Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 53


__ADS_3

Bram masih tersenyum saat perjalanan menuju mansion orang tuanya. Lia hanya cemberut mendengar senyuman mengejek suaminya. Sudah sejak mereka selesai makan siang tadi suaminya terus menerus tersenyum ejekan di wajahnya. Dia digoda habis-habisan oleh suaminya.


"Maaf sayang, sungguh aku minta maaf. Tapi sungguh, kau sudah bagaikan candu untukku. Lihatlah!" Ucap Bram setelah mereka sampai di halaman mansion orang tua Bram. Tak lupa pengawal juga mengikuti mereka di belakang dengan mobil sendiri.


"Mas, tidur di luar nanti malam!" Ancam Lia kesal karena nada minta maaf suaminya masih tersisa menggodanya.


"Sayang, maaf... sungguh aku minta maaf. Jangan seperti itu! Kau tahu aku tidak bisa tidurnya tanpa memelukmu!" Pinta Bram memelas, dia kaget melihat istrinya yang tiba-tiba berani mengancamnya meski itu hanya bercanda. Tapi dia sungguh tak mah tidur tanpa memeluk istrinya yang ada di hadapannya.


"Huh, menginap di luar kota tanpaku mas bisa tuh!" Sindir Lia telak meninggalkan Bram di luar, dia langsung masuk tanpa menunggu suaminya. Dia masih kesal karena suaminya terus-terusan menggodanya.


"Kalian sudah datang nak?" Ucap Erika melihat menantunya datang langsung memeluknya. Tak lupa Lia mengecup punggung tangan mertuanya.


"Sayang, jangan lakukan itu ya! Tarik ucapanmu kembali!" Seru Bram mengejar istrinya masuk ke dalam mansion orang tuanya.


Erika dan Arya yang baru sampai di ruang keluarga hanya mengernyit melihat wajah putranya terlihat frustasi. Erika dan Arya hanya saling pandang menatap sepasang suami istri tersebut. Dan kemudian mengedikkan kedua bahunya tak tahu.


Lia tak memperdulikan rengekan suaminya malah menghampiri papa mertuanya ganti menyalami dan mengecup punggung tangan papa mertuanya juga. Dia sebenarnya ingin tertawa mendengar suara frustasi suaminya. Namun dia ingin mengerjai suaminya dulu.


"Ma, tolong aku ma!" Pinta Bram memelas mencari pembelaan dari sang mama.


"Memang apa salahmu sampai kau minta tolong pada mama?" Bukan jawaban tapi Erika malah balik bertanya melihat putranya sungguh sangat frustasi dan itu sangat lucu serta menjadikan hiburan tersendiri bagi Erika karena selama ini putranya itu hanya bersikap datar dan dingin.


"Ah, i..itu... tidak jadi." Jawab Bram sambil menyalami kedua orang tuanya bergantian seperti yang dilakukan Lia istrinya.


"Mama semakin curiga. Pasti kesalahanmu sangat besar, hingga istrimu menghukumu sampai membuatmu sefrustasi itu." Komentar Erika memicing menatap putranya. Mereka pun duduk di sofa ruang keluarga.


"Sungguh tak ada apa-apa." Elak Bram mendekap pinggang istrinya posesif.

__ADS_1


Lia hanya tersenyum melihat suaminya salah tingkah di hadapan orang tuanya. Dia tak menolak suaminya yang mendekap pinggangnya meski dia malu karena ada kedua mertuanya. Namun sepertinya percuma menolak karena suaminya pasti akan tetap memaksa.


***


Brak


Paman Iwan benar-benar murka, apalagi kini para pemegang saham sudah satu persatu menarik investasinya. Iwan hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah murka pamannya. Karena janjinya untuk memohon pada Bram masih belum bisa dilakukan karena dia belum bertemu Bram.


Dia tetap datang ke perusahaan Bram setelah bertemu dengan Arya. Namun lagi-lagi resepsionis mengatakan kalau Bram sedang tidak ada di tempat. Dia belum kembali dari perjalanan bisnisnya.


"Ini semua gara-gara kau, kalau saja kau ubah sikap burukmu itu. Perusahaanku baik-baik saja. Tapi apa sekarang, kau sudah menghancurkan usahaku selama bertahun-tahun yang mulai kurintis dari nol. Dan semudah itu kau menjatuhkannya." Bentak pamannya membuat Iwan hanya terdiam tak bisa menjawab apapun.


"Ah, sial. Apa yang harus kulakukan? Semuanya hancur..." Teriak paman Iwan frustasi.


Sementara di luar ruangan direktur, semua orang kalang kabut dengan menurunkan perusahaan karena para investor menarik investasi mereka. Semua orang menerima panggilan telepon dari berbagai sumber mulai dari ponsel pribadi mereka, telepon kantor juga ponsel perusahaan. Para pemegang saham menanyakan bagaimana kelanjutan dengan penarikan investasi mereka yang terkesan diulur-ulur.


"Ya, halo?" Sapa dari ponsel Lia yang diangkat sebagai sendiri olehnya. Mama mertuanya entah sedang mengurus sesuatu. Suami dan papa mertuanya sedang bicara di ruang kerja papanya. Dia hanya diminta menunggu di ruang keluarga oleh mama mertuanya sambil memainkan ponselnya.


"Lia? Syukurlah, nomermu belum ganti!" Jawab Adi lega mendengar jawaban panggilan ponselnya.


"Adi? Ada apa?" Tanya Lia mengernyit heran mendengar ucapan Adi.


"Bisa kita bertemu? Ada yang mau aku bicarakan? Please!" Pinta Adi memelas dari nada suaranya. Lia terdiam masih belum menjawab permintaan Adi.


"Entahlah, aku mungkin harus minta izin suamiku." Jawab Lia setelah lama terdiam.


"Suamimu sudah pulang?" Adi malah tersentak senang mendengar orang yang dinantikan akhirnya pulang.

__ADS_1


"Iya, semalam baru pulang. Ada urusan apa dengan suamiku?" Tanya Lia semakin mengernyit heran mendengar nada sumringah mendengar suaminya pulang. Aneh? Batin Lia.


"Bisa aku bicara dengan suamimu?" Pinta Adi memelas dari nada suaranya.


"Dia sedang sibuk membahas sesuatu dengan papa mertuaku. Mungkin sebentar lagi." Jawab Lia.


"Ah, baiklah. Katakan padanya aku ingin bertemu dengannya?" Pinta Adi tersenyum lega meski belum ada kepastian akan Bram benar-benar mengiyakan pertemuan mereka.


"Jawab dulu pertanyaanku Adi! Ada apa?" Tanya Lia tegas.


"... sebenarnya.." Adi menceritakan seluruh kejadian yang terjadi dengan perusahaan tempat dulunya Lia bekerja sedang sekacau apa. Dan juga menceritakan kekurangajaran Iwan pada Lia yang hanya diangguk-angguki oleh Lia di seberang telepon.


Cerita berlanjut Iwan yang setiap hari datang ke perusahaan mertuanya untuk bertemu Bram yang selalu tidak ada di tempat dengan alasan perjalanan bisnis. Hingga pertemuannya dengan Arya Presdir perusahaan.


"Jadi, bisakah kami meminta bertemu dengan suamimu dan menjelaskan maksud kami dan minta maaf dengan benar?" Pinta Adi memelas.


"Aku akan coba bicara pada suamiku."


"Terima kasih Lia, terima kasih. Hidup pekerjaan kami tergantung pada dirimu. Terima kasih sekali lagi." Lia menutup panggilannya bersamaan dengan suami dan papa mertuanya muncul dari ruang kerja.


Mereka pun memutuskan untuk makan malam di mansion orang tuanya sebelum pamit pulang ke apartemennya.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2