuda dengan jurusan fakultas hukum. Dan tentu saja itu dilakukan dengan diam-diam oleh Bram. Selain karena orang tuanya tak tahu, hal itu adalah cita-cita Bram setelah masuk sekolah menengah atas.
Kini Bram sudah menjadi sarjana ekonomi sekaligus sarjana hukum. Dia berencana membuka firma hukumnya dengan modal uang yang dikumpulkan dari uang sakunya. Selain itu Bram sudah beberapa tahun ini mencoba bermain saham dan hasilnya cukup memuaskan. Sehingga berapapun uang yang dibutuhkan, Bram tak kesulitan sama sekali. Apalagi harus merengek pada orang tuanya.
Hari itu, Bram pulang dengan menggunakan mobilnya. Tanpa sengaja dia melihat seorang wanita paruh baya sedang diusir dari sebuah rumah dengan sangat tidak manusiawi.
Apalagi saat Bram turun karena melihat hal ketidakadilan terjadi di depan matanya Bram langsung masuk dalam kerumunan orang-orang itu.
"Permisi.." ucap Bram melewati beberapa orang yang ikut menyaksikan hal itu.
"Ada apa ya pak?" tanya Bram pada seseorang pria muda di dekatnya sambil menyaksikan wanita paruh baya itu diumpat sedemikian rupa oleh sepasang pasutri yang masih muda dengan begitu kasarnya.
Bram ingin sekali mendekat, tapi dia ingin tahu seluk beluk permasalahannya.
"Oh, ibu tua itu diusir oleh pemilik rumah karena menunggak bayar uang sewa dua bulan." jawab pemuda itu. Bram manggut-manggut.
"Harusnya kan memberi waktu seminggu lagi, apalagi putranya satu-satunya baru kemarin meninggal. Tega sekali mereka." ucap pemuda itu lagi.
"Putra tunggalnya meninggal?" guman Bram.
"Iya, mereka takut ibu itu tidak mampu membayar tunggakan, sehingga langsung diusir oleh pemilik rumah." Bram manggut-manggut kasihan.
Dengan penuh keyakinan Bram mendekati ibu paruh baya itu.
__ADS_1
"Maaf. Ada apa ini?" tanya Bram sopan dan ramah.
"Siapa kau, ikut campur urusan kami!" seru sang pria galak menatap Bram nyalang.
Bram mengulurkan kartu namanya sebagai pengacara pada sepasang pasutri itu.
"Bramantyo Pamungkas S.H." kedua pasutri itu saling menatap dan kembali beralih menatap Bram meski sedikit takut.
Sebenarnya wanita paruh baya itu mendapatkan uang jasa Raharja atas kecelakaan putranya namun kedua pasutri itu yang menerima dan wanita paruh baya itu tak tahu apapun. Dia hanya bisa menangisi kematian putranya dan karena diusir dari kontrakan yang sudah dua bulan ini belum dibayarnya.
"A.. apa maksudmu dengan menunjukkan kartu namamu?" tanya pria pemilik rumah itu takut-takut.
Bram yang sudah bertanya pada semua sumber yang mungkin bisa dimintai keterangan tentang wanita paruh baya itu dengan yakin menjelaskan. Akan membantu wanita itu mengurus jasa Raharja guna membayar tunggakan sewa rumah.
"Kau siapanya? A.. apa maksudmu?" tanya pemilik rumah itu gugup dan gelagapan.
Semua orang yang ada disitu mulai berbisik membicarakan pasutri itu.
"Kita selesaikan setelah saya mengumpulkan bukti-bukti dan uang jasa Raharja untuk ibu ini." jawab Bram.
Pasutri itu segera menarik tangan Bram masing-masing di sebelah kanan dan kiri.
"Maaf tuan sebelumnya. Berapa yang anda butuhkan. Saya akan memberikan berapapun yang anda mau." bujuk sang pria.
__ADS_1
"I..iya benar tuan." ucap sang wanita.
"Apa kalian berniat menyuap saya?" ucap Bram dengan tampang tak suka.
"Bu...bukan seperti itu tuan... maksud ka...kami..." ucap si pria gelagapan.
"Kita bertemu di kantor polisi saja."
"Jangan!" si wanita tanpa sadar berteriak membuat Bram semakin mengernyit tak suka." Ah maaf, saya keceplosan. Kumohon... ayolah... jangan seperti ini tuan." bujuk si pria.
"Ayo nyonya... Mari ikut saya!" Bram meraih ibu paruh baya yang diusir tadi.
"Tuan. Baik... baiklah..saya akan memberikan lebih banyak waktu lagi untuk membayar tunggakan sewa rumah. Seming...tidak dua minggu...okay?" bujuk si suami meski dengan sodokan perut dari istrinya tak terima.
Namun si suami tampaknya tidak menghiraukan ucapan si istri yang malah cemberut tak suka.
"Benarkah tuan? Terima kasih tuan... terima kasih.." bukan Bram yang menjawab tapi wanita paruh baya itu yang menjawab sambil membungkuk kepalanya berterima kasih.
"Terima kasih nak, terima kasih.." ibu paruh baya itu ganti membungkukkan kepalanya pada Bram yang tersenyum senang.
Bram dan beberapa warga pun membantu ibu itu memasukkan kembali barang-barangnya yang tadi dibuat oleh pasutri itu ke dalam rumah setelah pasutri itu pergi dengan malu meninggalkan rumah itu.
Setelah dirasa urusannya selesai Bram meninggalkan rumah itu tak lupa dia meninggalkan kartu namanya untuk ibu paruh baya itu. Jika terjadi hal seperti ini lagi. Ibu paruh baya itu hanya mengangguk-angguk mengiyakan.
__ADS_1
TBC