
Bram termenung sendirian di ruang kerja mansionnya. Dirinya tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya memikirkan rasa bersalahnya karena telah membentak istrinya. Dia tak berniat untuk membentak namun suaranya yang keluar sangat keras dan spontan membuat Bram seolah sedang membentak istrinya.
Dia ingin segera menyelesaikan kesalah pahaman ini namun sang mama masih sedang bersama istrinya saat ini. Bram tak mau sang mama salah paham pada hubungan mereka. Dan bisa dipastikan mamanya akan menyalahkannya jika tahu hal ini.
Bram terlihat gelisah di tempat duduknya. Berkas-berkas yang hendak di telitinya tak masuk sampai ke otaknya meski dia membacanya sekencang apapun. Karena pikirannya sedang tidak ditempatnya. Bram memang tipe orang yang tak bisa tenang sebelum menyelesaikan masalahnya. Apalagi jika masalah itu berhubungan dengan urusan pribadi keluarganya.
Dia tak mau masalah ini berlarut-larut sehingga akan berdampak buruk di kemudian hari. Namun sampai kapan dia harus menunggu sang mama pulang. Tak mungkinkan dia mengusir mamanya? Bukannya sang mama akan menerima dengan lapang malah akan semakin curiga.
"Ya, halo!" Sapa Bram dalam panggilan ponselnya yang tiba-tiba berdering.
"Kau dimana Bram?" Tanya seseorang di seberang.
"Di mansion pa, aku sudah bilang untuk cuti kan?" Jawab Bram sedikit kesal. Entah kenapa kegelisahannya membuatnya tanpa sadar kesal terhadap sang papa.
"Datang segera ke kantor! Sekarang! Ada sesuatu yang penting." Titah sang papa membuat Bram memijit pelipisnya.
"Tapi pa..."
"Tidak ada tapi-tapian, mama masih disana kan? Dia yang akan menemani istrimu." Titah sang papa mutlak tak mau dibantah.
"Pa."
Tut tut tut
Nada panggilan ponsel yang diputus sepihak oleh sang papa membuat Bram mengumpat kesal. Bagaimana mungkin dia ke kantor sedang tadi pagi dia bilang akan mengerjakan pekerjaannya dari rumah.
__ADS_1
***
Bram masih berdiri tak jauh dari gazebo samping mansionnya. Dia terlihat ragu untuk pamit pada istrinya. Tapi papanya terus-menerus mengiriminya pesan suara agar segera ke kantor. Atau papanya yang akan mengatakan pada mamanya agar menyuruh Bram segera ke kantor.
"Bram? Kau mau ke kantor?" Tanya Erika pura-pura tak tahu kalau sebenarnya niatnya ke mansion Bram untuk menemani menantunya. Dan itu semua atas permintaan suaminya agar Bram bisa ke kantor mengurus pekerjaannya yang sedang banyak-banyaknya. Dan papa Bram akan sangat kuwalahan jika menanganinya sendiri. Karena saat Lia dirawat, papa Bram sempat kelelahan karena pekerjaan yang ditinggalkan Bram.
"Ah iya ma." Bukan menatap mamanya yang bertanya, tapi Bram malah menatap istrinya yang mengikuti arah pandang mamanya.
Lia terdiam tak bicara apapun. Entah apa yang dipikirkannya, membuat Bram salah tingkah dan merasa bersalah. Ucapannya pagi tadi sungguh tak berarti lagi.
"Pergilah! Mama yang akan menemani istrimu." Usir Erika dengan senyum menggoda. Apalagi melihat putranya terlihat merasa bersalah menatap menantunya.
"Lia tak apa kan ditemani mama?" Tanya Erika memelas, dia tak tega melihat praut wajah putranya yang penuh harap bagai anak anjing yang kehujanan.
"Kamu memang menantu mama yang pengertian. Kemarin papa Bram sampai kelelahan karena menggantikan pekerjaan Bram selama dia cuti menjagamu di rumah sakit. Tapi meski begitu, papanya Bram membantunya kok nanti agar Bram tak selalu pulang larut." Cerocos Erika membuat Lia malah merasa bersalah mendengar papa mertuanya tidak baik-baik saja selama menggantikan posisi Bram.
"Maafkan Lia ma, membuat papa kelelahan?" Sesal Lia.
"Kenapa jadi kau yang bersalah. Itu kan memang sudah tugas para pria mencari nafkah untuk kita kaum perempuan." Ucap Erika tersenyum.
"Aku berangkat dulu ma." Bram menyalami jemari tangan Erika dan tak lupa mengecup punggung tangannya. Dan bergantian mengulurkan jemari tangannya untuk disalami dan dikecup punggung tangannya oleh istrinya.
"Maaf, aku harus ke kantor." Sesal Bram menatap istrinya merasa bersalah.
"Hati-hati mas." Jawab Lia masih tidak ikhlas suaminya pergi. Namun dia tak mungkin mengungkapkannya di depan mertuanya. Bram mengecup kening istrinya setelah akhirnya meninggalkan mereka berdua di mansion.
__ADS_1
Meski Bram sebenarnya tak rela pergi. Bukannya tak percaya mamanya akan menjaganya dengan baik. Tapi kesalah pahaman mereka belum diselesaikan. Dan Bram tak mau masalh mereka berlarut-larut. Apalagi pekerjaannya belum tentu akan secepatnya selesai melihat sangat banyak pekerjaan yang ditinggalkannya saat sebelum istrinya keguguran.
***
"Apa papa tak bisa mengatasinya sendiri?" Tanya Bram memberengut kesal saat tiba di ruang kerjanya yang ada di perusahaan.
"Kalau bukan masalah darurat, aku tak mungkin menghubungimu." Jawab Arya yang melihat putranya menekuk wajahnya kesal.
"Masalah apa yang darurat?" Tanya Bram sedikit lebih tenang.
"Jo dalam masalah. Dia butuh bantuanmu." Ucap Arya membuat Bram sedikit tersentak sontak menatap sang papa.
"Masalah apa?" Tanya Bram. Dia memang tak bisa mengacuhkan sepupunya itu. Dia akan membantunya jika mendapat masalah.
"Jo sedang mengalami masalah proyeknya yang ada di luar kota. Dia dicekal tak bisa kembali karena harus mempertanggung jawabkannya." Jelas Arya membuat kedua pria yang berbeda usia itu mulai serius membicarakan masalah tentang sepupunya. Dan itu artinya Bram harus rela meninggalkan istrinya lagi.
Bram menghela nafas berat dan panjang membuat Arya mengernyitkan dahi melihat putranya terlihat banyak masalah.
"Aku tak mungkin meninggalkan istriku pa." Jawab Bram dengan penuh penyesalan.
.
.
TBC
__ADS_1