
Lia senyum-senyum sendiri saat berada di dalam kamarnya. Setelah Bram selesai dengan keperluannya bertemu dengan orang tuanya, Bram memutuskan pamit karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Apalagi situasi dan kondisi semakin memanas saja sejak sidang terakhir.
Banyak pegawai negeri yang mendatangi firma hukum dan rumahnya hanya untuk menyuapnya agar mereka tidak ikut terseret dalam sidang yang dilakukan oleh Bram. Karena Bram terkenal sebagai pengacara yang jujur, disiplin dan berwatak keras. Bahkan tak kenal takut dengan ancaman musuh-musuhnya.
Baginya keadilan adalah yang utama terutama untuk masyarakat golongan ke bawah dan orang-orang yang tidak bersalah. Bram rela tidak diberi imbalan jika kliennya orang dari masyarakat ke bawah. Tapi meski begitu, banyak dari mereka memberikan sesuatu yang mungkin tidak berarti bagi Bram demi sekedar rasa terima kasih untuknya.
Dan Bram puas dengan hal itu apalagi melihat senyum tulus dan rasa terima kasih mereka membuat Bram menjadi manusia yang sangat berguna.
Lia kembali mengingat saat percakapan kedua orang tuanya dengan Bram tadi.
Flashback on
"Apa maksudmu nak?" tanya ayah Lia meski sebenarnya dia mengerti maksud dari Bram, dia hanya ingin memastikan kalau itu semua benar-benar diungkapkan oleh Bram. Bukan karena paksaan lagi dari orang tuanya.
"Saya memang banyak kekurangan dalam hal yang berhubungan dengan wanita. Dan saya belum mengenal Lia lebih dalam. Tapi saya berjanji akan membahagiakannya sebagai istri saya." jelas Bram tegas membuat ibu Lia lega dalam dadanya. Ternyata keinginan putrinya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Apa kau mencintainya nak?" tanya ibu Lia yang sejak tadi menyimak.
Bram terdiam, sejak kecil dia tak pernah diberitahu tentang suka, cinta atau sayang. Baginya semuanya sama, namun saat dewasa seperti ini. Pengalamannya bersahabat dengan Lena pun tak menumbuhkan apapun di hati dan dadanya. Pasangan kekasih yang katanya saling mencintai seperti yang terjadi antara Ken dan Lena dulu, Bram juga tak paham.
Bram banyak mencari semua itu hanya lewat internet dan buku-buku yang dibacanya tapi dia tak bisa memahami apa itu arti mencintai seseorang. Bram bingung menjelaskan perasaannya pada Lia. Selama kencannya beberapa waktu dengan Lena, dia merasa biasa terhadap Lia. Dia tak terlalu menganggap bahwa hubungan mereka entahlah akan kemana.
__ADS_1
Tapi saat semalam melihat ketulusan Lia saat merawatnya ketika dirinya tak berdaya, Bram merasa tersentuh dan dadanya berdebar kencang saat dirinya berdekatan dengan Lia. Apalagi saat Lia yang berusaha mengganti pakaiannya kemarin. Adik kecil Bram terasa sesak di dalam sana. Bram tahu betul itu semua, dia pria normal dan sehat.
Dia juga pernah menonton video porn* bersama dengan teman-teman kuliahnya dulu. Dia juga tahu apa itu berhubungan intim, namun entah kenapa hasrat Bram tidak muncul juga saat menonton video itu. Bram pernah meragukan dirinya, apakah dia normal dengan kondisi seperti itu. Bukankah itu artinya dia seorang impoten?
Namun saat semalam dirinya disentuh sedikit saja oleh Lia, adik kecilnya langsung bereaksi. Bram mencoba mencari tahu di internet dan itu katanya hanya sebatas nafsu belaka tapi kalau diiringi dengan dada yang berdegup kencang dan hati yang senang dan nyaman, baru itulah yang dinamakan cinta.
"Ya, saya mencintainya." jawab Bram tegas meski harus menjawab lama.
Lia yang hendak ke ruang tamu untuk membawakan minuman untuk Bram, berhenti di balik gorden sekat antara ruangan itu. Tersenyum tersipu malu-malu disitu. Dadanya berdegup kencang juga, hatinya berbunga-bunga dan bahagia.
Ternyata perasaannya selama ini terbalaskan. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan mencintai calon suaminya ini dengan sepenuh hati, jiwa dan raganya.
Lia pun muncul setelah mengendalikan dirinya sendiri di balik gorden itu dengan wajah yang memerah cantik yang tak bisa dikontrolnya. Tatapan matanya bertemu dengan Bram yang tersenyum manis menatapnya. Semakin memerah malu saja saat tatapan mereka bertemu.
"Biar ibu bantu." sela ibu Lia sambil mengambil nampan yang dibawa Lia.
"Eh, i..ibu... ah, ma...af... ah...A..aku akan ke ... belakang se.. sebentar.." Lia tak bisa mengendalikan kebahagiaannya.
Ekspresinya benar-benar buruk, dia pun semakin malu dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Kedua orang tuanya tertawa melihat tingkahnya. Bram tersenyum simpul sambil meminum minuman yang disuguhkan calon ibu mertuanya.
"Maafkan Lia nak, dia pasti sangat bahagia. Dia baru mengenal cinta juga setelah lulus kuliah dan kerja. Bahkan dia tak pernah memikirkan laki-laki dalam hidupnya. Dia juga tak pernah mengajak laki-laki pulang untuk dikenalkan pada kami selama dua tahun bekerja." jelas ibu Lia membuat Bram tersenyum bahagia, mendengar kepolosan calon istrinya.
__ADS_1
Dan itu artinya Bram tak salah memilih seorang calon istri.
Flashback off
Wajah Lia terus memerah dan malu. Senyum manisnya tak pernah luntur dari bibir mungilnya. Dia sungguh sangat bahagia sekali.
Apalagi Bram tak menginginkan pertunangan, dia ingin langsung menikah dengannya.
"Wah, mimpi apa aku semalam bisa sebahagia ini." guman Lia di dalam kamarnya menatap bayangannya di dalam cermin meja riasnya.
Lia menatap dirinya yang tersipu malu dengan wajah memerahnya.
"Wah, kenapa aku jadi gugup begini. Dia kan sudah pulang, kenapa rasanya aku masih berada di dekatnya saja." tiba-tiba wajah Lia kembali memerah mengingat semalam mereka berduaan di kamar apartemen Bram.
Padahal mereka tak melakukan apapun. Lia hanya merawat Bram saja yang tiba-tiba kencan mereka gagal karena Bram pingsan dan ternyata kecapean dan kelelahan karena bekerja. Dan akhirnya berujung badannya demam.
Untung saja setelah makan, minum obat dan istirahat semalam Bram langsung merasa baik-baik saja paginya.
"Ah, apa dia benar-benar sudah sembuh. Lalu, apa dia akan langsung bekerja mengingat dia sakit kemarin? Ah, apa aku hubungi saja ya? Dia tak akan terganggu kan? Dia tak akan marah kan? Apa aku kirim pesan saja dulu." guman Lia mengambil ponselnya, ragu untuk menghubungi Bram atau tidak.
Dia tak pernah menghubungi Bram untuk hal yang pribadi selain menanyakan tentang datangnya dia saat kencan mereka.
__ADS_1
TBC