Pengacara Tampan

Pengacara Tampan
Bab 55


__ADS_3

"Tapi pria itu pasti tak akan pernah jera dengan perbuatannya." Sangkal Bram lagi.


"Mas, bisa menghukumnya dengan cara lain. Tapi kembalikan investasi mas ke perusahaan itu. Toh itu tak membuat perubahan berarti pada perusahaan mas. Malah perusahaan mereka yang bermasalah. Aku dengar mereka sedang diambang kebangkrutan karena hampir semua investor menarik investasinya begitu mas menarik investasi mas?" Jelas Lia lagi dengan sabar.


"Aku akan pikirkan nanti."


"Jangan pikirkan nanti! Putuskan sekarang, keputusan mas menentukan hidup banyak keluarga yang bekerja disana!" Bujuk Lia lagi.


Bram memang tak menemukan kejanggalan yang berarti setelah berinvestasi di perusahaan tersebut. Malah perusahaan itu semakin maju dan dikelola dengan baik oleh orang-orang itu seperti saat istrinya dulu bekerja di perusahaan tersebut. Mungkin dia harus membatalkan niatnya untuk menarik investasinya.


"Baiklah, aku akan rundingkan besok saat bertemu mereka!" Putus Bram akhirnya. Lia tersenyum menatap sumringah suaminya.


"Terima kasih sayang. Cupp.." Lia mengecup bibir suaminya setelah menangkup kedua pipi suaminya.


"Jangan menggodaku sayang, kau membangunkannya lagi!" Bisik Bram kembali menyerang istrinya dengan menggebu-gebu.


Flashback off


"Hubungi atasanmu!" Titah Bram menunjuk pada Adi.


"Ba...baik tuan." Adi langsung tahu maksud Bram dan segera menghubungi direktur mereka yang juga paman Iwan.


"Jadi tuan memaafkan saya?" Tanya Iwan yang langsung mendongak menatap Bram yang masih menatapnya tajam dan dingin.


"Huh... memangnya semudah itu." Jawab Bram dingin menatap Iwan tajam.


Tak sampai setengah jam, paman Iwan sang direktur datang dengan ngos-ngosan sampai di ruang kerja Bram dengan diantar asisten Bram.


"Tuan memanggil saya?" Tanya Firman, paman Iwan. Sebelum mendekati Bram, Firman sempat menatap keponakannya yang masih berlutut dihadapan Bram.


"Duduklah!" Titah Bram menunjuk sofa kosong yang tadi diduduki Iwan. Firman sedikit ragu, dia pun duduk meski tidak yakin.


"Kau tahu apa kesalahan pria ini?" Tanya Bram menunjuk pada Iwan yang masih berlutut.


"Iya tuan, saya sudah mendengar kronologinya. Saya sebagai paman dan direktur dari pria ini, minta maaf secara resmi pada anda." Ucap Firman sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Berterima kasihlah pada istriku karena dia yang memintaku untuk membatalkan menarik investasi perusahaan kami." Firman dan Adi sontak mendongak menatap Bram tak percaya. Keduanya terkejut dan senang dengan ucapan Bram yang artinya perusahaan Bram tak jadi menarik investasi mereka.


"Apa itu artinya..."


"Aku akan kembali berinvestasi pada perusahaanmu. Selain mempertimbangkan permintaan istriku. Aku juga minta maaf telah bertindak gegabah karena ini bukan kesalahan perusahaan, tapi hanya kesalahan seseorang yang tolo* ini!" Tunjuk Bram pada Iwan yang langsung menundukkan kepalanya semakin dalam.


"Maafkan saya tuan. Maaf." Iwan semakin menunduk dalam.


"Tapi, dengan satu syarat?"


"A.. apa itu tuan?" Tanya Firman gugup.


"Aku tak mau pria itu tetap bekerja di perusahaanmu." Tunjuk Bram pada Iwan dengan tajamnya.


"Baik tuan." Jawab Firman yakin.


"Paman!" Seru Iwan tak terima, jika pamannya tak memperkerjakannya lagi, itu artinya dia juga tak mendapatkan kembali fasilitasnya dan percuma dia memohon sambil berlutut di hadapan Bram sekarang.


"Aku akan menambah jumlah investasi sebagai penebus kesalahan. Asal pria ini tidak ikut mengelola dan bekerja di perusahaanmu. Dan aku meminta kepemilikan saham mutlak dari perusahaanmu." Ucap Bram tegas.


"Ba.. baik tuan."


"Ba..baik tuan. Terima kasih. Terima kasih..." Ucap Firman berulang-ulang sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali.


"Kau!" Tunjuk Bram pada Adi.


"Sa.. saya tuan?" Adi menunjuk dirinya sendiri.


"Tunggu disini!" Bram menunjuk Adi.


"Dan kau bawa dia, aku tak mau melihat wajahnya lagi!" Jawab Bram menunjuk Iwan kesal.


"Baik tuan." Firman langsung menarik tubuh Iwan meninggalkan ruangan Bram.


"Kau?" Bram menunjuk Adi dengan dagunya.

__ADS_1


"Ya tuan?" Tanya Adi tak mengerti.


"Berikan ponselmu!" Bram mengulurkan jemari tangannya menengadah meminta ponsel Adi.


"Ponsel saya tuan?" Tanya Adi mengernyit heran.


"Apa aku harus mengulangi kata-kataku!" Seru Bram murka menatap Adi.


"Ah, silahkan tuan!" Adi menyerahkan ponselnya setelah mencari di setiap sudut tubuhnya.


Bram terlihat mengutak-atik ponsel Adi namun terkunci dan kembali disodorkan pada Adi.


"Password?" Ucap Bram menatap Adi tajam.


"Untuk... apa tuan.. ingin..."


"Kau ingin aku membatalkan investasi lagi?"


"Ah, tidak tuan." Adi langsung menekan password ponselnya, dia masih belum mengerti apa yang dimaksud Bram.


Bram kembali mengutak-atik ponselnya dengan seksama mencari sesuatu yang membuatnya gusar kemarin.


"Aku harap setelah ini kau tidak menghubungi istriku lagi, apapun alasannya!" Ancam Bram menatap Adi tajam dan dingin. Adi terdiam mencernanya, dia pun baru paham kenapa dia ditahan untuk tidak pergi bersama atasannya.


"Saya mengerti tuan." Jawab Adi sendu menundukkan kepalanya.


"Tidak baik menyukai wanita yang sudah bersuami." Sindiran telak membuat Adi sontak mendongak menatap wajah Bram.


"Saya... sudah berusaha melupakannya tuan." Jawab Adi merasa bersalah.


"Baguslah! Kuharap ucapanmu bisa kupercaya." Adi pun mengundurkan diri setelah dirasa Bram cukup bicara dengannya.


Bram menghela nafas panjang, dia merasa lelah sekaligus lega setelah menuruti keinginan istrinya. Meski sebenarnya istrinya benar, Bram tetap kesal mengingat bagaimana pria brengsek itu saat menghina istrinya.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2